Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Mematahkan Tangan


__ADS_3

Martha dan lainnya terkejut sekali dan hanya bisa berangsur pergi, Katherine tersenyum dan kembali ke warnet, kerumunan orang juga bubar dengan cepat.


  “Kak Handoko, bukankah kamu bilang Marcel ini miskin? Kenapa dia mengendarai mobil balap?” Gadis berambut kuning bingung, ‘Orang tuanya konglomerat tersembunyi, ya?”


  “Menurutku, 9 dari 10 orang itu hanya menyewa mobil ini!” Handoko menyeringai dingin, “Dulu aku pernah bertemu orang tuanya, mereka hanya karyawan pabrik biasa saja, mana mungkin mereka itu konglomerat tersembunyi?”


  Gadis berambut kuning percaya pada ucapan Handoko dan menahan tawa. “Kali ini dia sungguh menghabiskan banyak uang demi lelucon ini, mahal sekali jika menyewa mobil balap walaupun hanya sehari, orang tuanya pasti marah sekali jika mengetahui hal ini.”


  “Hahahaha, anggap saja mereka sial karena punya putra tak berguna seperti dia.” Handoko semakin merasa begitu dan rasa kesalnya hilang, “Tunggu dan lihat saja, malam ini kita akan punya tontonan......”


  Marcel mengemudikan Veneno yang keren ke area perbelanjaan, mengunci mobil dan menurunkan motor listriknya, lalu dia mengemudikan motor listriknya ke toko milk tea sambil dipandangi orang yang lewat dengan terkejut.


  “Kak Ani, aku sudah kembali!” Dia terkekeh dan bertanya, “Ada pesanan lagi?”


  Dia mendapat hadiah yang mahal dari kedua pesanan tadi, kini dia tidak sabar menerima pesanan lagi.


  “Kenapa buru-buru? Cuaca panas sekali, kamu tidak ingin istirahat sebentar?” Ani menjulingkan mata padanya dan memberikan segelas kopi. “Aku yang traktir, minumlah.”


  “Terima kasih!” Marcel langsung menegunya, dia sungguh haus.


  “Pelan sedikit, tidak ada yang berebut denganmu, nanti tersedak.”


  Marcel menghabiskan setengah gelas dalam sekali teguk dan tersenyum sambil mengelap bibirnya. “Enak sekali! Kak Ani pandai menyeduhnya, pantas saja bisnis toko ini bagus sekali!”


  Ani memberikan selembar tisu padanya. “Jangan menjilatku, aku tidak akan menaikkan gajimu semudah ini. Uang sewa, air dan listrik zaman sekarang sangat mahal, jangan lihat bisnis toko yang bagus saja, sebenarnya hanya berusaha tidak rugi.”


  “Kak Ani jangan salah paham, bukan ini maksudku.” Marcel segera melambaikan tangan.


  Kini dirinya sudah jadi miliarder, tentu tidak perduli pada gaji kerja sambilan ini lagi.


  Ani malah tidak percaya. “Jangan kira aku tidak tahu tujuanmu bekerja di sini. Demi wanita cantik yang kamu bawa minggu lalu, kan? Aku ini pengalaman dan langsung tahu. Ceritakan padaku kalian sudah sampai tahap apa? Sudah menyewa rumah di luar?”


  “Masih belum pacaran.” Marcel tersenyum pahit, “Dia ulang tahun hari ini dan harusnya malam ini akan ada hasilnya.”


  “Wah, rupanya malam ini kamu mau menembaknya?” Ani tersenyum simpul, “Rupanya begitu, aku berikan dulu gajimu agar tidak menunda urusan pentingmu.”


  “Tidak, tidak perlu, aku ada......”


  Ani langsung mentransfer uang padanya, Marcel melihat ponselnya dan sepertinya jumlahnya salah.


  “Kak Ani, bukankah seharusnya 2 juta?”


  “1 juta lagi itu donasi dariku.” Ani berkata dengan murah hati, “Semangat, ya! Cepat lepaskan status jalangmu!”


  Marcel sedikit terharu. Dia termasuk sungguh beruntung bertemu bos seperti Ani.

__ADS_1


  Bisnis kedai milk tea memang bagus, Marcel belum selesai menghabiskan kopinya dan sudah ada pesanan baru.


  “Tolong minta abang pengantar pesanan sekalian membeli 2 karung beras, kalau tidak, aku akan beri bintang 1......” Marcel hampir mengumpat saat membaca pesan tambahan itu.


  “Jangan protes, pelanggan itu raja.” Ani tersenyum lalu memberikan milk tea dan kue yang sudah dibungkus pada Marcel, “Cepat pergi dan cepat kembali, aku akan izinkan kamu pulang kerja setelah selesai mengantarkan pesanan ini.”


  “Baik, kak Ani.” Marcel mengumpulkan semangat dan keluar dari toko milk tea, dia melesat pergi dengan menaiki motor listriknya.


  Walaupun Veneno itu bagus sekali, tapi akan lebih praktis jika dia mengantarkan pesanan dengan motor listrik!


  Dia membeli 2 karung beras ukuran 25 kg di supermarket dekat pintu apartemen pelanggan itu, setelah sampai di bawah, dia sedih karena menyadari liftnya rusak!


  “Sial! Pelanggan ini rupanya tinggal di lantai 10!” Marcel mengangkut karung beras dengan wajah kesal, dia menaiki tangga dengan perlahan.


  Kekuatan fisiknya kurang bagus dan nafasnya sudah terengah-engah saat baru menaiki 2 lantai.


