Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Anak


__ADS_3

Keluarga kedua belah pihak duduk di ruang tamu yang luas dan mewah, lalu mulai membahas pernikahan.


  Bambang merangkul Fitriani dengan mesra di atas sofa, keduanya romantis sekali dan terus saling berbisik.


  Ayah Fitri memakai yang kalung emas tebal itu tersenyum: “Kalau anak kita sangat cocok, maka aku langsung katakan saja. Permintaanku tidak banyak, uang  1 miliar, sebuah mobil untuk keperluan sehari-hari seharga 1,2 miliar, sebuah rumah di area Jakarta paling kecil 150 meter persegi dibayar kontan. Bagaimana menurut besan?”


  “Apa?!” Paman dan tante terkejut sampai hampir terjatuh dari kursi saat mendengar 3 permintaan ini.


  Beberapa tahun ini bisnis mereka memang lumayan menghasilkan, tapi itu juga hanya sekitar 2 miliar, masih bisa dipaksakan untuk memenuhi 2 permintaan namun mereka tidak sanggup membayangkan harus membeli rumah semahal itu!


  “Besan merasa terlalu sedikit?” ayah Fitriani segera bertanya saat melihat ekspresi mereka.


  “Bukan, bukan. Bolehkan kami pertimbangkan sebentar?” Paman mengusap keringat sambil memaksakan tawa.


  “Besan tidak perlu pertimbangkan lagi, begini saja. Aku tambahkan lagi 800 juta dan mobilnya diganti jadi yang seharga 2 miliar. Bagaimana?” ayah Fitriani berkata dengan dermawan.


  Paman dan tante akhirnya tersadar kalau ini hadiah pernikahan untuk Fitriani putrinya.


  “Baik, bagus sekali!”


  “Baguslah. Sudah kuputuskan!” ayah Fitriani tertawa: “Malam ini aku yang traktir dan kita tidak pulang kalau belum mabuk...”


  Setelah keluar dari rumah keluarga Jaya, paman sekeluarga tertawa senang, tante semakin sombong.


  Fitriani cantik dan kaya, apalagi orangtuanya sangat royal, mereka sampai tidak pernah membayangkan putranya akan bisa menikahi menantu yang sempurna seperti ini!


  Setelah pulang, dia bisa pamer di hadapan teman dan kerabat, sungguh membahagiakan sekali!


  Marcel malah merasa tidak sebahagia mereka karena merasa keluarga Jaya ini aneh. Putrinya kaya dan cantik, tapi diizinkan menikahi pria yang dikenal di dunia maya. Mereka bahkan tidak meminta mahar dan memberikan hadiah pernikahan sebanyak itu?


  Tampang Bambang biasa-biasa saja, dia gemuk dan tidak ada yang bisa dibanggakan. Apa motif Fitriani kalau bukan karena uang?


  Tapi, dia tidak mengatakan kecurigaannya agar paman tidak merasa dia iri.


  Ayah Fitriani mengajak mereka makan malam di hotel Shangrila.


  Saat menunggu kedatangan keluarga Jaya, Marcel senggang dan bosan. Lebih baik dia bermain aplikasi Tik Tok.


  Live streaming Angelina kini sudah mencapai 3 jutaan penonton, mendapat peringkat pertama di platform wanita cantik memang berpengaruh sekali.


  Dari backgroundnya, Angelina seperti tidak berada di rumah, tapi berada di hotel. Bahkan ada seorang gadis cantik di sebelahnya.


  “Halo semuanya, hari ini aku dan Cyanita mau bekerja sama untuk sebuah kegiatan outdoor, menikmati seafood yang terkenal di hotel Shangrila. Ini pertama kali aku melakukan live streaming tentang kuliner, semoga kalian menyukainya!”


  “Bukankah kemarin Cyanita VS dengan penyiar? Kenapa mereka bisa bekerja sama secepat ini?” Marcel merasa aneh.


