
Sudah tidak perlu melanjutkan pertandingan lagi, saat Marcel menerima handuk dari pelayan wanita, ponselnya yang ada di meja tiba-tiba berdering.
Marlina memberikan ponsel pada Marcel dan terdengar suara Jeremy yang panik.
“Bos, gawat, Bu Ani diculik!”
“Ani yang mana?” Marcel terkejut.
“Tentu saja bosnya Nini Milk Tea! Bosnya Anda!” Jeremy juga jadi pusing.
“Apa? Dia diculik?” Marcel langsung meninggikan suaranya, “Ada apa ini? Sudah lapor polisi?”
“Sementara ini saya masih belum berani lapor, lebih baik Anda lihat dulu video yang saya kirimkan.”
Setelah menutup telepon, Marcel memutar video yang dikirimkan. Ada mobil minibus yang berhenti di area pembelanjaan Mangga Dua, Ani yang baru tutup toko langsung dibekap oleh 2 pria yang turun dari minibus, lalu memasukkannya ke belakang mobil.
Rekaman itu sangat jelas. Marcel mengenali salah satu pria itu adalah wakil direktur Hariyo yang dipecatnya!
Pria lainnya terlihat garang dan kejam, sama sekali tidak terlihat baik hati.
“Bos, hal ini dilaporkan Felix, ketua satpam. Salah satu penculiknya itu mantan wakil direktur Hariyo, satunya lagi adik kandungnya, Harwinto, kriminal yang sedang buron. Kabarnya dia masih punya banyak anggota yang kejam, ada perampok dan pembunuh!” Jeremy menjelaskan, “Saya takut mereka akan bertindak kejam kalau saya lapor polisi, maka tidak berani ceroboh dalam bertindak......”
Saat sedang bicara, ada telepon yang masuk lagi, Marcel melihat itu telepon dari Ani.
Sudah pasti si penculik yang menelepon kemari.
Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menerima telepon: “Halo?”
“Ini Marcel?” Terdengar suara pria yang serak.
“Ya, benar.”
“Ani, bosmu ada di tanganku, kalau ingin dia selamat, bawa uang tunai 10 miliar sebelum jam 1 tengah malam ke jalan Taman Anggrek nomor 114, jangan lapor polisi dan datanglah sendiri. Atau, aku akan kirimkan mayat wanita cantik ini padamu!”
Sebelum Marcel menjawab, telepon sudah ditutup si penculik. Nomor itu sudah tidak aktif saat ditelepon kembali.
__ADS_1
“Marcel, ada apa?” Angelina berjalan kemari dan bertanya padanya saat melihat ekspresinya yang serius.
Marcel tersenyum pelan: “Tidak apa-apa, aku ada urusan dan mau keluar sebentar, kalian lanjut bersenang-senang saja.”
Angelina mengangguk dan tidak bicara lagi, dia gadis pintar dan tidak perlu bertanya lagi jika Marcel tidak ingin mengatakannya. Dia tidak ingin Marcel kesal padanya.
Setelah membuka garasi mobil, ada mobil hitam garang yang parkir di hadapan Marcel.
Mobil sepanjang 6 meter dengan 2 lapisan baja, lekuk bodan mobil yang tajam, rangka luar yang keren dengan kaca kualitas tinggi dan ban anti peluru!
Setelah naik ke mobil, Marcel menyadari sebuah kejutan lagi, mobil ini bisa dikemudikan secara otomatis dan dijalankan dengan jam tangan canggih dalam jarak beberapa km!
“Brum!”
Setelah menginjak gas, mesin yang kuat mengeluarkan suara raungan mesin yang keras, mobil yang besar itu keluar perlahan dari garasi dan membuat semua orang terpaku dari kejauhan.
“Sial! Mobil dari mana itu?”
“Hei, ini SUV Kombat, tipe paling murah saja sudah mencapai 16 miliar. Escalade hanya mobil murahan jika dibandingkan dengannya!”
“Marcel ini sungguh konglomerat, aku menyembahnya......”
Hati Tony yang sudah hancur berkeping-keping kembali disakiti......
