Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Kamu Salah Jalan


__ADS_3

 


 


Tidak lama kemudian, ada petugas yang datang ke rumah untuk menginformasikan kalau ada kerusakan kabel listrik di komplek Taman Gunung, petugas PLN sudah menuju kemari, tapi tidak tahu jam berapa baru bisa selesai diperbaiki.


 


 


Tony jadi kesal karena panggangan listriknya tidak bisa dipakai dan gelap gulita. Kelihatannya acara reuni ini harus dibubarkan.


 


 


Saat semuanya sedih, Marcel tiba-tiba berkata pada Tony: “Karena rumahmu mati lampu, bagaimana kalau teruskan acara reuninya di rumahku?”


 


 


Semua orang terpaku saat mendengar ide ini.


 


 


“Kamu ini bodoh, ya?” Hendy menyeringai sinis, “Memangnya kita semua bisa muat di kamar kostmu?”


 


 


Baginya, Marcel hanya mampu menyewa kamar kost saja.


 


 


“Ya, lumayan. Rumahku lumayan luas dan cukup menampung sekitar 50 orang.” Marcel tersenyum pelan, “Rumahku menghadap ke laut dan sejuk sekali. Vila tepi pantai.”


 


 


“Vila tepi pantai?” Leo tertawa, “Kamu tinggal di area Desa Baten, ya? Rumah kost di sana lumayan luas dan punya halaman sendiri. Memang namanya disebut vila.”


 


 


Marcel terkejut: “Sial, memang di dekat Desa Baten. Tidak kuduga tebakanmu benar!”


 


 


“Kak Tony, ayo kita ke sana karena dia sudah mengundang dengan tulus. Lagipula Desa Baten tidak jauh dari sini, hanya 10 menit jika naik mobil.” Hendy memberi kode dengan mata.


 


 


Tony tahu apa yang dipikirkan Hendy, kamar kost di Desa Baten itu lusuh dan bobrok, kamar kost Marcel pasti parah sekali dan mungkin banyak sampah yang dikumpulkan olehnya. Dia yakin Angelina pasti akan putus dengannya.


 


 


Marcel, kamu sendiri yang cari mati!


 


 


Tony berdehem lalu berkata: “Baiklah, ayo kita pindahkan lokasi reuni kita ke rumah Marcel, sekalian melihat vilanya yang di tepi pantai.”


 


 


“Hahahaha!”


 


 


“Baik, aku juga sudah lama tidak main ke pantai. Pas sekali!”


 


 


“Ayo cepat beres-beres......”


 


 


Beberapa dari mereka ini orang Jakarta dan mengendarai mobil kemari. Toni mengemudikan mobil Escalade milik ayahnya.


 


 


Semua teman-teman Tony memuji mobil yang mewah ini, SUV yang keren ini ibarat binatang buas hitam saja.


 


 


“Mobil ini kelihatan garang sekali, harusnya senilai sekitar 1 miliar, kan?” Tony memuji.

__ADS_1


 


 


“Apa? Baru sekitar 1 miliar? Kamu ini idiot, ya?” Leo tersenyum dingin, “Ini Escalade model terbaru. Rangka mobilnya saja sudah senilai 3 miliar!”


 


 


“Wah...... Hebat sekali!” Marcel membelalakkan mata, “Keluarga Tony sungguh kaya.”


 


 


“Biasa saja, harusnya termasuk kelas menengah ke atas.” Toni merendah.


 


 


Saat berangkat, dia awalnya ingin mengajak Angelina naik mobilnya, namun Angelina menolak tanpa ragu.


 


 


Angelina juga menolak ajakan teman lainnya.


 


 


Marcel tersenyum simpul membonceng Angelina di belakang motor listriknya dan membuat Tony sangat kesal sampai memukul setir mobil yang berbalut kulit asli. Wajahnya terlihat sangat marah.


 


 


Angelina ini buta, ya? Sampai tidak menganggap mobil mewah senilai hampir 4 miliar ini dan lebih memilih naik motor listrik si pengantar makanan itu.


 


 


“Kak Tony jangan marah, wanita memang begitu, suka menolak jika merasa cantik. Dia pasti akan menurutimu jika sudah berhasil kamu dapatkan!” Leo menenangkannya.


