
Malam hari terasa dingin kala itu, Angin kencang membawa semua dedaunan terbang tertiup olehnya.
Seorang gadis cantik yang masih berseragam sekolah itu berlari sekencang mungkin menghindari kejaran preman yang berkeliaran di jalan tempatnya menunggu taksi datang. Gadis itu panik, ia harus bagaimana? Preman itu terus mengejarnya sehingga napasnya juga mulai ngos-ngosan, jangan sampai asmanya kumat.
Saat merasa preman itu jauh darinya ia cepat-cepat bersembunyi dibalik pot bunga besar.
Selamat, preman berandalan itu sudah pergi. Namun, ada yang menyita perhatiannya saat hendak keluar dari persembunyian. Gadis itu mendengar sepasang kekasih yang sedang berkelahi. Bukan Intan namanya kalau tidak menguping
"Kalau gue bilang nggak, ya enggak! Ngerti nggak sih?"Ucap pria itu pada kekasihnya.
"Maksa banget sih? Gue mau putus dari lo! Gue capek tau nggak! jadi cowok jangan berlebihan! Kita itu baru pacaran, gue ngobrol sama teman cowok aja lo marah dan nggak bolehin. Lo pikir lo siapa ngatur-ngatur hidup gue? Papa aku aja nggak pernah ngatur-ngatur kaya lo!"Ucap sang wanita dengan amarah yang meluap-luap.
"Itu tandanya gue cinta sama lo, gue peduli !"
"Itu bukan cinta namanya! Tapi obsesi!"sentak wanita itu masuk ke dalam mobilnya "Detik ini, gue nggak ada hubungan lagi sama lo"tambah wanita itu lewat jendela mobilnya.
"Terserah! Pokonya gue nggak mau putus dari lo !"teriaknya tetap bersikeras tidak ingin putus dengan pacarnya.
Usai sudah drama antara sepasang kekasih itu, Intan keluar dari persembunyiannya berjalan dengan santai melewati pria itu yang sedang melihat dirinya.
"Woi bocil !"
Glek !
Intan menoleh kiri dan kanan, memastikan bahwa bukan dia yang di panggil. Namun, tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan pria itu.
"Iya lo, siapa lagi"
Intan berbalik,menghampiri pria yang baru saja bertengkar hebat itu
"Kenapa Om ?"Tanya Intan takut-takut.
Mata Natta melebar mendengar ia dipanggil Om oleh Intan.
"Jangan panggil Om, gue bukan Om-om. Nggak liat gue masih muda gini? Di panggil Om"
"Terus kenapa Om panggil Intan bocil ? Nggak liat badan Intan udah gede?"Balas Intan tak kalah sinis.
Natta Pratama, nama pria itu. Ia berdecak,menatap jengah Intan.
"Duduk!"Perintah Natta menyuruh Intan duduk di depannya. Intan pun menurut, ia duduk di depan Natta
"Apa yang lo liat tadi?"
"Nggak liat apa-apa"jawab Intan cepat.
"Cepat bilang apa yang lo liat tadi?!"Tekan Natta yang langsung membuat gadis itu ketakutan "Adek... Cantik, bilang sama Abang apa yang tadi adek liat"ucapnya dengan nada selembut mungkin.
"Intan liat Om, eh abang maksudnya. Marah-marah sama kakak tadi, marahnya jangan kasar gitu dong Om, eh bang. Gak boleh kasar tau sama cewek, cewek itu nggak suka sama cowok kasar. Makanya abang di putusin"Gadis itu malah mengomel tidak jelas.
__ADS_1
"Bukan urusan lo"
"Emang bukan"Intan berdiri, sudah malam ia belum juga pulang. Sebenarnya ia tak mau pulang ke rumah jika tidak ada tempat lain untuk beristirahat. Pulang juga pasti dapat omelan atau bahkan pukulan. So Intan sudah biasa.
Gadis itu berjalan dengan lesu,sementara Natta melihatnya dari jauh. Namun, tak lama kemudian preman yang tadi mengejar Intan muncul kembali. Panik, Intan balik lagi menuju Natta yang sedang menggembok cafenya.
"Bang tolongin Intan"Bisik Intan bersembunyi dibalik tubuh Natta yang kaget karena tiba-tiba ada tiga orang pria di depannya.
"Tenyata kamu disini sayang..."Ucap preman kurus dengan rambut gondrong itu sambil melihat Intan yang ketakutan di belakang Natta.
"Pergi lo semua! Ngapain disini?"usir Natta, memang akhir-akhir ini ia mendengar ada penculikan remaja di wilayahnya.
"Kita pergi, setelah gadis itu gue dapetin"Ucap pria yang sama.
"Mang mau lo apain?"Tanya Natta melihat Intan sekilas.
"Argh... Banyak bacot lo !"
Bugh...
Pukulan melayang mengenai wajah tampan Natta.
"Bangsaatt!"Natta memukul ketiga preman itu habis-habisan. Menendang hingga meninju dagu preman itu sehingga mengeluarkan darah "Ini supaya lo nggak bisa makan lagi"
Bugh..!