  “Semangat! Kamu pasti bisa!” Marcel istirahat sebentar dan kembali mengangkut beras naik ke atas, dia akhirnya sampai di lantai 10 setelah menaiki tangga 15 menit.


  Ada pria yang membuka pintu setelah memencet bel.


  Pria itu sekitar umur 30-an, lengannya lebih kekar dari Marcel, ada handuk untuk mengelap keringat di lehernya, dia masih memegang sebuah barbell. Sepertinya dia fitness di rumah.


  “Kenapa lambat sekali?” Pria berotot itu menerima milk tea, “Angkat berasnya masuk dan letakkan di dapur, ya.”


  “Ba...... Baik!” Marcel lelah sampai hampir kehabisan nafas, tapi dia menuruti permintaan pelanggan dan mengangkut 2 karung beras itu di dapur.


  Rupanya ada hadiah lagi!


  Badan Marcel tiba-tiba berubah, ototnya jadi kekar seperti setiap sel di badannya dipenuhi kekuatan, Marcel merasanya dia bisa membunuh harimau liar dengan sekali tinju!


  Kalau kekuatan fisik orang biasa dinilai 1, maka kekuatan fisik Marcel kini dinilai 5, inilah kehebatan sistem.


  “Masih muda tapi sudah lelah karena mengangkut barang seringan ini!” Pria berotot melihatnya dengan tidak senang, lalu memamerkan otot lengannya, “Nak, ingat latihlah badanmu, tidak akan ada masalah lagi mengangkat 2 karung beras jika kamu sudah berlatih sampai sepertiku ini.”


  “Gampang saja kalau bicara, ini lantai 10, kenapa tidak angkat sendiri kalau dirimu hebat?” Marcel protes.


  “Untuk apa mencarimu jika bisa angkat sendiri? Kamu kira aku bodoh?” Pria berotot menyeringai sinis, “Untuk apa aku membeli kopi dari toko kalian jika lift tidak rusak!”


  “Kamu memesan segelas kopi agar aku membantumu dengan gratis?” Marcel emosi sekali kali ini.


  “Ya, lalu kenapa? Kamu juga harus mengantarnya walaupun sudah tahu, atau aku akan komplain!” Pria berotot keras kepala.


  Marcel mendengus dingin, “Jangan terlalu keterlaluan menindas orang, menurutku, kamu ini tidak sekuat tampangmu, mungkin saja aku lebih kuat darimu!”


  “Apa?” Pria berotot jadi emosi mendengarnya, dia paling tidak suka orang lain mengatakan hal ini tentang dirinya, “Nak, kamu harus tanggung akibatnya jika omong kosong, aku akan robek mulut busukmu dan memberi bintang 1 untuk toko milk tea kamu!”

__ADS_1


  “Tidak percaya? Ayo kita beradu!” Marcel menggulung lengan baju, “Yang paling mudah itu adu panco saja, yang kalah itulah pecundang!”


  “Ya!” Pria berotot setuju sekali, keduanya duduk di sebuah meja dan tangan kanan mereka saling menggenggam.


  “1 ronde atau 3 ronde?”


  “Aku tidak punya banyak waktu, 1 ronde saja!” Marcel berkata datar.


  “Baik, ayo mulai!” Pria berotot mulai menguatkan pergelangan tangannya, dia putuskan mau menyiksa Marcel dengan perlahan!


  Dia terkejut saat baru mengeluarkan tenaga.


  Pergelangan tangan Marcel rupanya sekeras baja, tangan Marcel masih tidak bergerak walaupun dirinya sudah sekuat tenaga.


  “Aneh!”


  Pria berotot tidak mengurangi tenaga dan terus menambah kekuatan.


  Marcel seperti tidak merasakan usaha pria itu dan tersenyum datar, lalu dia menekan ringan tangan pria itu.


  Pria berotot tercengang dan seiring tenaga yang menguat, muncul bulir-bulir keringat di keningnya.


  “Ayo keluarkan tenagamu, kamu belum makan, ya?” Marcel menantangnya.


  “Ja...... Jangan bangga!” Pria berotot emosi sekali, dia menggertakkan gig dan mengeluarkan seluruh tenaganya.


  “Ck ck ck, terlalu lemah.” Marcel menggeleng, lalu menekan pergelangan tangan pria berotot itu kearah dalam dan terdengar suara “Krak” yang keras, meja kayu yang kuat itu tidak sanggup menahan tenaga sebesar ini dan langsung patah jadi beberapa bagian!


  “Sakit! Aduh!” Pria berotot menangis kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya, tekanan barusan membuat ototnya terkilir.


  “Kakek, jangan berteriak lagi, ingat bintang 5, ya! Kalau tidak, lain kali aku akan kembali mematahkan tanganmu.” Marcel menepuk patahan kayu di kakinya lalu berdiri. Dia keluar dari rumah pria berotot.


  “Makhluk aneh..... Dia makhluk aneh......” Pria berotot melihat Marcel pergi sambil bergumam.


  Dia merasa sial sekali sampai menyinggung orang seperti Marcel......


  Marcel yang semangat baru naik ke motor dan ponsel di sakunya berdering, rupanya ada pesan dari Diana.


  “Marcel, aku merasa malam ini akan lebih bagus kalau lebih ramai, lebih baik pesan ruangan di hotel JW Marriot, lalu mengajak Merry dan yang lainnya. Bagaimana menurutmu?”


  “Hotel JW Marriot?” Marcel terkejut.


  Itu hotel bintang 5 yang ternama di seluruh kota, harganya mahal!


  Rencananya mereka mau makan berdua di restoran barat......

__ADS_1


 


 


__ADS_2