 


 


“Benar, tapi rasanya puas jika bisa menaklukkan wanita begini, daripada wanita yang mudah didapatkan dengan uang!” Hendy juga berkata.


 


 


Setelah mendengar “penjelasan” kedua sahabatnya, Tony tidak begitu kesal lagi dan suasana hatinya jadi bagus.


 


 


 


 


Escalade hitam keluar dari vila dengan suara raungan yang keras, ada 5 mobil teman-temannya yang ikut dari belakang.


 


 


Sebelum berangkat, Marcel mengirim pesan pada Marlina: “Aku mau adakan pesta dengan teman-temanku. Persiapkan tempatnya.”


 


 


Marlina menjawab “Oke”.


 


 


Motor listrik Marcel berada di paling depan menunjukkan arah, mobil yang berpapasan dikejutkan oleh kecantikan Angelina dan lalu tercengang melihat mobil Escalade yang tinggi besar.


 


 


Jarang bisa melihat SUV sekeren ini di Jakarta.


 


 


Toni merasa senang sekali mobilnya jadi pusat perhatian publik, rasa kesalnya barusan jadi hilang dalam sekejap!


 


 


30 menit kemudian, mereka sampai di tujuan.


 


 


Toni dan lainnya terkejut saat melihat motor listrik Marcel tidak belok ke arah Desa Baten dan malah mengarah ke pintu gerbang Tepi Pantai Mutiara.


 

__ADS_1


 


Hendy mengeluarkan kepala dari jendela mobil dan berteriak: “Marcel, kamu ini salah jalan! Desa Baten bukan di sana!”


 


 


“Aku tidak salah jalan! Rumahku ada di sini!” Marcel tidak menoleh.


 


 


Angelina hanya tahu Marcel ini kaya dan tidak ragu kalau bisa tinggal di perumahan elit begini.


 


 


“Anak ini sinting, ya? Tepi Pantai Mutiara ini semuanya vila elit, mana ada konglomerat yang menyewakan rumah di sini?” Leo marah-marah sambil tertawa.


 


 


“Kita ikuti dia atau tidak?” Hendy bertanya.


 


 


“Ikut saja. Kenapa tidak?” Tony tersenyum dingin, “Nanti penjaga gerbang pasti akan mengusirnya. Kita tinggal mendekat dan menonton pertunjukan menarik saja. Sekalian rekam video untuk diunggah ke Instagram agar dia malu!”


 


 


“Baik, serahkan saja ini padaku!” Hendy tersenyum pelan sambil mengeluarkan ponsel.


 


 


“Ingat buramkan wajah Angelina, dia akan jadi pacarku.”


 


 


“Baik, Kak Tony!”


 


 


Saat masih berjarak sekitar 20 meter dari pintu gerbang, Tony menghentikan mobil. Harusnya penjaga gerbang tidak akan mengusir mereka dan bisa merekam video dengan jelas dari sini.


 


 


Floren membelalakkan mata dari dalam mobil: “Marcel ini gila! Berani sekali membawa Angelina ke Tepi Pantai Mutiara. Memangnya penjaga gerbang ini bodoh?”


 


 


“Hahahaha, pria itu terlalu menarik, mungkin saja tidak tahu ini tempat apa dan mau membawa pacarnya melihat-lihat ke sini.”


 


 


“Nanti akan ada tontonan menarik, mereka pasti akan diusir penjaga gerbang.”


 


 


“Angelina yang kasihan, primadona sekolah malah dipermalukan begini, kalau itu aku, aku akan malu dan tidak sanggup bertemu siapa pun......”


 


 


Semua orang mengira mereka berdua akan diusir dan akan jadi bahan tertawaan di sekolah besok.


 


 


Namun semua orang terkejut saat melihat kejadian selanjutnya.


 


 


Beberapa penjaga gerbang langsung memberi hormat dan berteriak: “Selamat datang, Pak!”


 


 


???


 


 


Tony, Hendy dan Leo yang tadinya bersiap-siap menertawakan Marcel akhirnya jadi tercengang.


 

__ADS_1


 


Ada apa ini? Para penjaga gerbang ini bodoh, ya? Sampai mengizinkan Marcel masuk?


__ADS_2