
Keduanya menetapkan 3 set pertandingan, ada seorang teman yang menjadi wasit. Setelah melemparkan koin, Marcel yang mendapat bola di set pertama.
Tony merasa senang dan juga kesal saat melihat Marcel bertanding dengan memakai sandal jepit dan celana pendek.
Kesal karena Marcel berani meremehkan jenis olahraga ini, senang karena 90% dirinya akan memenangkan pertandingan ini.
Marcel masih berani memakai sandal jepit untuk bermain tenis, Tony merasa pengalamannya bermain tenis selama 10 tahun baru akan berarti jika Marcel kalah dengan 0 poin.
Tony menyeringai sinis saat melihat Marcel sembarangan memukul bola, dari gaya servis bola, Marcel sama sekali tidak bisa bermain tenis!
Teman-teman yang ada di lapangan juga sedikit mengerti tentang tenis. Mereka tidak yakin Marcel bisa menang setelah melihat cara Marcel memukul bola.
Bolanya dipukul terlalu tinggi dan kuat, akan mempengaruhi kecepatan dan kekuatan bola.
Floren tersenyum tertahan: “Angelina, pacarmu kaya sih, tapi sangat bodoh bermain tenis......”
Namun, detik selanjutnya senyumnya tertahan.
“Pang!”
Marcel memukul bola dengan kuat dan terdengar suara yang keras seperti tembakan pistol di seluruh ruangan.
Tony tidak sempat bereaksi, bola yang terbang dengan tinggi memantul dan melubangi lantai, lalu keluar dari garis!
Seluruh lapangan jadi sunyi senyap, semuanya baru kembali tersadar saat raket Marcel patah jadi 2 bagian.
Mar...... Marcel ini monster, ya? Sampai raket bisa patah dalam sekali pukul. Kekuatan lengannya sangat menakutkan!
Wasit akhirnya teringat tugasnya dan memberi kode dengan tangan: “15...... Lawan 0!”
“Maaf, tadi terlalu kuat.” Marcel merasa tidak enak hati lalu tertawa, dia memberikan raket yang patah itu pada Marlina yang berlari kecil kemari.
“Tuan muda, ini raket Wilson buatan tangan dari desainer Eropa, harganya 250 juta per buah! Jangan dirusak lagi.”
“Tidak terlalu mahal juga......”
“Bukan masalah harga, tapi kini hanya tersisa raket ini saja!” Marlina mengingatkan, “Kalau raket ini patah lagi, bos hanya bisa menggunakan raket biasa.”
Marcel berkeringat: “Aku akan lebih pelan.”
“Apa aku baru saja berhalusinasi? Ah, benar. Ini pasti halusinasi!” Tony sulit percaya dan bergumam sendiri, bola barusan hampir tidak terlihat karena terlalu cepat. Tidak ada pukulan bola secepat ini di dunia, tadi itu pasti halusinasi!
“Siap-siap, ya! Aku sudah mau melakukan servis bola.” Marcel tersenyum pelan sambil melemparkan bola ke atas.
Aku ini juara 5 nasional, tenanglah, pasti barusan terlalu banyak minum alkohol dan sedikit tidak fokus......
Tony kembali fokus bertanding dan mengamati gerakan Marcel.
“Kali ini sudah aman, pandangan Kak Tony sudah mulai serius!” Leo memuji, “Barusan Marcel mengambil kesempatan selagi Kak Tony belum fokus, kali ini pasti tidak akan lolos lagi.”
Hendy juga berkata: “Benar, dia masih tidak tahu kalau Kak Tony ini sang raja tenis yang diakui publik!”
Pukulan Marcel kali ini jauh lebih lemah dari yang pertama itu, sebagian besar orang dapat melihat gerakan raket, namun kecepatan pukulannya masih cepat sekali, Tony melangkah ke kanan untuk menjemput bola namun bola sudah memantul dan keluar dari garis......
Marcel mendapat poin lagi, 30 lawan 0!
Setelah memukul bola, Marcel memutar-mutar raketnya, baguslah, kali ini tidak rusak......
