Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Beraks


__ADS_3

Lampu di dalam club menyilaukan mata, di dalam ada banyak wanita cantik yang membuat mata Marcel sampai berbunga-bunga melihatnya. Saat dia melihat ke sekeliling, seorang gadis yang berjalan di hadapannya tiba-tiba berteriak dan hampir terjatuh, rupanya hak sepatunya yang tipis tersangkut sesuatu dan membuatnya kehilangan keseimbangan.


  “Hati-hati!”


  Marcel tanpa sadar maju ke depan dan memeluk gadis cantik yang mau terjatuh itu.


  Matanya cantik dan bibirnya merah merekah.


  Sungguh gadis yang cantik sekali!


  Saat melihat wajah gadis itu dengan jelas, Marcel memujinya dalam hati.


  Gadis ini tidak kalah cantik dari Jenna.


  “Terima kasih! Terima kasih banyak!” Susana yang masih terkejut menepuk dadanya pelan karena terkejut.


  “Tidak masalah.” Marcel tidak berniat mengambil keuntungan dan segera melepaskan tangan.


  “Cahaya di sini agak remang dan hak sepatumu sangat tipis, walaupun cantik, tapi kamu harus hati-hati saat berjalan.” Marcel mengingatkannya.


  “Terima kasih, aku akan lebih hati-hati.” Susana bertanya tanpa sadar begitu melihat Marcel yang keren, “Ehm... Kamu sendirian?”


  “Ah, aku kemari dengan teman kampus.” Marcel tersenyum, “Oh ya, kamu tahu di mana meja nomor 6?”


  “Ikuti jalan ini sampai ke kolam dansa itu, lalu belok kiri.” Susana kembali bertanya, “Rupanya kamu mahasiswa, ya? Dari universitas mana?”


  “Binus.” Marcel berkata, “Teman-temanku sedang menunggu, bye!”


  Susana sedikit kesal melihat Marcel yang buru-buru pergi tanpa basa-basi.


  Gimanapun juga dia ini cantik, kenapa tidak mengobrol lebih lama lagi?


  Setelah sampai di meja, mereka sudah mulai minum-minum. Natalia duduk di samping sambil main ponsel dan yang lainnya sudah berlarut dalam kesenangan, Casto bahkan sudah merangkul Ariani.


  Marcel mengangguk senang, kelihatannya teman-teman sekamarnya sudah bisa melepas status lajang.


  “Eh, kenapa baru datang? Aturan lama, kamu harus minum 3 gelas bir sebagai hukuman!” Donny merangkul pundak Marcel dan berbisik mengingatkan, “Mood primadona hari ini tidak begitu bagus, kamu coba bujuk dia nanti!”


  Marcel kesal mendengarnya, tapi masih memaksakan diri mengiyakan: “Aku usahakan.”


  Dia hanya bisa duduk di samping Natalia karena Donny yang mengatur.

__ADS_1


  “Hai.”


  “Halo.”


  Keduanya menyapa sekilas dan kemudian masing-masing menunduk sambil memainkan ponsel. Donny, Casto dan Benard kehabisan kata-kata melihatnya.


  Ariani bisa menebak dari ekspresi Marcel kalau dia sama sekali tidak tertarik pada Natalia.


  Karena jemputan motor listrik barusan, Natalia juga tidak punya kesan baik terhadap Marcel. Dia sedang menunggu kabar dari Matthew.


  “Kalian sudah sampai? Marcel sudah duduk di sampingku, aku takut dia akan menyentuhku!”


  “Tenanglah, bentar lagi sampai!”


  Matthew mengirim pesan sambil menyetir mobil, dia hampir menabrak bagian belakang mobil truk besar yang berhenti di belakang lampu merah.


  Erwin yang duduk di sampingnya terkejut sampai pucat, “Ma...... Matthew, aku yang nyetir saja, ya?”


  “Tidak perlu, tinggal belok kiri saja......”


  Natalia akhirnya tenang setelah menerima pesan dari Matthew. Saat dia mau meletakkan ponsel, seorang pria yang mulutnya bau alkohol tiba-tiba mendekat kemari.


