Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
"Lo Cemburu?"


__ADS_3

Setelah menjalani rutinitas kesehariannya di akhir pekan. Intan bergegas berkemas untuk menjemput Natta di bandara, sebelumnya ia sudah menghubungi pria itu terlebih dahulu bahwa ia akan menjemputnya. Awalnya Natta menolak karena nantinya akan merepotkan Intan, tapi gadis itu memaksa untuk menjemputnya. So, it's okay asal tidak merugikannya.


Di perjalanan Intan tampak serius menyetir mobil. Ini kali ketiganya ia menyetir mobil setelah beberapa waktu lalu Nawan mengajarinya. Ya, mobil yang ia pakai itu mobil Nawan. Tentu tak mudah membujuk pria itu untuk meminjam Black Hero kesayangannya. Intan sampai harus menuruti kemauan langka pria itu yang menyuruhnya mencari tempat untuk sesuatu yang sangat penting entah Intan tak tahu pasti sesuatu sangat penting itu untuk apa. Urusan belakangan! yang penting Intan ketemu Natta dulu, Kebelet rindu nih!


Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.


Gadis remaja itu menunggu seseorang di area tunggu di bandara. Matanya tampak mengitari sekitar mencari seorang pria bernama Natta Pratama.


Intan menghidupkan ponselnya melihat jam yang sudah menunjukan pukul 9.30 itu artinya pesawat sudah mendarat.


Tak lama orang yang di tunggunya keluar sembari menyeret koper yang di bawanya. Senyum gadis itu mekar bagai bunga melihat sosok Natta yang berjalan ke arahnya. Namun, senyum manis itu seketika memudar melihat seorang wanita yang berjalan berdampingan bersama Natta.


"Hei! Gue kira lo nggak bakal jemput. Pake apa lo kesini?"tanya Natta pada Intan yang menatap heran dirinya dan Virra.


"Oh ini temen gue, kenalin namanya Virra"Natta sepertinya mengerti ekspresi Intan yang penuh tanya itu pada Virra.


"Intan ya? Kenalin aku Virra"ucap wanita itu mengulurkan tangannya.


Natta menyenggol lengan Intan supaya gadis itu tersadar. Kemudian Intan pun menyambutnya dengan ragu-ragu "Intan"sahutnya dengan senyum tipis.


Hati Intan seperti di sayat sembilu ketika melihat Natta pergi berbarengan dengan wanita cantik itu. Tubuhnya yang profesional di tambah setelan jas dengan rok hitam selutut membuat wanita itu terlihat dewasa. Sangat berbeda dengannya yang hanya memakai hoodie ungu muda, celana pendek dan sandal selop bludru. Bukankah ia terlihat seperti anak rumahan? Ahhh tau begitu mana mau ia menjemput Natta ke bandara.


"Lo pake apa kesini?"tanya Natta sekali lagi. Intan jadi menoleh ke arahnya, rasa rindu itu sudah hilang berganti rasa kecewa. Tadinya Intan ingin memeluk Natta, mengajaknya makan bersama dan masih banyak lagi yang harus ia lakukan.


"Udah lama nggak ketemu, gimana pekerjaan bang Natta?"tanya Intan berusaha bersikap senormal mungkin.


"Lancar"


Intan mengangguk kemudian menoleh Virra "Intan pake mobil bang. Mau pulang sekarang atau mau pergi makan dulu?"


"Sebenarnya lo nggak perlu repot-repot jemput gue. Bahaya tau jauh-jauh kesini pake mobil"


"Lusa udah mau 18 tahun. Intan udah punya SIM kali"


"Lusa lo ultah?"


"Iya"


Natta mengangguk-angguk kemudian melihat Virra yang tampak menghela napas sambil melihat ponselnya.


"Kenapa lu?"tanya Natta.


"Emmm gue bisa bareng kalian nggak? Soalnya temen gue nggak bisa jemput"


"Bisa. Emangnya lo mau kemana?"Intan langsung melotot mendengarnya. Seenaknya aja pria itu main bisa-bisa.


"Tapi kita mau pergi ke Cafetaria dulu"Intan mencoba memberi alasan.

__ADS_1


"Kebetulan Cafetaria searah sama rumah teman aku"


"Yaudah ayo!"


"Tap---"


******


Intan mengumpat kesal, pasalnya ia di abaikan di mobil seolah dia itu hanya bayangan. Terlebih lagi melihat Natta dan Virra duduk di kursi depan. Seharusnya ia-kan yang di samping Natta? Seharusnya ia juga yang menyetir tapi Natta melarangnya karena masih ragu dengan kemampuan menyetir Intan. Kenapa ia tidak menyuruh Virra saja yang duduk di belakang? Bodoh kamu Intan! Gadis itu malah meruntuki dirinya.


