
Sabtu dan Minggu adalah rutinitasnya Intan latihan bulu tangkis setiap pagi di gor tempatnya latihan. Gadis itu bangun lebih awal untuk berolahraga,ia memoles sedikit bedak tipis dan liptint di wajahnya agar tidak terlihat pucat. Dengan tubuhnya yang terbilang cukup tinggi dan sangat ideal,Intan sudah beberapakali meraih juara di perlombaan.
Keringat peluh membasahi pelipisnya, akhirnya ia sampai di gor. Disana sudah terdapat teman-teman dan pelatih yang sedang pemanasan.
Intan pun juga masuk barisan mengikuti gerakan pemanasan dari sang pelatih.
Jam 10 pagi pelatihan telah usai, Intan melirik jam digital di tangannya. Gadis itu menghela napas saat menyadari ia tidak membawa ponsel. Mau pulang jalan kaki rumahnya cukup jauh dari Gor, apalagi ia tidak memakan apapun dari pagi.
Intan berfikir keras sambil menggigit bawah bibirnya.
"Bang Natta!"nama itu terlintas di pikirannya. Intan memandang lurus jalanan, kira-kira 25 meter ia berjalan sampai ke Cafe bang Natta. Pikir Intan melangkahkan kakinya berlari menuju Cafe tersebut.
Kurang lebih 10 menit Intan berlari, ia sudah sampai di tempat tujuan. Gadis itu bernapas lega, ia masuk ke Cafe tersebut yang masih sepi,mungkin karena masih pagi.
Intan berjalan mengendap-endap seperti pencuri, niatnya Intan ingin mengagetkan Natta yang sibuk memasak nasi goreng yang membuat perut Intan langsung berbunyi.
"Dor !"pekik Intan diiringi ketawanya saat melihat Natta terperanjat kaget.
"Bocil !"Natta menjewer telinga Intan langsung, hampir saja ia terkena wajan panas.
"Aaaaa iya-iya maaf... Bang lepas sakit !"ringis Intan memohon.
"Makanya jangan asal ngagetin orang! Kalau orang jantungan gimana? Mau tanggung jawab?"kesal Natta.
"Iya-iya maaf"
Natta menggeleng lalu melanjutkan aktivitas memasaknya.
"Dari mana lo?"tanyanya tanpa melihat Intan.
"Dari Gor, latihan bulutangkis"jawab Intan sembari mengintip nasi goreng yang di masak oleh Natta.
"Tenyata lo ada bakat juga ya. Kirain bakat lo nyusahin orang doang"kekeh Natta sembari mencampurkan kecap ke dalam wajan.
"Iiihh jahat banget kata-katanya, sakit tau. Kaya ngerasa Intan tuh hidup nggak ada gunanya"
"Elah baper amat lo, gue cuma bercanda kali"
"Tapi bener sih, Intan hidup nggak ada gunanya"ucap gadis itu lesu yang menghentikan aktivitas Natta.
"Nih bocah nggak bisa di ajak bercanda ya! Udah lo duduk sana. Kita makan bareng! Lo laperkan?"
"Iya! Intan lapar..... banget tolong yah pangeran Natta Kusuma,nasi gorengnya di tambah telur setengah matang"ucap Intan dengan senyum manisnya.
Bocil itu pun beranjak dari sana meninggalkan Natta yang menatap kepergian Intan jengkel. Gadis itu dengan mudahnya bersedih, namun sedetik kemudian ia tersenyum dan tertawa hanya karena hal sederhana yang membuatnya bahagia.
"Nasi goreng dengan telur setengah matang sudah jadi tuan Puteri Intan kusuma"balas Natta meletakkan piring di meja depan Intan duduk.
__ADS_1
Pria itu juga ikut duduk depan Intan dengan piring miliknya.
"Oh,iya tuan Puteri jangan lupa baca doa sebelum makan"tambah Natta saat melihat Intan melahap nasi itu tanpa membaca doa.
"Hehehe terimakasih pangeran sudah memperingati"Intan tersenyum mulutnya komat-kamit sambil menatap makanan.
"Emmm enak!"puji Intan mengangguk-angguk puas dengan rasa nasi goreng yang Natta buat.
"Pelan-pelan, nggak ada yang mau ngambil nasi lo!"ucap Natta melihat Intan menghabiskan nasinya dengan lahap.
"Habisnya enak banget bang! Ngena banget kehati, de best deh!"Intan mengancungkan jempolnya yang membuat Natta tersenyum tipis. Padahal nasi gorengnya ini rasanya biasa-biasa saja.
********
"Bang..... pinjem HP dong"pinta Intan setelah mereka selesai makan.
"Mau ngapain?"tanya Natta yang sedang mengelap piring dan gelas yang berdebu karena baru saja di keluarkan dari lemari.
"Nelpon kak Nawan, suruh dia jemput Intan"
"Enak aja main lari-lari. Noh... cuci piring dulu!"Natta mengarahkan kepalanya pada wastafel tempat penyucian piring.