Kalau pukulan pertama itu dibilang beruntung, maka pukulan kedua ini sudah menunjukkan kemampuan Marcel yang sebenarnya. Para penonton juga tidak merasa ini pura-pura.
Hendy dan Leo terdiam, wajah Tony jadi terlihat emosi sekali.
“Masih mau diteruskan?” Marcel tersenyum datar, “Sang Raja tenis?”
“Ayo, aku tidak percaya kalau aku sesial ini!” Tony menggertakkan gigi dan berteriak.
Sudahlah kalau tidak sanggup membandingkan kekayaan, namun dia akan malu sekali jika dikalahkan di bidang yang paling dikuasainya. Dia tentu tidak boleh gampang menyerah!
Pertandingan selanjutnya membosankan sekali, Tony masih tidak bisa menerima 2 bola dari Marcel, set pertama selesai.
“Aku tidak salah lihat? Tony masih 0 dan tidak dapat poin sama sekali?”
“Raja tenis apaan? Sampai tidak sanggup menerima bola Marcel. Memalukan sekali.”
__ADS_1
“Tidak bisa menyalahkan Tony, pukulan bola dari Marcel terlalu cepat dan hampir tak terlihat!”
“Kaya, pandai main tenis, ucapannya indah didengar, aku ingin menyatakan cintaku padanya!”
“Jangan mimpi! Kamu tidak akan bisa menang jika bersaing dengan Angelina......”
Tony terlihat marah dan meninju lantai, sudut pukulan dari Marcel juga tidak sulit, arah posisi bola juga biasa saja, namun bola darinya terlalu cepat ibarat peluru yang ditembakkan, sudah tidak sempat saat dirinya merespon!
Hendy berlari kemari dan membantu Tony berdiri: “Kak Tony, Marcel ini monster, lebih baik kita mengaku kalah saja!”
Kekuatan lawan terlalu mengerikan, Tony akan mempermalukan diri sendiri jika terus bertanding. Tidak pantas!
“Enyahlah, aku tidak akan mengaku kalah!” mata Tony memerah dan mendorong Hendy, “Masih ada 1 set lagi, aku masih punya kesempatan!”
Marcel hanya bisa mengabulkan keinginan Tony untuk terus bertanding.
Kali ini Tony yang servis lebih dulu, set kedua resmi dimulai.
Tony bisa lolos ke pertandingan nasional dengan mengandalkan teknik servis yang super hebat. Inilah alasan kenapa dia tidak mau menyerah.
Pukulan servis dari Tony memang cepat sekali, namun Marcel mungkin tidak bisa menjemput bola darinya karena memakai sandal jepit.
Rasakan kehebatanku! Kali ini aku akan membuatmu kalah total 0 poin!
Toni melemparkan bola ke atas dan memukulnya dengan teknik yang standar. Bola melewati net dengan cepat dengan sudut yang tajam, arah jatuh bola juga sangat kritis dan bola ini sulit diterima!
Marcel sudah bergerak saat bola dipukul, sandal jepit tidak mempengaruhi kecepatan lari dan dia dengan mudah menebak arah bola dan sudah bersiap memukul saat bola memantul!
“Pang!”
Terdengar suara pukulan yang keras, bola terbang kembali ke arah Tony seperti peluru dan lebih cepat beberapa kali lipat, bola sudah terjatuh ke lantai saat Toni tersadar.
“0 lawan 15!”
Marcel rupanya berhasil menjemput bola darinya dengan mudah!
Tony jadi stress dan merasa kehilangan seluruh kekuatannya. Dia terjatuh dan berlutut di atas lantai.
Juara 5 nasional apaan? Dia hanya bahan lelucon di hadapan Marcel......
Bab 47 Bos Ani Diculik
Sudah tidak perlu melanjutkan pertandingan lagi, saat Marcel menerima handuk dari pelayan wanita, ponselnya yang ada di meja tiba-tiba berdering.
Marlina memberikan ponsel pada Marcel dan terdengar suara Jeremy yang panik.
“Bos, gawat, Bu Ani diculik!”
