
“Baik, aku mengerti.”
Erwin mulai memukul bola, baru saja Matthew menerima bola, Marcel dengan cepat mendekatinya.
Matthew sudah trauma dengan kecepatan Marcel merebut bola, dia sampai tidak berani menggiring bola dan langsung mengoper bola dengan lemparan tinggi.
“Hahahaha, tidak disangka Matthew bisa takut dan tidak berani adu lompat dengan Marcel!” Ariani tertawa lepas saat menebak pemikiran Matthew.
“Jangan sembarangan bicara, mana mungkin Matthew takut pada pria yang bergantung pada wanita seperti Marcel?” Natalia sedikit kesal.
“Percayalah, nonton saja terus!”
Setelah Richard menerima bola, mereka sudah sampai di dalam garis pinalti, Donny melebarkan kedua tangan dan berusaha menghalanginya melempar bola ke ring.
“Pecundang, kamu tidak akan bisa menghalangiku!” Pandangan Richard berbinar, dia membalikkan badan, dan mulai menggiring bola sambil berusaha menerobos dengan paksa.
Donny bukanlah tandingan Richard dalam hal kekuatan, dia terpaksa terus mundur ke belakang, saat jaraknya sudah dekat, Richard melompat tinggi sambil slam dunk ke ring!
Donny tidak menyangka dia akan seganas ini dan sudah tidak sempat baginya untuk menghadangnya.
“Richard, ayo semangat! Slam dunk!” Matthew menyadari Marcel yang berada di sampingnya sudah menghilang saat berteriak menyemangati Richard.
Sesosok bayangan melesat secepat kilat sampai ke bawah ring, lalu melompat dengan cepat ke atas seperti menginjak trampolin.
Richard hanya merasa pandangannya kabur dan tiba-tiba terasa sebuah kekuatan besar dari bola basket seperti ditimpa oleh gunung yang besar!
Kekuatan ini tidak hanya menghalangi Richard slam dunk dan kehilangan keseimbangan, tetapi juga membuatnya terjatuh ke lantai.
Donny dan Benard terpaku, begitu pula Matthew dan Erwin. Seluruh penonton di lapangan sampai tidak sanggup bersuara......
Marcel menggiring bola dengan santai sampai di luar batas garis 3 poin dan melemparkan bola ke dalam ring dengan mudah.
“Mar...... Marcel ini makhluk apa sih?” Erwin berusaha menggosok matanya karena mengira barusan dia berhalusinasi.
Walaupun Richard lebih pendek sedikit darinya, tapi tingginya juga sudah 195 cm, kekuatan lompatannya juga mengejutkan. Dia hanya kalah dari Matthew dalam seluruh tim, tapi tidak disangka hari ini Marcel si pendek yang tidak sampai 180 cm ini berhasil merebut bola darinya!
Ya sudahlah kalau Marcel ini atlit profesional, tapi dia ini hanya pria simpanan tante kaya. Benar-benar tidak masuk akal!
__ADS_1
Ariani tersenyum melihat hal ini, berbeda drastis dengan Natalia.
Kini, siapa pun tahu kalau Marcel sudah sanggup mengalahkan tim Matthew, dan cepat atau lambat tim mereka pasti akan menang!
Apa aku sungguh harus kencan dengan pria simpanan tante kaya?!
Natalia merasa sakit hati saat memikirkan taruhan ini......
43 detik kemudian, pertandingan resmi berakhir, tim Donny menang dengan skor 53 poin lawan 49 poin, Marcel berhasil memasukkan 6 kali bola 3 poin dan membalikkan keadaan!
“Aku tidak terima! Kamu hanya mengandalkan teknik melempar bolamu saja, ayo adu 1 lawan 1 kalau berani!” Erwin berjalan ke hadapan Marcel dengan emosi.
“Baiklah, aku biarkan kamu lampiaskan emosimu.” Marcel tersenyum dan memungut sebuah bola basket, “Kita adu lempar sekali dan hanya boleh slam dunk. Gimana?”
“Oke, ayo!” Erwin tersenyum dingin, “Lepaskan kesempatan kencan milikmu jika kamu kalah!”