"Oh, oke"dengan polosnya Intan langsung menurut, ia melipat lengan bajunya dan mulai mencuci piring setau yang ia tau.
"Gimana? mama tiri lo masih suka kasar sama lo?"tanya Natta sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Alhamdulillahnya enggak lagi. Tapi tau nggak sih bang, semenjak aku pulang sifat mama Rianti sama kak Nawan itu berubah"ucap Intan, gadis itu mencuci piring dengan sangat lambat. Bahkan seperti mengusap kepala kucing.
"Ya.... mereka tiba-tiba aja jadi baik sama Intan. Intan jadi risih gitu liatnya"
"Emangnya lo ada ngelakuin apa?"
"Enggak ngelakuin apa-apa. Oh,iya malam tadi Intan pergi dinner bareng sama teman Mama Rianti. Intan di kenalin sama anak temannya Mama. Dan ternyata anaknya itu satu sekolah dengan Intan. Dan lebihnya lagi, dia itu suka sama Intan bang"
"Oh,ya? Gue kira nggak ada yang suka sama lo. Tapi aneh nggak sih kalau mama tiri lo tiba-tiba baik? Mungkin nggak dia merasa bersalah sama lo dan jadi baik?"
"Nggak"jawab Intan. Ia sempat mengerucutkan bibirnya mendengar kalimat pertama pria itu.
"Pasti ada niat terselubung"Natta jadi memperhatikan Intan, ia malah tertarik dengan cerita bocil itu.
"Intan rasa juga gitu"Intan juga sambil bermain-main sabun, sesekali meniupnya yang menimbulkan gelembung.
"Terus apa lagi?"tanya Natta penasaran.
"Terus waktu cowok yang suka sama Intan itu hapusin sisa makanan di bibir Intan. Mama sama temannya kaya yang senyum gitu"
Natta melotot mendengarnya.
__ADS_1
"Jangan-jangan lo mau di jodohin sama anak teman Mama lo itu!"tebak Natta.
"Masa iya?"
"Emang teman Mama lo itu orang kaya?"tanya Natta yang di jawab anggukan oleh Intan.
"Fiks... bener lo mau di jodohin!"
"Intan rasa juga gitu"
"Benerkan! berarti lo di manfaatin mama tiri lo supaya bisa dekat sama anak temannya"
"Kenapa gitu?"
Natta menghela napas, gadis di hadapannya benar-benar polos.
"Mama tiri lo itu kan gila harta. Jadi dia manfaatin lo supaya bisa dekat dengan temannya yang kaya raya itu bloon!"geram Natta menoyor kepala Intan yang terdiam. (Intan ngelag)
"Lo bisa nyuci piring nggak sih? Satu piring aja perlu satu jam"kesal Natta dari tadi ia melihat Intan hanya mengusap bagian itu-itu saja.
"Nyuci piring itu sabun'nya nggak usah banyak-banyak. Setelah bagian depan,usap juga bagian belakangnya"Natta memegang kedua tangan Intan menuntun gadis itu mencuci piring dengan benar, posisi mereka seperti dua orang yang sedang berpelukan. Dengan tingkahnya yang begitu membuat Intan salah mengartikan sikapnya.
🦋🦋🦋
Lain tempat lain cerita. Kini Nawan yang baru saja menginjakkan kakinya di ruang rawat inap tempat temannya di rawat sambil menenteng makan siang untuk Rival.
Pria itu terkejut, lagi-lagi ia berpapasan dengan Bening yang ingin keluar dari ruangan tersebut. Namun, kali ini gadis itu memakai seragam biru dengan name tag yang terpasang di saku bajunya.
Sama halnya Bening juga ikut terkejut, ia melihat Nawan sekilas kemudian menundukkan kepalanya dan berlalu dari sana sambil membawa pel di tangannya.
Kening Nawan berkerut melihat kepergian Bening. Otaknya bertanya-tanya, apa Bening bekerja dirumah sakit ini? Kenapa dia tidak menegurku? Apa karena aku menolak cintanya? Dan kenapa dia bekerja?
Apapun itu Nawan Pramestia tak mau ambil pusing.
"Lo mau jadi patung disana?"tanya Rival tiba-tiba yang membuat Nawan tersadar dari lamunannya.
"Kenapa lu? Kenal sama OB tadi?"sambungannya lagi.
"OB ?"
"Iya, dia baru aja beresin ruangan ini"
Nawan terdiam, entah apa yang ia pikirkan.
"Bawa apa lu?"Rival melihat kantong plastik yang Nawan bawa. Sudah ia pastikan benda itu yang akan membuat perutnya kenyang.
"Bakso"jawab Nawan memberikan bakso tersebut pada Rival yang langsung menerimanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, makasi bro! gue jadi enak. Sering-sering ya!"
"Suweee lu!"