
Kalau Marcel yang dulu, mungkin sudah mundur, tapi kini jangankan hotel bintang 5, dia juga sanggup makan di tempat yang lebih mahal.
Tapi, dia tidak begitu senang, Diana tahu keadaan keluarganya dan sudahlah kalau mau mengajak temannya, tapi masih memilih dirayakan di hotel bintang 5, ini jelas-jelas mempersulit dirinya!
Setelah mempertimbangkan sebentar, dia membalas. “Kamu yang atur saja, aku tidak keberatan!”
“Baik, aku yang atur, sampai ketemu nanti malam, ingat jangat telat, ya!”
“Ya, kue ulang tahun sudah kupesan, nanti aku sekalian bawa ke sana.”
“Ya.” Setelah meletakkan ponsel, langsung ada suara tawa yang keras dari samping Diana.
“Hahahaha, Diana, aku rasa Marcel ini lumayan lucu, cepat sekali mengiyakannya?” Susanti, teman Diana tertawa.
Teman lainnya, Veronica berkata, “Aku rasa dia sudah bodoh karena mengantar pesanan, dia tidak mengecek dulu hotel JW Marriot itu tempat apa. Harga ruangan suite paling murah harganya sudah 20 jutaan, aku ingin lihat ekspresinya saat dia membayarnya, hahaha, sungguh menantikan saat itu!”
“Jangan begitu, dia hanya anak kuliahan miskin, ini sedikit keterlaluan, kan?” Teman satunya lagi, Jessica lebih baik hati, dia kasihan pada Marcel.
“Miskin juga harus sadar diri, sudah miskin tapi masih ingin mengejar bunga kampus kita, dia terlalu berharap, kan?” Susanti tersenyum dingin. “Aku setuju dengan ucapan Susanti.” Veronica mengiyakan.
“Tapi, bagaimana kalau dia tidak sanggup membayarnya?” Jessica berkata pelan.
“Tenanglah, Jess, Rendy sudah bilang ini untuk menakuti dia saja, dia tidak akan dipersulit dengan uang sesedikit ini.” Diana tersenyum sambil mengoleskan eye cream.
“Wah, wah, kapan jadi begitu akrab sampai mengajak Rendy?” Veronica sedikit iri.
Rendy itu idola kampus, banyak gadis yang menyukainya.
“Jangan gosip.” Diana menjulingkan mata padanya dan terus berdandan......
Setelah pulang kerja, Marcel mengemudikan mobil mengambil kue ulang tahun di toko kue.
Mobil balap Venona yang mewah memasuki hotel JW Marriot dengan pelan, satpam tidak membiarkan Marcel parkir di parkiran dan langsung membiarkan dia parkir di depan pintu hotel, ini akan menarik perhatian orang-orang dan menaikkan reputasi hotel. Ini juga mempermudah akses bagi tamu VIP, sama-sama saling menguntungkan.
Satpam tidak merasa aneh saat melihat Marcel yang turun dari mobil dengan pakaian murahan.
Zaman sekarang, orang yang semakin kaya akan semakin merendah, dia pernah melihat orang yang mengemudikan mobil balap dengan memakai singlet dan sandal jepit, Marcel ini belum seberapa.
Setelah sampai di ruangan yang dipesan Diana, Diana dan 4 gadis lainnya sudah mengobrol ria di dalam.
__ADS_1
“Marcel sudah datang, ayo, cepat duduk di sini!” Susanti mengajaknya duduk di antara Diana dan Jessica, Veronica meletakkan kue di meja teh di samping.
Beberapa orang ini tahu Marcel itu pengantar makanan dan merendahkan dia, selain Diana dan Jessica yang tadinya mengobrol sebentar dengannya, dia hanya duduk dan memainkan ponselnya saja.
Sudah hampir jam 7, Marcel yang sudah jadi kuat punya efek samping cepat lapar, dia tidak tahan lagi dan bertanya. “Kapan masakannya dihidangkan?”
“Tunggulah sebentar, Rendy dan Handoko masih belum sampai.” Diana menjawab sekenanya.
Marcel akhirnya mengerti setelah mendengar ucapan ini, Handoko tidak membohonginya, dari sikap Diana, kemungkinan besar dia dan Rendy sudah pacaran.
“Marcel, aku masih ada sedikit snack, kamu makanlah dulu agar tidak terlalu lapar.” Jessica memberikan sebungkus cookies.
