
Keluarga Jaya tidak berani bicara karena Fredy juga sampai terdiam. Keluarga paman lebih takut lagi.
“Bukankah tadi hebat sekali? Kenapa? Sekarang menciut seperti kura-kura yang masuk dalam cangkang?”Pengawal menyeringai sinis, “Willy, pilih salah satu dari mereka dan hadiahkan 5 tamparan. Hindari wanita dan anak-anak.”
“Baik!”
Pengawal bernama Willy melihat mereka semua dan memilih Fredy.
Apa boleh buat, penampilannya memang minta dihajar!
“Mulai dari kamu saja!” Willy tersenyum kejam dan berjalan ke sana, dia mengangkat Fredy seperti menangkap ayam.
“Bu...... Bukan aku yang bilang. Dia! Dia yang mengatakannya!” Fredy hampir buang air kecil di celana saat melihat akan ditampar. Dia langsung menunjuk Bambang.
“Kenapa tidak bilang dari awal?” Willy menepuk wajahnya pelan dan melemparkannya kembali ke kursi. Dia menuju ke arah Bambang yang gemetaran.
Saat Willy mau mencengkram Bambang, Marcel tiba-tiba menghalanginya.
“Hei bocah, kamu ingin membelanya?” Willy terkejut saat melihat Marcel yang kurus kecil berdiri di hadapannya.
“Mohon jangan tampar dia, bukan dia yang mengatakan hal itu barusan.” Marcel berkata datar.
Walaupun dia diledek paman dan keluarganya sepanjang hari, tapi mereka ini kerabatnya dan dia tidak bisa diam saja saat mereka ditindas.
“Siapa yang percaya padamu?” Pengawal tersenyum sinis, “Willy, tampar dia 5 kali lebih dulu!”
“Nak, kamu yang memintanya!” Willy mau menampar Marcel, tapi tangannya lebih dulu dicengkram oleh Marcel.
Sebagai pengawal tingkat tinggi yang hebat, Willy tentu tidak akan takut pada orang biasa. Dia mau mengalahkannya dengan sekali serangan, namun dia tiba-tiba menyadari kalau bocah kurus ini punya tenaga yang mengejutkan.
Marcel hanya menggunakan 70% kekuatannya dan Willy sudah takut.
Walaupun teknik menyerangnya hebat, tapi kekuatannya tidak sebanding dengan Marcel.
“Lepaskan!” Willy hanya bisa menendang perut Marcel karena triknya gagal.
Marcel mendengus dan menambah kekuatannya, Willy merasa tangannya sakit sekali dan kakinya tidak kuat untuk menendang.
Bulir- bulir besar keringat membasahi keningnya, tangannya akan patah jika Marcel menguatkan cengkramannya!
“Enyah!” Marcel menghempaskan tangan Willy, Willy mundur ke belakang beberapa langkah dan menunduk melihat tangannya yang sudah ada bekas cengkraman. Dia terkejut sekali dan pengawal yang memberi perintah tadi juga syok.
Dia sangat paham dengan kemampuan temannya yang sanggup menghadapi 6 orang biasa sekaligus. Tapi tidak disangka temannya kalah oleh bocah ingusan ini!
__ADS_1
“Bocah ini tidak mudah dilawan. Kita hadapi bersama!” Willy menggunakan tongkat di tangan kirinya dan menyerang Marcel dari kedua sisi dengan temannya.
Tongkat ini terlihat kecil, namun berkekuatan besar, tulangpun bisa patah bila terkena serangannya, Fredy mengenali benda ini dan segera menarik keluarganya mundur ke belakang, jangan sampai terpukul.
Marcel menguasai teknik menyerang dasar dan kini kekuatan fisiknya sudah meningkat. Kemampuan para pengawal yang garang ini hanya ibarat kura-kura yang pelan baginya.
Dia mengambil kursi di sampingnya dan memukulkannya ke arah 2 pengawal yang terlatih ini sampai mereka terpental ke belakang. Mereka menjerit kesakitan dan terduduk di koridor.
Suasana yang ribut ini menarik perhatian para tamu yang sedang makan. Pintu ruangan sebelah tiba-tiba terbuka dan ada pria berkacamata emas yang berjalan keluar ditemani pengawal.
“Ada apa ini?” Pria itu mengernyitkan alis.
“Tu...... Tuan muda, kami dikalahkan.” Willy memegang kepalanya dan berkata: “Ada orang yang hebat sekali di dalam ruangan ini.”
“Oh?” Pria itu menaikkan kacamatanya dan membalikkan badan melihat Marcel.
“Kawan, ini perbuatanmu?”
Marcel berkata tenang: “Benar, aku yang memukul mereka.”
“Berani sekali. Kamu tahu aku siapa?” Pria itu tersenyum pelan.
“Tidak.” Marcel menggeleng.
“Namaku Jonathan Tandean.”
