Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Jangan Jadi Pengantar Makanan Lagi Di Kehidupan Mendatang


__ADS_3

Marcel akhirnya melepaskan kaki dan tangan Wenny saat mendengarnya terisak.


 


 


Wenny yang baru dilepaskan, menunduk melihat ada bekas hitam di pergelangan tangannya!


 


 


Marcel memang tidak tahu menghargai wanita cantik.


 


 


Wenny mengurut pergelangan tangannya dengan kuat, dia pasti sudah akan mengarahkan senjata pada Marcel jika tidak ada orang di sini. Lalu memberi pelajaran pada pria ini, tidak peduli dia konglomerat atau bukan!


 


 


“Marcel, berani bertanding denganku dengan resmi?”


 


 


“Kenapa? Masih belum cukup aku permalukan?” Marcel tersenyum dingin, “Kalau tidak curang, aku bisa melayanimu sepuasnya!”


 


 


“Baik, 3 hari kemudian, carilah aku di tempat ini dan kita bertarung!” Wenny memberikan kartu nama hitam padanya.


 


 


Marcel menerimanya dan tertulis “Big Beast Boxing”.


 


 


“Tidak masalah. Semoga nanti kamu tidak menangis karena malu.”


 


 


“Kamu......”


 


 


“Ketua, target sudah muncul!” Kevin yang terus mengamati apartemen di seberang tiba-tiba berkata.


 


 


Wenny dan Marcel melihat ke sana dan ada pria bermantel yang memakai masker berjalan masuk ke dalam gedung dengan misterius.


 


 


“Dia itu Harwinto?” Marcel langsung mengenali pria itu.


 


 


“Penglihatanmu lumayan.” Wenny mendengus sinis, “Kev, segera panggil bantuan, aku lebih dulu mengikutinya dan melihat situasi!”


 


 


Kevin berkata: “Ketua, dia itu buronan kejam dan kemungkinan besar dia punya senjata, terlalu bahaya kalau pergi sendiri. Nanti baru ke sana saja setelah bantuan tiba!”


 


 


“Tenanglah, aku naik dan melihat lokasinya dulu, kamu tunggu bantuan di sini.” Wenny berkata tanpa ragu.


 


 


“Si muka besi...... Ehm, Nona Wenny, bagaimana kalau aku menemanimu?” Marcel menawarkan diri.


 


 


Wenny menolak: “Tidak boleh, Harwinto mengenalimu.”


 


 


Marcel memakai helm: “Bagaimana kalau begini?”


 


 


Marcel kembali berkata saat melihat Wenny ragu-ragu: “Dia masih ada di Jakarta karena mau balas dendam padaku dan Ani, aku tidak bisa membiarkannya kabur!”


 


 


Kevin juga membujuk: “Ketua, Pak Marcel ahli bertarung, aku juga akan lebih tenang jika dia menemanimu, iyakan saja!”


 


 


“Baiklah, tapi ikuti arahanku setelah masuk nanti.”


 


 


“Baik!”


 

__ADS_1


 


Marcel segera mengambil kembali pesanan makanan yang dipegang Kevin: “Aku pinjam dulu dan nanti aku kembalikan.”


 


 


“Aku masih belum meminumnya......”


 


 


“Nanti baru minum.”


 


 


Keduanya berjalan masuk ke dalam apartemen, Harwinto sudah tidak terlihat dari tadi, Wenny menunjukkan lencana polisi pada resepsionis.


 


 


“Bu polisi, ada keperluan apa?” Pria resepsionis bertanya.


 


 


“Pria yang baru masuk barusan naik ke lantai berapa?”


 


 


“Sepertinya lantai 3 atau lantai 4, aku tidak ingat jelas.”


 


 


“Bisakah tunjukkan CCTV agar bisa tahu dia masuk ke kamar nomor berapa?”


 


 


“Maaf, bu. Sebagian besar CCTV di lantai atas itu sudah tidak berfungsi.”


 


 


Wenny tak berdaya dan hanya bisa mengecek lantai 3 dengan Marcel.


 


 


Setelah keduanya masuk ke dalam lift, pria resepsionis diam-diam mengirim pesan.


 


 


Harwinto yang sedang makan mie tiba-tiba berdiri setelah menerima pesan.


 


 


 


 


“Ada polisi kemari, ayo kita cepat pergi!”


 


 


Keduanya sudah menyiapkan ransel dan langsung segera keluar dari apartemen.


 


 


Di dalam lift, Wenny langsung menekan tombol lantai 8.


