Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Tidak Boleh Masuk


__ADS_3

“Kamu kan sudah jadi penyiar terkenal sekarang, tidak takut popularitasmu menurun kalau kelihatan sama orang lain kamu naik motor listrik?” tanya Marcel.


 


 


“Takut apa? Aku hanya perlu penggemar super hebat sepertimu saja.” ucap Angelina tersenyum simpul.


 


 


“Lihatlah, masih bilang tidak mau ambil kesempatan dalam kesempitan?”


 


 


“Awas saja, aku akan menggigitmu kalau masih tidak berangkat!”


 


 


“Jangan dong! Ayo berangkat sekarang!”


 


 


Marcel membonceng Angelina dan turun ke jalan, motor listrik biasa ini langsung menarik perhatian banyak orang karena ada wanita cantik yang duduk di belakang Marcel!


 


 


Di jalan, ada 2 orang yang naik mobil BMW X6, pria berperut besar sekitar umur 40-an dan wanita di sampingnya yang sepertinya belum sampai 20 tahun.


 


 


“Vonny, kamu sudah minta putus dengan pacarmu, kan?”


 


 


“Bukan pacar, sudah jadi mantan sekarang.” Gadis itu tersenyum, “Semalam aku sudah mencampakkannya, dia menangis meraung-raung sampai berlutut padaku agar aku tidak meninggalkannya, lucu sekali waktu itu!”


 


 


“Kelihatannya dia tulus terhadapmu.”


 


 


“Apa gunanya tulus? Dia hanya pemuda miskin. Aku bisa tertawa sampai menangis saat duduk di motornya, sedangkan saat menangis, aku bisa tersenyum ketika duduk di mobil BMW milikmu. Tidak ada gadis sebodoh itu di dunia ini.” Gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahu pria tersebut dan berkata dengan lembut, “Kak Heru, bukankah kamu bilang mau beli mobil untukku? Beberapa hari ini kamu ada waktu tidak untuk membawaku lihat-lihat ke showroom?”


 


 


Pria ini merasa sangat bangga, pacar sangat mudah didapatkan hanya dengan uang saja.


 


 


“Lihat performamu dulu, sekarang kita ke hotel, aku akan beli mobil apapun untukmu jika bisa memuaskanku.”


 


 


“Beneran?!”


 


 


“Tentu saja......”


 


 


Saat keduanya sedang bermesraan, tiba-tiba sudah lampu merah. Ada motor listrik yang juga berhenti di tepi jalan saat mobil mereka berhenti. Angelina yang duduk di belakang motor itu menarik perhatian mereka.


 


 


Angin berhembus, gaun putih dan rambut Angelina tertiup angin yang lembut itu, dia memeluk Marcel dengan erat dan terlihat bahagia.


 


 


Angelina tidak berdandan sama sekali, tapi terlihat sangat cantik.


 


 


Gadis di sampingnya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan dirinya.


 


 


“Sial, ini baru wanita cantik sesungguhnya!”


 


 


Pria ini sudah bertemu banyak wanita dan masih saja tercengang oleh kecantikan Angelina. Dia langsung terbengong-bengong melihatnya sampai tidak menyadari sudah lampu hijau.


 


 


Setelah motor itu menjauh, dia baru tersadar karena diklakson mobil di belakangnya.


 

__ADS_1


 


“Kak Heru, kita mau ke hotel mana?” Gadis itu bertanya manja.


 


 


Pria itu meliriknya dan diam, gadis ini baru dapat nilai 75 saja jika berdandan, dia teringat Angelina yang duduk di motor barusan, hatinya langsung seakan tenggelam dan tidak semangat lagi.


 


 


Ini ibarat dirinya baru memesan bebek panggang yang wangi sekali di rumah makan. Saat mau makan, tamu di meja sebelah langsung memesan banyak makanan enak yang harumnya menyebar ke seluruh ruangan. Bebek panggang ini langsung jadi tidak enak dan sudah tidak selera lagi......


 


 


Di atas motor, Marcel bertanya: “Kawan lamaku, bagaimana kondisi adikmu?”


 


 


“Operasinya sudah bisa dijadwalkan di akhir bulan ini.” Angelina berkata dengan tulus, “Ini semua berkatmu, terima kasih saja tidak akan cukup untuk budi baikmu, kami sekeluarga akan mengingat kebaikanmu seumur hidup!”


 


 


“Ini hanya masalah kecil, tidak apa-apa.”


 


 


“Bagimu hanya masalah kecil, tapi bagi kami, ini menyangkut nyawa adikku!”


 


 


“Jangan bahas ini lagi, oh ya, bukankah sekarang kamu sudah punya uang lebih? Kenapa tidak beli mobil?”


