
Wenny langsung merasa tidak puas. Walaupun dirinya wanita, tapi dia termasuk juara 3 besar dalam kemampuan bela diri di kepolisian. Dia tidak pernah kalah dalam hal ini!
Dia menguatkan tenaganya dan berusaha memutar lengan Marcel.
Walaupun sudah berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya, namun masih tidak bisa menggerakkan Marcel.
Mengesalkan sekali, memangnya pria ini Hercules?
Wenny jadi sulit percaya.
“Nona cantik, kamu sedang memijatku?” Marcel berkata santai: “Bisakah ganti posisi yang lain? Lengan ini sudah tidak pegal lagi, terima kasih.”
Wenny malu dan jadi marah, dia mengeluarkan senjata: “Letakkan tangan di balik kepala dan berlutut! Atau aku akan menembakmu!”
“Jangan!” Polisi pria di sampingnya terkejut dan segera menahannya, “Bu Wenny, dia ini pemilik area pembelanjaan Mangga Dua!”
“Benarkah?” Wenny sampai tertawa mendengarnya, “Apa tidak salah? Bocah ini baru umur berapa? Mana mungkin dia ini konglomerat!”
Polisi pria berkata: “Barusan GM Jeremy dari area pembelanjaan Mangga Dua menelepon kapten dan sudah mengirimkan foto kemari, Marcel memang pemiliknya.”
“Kali ini kamu hanya beruntung!” Wenny hanya bisa menyimpan senjatanya kembali, “Ayo bubar, bawa semua orang ke kantor!”
Setelah Wenny pergi, polisi pria berkata dengan ramah: “Pak Marcel, Bu Ani, silahkan ikuti mobil kami.”
Marcel tersenyum dan bertanya: “Pak polisi, ketua kalian masih lajang?”
Polisi pria jadi bingung: “Kenapa kamu bisa tahu?”
Marcel menjelaskan: “Aku langsung tahu begitu bertemu dengannya. Mana ada pria yang bisa tahan dengan sifatnya yang langsung mau berkelahi kalau beda pendapat. Seperti pria saja.”
“Duang!”
Ada suara yang keras dan sebuah ban bekas menggelinding sampai di antara mereka.
Polisi pria langsung berkeringat dingin saat melihat pandangan Wenny yang galak, Marcel masih terlihat santai......
Setelah selesai memberi pernyataan, Marcel dan Ani dijemput pulang oleh Jeremy.
__ADS_1
Ani yang syok beristirahat sehari di rumah dan baru buka toko keesokan harinya. Marcel melihat ketua satpam Felix di depan pintu toko milk tea saat masuk kerja, rupanya Jeremy memerintahkan untuk memperketat keamanan di toko milk tea untuk menghindari 2 buronan itu kembali mencari masalah.
Marcel tidak mendapat hadiah dari sistem lagi setelah menyelesaikan beberapa pesanan. Waktu sudah menunjukkan jam 2 sore, Marcel duduk di pojokan toko milk tea sambil mengantuk, tiba-tiba ponselnya berdering dan ada pesanan lagi.
Dia jadi semangat dan kembali berangkat dengan motor listriknya. Dia menelepon pelanggan setelah sampai di tujuan.
“Halo, saya sudah sampai di seberang rumah makan ABC, lokasi anda di mana, ya?”
“Kamu ada lihat mobil Corola warna perak di tepi jalan? Berikan pada supirnya saja.”
Suara pelanggannya terdengar dingin, namun terasa familiar.
“Baik!”
Marcel dengan cepat menemukan mobil Corola dan mengetuk jendela mobil dengan pelan. Supir menurunkan kaca mobil dan rupanya dia itu polisi pria yang kemarin. Saat ini dia berpakaian biasa.
“Wah, kamu, ya!” Marcel senang, “Kenapa? Hari ini off?”
“Off apanya? Aku sedang bertugas.” Kevin menerima pesanan sambil tersenyum, “Pak Marcel, aku tidak menyangka kamu sungguh jadi pengantar makanan?”
“Tentu saja, aku memang berprofesi jadi pengantar makanan.”
Marcel melihat ke dalam mobil dan tidak terlihat ada Wenny di dalam dan bertanya: “Kenapa kamu sendiri? Di mana ketua Wenny si muka besi itu?”
Kevin masih belum sempat menjawab dan Marcel merasakan pandangan yang menusuk dari punggungnya. Rasa bahaya langsung membuatnya waspada!
Di belakangnya, sebuah kaki jenjang yang memakai sepatu putih bergerak cepat untuk menendang selangkangannya!
Marcel dengan cepat merapatkan kedua kakinya dan menjepit kaki itu dengan erat.
Wenny berusaha berontak beberapa kali namun dia tidak bisa mengeluarkan kakinya.
Hari ini dia memakai kaos putih dan rok jeans yang pendek. Gaya kaki yang terjepit ini terlihat tidak elegan dan para pejalan kaki jadi menunjuknya sambil berbisik membicarakannya.
“Cepat lepaskan kakiku, dasar mesum!” Wenny tak berdaya dan hanya bisa berteriak.
Marcel berkata datar: “Nona cantik, jelas-jelas kamu yang lebih dulu menyerangku diam-diam, aku ini sedang melindungi diri! Kenapa disebut mesum?”
__ADS_1
Wenny marah: “Tidak mau melepaskan, ya? Baiklah, aku mau lihat kamu bisa tahan berapa lama!”
Dia mengepalkan tangan dan meninju bagian belakang leher Marcel.
Kalau berhasil mengenainya, pasti akan bisa membuat pria ini pingsan!
Marcel tidak menghindar dan menangkap tangan Wenny seperti ada mata di belakang kepalanya.
Wenny tidak bisa menarik tangannya dan hanya bisa kembali meninju pinggang Marcel. Namun kekuatan keduanya terpaut terlalu jauh. Marcel kembali menangkap tangannya yang satu lagi.
Baguslah, kini Wenny hampir tidak bisa berdiri stabil apalagi menyerang Marcel. Dia hampir menangis karena panik.
Marcel berkata datar: “Minta maaf padaku dan aku akan melepaskanmu.”
“Jangan mimpi!”
Dia akan merasa kalah jika minta maaf, ini sebuah aib bagi Wenny.
Performanya bagus sekali begitu bergabung dengan kepolisian, dia menjadi ketua polisi paling muda di kota ini dalam waktu 2 tahun yang singkat. Mana mungkin dia bersedia minta maaf pada lawannya?
“Baiklah, kita tetap begini dan lihat siapa yang akan menyerah.” Marcel tidak melepaskan pegangannya dan sengaja mau memberi pelajaran pada Wenny.
Pose kedua orang ini aneh sekali dan tidak bergerak. Lama-lama, orang yang mengelilingi semakin ramai saja.
“Anak muda zaman sekarang, bertengkar pun sampai ke jalanan, sungguh tidak tahu malu!”
“Aku lihat mungkin mereka selebgram yang merekam video pendek, wanita ini cantik sekali dan elegan. Badannya juga sempurna.”
“Abang pengantar makanan itu mungkin pacarnya, cinta tidak membedakan status, aku iri sekali.”
Marcel hanya bisa menahan berbagai pandangan dari orang-orang di sekitar, namun Wenny sudah tidak tahan lagi.
Dia akhirnya memilih menyerah setelah banyak orang yang memfoto mereka.
“Maaf......”
“Suaramu terlalu kecil, tidak kedengaran!”
__ADS_1
“MA! AF! MAAF!”