 


 


Marcel merasa aneh: “Bukankah kita mau ke lantai 3?”


 


 


“Pria barusan itu berbohong.” Wenny berkata datar, “Lift di sebelah jelas-jelas berhenti di lantai 8, barusan tidak ada yang keluar masuk di apartemen, Harwinto pasti ada di lantai 8.”


 


 


“Bagaimana kalau tebakanmu salah?”


 


 


“Kalau salah, maka nanti harusnya kita tidak akan menemui bahaya saat keluar dari lift nanti.” Wenny mengeluarkan senjata dari pinggangnya dan melepaskan penguncinya.


 


 


“Nanti kamu merapat ke dinding di dalam, jangan sampai mengeluarkan kepala!” dia memberi perintah, “Harwinto sangat ganas dan sudah pernah melukai beberapa polisi.”


 


 


Walaupun kekuatan fisik Marcel sudah kuat karena sistem, tapi dia tidak berani menjamin dirinya akan kebal peluru. Lebih baik dia menuruti Wenny dan merapat ke dinding.


 


 


Harwinto baru mau turun ke bawah dari tangga darurat, Jodi tiba-tiba berkata: “Kak Harwinto, lift sepertinya naik ke sini!”


 

__ADS_1


 


“Sial, pasti Santo ketahuan bohong oleh polisi! Kita hanya bisa menghabisi mereka dulu!”


 


 


“Baik!”


 


 


Keduanya mengeluarkan senjata laras pendek dari ransel, lalu bersembunyi di kiri kanan lift.


 


 


Lift ternyata berhenti di lantai 8, pintu lift terbuka perlahan setelah berbunyi.


 


 


Setelah pintu lift terbuka setengah, ada 2 buah senjata yang ditodongkan ke dalam lift, Wenny sudah punya persiapan dari tadi dan tetap tenang saat melihat hal ini.


 


 


“Telungkup di lantai!” Marcel tidak sempat banyak berpikir dan berteriak sambil menarik Wenny ke lantai.


 


 


“Dor! Dor!”


 


 


Suara tembakan senjata terdengar bersamaan, Wenny yang telungkup di lantai dilindungi oleh Marcel. Punggung Marcel terasa perih dan memuntahkan darah, banyak darah yang mengenai dinding lift.


 


 


Harwinto melihat ada orang yang berlumuran darah di lantai.


 


 


Jodi memegang kepalanya sendiri: “Kak Harwinto, sepertinya kita salah sasaran! Dia ini sepertinya pengantar makanan!”


 


 


Harwinto meludahi lantai: “Cuih, 2 peluruku terbuang sia-sia, anggap saja nasibmu sial dan jangan jadi pengantar makanan lagi di kehidupan mendatang! Jodi, ayo pergi!”


 


 


Mereka berdua mau menyimpan senjata dan pergi, Wenny tiba-tiba mendorong Marcel pergi dan mengarahkan senjata pada mereka lalu menembak 2 kali!


 


 


Tembakannya akurat dan pasti mengenai sasaran jika ditembak dari jarak sedekat ini. Kaki kedua orang ini terkena tembakan dan terjatuh ke bawah.


 


 


Wenny tidak berani mengambil resiko. Dia berdiri dan kembali menembak tangan mereka sampai mereka tidak bisa melawan lagi......


 


 


“Marcel, Marcel, bagaimana keadaanmu? Jangan menakutiku! Cepat bicara!” Wenny menangis terisak-isak sambil menggoyang badan Marcel.


 


 


Mungkin kini dia yang terbaring mati di lantai jika Marcel tidak menyelamatkannya barusan!


 


 


“Ti...... Tidak apa-apa......” Marcel terdengar lemah, “Tapi, mungkin...... Aku akan mati jika kamu lebih kuat lagi......”


 


 


Punggungnya terkena 2 tembakan, Marcel bersyukur masih hidup.


 


 


“Syukurlah kamu masih hidup!” Wenny langsung senang sekali dan memeluk Marcel, tangisannya semakin hebat.


 


 


“Ja...... Jangan menangis lagi, segera panggil ambulan untukku, aku sudah hampir kehabisan napas......”


 


 


Wenny baru tersadar: “Bertahanlah sebentar, aku segera menelepon ambulan!”


 


 


Saat dia menelepon ambulans, Marcel yang terluka tiba-tiba mendengar suara sistem.


 


 


“Selamat pada pemilik akun sudah menyelesaikan 1 pesanan khusus, hadiahnya kekuatan fisik tingkat menengah!"

__ADS_1


__ADS_2