
Ani berkata, “Bisakah kamu jelaskan kenapa dia memberi komentar ini padamu?”
“Kak Ani, jangan sembarangan berpikir, anak ingusan ini siswi SMA sekolah ternama, dia hanya balas dendam padaku yang telah menolongnya.” Marcel tersenyum, “Barusan aku membantunya, mungkin otaknya hang dan menangis mau mengenalkan kakaknya padaku saat aku mau pergi. Kamu tahu aku bukan pria sembarangan dan tentu menolaknya, maka dia sengaja memberi bintang 1 untuk balas dendam padaku!”
Ani sulit percaya, “Hanya begini?”
Marcel meyakinkan, “Benar, hanya begini!”
“Apakah dia jelek sekali sampai kamu menolaknya?”
“Jujur saja, dia termasuk cantik.”
Ani terus bergosip, “Ada secantik pacarmu?”
“Pacar? Dari Hong Kong?”
“Lho? Kemarin itu kamu ditolak?”
“Oh, maksudnya Diana, ya?” Marcel akhirnya tersadar, “Kalau dari postur badan, Diana masih lebih bagus darinya.”
“Dia baru anak SMA, tentu tidak bisa dibandingkan dengan anak kuliahan. Kalau begitu, harusnya kakaknya cantik, kan?” Ani tersenyum simpul, “Harusnya termasuk yang cantik sekali, hatimu tidak tergerak?”
“Tidak.” Marcel sembarangan bicara dengan ekspresi serius, “Kini aku sedang dalam masa-masa karirku naik daun, tentu harus mementingkan pekerjaan!”
Bercanda, ya? Zaman sekarang tidak pasti kakaknya cantik walaupun adiknya cantik.
Bagaimana kalau kakaknya seberat 100 kg seperti tank? Kamu akan pingsan atau tidak?
Ani tertawa, “Berlagak miskin. Mana ada jenjang karir dengan menjadi pengantar makanan? Jangan kira aku tidak tahu maksudmu, sudah banyak wanita yang dekat denganmu karena punya mobil balap Veneno, kamu pasti tidak mau berkomitmen terlalu awal agar bisa bersenang-senang dengan beberapa wanita dulu selagi muda. Benar, kan?”
“Kak Ani terlalu meremehkan aku, apa aku mirip pria brengsek yang sembarangan menggoda wanita?”
“Jujur saja, memang agak mirip.” Ani tertawa sambil menutup mulutnya, “Bukankah sekarang lagi trend menulis kata “Pria Brengsek” di atas mobil dengan pilox? Aku khawatir dengan mobil balap Veneno milikmu!”
“Tidak mungkin, kini aku hanya pria jomblo saja, mana mungkin bisa terjadi hal yang parah begini?”
“Semoga saja tidak terjadi.” Ani juga percaya Marcel itu pria baik, “Oh ya, besok aku mau pulang kampung dan toko libur, anggap kamu libur 1 hari.”
Marcel penasaran, “Pulang karena dijodohkan?”
__ADS_1
Dari yang dia ketahui, sebulan lebih yang lalu, Ani pulang kampung karena dijodohkan, tapi sepertinya gagal.
“Masih bisa ada urusan apalagi? Ibuku sangat mengesalkan, dia bilang wanita di atas 25 tahun termasuk perawan tua dan akan semakin susah menikah jika semakin tua. Dia bilang mungkin akan menikah dengan duda atau pria yang jelek.” Ani terlihat murung, “Dia sampai menjodohkanku 10 kali dalam sebulan, aku sudah menolaknya beberapa kali, mungkin dia akan datang dan menyeretku pulang kalau aku menolak lagi.”
Marcel berkata, “Kak, harusnya kakak tidak sulit mencari pacar di Jakarta, kan?”
“Tiap hari aku sibuk mengurus toko, mana ada waktu untuk pacaran?”
“Aku rasa harusnya bukan karena hal ini, tapi karena sudah ada yang mengisi hati kakak, kan?” Marcel tersenyum, “Jangan kira aku tidak tahu kalau ada foto pria tampan di dalam dompet Kakak!”
“Kamu mengetahuinya?” Ani tersipu malu.
“Astaga, setiap hari Kakak akan diam-diam memandangi foto itu saat senggang sambil tertawa sendiri. Aku tidak buta dan tentu melihatnya!” Marcel tertawa, “Dia itu cinta pertama Kakak?”