Sebagai orang Jakarta, mereka tentu tahu kekuasaan keluarga nomor 1 di Jakarta. Walaupun tidak sanggup menguasai seluruh Jakarta, tapi mereka bisa membunuh orang dengan mudah!
“Syukurlah Marcel maju menghadapi mereka, kalau tidak, hari ini kita akan celaka!” Ayah Fitriani bersyukur sekali.
Fredy berbisik: “Ayah, ayo kabur selagi mereka masih belum bertanya pada kita!”
“Benar, benar! Ayo kita segera pergi!” Ayah Fitriani segera tersadar.
Paman tidak berani berada di sana lagi saat melihat keluarga Fitriani yang hebat itu mau kabur, dia diam-diam memberi kode pada istrinya dengan matanya.
Istrinya sedikit ragu: “Suamiku, kalau kita meninggalkan keponakan kita dan sampai terjadi sesuatu padanya, bagaimana kamu bisa tanggung jawab pada adikmu nanti?”
“Untuk apa ikut campur begitu banyak? Siapa yang minta dia sok- sok'an?” Paman segera berkata: “Kita sekeluarga akan ikut mati dengannya kalau masih tidak pergi!”
“Bagaimana kalau lapor polisi?”
“Lapor apaan! Tidak lihat keluarga Fitriani sudah kabur......?”
__ADS_1
Saat paman dan keluarganya mau kabur, Jonathan sudah berdiri di hadapan Marcel.
“Kelihatannya kamu cukup hebat karena sanggup mengalahkan 2 pengawalku.”
“Lumayan, kekuatanku sedikit lebih besar saja.” Marcel berkata datar, “Sudah larut, ayo minta pengawalmu maju semuanya sekaligus!”
“Anak muda, jangan terlalu sombong kalau bicara.” Muncul pria tua berambut putih dari dalam ruangan, ada juga pria paruh baya yang ikut keluar bersamanya.
“Paman Yosef!” Jonathan berkata dengan hormat, “Kenapa Anda juga keluar?”
Nama lengkapnya Yosef Setiawan. Dia sudah bekerja jadi kepala pelayan di keluarga Tandean selama 50 tahun, dia termasuk berkuasa di keluarga Tandean yang hebat ini.
“Minta pengawalmu mundur, mereka bukan tandingan pemuda ini.” Paman Yosef berkata datar.
Jonathan melambaikan tangan dan para pengawal segera membantu Willy dan temannya berdiri. Mereka berbaris rapi di samping.
Paman Yosef tersenyum pelan: “Ishak, hadapilah anak muda ini, ingat jangan terlalu berlebihan. Cukup patahkan kaki dan tangannya untuk memberi pelajaran padanya.”
“Baik, paman Yosef!”
Ishak melepas mantelnya dan memperlihatkan otot di seluruh badannya.
Dia salah satu bawahan Yosef yang paling hebat, dia dulu pernah bergelut di ajang tinju ilegal selama 5 tahun, merupakan ahli Boxing dan juga Taekwondo, dia pernah menang 17 kali berturut-turut, oleh karena itu paman Yosef mempercayakan hal ini padanya.
Ajang tinju ilegal sama saja seperti pertandingan hidup dan mati, mengenaskan sekali sampai tidak bisa dibayangkan orang biasa. Paman Yosef merasa Marcel hanya fisiknya yang sedikit kuat saja dan tidak sanggup menghadapi Ishak.
Dia tidak tahu kalau walaupun Marcel tidak pernah berlatih, tapi fisiknya sudah dikuatkan oleh sistem!
Marcel tahu kekuatan Ishak jauh lebih hebat dari para pengawal tadi saat merasakan aura yang dipancarkan olehnya. Dia langsung fokus.
“Nak, kita hitungkan semua sekaligus! Terima ini!” Ishak mengira Marcel tidak punya teknik apa pun melalui kuda-kuda yang dipasangnya, dan meremehkannya.
“Apa maksudmu?” Marcel bingung mendengarnya.
Mereka saling menyerang dan tiba-tiba terdengar suara pukulan yang nyaring di koridor, udara pun berhembus kencang karena kekuatan pukulan yang dashyat!
Ishak tidak tahu kalau bukan hanya fisik Marcel yang kuat, tapi indera keenam dan reaksinya juga cepat sekali, dia juga menguasai berbagai teknik dan bisa melihat kelemahan musuh.
Karena kelebihan ini, lawannya akan kalah walaupun kekuatannya lebih hebat 1 kali lipat sekalipun!
Keduanya mendekat dan Marcel menghindari tinjunya, dia menunduk dan meninju perut Ishak.
Ishak sudah tahu dia akan kalah saat serangannya meleset, dia tidak sanggup menstabilkan posisinya dan merasa kesakitan, dia terpental dan menghantam dinding, semua orang tercengang melihatnya. Ishak terjatuh ke atas lantai seperti tanah liat......
__ADS_1