
Rumah Sakit
"Kondisi pasien lemah dia hanya butuh istirahat yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Pasien mengalami syok ringan sehingga asma-nya kambuh dan tak sadarkan diri"
"Asma?"
"Iya, seperti pasien sudah lama menderita penyakit asma. Dan tubuhnya juga di penuhi luka-luka memar di sekitar punggung,leher dan perutnya"ucap dokter berhijab itu pada Natta yang terkejut, ternyata luka yang ia lihat tidak hanya di leher dan bahu tapi juga hampir seluruh badan "Usahakan pasien tidak beraktivitas yang membuatnya kelelahan dan hindari hal yang membuatnya syok"tambah dokter tersebut.
"Baik, terimakasih dok"balas Natta diiringi anggukan.
Demikian percakapan Natta dan Dokter tersebut. Kini pria itu menatap wajah cantik gadis yang sedang terbaring lemah di brankas rumah sakit itu dengan infus yang tersemat di tangannya. Ada rasa kasihan di hati Natta. Apakah sejahat itu ibu tirinya? Sehingga membuat gadis secantik dan seceria Intan tersiksa? Pikir pria itu menatap Intan sedih.
Selang beberapa menit, Intan mulai membuka mata menyesuaikan cahaya pada netra matanya. Rasa sakit belum juga menghilang diikuti rasa pusing bersamaan. Tenggorokan juga terasa kering,ingin sekali menyiramnya dengan air.
"Minum..."ucap Intan dengan suara sedikit serak.
Natta yang sedang memainkan ponselnya pun melihat Intan.
"Lo mau minum?"tanya Natta yang di jawab anggukan oleh Intan.
Ia pun segera mengambilnya di nakas kemudian memberikannya pada Intan.
"Lo tinggal sama gue ya"ucapnya tiba-tiba.
Biurrrr!
Alhasil, Intan yang tengah minum pun menyembur mendengar perkataan Natta
"Mak-maksudnya?"tanya Intan menatap Natta lekat.
"Maksudnya, lo jadi adek gue. Tinggal sama gue biar ibu tiri lo nggak nyiksa lo lagi"jelas Natta.
"Gue bukannya peduli, tapi kasian liat lo kaya gini. Entar lama-lama lo tinggal sama dia,bisa-bisa lo mati"
Intan tersenyum sambil meneguk sedikit minumannya. Peduli? Kasian? Apa bedanya? Pikir Intan.
"Sebelumnya terimakasih udah anggap Intan sebagai adiknya bang Natta. Dan maaf Intan udah ngerepotin bang Natta sampai begini.
Terimakasih bang Natta udah mengkhawatirkan Intan, tapi Intan nggak bisa nerima itu. Jika Intan tinggal sama bang Natta artinya Intan nyerah dan membiarkan rumah Intan dimiliki nenek sihir itu. Intan nggak mau rumah almarhum papi diambil dia, So.... leg time answer averything! , Intan baik-baik saja asal...."
"Asal ?"
"Asal bang Natta mau jadi teman Intan"ucapnya sambil tersenyum.
"Jadi lo tetap mau tinggal di rumah itu?"tanya Natta meyakinkan. Ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya tiba-tiba peduli sama seseorang yang baru saja ia kenal. Intan mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Okey.... Kalau itu memang keputusan lo. Gue bisa apa?"
"Bisa kupasin adeknya apel"sambung Intan tersenyum sambil melirik apel di nakas.
"Inih"Natta menjinjing apel tersebut sambil menatap Intan jengkel.
"Kupas sendiri"ucapnya menyerahkan apel itu pada Intan yang menatapnya kesal.
"Jahat banget sih!"dengus Intan yang ingin melahap apel itu tanpa mengupasnya.Namun, hal tersebut tidak terjadi saat Natta merampasnya dari tangan Intan.
"Dasar manja!"cibirnya sambil mengupas apel tersebut dengan pisau.
Intan yang melihatnya mengulum senyum sambil nyengir kuda.
"Gomawo(makasih) abang!"ucap Intan senang.
Natta mendengus sambil tersenyum melihatnya.
🦋🦋🦋
Malam hari Intan sudah di perbolehkan pulang setelah beberapa jam melewati perawatan rumah sakit. Syukurlah itu membuatnya sedikit merasa nyaman sekarang.