“Terima kasih!” Marcel menerimanya tanpa sungkan, dia sungguh lapar.
Diana dan Susanti serta yang lainnya langsung memandang Marcel dengan hina saat melihatnya makan dengan lahap, hanya Jessica yang menuangkan teh untuknya.
Setelah selesai makan cookies, pintu ruangan terbuka, ada pria tampan berjalan masuk diiringi oleh Handoko dan gadis berambut kuning, dia membawa sebuah buket 99 tangkai bunga mawar.
Keempat wanita itu terlihat berbinar-binar saat melihat Rendy.
“Maaf, tadi sedikit macet dan datang terlambat.” Rendy tersenyum simpul dan memberikan buketnya pada Diana. “Diana, selamat ulang tahun, ya. Semoga makin cantik!”
Susanti dan Veronica terlihat iri dan ingin berganti posisi dengan Diana.
Rendy sangat puas dengan reaksi para gadis ini, dia melirik Marcel yang diabaikan dan langsung duduk disamping Diana.
Semua orang sudah hadir dan pelayan segera menghidangkan makanan, sirip ikan hiu, sarang walet, lobster Eropa......
Walaupun Marcel tidak pernah makan makanan ini, tapi dia pernah melihatnya di internet dan hanya 1 kata. Mahal!
Semuanya melihat Marcel yang tidak bereaksi dan mengira dia tidak pernah melihat makanan ini dan tidak tahu harganya.
Bagus juga, semuanya ingin menikmati ekspresi Marcel yang terkejut syok saat membayar tagihan......
“Diana, yang ini pacarmu, ya? Kenapa tidak kenalkan pada kami?” Rendy tersenyum.
“Ini temanku, Marcel, juga sudah semester akhir.” Diana sengaja tidak menyebut pacar.
“Oh?” Rendy mengulurkan tangan pada Marcel, “Salam kenal, aku Rendy.”
__ADS_1
“Salam kenal.” Marcel menyalaminya pelan.
“Marcel, kamu tulus juga sampai merayakan ulang tahun Diana di sini, sungguh berani menghabiskan uang!” Rendy sengaja berkata sambil diam-diam meletakkan tangan di atas paha Diana, Diana tidak menolaknya.
“Begitulah, asalkan dia senang saja, uang tidak masalah.” Marcel tersenyum.
Senyum yang tenang ini membuat Rendy merasa senang. Senyumlah terus, bocah tengik, nanti kamu akan menangis!
“Oh ya, barusan aku lihat ada Lamborghini Venona yang parkir di depan pintu hotel, Marcel, kamu tahu itu siapa pemiliknya?”
“Tidak tahu.” Marcel pura-pura bodoh, dia tidak tahu kalau Handoko sudah melihat semuanya pagi ini dan masih menceritakan anggapannya pada kakak sepupunya. Marcel menyewa mobil balap yang mahal demi mendapatkan Diana malam ini!
Rendy mengungkit topik ini agar “Perangkap” Marcel terungkap dan dipermalukan di hadapan semua orang.
Rendy sudah memancingnya, namun siapa sangka Marcel tidak memamerkan mobil balap sewaannya.
Melihat Marcel tidak mengungkap rencananya, Rendy merasa tak berdaya dan gagal, dia membelalakan mata pada adik sepupunya.
Handoko menyadarinya dan segera berkata keras. “Itu milik Marcel, aku jelas-jelas melihatmu mengemudikan mobil balap Veneno pagi ini, mataku rabun, ya?”
Marcel mengemudikan mobil balap?!
Diana dan yang lainnya terlihat sulit percaya setelah mendengarnya.
Uang dari sekali mengantarkan makanan masih tidak cukup untuk membeli bahan bakar mobil balap selama 1 menit!
“Ya, benar!” Marcel mengangguk, “Kamu pasti rabun!”
Handoko kali ini tidak memaksa, Marcel bersikeras tidak mengaku dan dia tidak bisa apa-apa, ataukah minta satpam memeriksa CCTV hotel?
Akan aneh jika mereka mau bantu!
“Ya sudah kalau bukan kamu, ayo, kita bersulang pada Diana!” Rendy juga tidak ingin mempermasalahkan hal ini. Dia berdiri dan mengangkat gelas wine.
Setelah semuanya bersulang, Rendy tiba-tiba mengernyitkan kening.
“Marcel, sepertinya wine yang kamu pesan ini tidak enak!”
__ADS_1