Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Tidak Suka Pria yang Bergantung Pada Wanita


__ADS_3

“Bukankah dia Ariani dari jurusan Bahasa Asing? Kenapa kamu bisa mendapatkannya?” Marcel merasa aneh, Ariani semester 4 dan pandai memainkan piano, dia mengejutkan seluruh kampus saat acara anniversary kampus tahun lalu, dia temasuk mahasiswi hebat di kampus.


“Kenapa bilang begitu? Aku jadi tidak senang mendengarnya!” Casto berkata bangga, “Dia suka pria yang pandai main basket. Hari ini kita menghadapi rintangan, pemenangnya akan dapat kesempatan berkencan dengannya!”


“Rupanya kalian belum jadian?” Marcel terkejut.


“Sudah hampir!” Benard tersenyum, “Dengan kemampuan kita, akan mudah memenangkan pertandingan ini, kamu tinggal tunggu saja berkenalan dengan gadis cantik yang sekamar dengan kakak iparmu ini, kali ini mungkin aku dan Donny akan melepas status lajang!”


“Karena kalian begitu yakin, bagaimana kalau aku juga ikut bertanding?” Marcel sudah memiliki kemampuan semua jenis olahraga dan belum pernah mencobanya. Dia jadi penasaran.


“Kamu? Sudahlah, kamu nonton saja!” Donny lebih dulu menolak.


“Marcel, kamu sudah punya tante kaya dan disukai bos, jangan berebut dengan kami lagi. Duduklah di samping dan semangati kami saja.” Casto juga menolak.


Benard berkata: “Benar, Marcel, kamu jangan mengacau lagi, mereka bisa mengalahkanmu dengan 1 tangan!”


Marcel kesal sekali, tapi dia hanya diam dan duduk menonton.


Ini pertandingan basket 3 on 3, teman sekamarnya dan pihak lawan sama-sama mahasiswa semester akhir. Ada orang yang dikenali Marcel di sana, Rendy!


Rendy sangat geram saat melihat Marcel dan ingin memukulnya dengan bola.


“Ren, itu Marcel, kan?” Teman sekelasnya yang hampir setinggi 2 meter di sampingnya tersenyum dingin.


“Benar, kak Erwin, itu dia!” Rendy menjawab, “Pria simpanan ini membuatku malu di hadapan Diana, aku ingin memberi pelajaran padanya jika ada kesempatan!”


“Mudah saja. Bukankah dia teman sekamar Casto? Nanti aku akan melukai salah satu dari pihak lawan agar dia menggantikannya.” Erwin tersenyum licik, “Setelah dia naik ke lapangan, terserah kamu mau gimana, asal jangan membunuhnya saja.”


“Kak Erwin hebat, aku akan beri komisi 60 juta jika berhasil!”

__ADS_1


“Baik. Deal, ya!”


Selain Erwin dan Rendy, satunya lagi adalah pria kekar berambut pendek berbadan tegap. Namanya Richard. Dia ini penyerang utama dari tim basket kampus. Donny dan lainnya menganggapnya sebagai lawan yang paling berbahaya.


Setelah peluit ditiup, pertandingan resmi dimulai, aturannya sangat sederhana. Dalam 20 menit dibagi dalam 2 ronde. Yang mendapat nilai paling tinggi itulah pemenangnya.


Donny dan lainnya bekerja sama dengan kompak, kemampuan basket dan fisik juga lumayan, makanya mereka tidak takut menghadapi Erwin.


Setelah ronde pertama selesai, tim Donny mengumpulkan 26 poin, lebih tinggi 19 poin dari pihak lawan. Casto menyumbangkan 18 poin, dia berusaha keras demi memenangkan pertandingan ini.


“Ariani, kelihatannya kali ini tim Casto akan menang.” Silvia yang duduk di samping Ariani tersenyum pelan.


“Teman-teman sekamarnya terlihat lumayan, kamu berniat kencan dengan yang mana?” Teman sekamarnya yang lain, Henny berkata.


“Aku rasa Marcel yang paling tampan. Aku ingin kencan dengannya.” Silvia tersenyum simpul, “Tapi, aku tidak bisa bersaing dengan Natalia, jadi ya lebih baik aku menyerah.”


Natalia adalah salah satu primadona kampus, Rendy bergabung dengan pertandingan ini demi mengejarnya, tapi kemampuan basket Rendy parah sekali dibanding teman-temannya, apalagi dalam menyumbangkan poin.


“Dia itu kapten tim basket kampus. Akan sulit menentukan pemenangnya jika dia naik ke lapangan.” Ariani tersenyum, “Tapi, sepertinya dia sibuk dan tidak datang.”


“Ah, aku tahu. Rupanya Natalia, sang primadona kampus menyukai Matthew, si kapten tim basket kampus!” Silvia tersenyum licik.


Natalia tidak mengiyakan dan tidak menyangkal......


Setelah ronde kedua dimulai, Erwin memberi kode pada Rendy dan sengaja menghalangi pandangan Casto saat menghadang lawan, Erwin mengambil kesempatan ini dan menyiku pinggang Casto dengan keras!


Casto terjatuh dan berteriak kesakitan. Karena gerakan Erwin cepat sekali, semua penonton hampir tidak menyadari tindakannya, juga karena pandangannya terhalang.


“Casto, kamu kenapa?” Donny terkejut dan segera membantu Casto berdiri.

__ADS_1


“Pinggangku...... Pinggangku sakit sekali!” Casto kesakitan.


Benard menaikkan bajunya dan melihat bekas memar yang parah.


“Erwin, sialan kamu!” Donny sudah pengalaman dalam bermain basket, dia langsung yakin memar ini karena disiku begitu melihatnya. Dan hanya Erwin yang menghalangi Casto barusan!


“Hei, bocah sialan, jangan sembarangan bicara. Siapa yang melihatku menyikunya?” Erwin tentu menyangkalnya.


Sulit menghakimi kalau tidak ada bukti yang konkrit.


“Casto, bisa main lagi tidak?” Donny tidak berdaya melawan Erwin, tidak mungkin berkelahi dengannya, kan?


“Tenanglah, a...... Aku akan bisa main lagi!” Casto berusaha berdiri.


Erwin sedikit menyesal sudah turun tangan karena Casto tidak terluka parah, seperti superman yang kebal.


Pertandingan terus berlanjut, Casto sedikit kesusahan berlari, syukurlah mereka bertiga tetap bisa kompak dan poin kedua belah pihak masih terpaut jauh.


Saat 5 menit terakhir, pihak lawan masih kalah 8 poin dan mereka pasti akan kalah jika terus begini!


Saat Rendy dan lainnya panik, ada seseorang yang tinggi besar tiba-tiba muncul di samping lapangan, itu Matthew, kapten tim basket kampus yang juga merupakan teman sekamar mereka.


Matthew tampan dan gagah, kemunculannya langsung menarik perhatian banyak gadis.


“Akhirnya Matthew datang!” Erwin tersenyum dan segera meminta ganti pemain saat dead ball. Menggantikan Rendy yang tidak menyumbangkan poin dari tadi.


“Maaf, telat.” Matthew tersenyum pelan.


“Matthew, masih 5 menit, masih sempat kok.” Richard tersenyum.

__ADS_1


“Memang. 5 menit akan cukup.” Matthew menerima bola dari Erwin: “Ayo kita kalahkan mereka!”


__ADS_2