  Keduanya memang cantik, gaya mereka memakan seafood sungguh menggoda dan tidak membangkitkan selera seperti penyiar kuliner biasanya. Maka banyak penggemar yang memberi hadiah.


  Marcel sedang melihat dengan seksama dan paman langsung kemari.


  “Marcel, kamu sedang melihat apa?”

__ADS_1


  Marcel tersenyum: “Oh, hanya melihat live streaming.”


  “Ck ck ck, aku rasa kamu sedang melihat gadis cantik, kan?” Paman berkata dengan serius: “Marcel, bukan paman mau cerewet, penyiar yang cantik itu hanya di dalam ponsel saja dan tidak ada hubungannya denganmu. Selamanya dia tidak akan jadi pacarmu. Ada putra temanku yang memberi hadiah sampai ratusan juta pada penyiar dan orang itu hanya berterima kasih saja sampai enggan bertemu, ayahnya hampir mati kesal!”


  “Baik, paman. Aku hanya membuang waktu saja, nanti aku tidak melihatnya lagi.” Marcel kehabisan kata-kata menghadapi “Perhatian” pamannya dan lebih baik biasa-biasa saja.


  “Baguslah kalau kamu mengerti, kalau ada waktu, belajarlah dan mencontoh darinya!” Paman berkata bangga, “Karir dan cinta berjalan bersamaan, dan juga mendapat begitu banyak hadiah pernikahan. Salah satu hadiah pernikahan itu bahkan tidak bisa kamu dapatkan seumur hidup ini. Apalagi rumah seluas 150 meter persegi itu!”


  “Benar, kalau rumahnya di Jakarta Pusat, maka harganya akan mencapai puluhan miliar, bahkan mungkin ratusan miliar!”


  Paman dan tante saling sahut menyahut, memamerkan keluarganya dengan keponakannya yang tidak berguna, ribut sekali sampai Marcel kesal sampai tidak semangat melihat wanita cantik makan.


  Dia memberikan 100 Jet Super pada Angelina dan log out dari Tik Tok.


  Dia seperti melupakan sesuatu dan akun yang tadi bukanlah “Cell-Cell”...


  “Terong Rawit” menghadiahkan Jet Super*100!


  Angelina langsung bingung saat melihat tulisan yang muncul di layar.


  Ekspresinya bingung dan jadi terkejut. Lalu marah!


  “Maaf, aku pergi dulu!”


  Angelina memberikan flying kiss dan segera keluar dari ruangan.


  Cyanita melihat Angelina pergi dan menghentikan live streaming untuk sementara: “Kita istirahat sebentar dan dengar lagu dulu, ya? Aku merapikan riasan dulu.”


  “Halo! Kak Okky, aku sudah siapkan barangnya...... Tenanglah, aku minta temanku membeli obat ini di Spanyol, efeknya sangat hebat dan jamin akan pingsan dan tidak akan ingat apapun saat bangun besok...... Benar, benar, benar. Kamu tunggu kami di kamar saja, aku tutup dulu, ya. Harusnya dia sudah mau kembali......”


  Di saat yang sama, Marcel menerima telepon dari Angelina.


  “Halo, kawan lama, ada apa mencariku?”


  “Marcel, kenapa kamu mau bohong padaku? Jelas-jelas kamu ini “Cell-Cell”!” Angelina menggertakkan gigi, “Kamu harus tahu aku ini tidak suka dibohongi, apalagi oleh pria!”


  “Bagaimana kamu bisa tahu?” Marcel langsung terpaku.


  “Tadi kamu lupa mengganti aku, kawan tercintaku!” Angelina berkata ketus.


  Marcel hanya bisa tertawa canggung: “Ah! Hahaha, rupanya begitu......”


  “Bilang padaku kamu ada di mana! Aku segera ke sana!”


  Marcel jadi waspada: “Kamu mau apa? Mau datang memukulku?”


  “Benar. Kamu berani beritahu padaku?”


  “Bukankah kamu sedang live streaming? Kamu bisa pergi begitu saja?”


  “Bukan urusanmu, cepat beritahu aku!”