“Ani yang mana?” Marcel terkejut.
“Tentu saja bosnya Nini Milk Tea! Bosnya Anda!” Jeremy juga jadi pusing.
“Apa? Dia diculik?” Marcel langsung meninggikan suaranya, “Ada apa ini? Sudah lapor polisi?”
“Sementara ini saya masih belum berani lapor, lebih baik Anda lihat dulu video yang saya kirimkan.”
Setelah menutup telepon, Marcel memutar video yang dikirimkan. Ada mobil minibus yang berhenti di area pembelanjaan Mangga Dua, Ani yang baru tutup toko langsung dibekap oleh 2 pria yang turun dari minibus, lalu memasukkannya ke belakang mobil.
Rekaman itu sangat jelas. Marcel mengenali salah satu pria itu adalah wakil direktur Hariyo yang dipecatnya!
Pria lainnya terlihat garang dan kejam, sama sekali tidak terlihat baik hati.
“Bos, hal ini dilaporkan Felix, ketua satpam. Salah satu penculiknya itu mantan wakil direktur Hariyo, satunya lagi adik kandungnya, Harwinto, kriminal yang sedang buron. Kabarnya dia masih punya banyak anggota yang kejam, ada perampok dan pembunuh!” Jeremy menjelaskan, “Saya takut mereka akan bertindak kejam kalau saya lapor polisi, maka tidak berani ceroboh dalam bertindak......”
Saat sedang bicara, ada telepon yang masuk lagi, Marcel melihat itu telepon dari Ani.
Sudah pasti si penculik yang menelepon kemari.
Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menerima telepon: “Halo?”
“Ini Marcel?” Terdengar suara pria yang serak.
“Ya, benar.”
__ADS_1
“Ani, bosmu ada di tanganku, kalau ingin dia selamat, bawa uang tunai 10 miliar sebelum jam 1 tengah malam ke jalan Taman Anggrek nomor 114, jangan lapor polisi dan datanglah sendiri. Atau, aku akan kirimkan mayat wanita cantik ini padamu!”
Sebelum Marcel menjawab, telepon sudah ditutup si penculik. Nomor itu sudah tidak aktif saat ditelepon kembali.
“Marcel, ada apa?” Angelina berjalan kemari dan bertanya padanya saat melihat ekspresinya yang serius.
Marcel tersenyum pelan: “Tidak apa-apa, aku ada urusan dan mau keluar sebentar, kalian lanjut bersenang-senang saja.”
Angelina mengangguk dan tidak bicara lagi, dia gadis pintar dan tidak perlu bertanya lagi jika Marcel tidak ingin mengatakannya. Dia tidak ingin Marcel kesal padanya.
Setelah membuka garasi mobil, ada mobil hitam garang yang parkir di hadapan Marcel.
Mobil sepanjang 6 meter dengan 2 lapisan baja, lekuk bodan mobil yang tajam, rangka luar yang keren dengan kaca kualitas tinggi dan ban anti peluru!
Setelah naik ke mobil, Marcel menyadari sebuah kejutan lagi, mobil ini bisa dikemudikan secara otomatis dan dijalankan dengan jam tangan canggih dalam jarak beberapa km!
“Brum!”
Setelah menginjak gas, mesin yang kuat mengeluarkan suara raungan mesin yang keras, mobil yang besar itu keluar perlahan dari garasi dan membuat semua orang terpaku dari kejauhan.
“Sial! Mobil dari mana itu?”
“Keren sekali mobilnya, rasanya jauh lebih keren dari mobil Escalade milik ketua kelas.”
“Hei, ini SUV Kombat, tipe paling murah saja sudah mencapai 16 miliar. Escalade hanya mobil murahan jika dibandingkan dengannya!”
“Marcel ini sungguh konglomerat, aku menyembahnya......”
Hati Tony yang sudah hancur berkeping-keping kembali disakiti......
Saat Marcel menuju ke lokasi yang disebut penculik, di dalam gudang bekas kosong di jalan Taman Anggrek nomor 114, beberapa pria kekar sedang kumpul-kumpul sambil minum arak dan makan sate.