 


 


“Mau sih, tapi aku tidak mengerti tentang mobil.” Angelina tergerak, “Beberapa hari lagi ada pameran mobil internasional. Bagaimana kalau kamu temani aku lihat-lihat ke sana?”


 


 


“Oke, tapi aku ingatkan dulu, sebenarnya aku juga tidak terlalu mengerti tentang mobil.” Marcel tersenyum, “Rumah temanmu masih jauh?”


 


 


“Sudah hampir sampai, di kompleks Taman Gunung di depan.”


 


 


 


 


“Ya, memang kaya dan tampan. Dia itu bintang tim basket sekolah kita. Banyak gadis yang diam-diam jatuh hati padanya.”


 


 


Marcel tersenyum simpul, “Kamu termasuk salah satunya?”


 


 


“Tentu tidak, dia bukan tipeku. Tapi, dia terus mengejarku.” Angelina menghela nafas, “Aku minta bantuanmu ya karena ini.”


 


 


“Seleramu bagus. Aku tidak akan kalah dalam ketampanan.”


 


 


“Bual saja terus.....”


 


 


Saat ini, sudah banyak teman sekolah yang berkumpul di vila, ada yang sedang menyiapkan makanan yang mau dipanggang, ada yang sedang mengobrol di ruang tamu sambil menonton TV, ada yang sedang main game di ruang baca, sampai ada yang sedang berenang di halaman.


 


 


Toni sedang minum wine sambil mengobrol dengan teman-teman baiknya di teras atas rumahnya.


 


 


“Kak Toni, vila milikmu ini bagus sekali, berapa harganya?” tanya Hendy tersenyum.


 


 


“Tidak mahal kok, hanya puluhan milyar saja.” Toni duduk di sofa kulit asli, dia menggoyangkan gelas wine di tangannya dengan pelan dan terlihat bangga.


 


 


“Tinggal primadona sekolah kita si Angelina yang belum sampai. Dia pasti akan jatuh ke pelukan kak Toni jika melihat kemewahan vila ini!” puji Leo, teman sekolah yang lain.


 

__ADS_1


 


Hendy berkata dengan misterius, “Ya pastilah. Aku pasti akan melakukan itu sejak awal jika aku wanita. Tapi, meskipun si Angelina lemah lembut, tapi kayaknya tidak pernah melihatnya punya pacar. Apa jangan-jangan dia lesbian?”


 


 


Toni berkata, “Harusnya bukan sih, aku dengar dari Floren kalau hari ini dia akan membawa pacarnya kemari.”


 


 


“Dia sudah punya pacar?” Hendy dan Leo terkejut, “Kenapa dulu tidak pernah dengar?”


 


 


“Floren juga tidak jelas gimana ceritanya. Harusnya dari sekolah kita juga.” Toni terlihat tenang, lalu berkata “Nanti juga kita akan tahu siapa orangnya.”


 


 


Hendy menebak, “Jangan-jangan pacar palsu?”


 


 


Toni tersenyum, lalu berkata “Aku juga merasa begitu. Asli atau palsu, aku akan buat dia sadar tidak semudah itu jadi pacar orang!”


 


 


“Hahahaha!”


 


 


Saat sedang mengobrol dengan senang, motor Marcel sudah sampai di pintu gerbang kompleks Taman Gunung, penjaga gerbang menghentikan mereka.


 


 


“Berhenti, kalian mau kemana dan untuk urusan apa?”


 


 


“Halo, pak, aku mau ke rumah temanku.” Angelina berkata dengan sopan.


 


 


“Vila temanmu nomor berapa? Siapa namanya?”


 


 


“Nomor 250, namanya Toni.”


 


 


“Tunggu sebentar.”


 


 


Penjaga gerbang menelepon dengan menggunakan saluran internal dan langsung tersambung.


 


 


“Halo, apa kabar pak Toni. Saya penjaga gerbang.”


 


 


“Ada apa?”


 


 


“Ada 2 orang di luar, 1 pria dan 1 wanita, mereka bilang mereka teman sekolah Anda dan mau mencari Anda.”


 


 


“Oh, biarkan yang wanita masuk dan usir pria itu.”


 


 


“Baik, saya mengerti. Semoga hari Anda menyenangkan. Sampai jumpa!”


 


 


Setelah menutup telepon, penjaga gerbang berkata pada Angelina, “Baik, silahkan masuk.”


 


 


“Terima kasih!”


 


 


Baru saja Marcel mau menyalakan motor listriknya, penjaga gerbang tiba-tiba berteriak, “Eh, eh! Aku hanya memintanya masuk, bukan kamu!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2