Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Pantas Mati


__ADS_3

“Ya, benar itu mobilnya!”


Sangat jarang sekali ada mobil balap Veneno di Indonesia, apalagi warnanya merah yang mencolok. Elbin langsung segera mengenalinya.


“Kalau begitu, bocah itu juga ada di club ini?” Danish menghembuskan asap rokoknya, “Cepat cari.”


“Baik, Tuan muda!”


Alex menerima perintah dan pergi, Alex bertanya: “Tuan muda Danish, apa dia telah menyinggung Anda?”


Danish marah: “Dia merusak rencana besarku untuk mengejar Jenna, dia pantas mati, kan!”


“Nona Jenna? Tentu pantas dibunuh!” Alex berkata marah: “Tapi, dia hanya seorang pengantar makanan, Tuan muda Danish, bagaimana kalau aku panggil orang untuk menghajarnya?”


“Kabarnya bos club ini orang hebat, jangan buat keributan dan berhati-hatilah.”


Setalah jam 12 malam, suasana di dalam club sangat seru, semuanya melakukan hal yang aneh setelah mabuk. Casto dan Erwin saling tidak suka dan akhirnya emosi mereka meledak.


“Casto, dasar bocah, hari ini kamu menang karena mengandalkan Marcel. Ayo besok kita lompat 1 lawan 1 jika berani!”


“Harus berani kalah jika mau taruhan, kamu mau mengelak, ya?” Casto marah dan memukul meja, “Aku masih belum perhitungan denganmu karena sengaja menabrakku saat bertanding!”


“Badanmu yang lemah dan terjatuh sendiri, jangan menyalahkanku!” Erwin tersenyum licik, “Kamu ini kurus kecil, ginjalmu rusak, kan?”


Pria itu paling pantang dibilang begitu, apalagi di hadapan gadis yang disukainya, emosi Casto langsung meledak: “Ginjalmu yang rusak! Juga seluruh keluargamu! Ayo kita beradu kalau berani!”


“Siapa takut? Ayo!”


Suara keduanya semakin keras dan menutupi suara musik, banyak tamu yang melihat kemari.


“Jangan bertengkar lagi, diamlah, ini tempat umum!” Ariani segera membujuk.


Keduanya sama sekali tidak mendengar dan bertengkar dengan semakin sengit, Matthew dan teman-temannya memang mau mencari masalah, akan lebih bagus jika semakin ribut.

__ADS_1


“Hei, kalian orang-orang bodoh! Kecilkan suara kalian!” pria berambut merah yang duduk di samping tiba-tiba berteriak.


“Monyet berbulu merah, kamu bilang siapa yang bodoh!” Erwin menunjuk pria berambut merah dan membentaknya.


“Wah, berani sekali berteriak padaku! Kamu tahu aku ini siapa?” pria berambut merah menyeringai dan berdiri diikuti 8 orang temannya.


Erwin tidak bodoh saat melihat sekelompok orang yang terlihat garang ini. Pertama, dia tidak ingin malu di hadapan Ariani, kedua, walaupun teman-teman sekamarnya pandai berkelahi, tapi harusnya bisa menghadapi mereka.


“Siapa yang peduli kamu siapa? Kamu ini boleh memarahi orang, tapi tidak terima dimarahi?” Matthew berdiri sambil tersenyum dingin.


Keren sekali, ini baru pria sejati!


Natalia terkagum-kagum melihatnya.


Matthew semakin bangga saat melihat ekspresi Natalia, 3 orang teman sekamar Natalia juga ikut terpikat padanya, tidak rugi!


Casto dan yang lainnya tahu diri dan lebih duduk melihat tontonan saja saat melihat Erwin dan teman-teman sekamarnya bertengkar dengan orang lain.


Kedua kelompok ini sudah bertengkar sengit, dia ibarat menyiram minyak dalam api. Pria berambut merah langsung tidak tahan dan mau maju beserta teman-temannya, namun tiba-tiba pundaknya ditepuk.