Bogem mentah kembali Natta layangkan tepat pada mulut salah satu dari mereka. Dan benar saja, gigi yang mula utuh itu jadi rontok.
"Lo bocil ngapain keluyuran malam-malam begini ?"Natta membantu Intan berdiri dari jongkoknya. Rupanya Intan menangis sambil berjongkok.
"Intan takut"Lirih gadis itu sambil terisak.
"Nggak ada lagi orangnya. Udah jangan nangis, gue benci liat cewek nangis"
Intan menghapus air matanya kemudian menatap wajah Natta
"Terimakasih, udah nolongin Intan. Abang nggak apa-apa?"Intan menyentuh pipi Natta yang sedikit lebam akibat pukulan preman itu.
Natta menepis tangan Intan
"Gue nggak apa-apa, rumah lo dimana? Biar gue antar"Ucap Natta sambil menaiki motornya.
"Intan naik taksi aja"
"Gila lo? jam segini mana ada taksi lewat. Udah naik aja, gue nggak makan bocil kaya lo"
Dengan ragu-ragu,Intan memasang helm dan naik ke atas motor.
"Pegangan"ucap Natta. Namun yang di dapatnya bukan pegangan tapi malah pelukan "Gue nyuruh pegangan bukan pelukan bocil !"
__ADS_1
"Motornya tinggi kalo Intan jatuh gimana?"
"Ck, terserah lo !"
****
"Makasih ya, udah anterin Intan"Ucap Intan setelah sampai di depan rumahnya.
"Makasih doang? Nggak di suruh masuk atau kasih minum gitu?"
"Udah malam, nanti mama Intan marah kalau Intan bawa cowok ke rumah malem-malem. Lain kali aja ya"
"Serius amat sih, gue cuma bercanda kali. Yaudah gue pulang ya"
"Emm... bentar, nama Abang siapa? Kita belum kenalan"
Natta tertawa kecil, "Natta Pratama boleh panggil apa aja"
"Yaudah kalau gitu boleh nggak Intan panggil sayang aja?"Canda Intan dengan gaya centilnya.
"Janganlah... entar sayang beneran lagi"Balas Natta menanggapi candaan gadis itu.
"Hehehe... Yaudah Bang Natta udah malam, Intan masuk dulu ya"Intan masuk ke rumahnya sambil dadah-dadah.
"Nama lo siapa tadi? In..."
"Iya, Intan. Bukan Intan berlian ya"gadis itu melempar senyum manis kemudian masuk ke rumahnya, melepas sepatu juga kaos kaki.
"Dari mana aja lo, jam segini baru pulang"Tanya Nawan,saudara tiri Intan. Pria itu duduk sambil mengutak-atik ponselnya.
"Intan habis dari rumah Fany Kak"Jawab Intan, tak jarang jika ia pulang malam di tanya oleh Nawan berulangkali.
"Alasan lo itu mulu, bosen gue dengernya. Besok apa lagi ? tugas kelompok? Latihan bulu tangkis ?"Nawan menatap Intan jengah, gadis itu selalu saja pulang larut malam dengan memberikan alasan yang sama.
"Iya, besok Intan pulang lebih awal"Ucap Intan singkat, ia bingung sebenarnya Nawan ini khawatir padanya atau tidak ? Disisi lain Nawan seolah-olah peduli padanya tapi di lain sisi saat ibu tirinya memukul Intan, Nawan hanya diam dan memperhatikan. Entahlah... Intan tak perduli, tujuannya saat ini adalah lulus SMA dan mencari pekerjaan yang layak untuk hidup aman tentram.
"Pulang malam lagi kamu?"Ucap Rianti, ibu tirinya Intan. Wanita paruh baya itu bersidekap dada melihat anak tirinya "Siapa pria yang mengantarmu pulang tadi?"tanyanya, rupanya ia melihat dari balkon kamar Intan di antar oleh seseorang.
Intan tidak menjawab, ia tidak ada tenaga lagi untuk beradu mulut dengan ibu tirinya. Gadis itu dengan lesu berjalan menuju kamarnya.
"Cowok ?"kejut Nawan, sekalipun ia tidak pernah Intan bergaul dengan pria. Yang ia tahu teman Intan hanya Bening dan Fany "Jadi cowok itu yang buat lo pulang malam hah? jawab gue siapa cowok itu!"Nawan menahan tangan Intan yang ingin masuk kamar.
Intan menepis tangan Nawan kasar, menatap sinis pria itu.
"Bukan urusan kalian, emang kalian perduli dengan siapa aja Intan berhubungan ?"
"Berhubungan ? lo berhubungan sama cowok yang ngantar lo itu ?"tanya Nawan lagi.
"Cih, perempuan murahan !"Sinis Rianti yang membuat Intan tertawa geli, meskipun di buat-buat.
__ADS_1
"Berarti kita sama dong. Sama-sama murahan !"Balas Intan kemudian masuk ke dalam kamarnya mengunci pintu itu agar Rianti tidak dapat membukanya. Ia yakin nenek sihir itu pasti marah.
"Intan ! Keluar kamu !"Marah Rianti sambil memukul-mukul pintu kamar Intan.