“Oke.” Marcel mengiyakan tanpa ragu.
Casto, Benard dan Donny hampir muntah darah saat melihat Marcel mengiyakan dengan mudah, mereka berteriak bersamaan: “Cel, jangan gegabah!”
“Tenanglah, aku tidak akan kalah.” Marcel berkata datar, “Bagaimana kalau kamu yang kalah?”
“Oke.”
Karena hanya adu lempar sekali, maka harus dimulai dari merebut bola.
Setelah wasit melemparkan bola, Marcel dan Erwin sama-sama melompat dan Marcel berhasil merebut bola dengan kekuatan lompatan yang luar biasa!
Karena Marcel sanggup merebut bola dari Richard, Erwin tentu tidak merasa dirinya sanggup merebut bola, jadi dia segera mengubah ke posisi bertahan.
Dia memperkirakan akan bagus jika bisa menahan Marcel dengan kekuatan fisiknya dulu, kemudan baru mencari kesempatan merebut bola untuk mendapat poin.
Harusnya akan mudah melakukan hal ini dengan tinggi badan yang hampir mencapai 2 meter.
1 detik kemudian, bahu keduanya saling bertabrakan, Marcel tidak mengunakan kecepatan untuk mengalahkannya, namun memilih menggunakan kekerasan!
Postur badan keduanya berbeda jauh, kalau dilihat dari belakang, mereka berdua terlihat seperti ayah dan anak.
__ADS_1
Donny, Casto dan Benard terlihat pucat, mereka tidak menyangka Marcel akan menggunakan cara sebodoh ini. Harusnya dia tahu kekuatan fisiknya seberapa!
Postur badan Erwin sangat berbeda dengannya, akan aneh jika Marcel yang pendek ini bisa menang darinya.
Yang mengejutkan adalah, Marcel ternyata terus maju ke depan!
Wajah Erwin menjadi merah, dia sudah menggunakan seluruh kekuatannya, namun masih saja dipaksa mundur.
Marcel tidak hanya terlihat santai, tapi dia juga menggiring bola dengan satu tangan. Perbedaan kekuatan dari keduanya terlihat sangat jelas.
Setelah bertahan selama 5 detik, Erwin sudah mulai gemetaran.
Marcel juga tidak buru-buru. Dia mengiring bola dengan perlahan dan hendak melakukan slam dunk setelah sampai di bawah papan ring.
Erwin menggunakan kekuatannya yang tersisa untuk melompat dan menghalangi, namun sayangnya tidak membuahkan hasil, Marcel berhasil melakukan slam dunk, sedangkan Erwin terkapar di atas lapangan dan terlihat lebih parah 10 kali lipat dari Casto barusan......
Setelah meraih kemenangan, Casto tidak mempedulikan keletihan dan lukanya, dia segera mencari Ariani untuk membahas kencan, Marcel dan yang lainnya kembali ke asrama untuk mandi dan ganti pakaian.
Tidak sampai 30 menit, Casto segera kembali dengan semangat.
“To, mereka bilang apa?” tanya Donny.
“Sudah deal, malam ini main ke club dulu. Bukankah ada Black Night Club di dekat kampus? Itu tempatnya!”
“Black Night Club? Katanya di sana mahal!” Benard berkata pelan.
Casto berkata dengan pede: “Tenanglah, aku tahu kondisi finansial keluargamu tidak begitu baik, nanti kami bertiga yang akan bayar tagihannya!”
Marcel kini tidak kekurangan uang, tentu dia tidak keberatan.
“Oke.” Donny tersenyum sambil memukul pundak Benard, “Ben, bahas dulu dong, kamu pilih yang mana di antara teman sekamar Ariani?”
“Pastinya aku tidak berani memilih primadona kampus, aku pilih Silvia yang berambut pendek itu saja, aku suka gadis periang!” ucap Benard.
“Tentu saja primadona kampus hanya bisa diserahkan pada Marcel. Aku pilih Natalia.” Donny melihat Marcel, “Cel, gimana? Setuju?”
“Ah? Aku juga dapat?” Marcel terkejut.
__ADS_1