Saat Marcel menuju ke lokasi yang disebut penculik, di dalam gudang bekas kosong di jalan Taman Anggrek nomor 114, beberapa pria kekar sedang kumpul-kumpul sambil minum arak dan makan sate.
Di sini area pinggiran dan sangat cocok dijadikan tempat untuk menyekap korban.
“Kak, menurutmu, Marcel bisa mengumpulkan 10 miliar dalam waktu sesingkat ini?” Harwinto bertanya sambil makan sate kambing, “Bank sudah tutup di jam segini.”
“Tenanglah, dia pasti bisa mengumpulkannya!” Hariyo tersenyum dingin, “Setelah aku dipecat, aku sudah mencari informasi dan rupanya dia pemilik area pembelanjaan Mangga Dua. Dan biasanya ada beberapa miliar uang tunai di brankas kantor area pembelanjaan Mangga Dua, maka dari itu aku berani mengatakan jumlah itu!”
__ADS_1
“Ah, Kak Hariyo hebat sekali sampai bisa memikirkan hal ini. Kali ini kita akan dapat rejeki nomplok!” salah satu bawahan Harwinto tertawa.
“Hanya 10 miliar, akan habis jika membeli rumah di Jakarta. Ini hanya rejeki kecil.” Hariyo berkata bangga, “Nanti kita akan menculik Marcel setelah dia mengantar uang kemari, lalu kita peras habis uangnya. Bagaimana?”
Semua orang mengacungkan jempol: “Hebat sekali! Rupanya Kak Hariyo sudah merencanakannya dengan baik!”
“Saat ini masih sempat dan makanlah dulu, aku pergi mengecek Ani dulu.” Hariyo berdiri dan merenggangkan ikat pinggangnya, dia terlihat bernafsu.
Harwinto tertawa: “Kak, wanita ini cantik sekali, nanti biarkan aku bersenang-senang dengannya, ya?”
Hariyo menjawab: “Baiklah, satu-satu, semuanya dapat bagian!”
Dia naik ke lantai 2 dari tangga yang sudah berkarat, Ani yang diikat kuat dan sedang disekap di dalam kamar yang kecil.
Mulut Ani dibungkam dengan stoking, Hariyo mengambilnya dan Ani segera membentak: “Hariyo, dasar kamu binatang jalang! Cepat lepaskan aku!”
Hariyo tersenyum kejam karena sudah minum arak: “Bos Ani, tidak disangka kamu jatuh ke tanganku, kini kita akan perhitungan baik-baik!”
Ani terlihat ketakutan saat melihat pandangan Hariyo yang aneh: “Ka...... Kamu mau apa? Jangan kemari! Jauhi aku!”
“Hahaha, kamu sudah mengataiku binatang jalang, jadi aku mau melakukan hal yang dilakukan binatang jalang!” Hariyo sengaja berkata, “Sebelum Marcel si bocah brengsek masuk jebakanku, temanilah aku dan kawan-kawanku bersenang-senang!”
Ani berkata ketakutan: “Kamu jangan sembarangan! Awas...... Aku akan bunuh diri dengan menggigit lidahku!”
“Hahaha, kamu percaya trik dari sinetron ini?” Hariyo tertawa terbahak-bahak, “Cobalah kamu gigit kalau tidak takut sakit, aku juga penasaran kamu bisa mati atau tidak.”
“Ka...... Kamu tidak takut akan ditangkap polisi dan masuk penjara?”
“Kamu bercanda, ya? Aku sudah cukup menyedihkan dan tidak akan perduli kalau jadi kriminal!” Hariyo terlihat kejam, “Aku ini wakil direktur dan akhirnya jadi begini, ini semua karena dipecat Marcel si brengsek itu. Kamu ini pacarnya, kan!”
“Sembarangan! Aku bukan pacarnya!”
“Jangan berpikir bisa membohongiku! Mana ada konglomerat yang mau jadi pengantar makanan di toko milk tea jika bukan karenamu? Apa dia ingin menikmati pengalaman hidup? Aku tidak sebodoh itu dan mempercayainya!”
Ani sudah tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa putus asa dan memejamkan mata.
__ADS_1
Saat Hariyo mau menyentuhnya, pintu gudang ditendang seseorang, Marcel berjalan masuk dengan membawa 2 tas besar......