  “Tidak.” Natalia menolak tanpa ragu.


  “Jangan buru-buru menolaknya. Kita semua ke sini untuk bersenang-senang. Aku akan memberikan 4 juta padamu jika kamu menemaniku malam ini, gimana?”


  “Ka...... Kamu kira aku ini gadis apaan!” Natalia emosi sampai badannya gemetar.


  Pria itu tersenyum dingin: “Jangan pura-pura polos, tidak ada gadis baik-baik di club. Aku bisa tambahkan jika kurang.”


  Donny, Casto dan Benard diam saja, mereka ingin melihat Marcel mau menolong Natalia atau tidak.


  Walaupun Marcel tidak suka pada Natalia, tapi juga tidak akan membiarkannya ditindas, saat mau berdiri, ada orang yang menepuk pundak pria itu.


  “Kawan, minggir sebentar!”


  Pria itu menoleh dan terkejut saat melihat Matthew dan kawan-kawannya yang tinggi besar. Richard yang berotot memelototinya dengan kejam.


  Lengan Richard lebih besar dari kakinya, pria itu berkata ketakutan: “Maaf, maaf, ya! Tadi aku hanya bercanda saja!”


  Matthew langsung duduk di samping Natalia saat melihat pria itu pergi.

__ADS_1


  “Kebetulan sekali, tidak keberatan kalau kami bergabung, kan?”


  Mereka teman sekampus dan sudah membantu mengusir pengganggu, Donny dan lainnya tentu tidak punya alasan untuk mengusir mereka.


  “Kami juga mau ikut minum!” Erwin juga duduk di samping Ariani, meja yang awalnya lapang jadi sempit.


  “Kenapa baru pesan segini? Lho, kok bir? Pelit banget!” Matthew sengaja berkata begitu saat melihat piring buah dan snack yang murah di atas meja.


  Itu semua gratisan dari pihak club, tentu bukan makanan mahal.


  “Pesan saja kalau tidak cukup.” Walaupun Casto tidak rela menghabiskan uang, tapi saat ini dia hanya bisa menghadapi tantangan mereka.


  Matthew segera memanggil pelayan dan memesan banyak snack. Dia juga memesan 4 botol Chivas Royal Salute yang terkenal mahal. Casto sampai takut melihatnya.


  Uangnya tidak sebanyak itu dan sepertinya tidak cukup......


  “Jangan khawatir, aku yang bayar saja kalau uang kalian tidak cukup.” Matthew tersenyum.


  Ucapan yang royal ini menambah kesan bagus bagi para gadis, terutama Natalia.


  Sepertinya tidak terlalu oke jika pamer kekayaan di hadapan Marcel, kan?


  Rendy mencoba bicara, tapi akhirnya diam kembali, dia tidak ingin merusak rasa percaya diri Matthew.


  Marcel tidak begitu suka dengan kebisingan di club, jadi dia mengambil sebotol bir, lalu bersandar di pagar sambil menikmati para gadis yang menari di tiang di atas kolam dansa.


  Walaupun wajah mereka biasa, namun badan para gadis ini lumayan bagus, sungguh menyejukkan hati saat melihatnya.


  Di meja lainnya, Danish yang menghisap rokok Cuba sedang mendengar laporan dari bawahannya, Elbin. Ada Sella dan Alex pacarnya yang duduk di samping Danish.


  “Tuan muda, saya sudah menyelidikinya, namanya Marcel, mahasiswa Universitas Binus, dia bekerja jadi pengantar makanan di sebuah toko milk tea.”


  “Pengantar makanan?” Danish hampir tersedak asap rokoknya sendiri, “Uhuk uhuk, kamu tidak salah? Pengantar makanan bisa punya mobil balap Veneno?”


  “Tuan muda, itu benar, dia itu pengantar makanan, bos toko milk tea itu namanya Ani dan tokonya ada di area pembelanjaan Mangga Dua.”


  “Mobil balap Veneno? Tuan muda Danish, barusan saya juga melihat mobil tipe itu di luar pintu. Coba lihat, apa ini mobilnya?” Alex mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto barusan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2