Tak lama, mereka sampai di rumah teman Virra yang berada di tepi jalan.


"Entar malem gue tunggu disini ya"ucap Virra yang sudah keluar dari mobil.


"Iya, nanti gue kabarin kalau bisa"balas Natta.


"Okey, thanks tumpangannya"Virra berdadah ke arah Intan yang hanya mengangguk kecil.


"Gue cabut ya"Natta mulai menjalankan mobilnya kembali. Sesaat ia terkejut melihat Intan tiba-tiba pindah duduk di depan lewat celah kursi tengah.


"Elu ngapain?"


"Mau kemana entar malam?"tanya Intan, pandangnya lurus ke depan tanpa melihat Natta.


"Oh itu, gue mau ke resepsi pernikahan temannya. Gue juga nggak tau sih bisa atau enggak"


"Virra yang ajak gue, katanya bakal kenalin sama temannya yang cantik-cantik. Yaaaa siapa tau disana ada jodoh gue kan?"


"Ngapain jauh-jauh kesana? Orang jodohnya ada di depan mata"


"Hah?"Natta tak mengerti maksud Intan.


"E-enggak Intan nyanyi tadi. Buat apalah susah cari kesana kesini sudah di depan mata kamulah takdirku"ucap Intan beralasan sambil bernyanyi riang. Natta yang mendengarnya melirik Intan dengan tatapan geli.


"Pulang aja"


******


Setibanya di cafe Natta, Intan tak turun dari mobil. Kepalanya menunduk, terlihat seperti orang kurang gizi.


"Intan langsung pulang aja bang"pamit Intan sambil keluar dari mobil.


"Loh kok udah mau pulang?"


"Bang Natta malam nanti tetap mau pergi?"


"Kayanya pergi sih, emangnya kenapa?"

__ADS_1


"Gapapa, yaudah Intan pulang dulu"


Natta berkerut, nada bicara Intan terdengar tidak enak.


"Katanya lo kangen sama gue?"tanya Natta menahan tangan Intan yang ingin pergi "kenapa sih? Lo nggak suka gue pergi sama Virra entar malem?"bukannya menjawab Intan malah menggeleng. Ini yang tidak disukai oleh Natta, setiap ia bertanya Intan hanya menjawabnya dengan gelengan.


"Kalau nggak suka bilang, gue nggak akan pergi"


Intan melepas tangannya dari Natta dan menatap mata pria itu dalam.


"Kalau bang Natta mau pergi-pergi aja. Intan nggak punya hak ngelarang bang Natta pergi kemana-mana. Emangnya Intan siapa bang Natta? Saudara bukan,sepupu bukan. Intan cuma teman bang Natta saat kesepian!"


"Jadi selama ini lo anggap gue kesepian dan butuh teman buat hiburan? Lo salah besar! Gue mau berteman dengan lo karena gue merasa posisi kita sama! Sama-sama pengen ada seseorang yang ingin mendengarkan cerita dan keluh kita!"


Natta menatap Intan yang menunduk, pria itu terdiam sejenak. Tak habis pikir pada Intan yang menganggapnya pria kesepian.


"Lo sebenarnya kenapa? Lo ada masalah?"tanyanya pelan.


"Perasaan pas lo telpon gue,kaya kedengeran semangat gitu ketemu gue. Tapi sekarang kok malah marah-marah?"Natta mencoba mencairkan suasana.


Intan menghela napas, Dia akui dia cemburu tapi bukankah ini berlebihan? Melihat Natta dan Virra tadi benar-benar membuat hatinya terbakar.


"Iya, Intan minta maaf"


"Nggak dimaafin"


"Harus dimaafin!"


"Alasan apa yang harus membuat gue maafin lo?"


"Intan nggak bermaksud ngomong gitu. Intan nggak suka aja liat bang Natta dekat cewek lain"terang Intan.


"Kenapa? Lo cemburu gue dekat sama Virra?"mata pria itu menatap wajah Intan yang kian memerah.


"Ya e-enggak cemburu. Memang gak suka aja liatnya"sanggah Intan tergagap.


"Jangan-jangan lo suka sama gue?"Natta semakin menggoda gadis itu.


Bugh!


Intan memukul lengan Natta.


"Ngapain suka sama bang Natta? Intan-kan udah punya kak Michael yang jauh lebih tampan dari bang Natta!"kilah Intan membuang mukanya ke arah lain.


"Tapi asal lo tau, yang tampan kalah sama yang nyaman"bisiknya ke Intan.


.

__ADS_1


__ADS_2