Di sini area pinggiran dan sangat cocok dijadikan tempat untuk menyekap korban.
“Kak, menurutmu, Marcel bisa mengumpulkan 10 miliar dalam waktu sesingkat ini?” Harwinto bertanya sambil makan sate kambing, “Bank sudah tutup di jam segini.”
“Tenanglah, dia pasti bisa mengumpulkannya!” Hariyo tersenyum dingin, “Setelah aku dipecat, aku sudah mencari informasi dan rupanya dia pemilik area pembelanjaan Mangga Dua. Dan biasanya ada beberapa miliar uang tunai di brankas kantor area pembelanjaan Mangga Dua, maka dari itu aku berani mengatakan jumlah itu!”
“Ah, Kak Hariyo hebat sekali sampai bisa memikirkan hal ini. Kali ini kita akan dapat rejeki nomplok!” salah satu bawahan Harwinto tertawa.
“Hanya 10 miliar, akan habis jika membeli rumah di Jakarta. Ini hanya rejeki kecil.” Hariyo berkata bangga, “Nanti kita akan menculik Marcel setelah dia mengantar uang kemari, lalu kita peras habis uangnya. Bagaimana?”
Semua orang mengacungkan jempol: “Hebat sekali! Rupanya Kak Hariyo sudah merencanakannya dengan baik!”
“Saat ini masih sempat dan makanlah dulu, aku pergi mengecek Ani dulu.” Hariyo berdiri dan merenggangkan ikat pinggangnya, dia terlihat bernafsu.
Harwinto tertawa: “Kak, wanita ini cantik sekali, nanti biarkan aku bersenang-senang dengannya, ya?”
Hariyo menjawab: “Baiklah, satu-satu, semuanya dapat bagian!”
Dia naik ke lantai 2 dari tangga yang sudah berkarat, Ani yang diikat kuat dan sedang disekap di dalam kamar yang kecil.
Mulut Ani dibungkam dengan stoking, Hariyo mengambilnya dan Ani segera membentak: “Hariyo, dasar kamu binatang jalang! Cepat lepaskan aku!”
Hariyo tersenyum kejam karena sudah minum arak: “Bos Ani, tidak disangka kamu jatuh ke tanganku, kini kita akan perhitungan baik-baik!”
Ani terlihat ketakutan saat melihat pandangan Hariyo yang aneh: “Ka...... Kamu mau apa? Jangan kemari! Jauhi aku!”
“Hahaha, kamu sudah mengataiku binatang jalang, jadi aku mau melakukan hal yang dilakukan binatang jalang!” Hariyo sengaja berkata, “Sebelum Marcel si bocah brengsek masuk jebakanku, temanilah aku dan kawan-kawanku bersenang-senang!”
Ani berkata ketakutan: “Kamu jangan sembarangan! Awas...... Aku akan bunuh diri dengan menggigit lidahku!”
“Hahaha, kamu percaya trik dari sinetron ini?” Hariyo tertawa terbahak-bahak, “Cobalah kamu gigit kalau tidak takut sakit, aku juga penasaran kamu bisa mati atau tidak.”
“Ka...... Kamu tidak takut akan ditangkap polisi dan masuk penjara?”
“Kamu bercanda, ya? Aku sudah cukup menyedihkan dan tidak akan perduli kalau jadi kriminal!” Hariyo terlihat kejam, “Aku ini wakil direktur dan akhirnya jadi begini, ini semua karena dipecat Marcel si brengsek itu. Kamu ini pacarnya, kan!”
“Sembarangan! Aku bukan pacarnya!”
“Jangan berpikir bisa membohongiku! Mana ada konglomerat yang mau jadi pengantar makanan di toko milk tea jika bukan karenamu? Apa dia ingin menikmati pengalaman hidup? Aku tidak sebodoh itu dan mempercayainya!”
Ani sudah tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa putus asa dan memejamkan mata.
Saat Hariyo mau menyentuhnya, pintu gudang ditendang seseorang, Marcel berjalan masuk dengan membawa 2 tas besar......
__ADS_1