"Gimana kondisi lo?"tanya Natta sembari berjalan di koridor rumah sakit menuju loby.
"Udah agak mendingan"jawab Intan.
"Iiihh dari tadi nanya itu mulu, kan udah di jawab Intan akan pulang. Lagian Intan besok harus sekolah"
Natta menghentikan langkahnya mendekati Intan kemudian menatap netra coklat milik gadis itu.
"Pokoknya kalau dia pukul lo lagi. Jangan diam aja, di lawan! Kalau perlu jambak rambutnya atau tendang kek pukul balik kek"
"Lo itu kuat Intan! Lo nggak boleh lemah! Semakin lo lemah, musuh lo semakin suka dan manfaatin lo ngerti?"
Intan menggeleng lemah.
"Intan memang lemah bang,Intan nggak bisa lakuin itu"
"Harus bisa! Nggak boleh nggak bisa! Kalau lo bener-bener mau rumah itu jadi milik lo! Lo harus berani"
"Iya, Intan akan memukulnya! Menjitak-jiatak kepalanya sampai bercabang! Dan menusuk hidungnya pakai sumpit!"geram Intan.
Natta yang mendengarnya tersenyum.
"Good girl!"
__ADS_1
******
"Bang Natta punya mobil ?"tanya Intan saat sampai di loby ia menaiki mobil. Natta mengangguk sambil fokus menyetir.
"Wah debeak!"puji Intan mengacungkan jempolnya.
"Jangan berfikir gue kasian sama lo bang, gue tau lo nggak suka di kasihanin. Tapi tolong terima ini, papah hadiahkan ini buat lo"ucap pemuda itu menyerahkan kunci mobil pada Natta yang melihatnya lama.
"Mobil ini ada di ruko samping cafe lo, terserah mau makainya atau nggak. Gue mau lo terima aja agar papah nggak kecewa dan merasa bersalah lagi"
Akhirnya Natta mengambil kunci mobil itu dari tangan pemuda itu yang tersenyum mengangguk.
"Gue pergi"pamitnya tapi kemudian berbalik lagi.
"Oh,iya happy birthday buat lo"
"Thanks"balas Natta dingin.
"Bang mau es krim"pinta Intan berhasil membuyarkan lamunan Natta. Gadis itu menunjuk salah satu supermarket yang langsung di singgahi oleh Natta.
"Kenapa nggak turun?"tanya Natta saat Intan hanya bergeming di tempat duduk.
"Minta duit"ucap Intan menadahkan tangannya menatap Natta sambil tersenyum lebar. Sebenarnya ia malu tapi... Yasudahlah.
Natta menggeleng, ia mengeluarkan uang 50ribuan dari dompetnya kemudian ia berikan pada Intan.
"Aaaa maaci abang, uuu makin cayang"gemas Intan merampas uang tersebut dari tangan Natta yang mendengus kesal karna uang diambil Intan berjumlah dua lembar. Tapi sesaat pria itu tersenyum mendengar perkataan Intan tadi. Sangat...... Menggemaskan
Ia lebih suka Intan seperti ini, ceria, kekanak-kanakan, dan seperti remaja pada umumnya dari pada Intan yang kemarin. Yang hanya diam, lesu dan penuh kesedihan.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Intan keluar dari supermarket tersebut dengan membawa 10 cup eskrim di kantong belanjaannya.
"Banyak banget, lo mau makannya segitu?"tanya Natta melirik kantong belanja Intan. Ia juga sambil menjalankan mobilnya lagi.
"Nggak, ini mau di bagiin ke anak-anak di sebrang sana. Biasanya Intan selalu bagi-bagi eskrim atau makanan ke mereka"jawab Intan sembari memakan eskrim rasa coklat dan stroberi itu.
"Elah... Gaya bener mau bagi-bagi eskrim. Tapi pakai duit orang"sindir Natta.
"Hehehe iya juga, tapi amalnya buat bang Natta kok kan belinya pakai duit bang Natta"
"Eh... Tapi nggak deh, kan ini niatnya Intan buat bagiin ke mereka jadi amalnya di bagi dua. Intan 70% bang Natta 30% "cerocos Intan.
"Dikit amat"protes Natta melirik Intan sambil melotot.
"Iya, kan bang Natta nggak niatan buat bagiin jad---"
__ADS_1
"Ahh bodo amat"