__ADS_1


  “Baiklah, sebenarnya aku juga ada di hotel Shangrila......” Marcel tak berdaya dan hanya bisa memberitahu nomor ruangan padanya.


  Setelah menutup telepon, paman yang mendengar suara Angelina tadi langsung menggosip: “Kenapa, kamu mengejar gadis dan gagal?”


  “Benar, dia keberatan karena aku pengantar makanan.” Marcel menggerakkan pundaknya.


  Kalau paman dan sekeluarganya suka pamer, biarkan mereka pamer sampai puas saja.


  “Mampus, kenapa tidak bohong sedikit? Ada jenjang karir apa kalau jadi pengantar makanan, lebih baik bekerja jadi buruh pabrik......” Tante terus meledek sinis dan senang sekali kalau melihat keponakannya menderita.


  Saat Marcel bersabar, keluarga Jaya berjalan masuk ke ruangan.


  Keluarga paman sangat bingung karena Fitriani menggandeng seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun.


  Selain anak laki-laki itu, masih ada pria yang mengikuti dari belakang, pria itu memakai kaos bunga-bunga dan celana pendek. Dia mirip dengan ayah Fitriani dan seperti gangster.


  “Maaf, tadi sedikit macet di jalan.” ayah Fitriani memanggil pria berkaos bunga-bunga itu kemari setelah duduk, “Ini abang Fitriani, namanya Fredy. Dia bisnis pasir dan batu di kota.”


  Fredy tidak bicara dan hanya melihat Bambang sekeluarga dengan dingin. Pandangannya tajam dan kalung emas yang dipakainya lebih tebal dari milik ayahnya. Ada tato harimau di lengannya dan kelihatannya tidak bisa diganggu.


  Selain Marcel yang biasa-biasa saja saat melihatnya, keluarga pamannya merinding dalam hati sampai asal usul anak laki-laki itu tidak dipertanyakan lagi.


  Ibu Fitriani tersenyum saat melihat suasana yang dingin: “Putraku hanya tidak suka bicara. Semoga kalian tidak keberatan.”


  Marcel diam-diam tersenyum dingin. Fredy ini kelihatannya seperti gangster dan harusnya bukan tidak suka bicara. Tapi, takut menakuti orang kalau bicara, kan?


  Paman dan tante berbisnis selama ini dan tahu kalau orang yang berbisnis di bidang pasir dan batu pasti tidak sesederhana yang terlihat, mereka segela menggeleng: “Tidak, kami tidak keberatan!”


  “Panggil pelayan untuk menghidangkan makanannya, jangan sampai membuat besan kelaparan.” ayah Fitriani juga tidak memperkenalkan anak laki-laki itu.


  Berbagai makanan enak dihidangkan di atas meja, suasana yang canggung jadi mencair. Orang tua Fitriani sangat ramah sampai menuangkan minuman serta mengambilkan sayur untuk mereka. Fredy hanya makan sendiri dan Fitriani terus memperhatikan anak laki-laki yang sedang makan sampai tidak sempat memperhatikan calon suaminya.


  Anak itu sangat nakal dan terus bergerak-gerak saat duduk diatas kursi. Dia juga pemarah dan terus berteriak.


  Setelah paman minum beberapa gelas arak, dia jadi berani.


  Dia melihat Fitriani begitu memperhatikan anak laki-laki itu dan dia berprasangka buruk, namun dia memaksakan tawa: “Fitri, anak kecil ini kerabatmu?”


  Anak laki-laki itu menoleh pada paman dan bertanya dengan kesal: “Mami, siapa si tua bangka ini?”


  Walau suaranya tidak keras, tapi bisa terdengar jelas di seluruh ruangan.


  Pfff!


  Marcel yang sedang minum sup langsung menyembur keluar, tante hampir menusukkan sumpit ke hidungnya dan Bambang hanya terlihat pucat......


  Anak laki-laki ini putranya Fitriani?


 


 

__ADS_1


__ADS_2