
“Kawan, bukankah kamu punya motor? Kenapa mau pesan taksi online?” Jody bertanya sambil menyetir.
Marcel menjelaskan: “Tempatnya sedikit jauh dan aku sudah minum banyak saat di club.”
Jody melihat tempat tujuannya itu tepi Pantai Mutiara dan bertanya: “Kamu tinggal di dekat desa Baten?”
Desa Baten itu desa nelayan di dekat tepi Pantai Mutiara dan banyak rumah murah yang disewakan. Banyak pekerja yang miskin memilih menyewa rumah di sana.
“Ya.” Marcel mengiyakan, dia tidak pernah ke tepi Pantai Mutiara dan tidak tahu kondisi di sana.
“Kamu kerja di mana?”
“Jadi pengantar makanan di area pembelanjaan Mangga Dua.”
“Sedikit jauh jika tinggal di desa Baten.” Jody tersenyum, “Aku ada rumah yang mau disewakan di sekitar Mangga Dua. Kamu mau pertimbangkan? 1 kamar harganya tidak sampai 2 juta.”
“Tidak, terima kasih.” Marcel berkata, “Harga tanah di dekat Mangga Dua tidak murah. Kamu punya rumah di sana?”
“Ya, 9 lantai, tapi luasnya hanya sekitar 200 meter persegi saja. Tidak begitu bernilai.” Jody tertawa, dia mengeluarkan setumpuk kunci dari sakunya, “Biasanya aku juga santai saja, dalam sebulan, aku sibuk dalam 2 hari untuk menagih sewa dan malamnya di rumah sampai bosan. Maka aku bekerja jadi taksi online.”
Marcel menahan diri, untuk apa membawa begitu banyak kunci saat bekerja jadi taksi online? Kamu mau pamer kekayaan dan tidak takut dikritik?
“Kamu bisa menutupi uang BBM jika mengemudikan mobil semahal ini?”
“Tentu tidak bisa, bahkan aku harus nombok jika harus menjemput tamu yang jauh.”
“Lalu untuk apa kamu menjadi taksi online?”
“Hahahahaha, kawan, kamu masih muda. Bagi sebagian orang, uang itu segalanya. Tapi, bagiku itu hanya deretan angka saja.” Jody sengaja menekankan suaranya: “Aku tidak mementingkan menghasilkan uang, namun apakah bisa bertemu dengan orang atau kejadian yang menarik untuk memperkaya pengalamanku, mewarnai hidupku agar pikiranku jadi terbuka......”
Dia bawel sekali dan Marcel jadi mengantuk mendengarnya.
Setelah mobil berhenti, Jody baru sadar Marcel sudah tidur dan langsung kesal sekali.
__ADS_1
Dia merasa sudah bicara banyak sampai mulutnya terasa kering sepanjang jalan dan Marcel ini malah tidak mendengarnya!
“Hei! Bangun! Sudah sampai!” Jody mendorong Marcel.
“Hm? Sudah sampai, ya?” Marcel menguap, “Pak, tolong masuk ke dalam, ya.”
Jody merasa aneh: “Masuk ke dalam? Ke dalam tepi Pantai Mutiara?”
“Benar. Aku tinggal di dalam.”
“Kawan, jangan bercanda, kamu tidak tahu itu tempat apa, di sana itu semuanya rumah yang menghadap ke pantai dan yang paling murah itu sudah mencapai ratusan miliar.” Jody menjelaskan, “Sampai harus scan wajah jika mau masuk pintu gerbang, hanya pemilik yang bisa masuk!”
“Aku tidak bercanda, aku sungguh tinggal di dalam.” Marcel tak berdaya, “Aku turun saja kalau kamu tidak percaya.”
Jody sedikit ragu saat melihat ucapan Marcel yang meyakinkan: “Kamu sungguh tidak membohongiku?”
“Untuk apa aku bohong padamu?”
“Baiklah, aku antar kamu ke dalam.”
Penjaga gerbang yang berdiri tegak segera menghentikan mobil saat melihat Audi Q5 yang mendekat dengan pelan.
“Halo, Pak. Ini area vila eksklusif, mobil dari luar tidak diizinkan masuk tanpa kuasa dari pemilik rumah!”
“Aku mengantar penumpang.” Jody menunjuk Marcel.
“Anda pemilik rumahnya? Kenapa belum pernah melihat Anda sebelumnya?” penjaga gerbang melihat Marcel dengan bingung.
Walaupun area di tepi Pantai Mutiara ini luas, namun hanya ada 28 vila saja, tentu saja penjaga gerbang mengenali setiap pemiliknya.
Jody menyesal saat mendengar ucapan ini, rupanya penumpangnya ini membual!
“Alat scan wajah kalian rusak, ya?” Marcel tersenyum datar, “Aku pemilik vila nomor 008, tolong dikonfirmasi.”
__ADS_1
“008?!” Penjaga pintu terkejut, itu vila utama di tepi pantai Mutiara dan harga jualnya mencapai 5 triliun lebih, hari ini baru terjual!
Pria muda berpakaian murahan dan hanya menaiki mobil Audi Q5 ini sungguh pemilik vila nomor 008?
“Silahkan tunggu sebentar, saya segera konfirmasi!” penjaga gerbang segera kembali ke kantor dan mengambil alat scan wajah.
Saat ini, ada mobil Ferrari merah tipe 488 berhenti di belakang mobil Audi Q5, mobil itu terus membunyikan klakson.
“Hei, kamu yang di depan cepat minggir!” Gadis cantik dengan eye shadow hitam mengumpat.
Ini memang area orang kaya di Jakarta, bisa bertemu mobil mewah seharga 8 miliar lebih dengan mudah.
Tentu saja tidak bisa menyinggung orang yang tinggal di sini, Jody baru mau meminggirkan mobilnya dan Marcel berkata datar: “Abaikan dia, tunggu saja di sini.”
Julia melihat mobil Audi Q5 di hadapannya tidak bergerak dan jadi emosi sekali, dia berjalan ke sana dengan memakai sepatu hak tingginya.
Penjaga gerbang lainnya melihat hal ini, namun tidak berani bicara dan hanya bisa pura-pura tidak melihatnya.
“Hei, kamu ini tuli, ya? Kamu tidak dengar ucapanku?”
Jody baru mau menjelaskan namun Marcel sudah berkata: “Maaf, aku tidak mengerti bahasa anjing.”
“Kamu berani memarahiku anjing?” Julia meninggikan suaranya, “Katakan lagi kalau berani!”
“Aku tidak bilang kamu ini anjing, aku tidak berdaya jika kamu mengakuinya sendiri.”
“Sial! Brengsek kamu!” Julia tidak pernah menghadapi hal ini sejak kecil, dia marah dan menendang mobil Jody dengan sepatu hak tingginya.
Setelah itu, pintu mobil Audi Q5 jadi penyok dan Julia terjatuh karena terpental, ****** ******** terpampang jelas dan terlihat oleh Jody.
“Sial! A...... aku beruntung!” Jody hampir mimisan saat melihat sepasang kaki yang putih itu.
Julia berdiri dengan susah payah dan merasa malu sekali, dia langsung menangis hebat.
__ADS_1
“Bagus sekali! Kalian berani menindasku, a...... aku akan minta ayahku menghabisi kalian, sekarang aku minta dia ke sini dan jangan kabur kalau kalian hebat!”
Marcel tidak bisa menahan tawa. Gadis ini bodoh sekali, dia terjatuh sendiri dan masih belum memintanya ganti rugi atas mobil yang ditendangnya tadi. Dia malah bilang ditindas......