“Kak Alex, rupanya kamu!”


“Robin, ada apa ini?” Alex pura-pura bertanya, sebenarnya dari tadi dia sudah melihat jelas apa yang terjadi.


Pria berambut merah mengangguk lalu berkata: “Kak Alex, orang-orang bodoh ini berteriak di sini, aku memarahi mereka dan malah dibentak kembali. Makanya aku mau memberi pelajaran pada mereka.”


“Jangan terus memarahi kami bodoh! Aku akan mencekikmu sampai mati!” Erwin marah.


“Kak Alex, dengarlah, bocah ini terlalu sombong! Hatiku tidak puas jika tidak menghajarnya!”


“Kita semua keluar untuk mencari hiburan. Tidak perlu berkelahi, kan?” Alex berkata datar, “Bagaimana kalau kalian adu yang lain saja?”


“Siapa takut? Adu apa?” Matthew berteriak sinis.

__ADS_1


“Mudah saja, setelah memutuskan kalian mau beradu apa, yang kalah akan melakukan 1 permintaan dari yang menang, misalnya berlutut dan membenturkan kepala, menampar wajah sendiri atau putus dengan pacarnya, dan sebagainya.” Alex tersenyum pelan saat melihat mereka terpancing.


“Lalu mau adu apa?” Erwin bertanya.


“Aku lihat kalian ini orang kaya, adu yang spesial saja.” Alex menunjuk ke kolam dansa, “Lihatlah gong yang ada di sana, ada sebuah aturan di club ini, jika ada yang memukulnya, maka harus bersulang dengan setiap orang yang ada di club. Dari jumlah tamu yang datang, malam ini sepertinya hanya akan menghabiskan sekitar 100 juta saja. Kalian masing-masing pukullah sekali sampai ada yang kalah. Bagaimana?”


Kedengarannya, gong ini untuk alat pamer bagi orang kaya.


“Baiklah, kami terima!” Matthew mengangguk setuju.


“Mat, kamu tidak pertimbangkan sebentar?” Erwin terkejut setelah mendengar harganya, sampai Rendy juga menarik nafas dalam-dalam.


“Hanya 100 juta saja, bukan masalah besar!” Matthew percaya diri sekali, ayahnya baru mengirim uang bulanan dan setidaknya dia masih punya 200 juta jika ditambah dengan tabungan bulan lalu. Dia tidak takut pada pihak lawan.


“Bagus! Punya keberanian!” Alex mengacungkan jempol, karena aturannya sudah ditentukan, katakanlah taruhannya.”


“Kak Alex, aku tidak bawa uang sebanyak itu......” pria berambut merah berbisik.


“Tenanglah, aku yang bayar.”


Ucapan Alex membuatnya tenang.


“Syaratku mudah saja, biarkan pria berambut merah ini telanjang dan keliling sekali di luar club, lalu menampar wajah sendiri setelah kembali dan memarahi dirinya orang bodoh.” Matthew tersenyum sinis.


“Kamu yang bodoh!” pria berambut merah langsung emosi mendengarnya, “Dasar brengsek, kamu ingin mati?”


“Ah, Robin, kali ini kamu yang salah. Mereka hanya mengatakan syaratnya saja. Ini masuk akal.” Alex memelototinya.


Pria berambut merah berkata galak: “Baiklah, kalau aku menang, kamu harus......”


“Tunggu!” Alex menyela ucapannya, “Aku saja yang katakan syaratnya.”


Alex yang akan membayar, jadi pria berambut merah tidak berani melawan: “Baik, kak Alex silahkan katakan.”

__ADS_1


“Syaratku mudah saja. Biarkan pria ini putus dengan pacarnya dan selamanya tidak boleh kembali bersama!”


Alex menunjuk Marcel yang berada di pagar......


__ADS_2