Ani mengangguk.
“Dia ada di mana?”
“Sedang kuliah S2 di Australia.” Ani menghela nafas pelan, “Saat ini dia sibuk kuliah dan hanya kontak dengannya beberapa kali dalam sebulan. Tapi, baguslah dia akan tamat dan pulang tahun ini.”
“Oh begitu. Kakak tidak takut dia cari pacar di sana?” tanya Marcel, “Aku dengar anak kuliahan di Australia sangat terbuka, jangan sampai Kakak dikhianati.”
“Ah? Lalu bagaimana kalian bisa jadian?”
“Dulu aku yang mengejarnya.” Ani kembali mengenang dengan bahagia, “Aku ingat saat itu musim panas, dia yang kurus tinggi itu memakai kemeja putih dan sedang membaca buku di tepi danau. Air danau yang biru, angin yang berhembus pelan, aku memberanikan diri berjalan diam-diam sampai di belakangnya......”
Marcel mendengar dengan serius, “Lalu? Menutup matanya dan memintanya menebak itu siapa?”
Bukankah pasangan dalam sinetron selalu berakting begini?
“Tidak, aku menendangnya ke dalam danau.”
Apa??
Marcel hampir terjatuh dari kursinya.
Jauh berbeda sekali dari yang dibayangkan!
“Aku tahu dia tidak bisa berenang, lalu dia sangat berterima kasih padaku setelah aku menolongnya. Dia inisiatif mengajakku nonton lalu kami jadi pacaran......”
__ADS_1
Hebat!
Marcel mengacungkan kedua jempolnya.
Tidak heran namanya Ani, hebat sekali dalam mengejar pria.
Akan jadi kisah yang menyedihkan kalau si kutu buku itu tidak sanggup diselamatkan......
“Lalu, Kak Ani mau menikah setelah dia pulang nanti?”
Ani mengangguk, “Ya, aku membuka toko milk tea ini untuk mendukung biaya kuliahnya karena kuliah di luar negeri sangat mahal. Dia hanya dari keluarga biasa saja.”
Marcel baru mengerti, bisnis toko milk tea termasuk bagus dan cukup bagi Ani untuk hidup lebih nyaman walaupun tidak termasuk menghasilkan banyak uang. Tapi, biasanya Ani sangat hemat sampai tidak rela membuang ransel ratusan ribu yang sudah lusuh. Rupanya uang yang dihasilkannya untuk mendukung pacarnya kuliah di luar negeri.
“Sungguh mengharukan, semoga cinta akan membuka jalan bagi kalian.”
“Kenapa ucapanmu tidak tulus sekali?” Ani menyipitkan mata pada Marcel, “Cel, jujur saja, aku pasti akan mengejarmu kalau aku masih jomblo!”
Marcel langsung merasa punggungnya dingin, dia membayangkan dirinya ditendang ke dalam danau......
“Kak Ani, perkataanmu benar?”
“Tentu saja.” Ani tersenyum licik, “Jangankan karena kamu sudah menolong nyawaku, aku pasti tidak akan melepaskanmu karena kamu punya mobil balap Veneno!”
“Rupanya Kakak menargetkan mobil balap Veneno. Itu hanya sebuah mobil saja, aku hadiahkan untukmu!” Marcel memukulkan kunci mobil di atas meja dengan kesal, “Besok Kakak boleh pulang dengan mengendarai mobil itu.”
“Tidak pas jika menghadiahkan mobil kerabatmu pada orang lain, kan?”
“Tidak masalah, kerabatku pasti tidak keberatan agar aku tidak diganggu oleh kakak!”
“Tidak bercanda lagi. Cepat simpan kunci mobilnya.” Ani tersenyum, “mobilmu rendah sekali, masih lumayan kalau dikemudikan di kota untuk pamer, tapi mungkin tidak akan bisa melewati polisi tidur jika sungguh kukemudikan pulang kampung.”
“Bagaimana kalau mengemudikan SUV Kombat saja? Mobil itu cukup tinggi, kan?”
“Jangan dibahas lagi, BBMnya saja sudah hampir membuatku bangkrut, mobil ini seperti tank, akan konyol sekali jika dikemudikan wanita.”
“Lumayan, setidaknya bisa menakuti calon yang akan dijodohkan padamu itu sampai kabur!”
“......”
__ADS_1