
Hari semakin merayap malam, sayup-sayup terdengar suara petir yang tampaknya langit malam ini ingin menangis. Michael tiba di Cafe Natta, berat rasanya melangkah ke tempat ini. Dari kejauhan pria yang memakai penyangga tangan itu melihat Intan yang hendak keluar cafe. Michael melangkah mendekatinya.
"Kayanya mau hujan deh bang, ada gerimis"ucap Intan sambil menandakan tangannya di udara.
"Yaudah entar gue antar aja lu"balas Natta.
"Nggak usah, bang Natta mesti jaga Cafe. Atau gini aja, bang Natta ada payung nggak? Biar----"ucapnya menggantung saat melihat kehadiran Michael. Gadis itu membeku sejenak melihat tatapan Michael yang begitu sendu memandangnya.
Natta yang menyadari memilih masuk ke dalam memberi keduanya waktu untuk berbicara.
"Tenyata benar kamu disini"ucap Michael pelan, ia mendekat kemudian menarik tangan Intan menuntunnya untuk masuk dalam mobil.
"Jalan pak"titah Michael menyuruh supir menjalankan mobilnya.
Hujan sedikit demi sedikit mulai mengguyur jalanan. Michael berdiam membiarkan Intan berbicara duluan. Pandangan pria itu lurus kedepan dengan tatapan dingin.
Sementara Intan menunduk, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia lupa bahwa tadi dia mengirim pesan mengatakan akan ke rumah sakit selesai makan siang. Namun, Natta membuatnya lupa sebab tadi pria itu mengajarinya memasak sehingga lupa dengan Michael.
"Maaf.... Intan lupa sama kak Michael. Intan benar-benar lupa tadi"ucapnya melihat Michael yang menatap lurus kedepan.
"Kak Michael marah ya?"
"Aku telpon kok nggak di angkat?"tanyanya menoleh Intan yang langsung merogoh tasnya.
"Ponsel Intan lowbat"Intan menunjukkan ponselnya yang mati karena habis daya.
Michael tak merespon, ia kembali memandang lurus ke depan.
"Maafin Intan ya, Intan janji nggak akan lupa lagi. Suweer!"tangan gadis itu membentuk dua jari sembari berusaha menatap mata Michael yang terus menghindar.
******
Tak terasa mereka sampai di depan gerbang rumah Intan. Hujan lebat kala itu, mungkin karena akhir tahun menjadikan bumi sering turun hujan.
"Kakak gak mau masuk dulu?"tanya Intan yang hendak keluar. Namun Michael tidak merespon pertanyaannya, gadis itu khawatir pria itu marah kemudian ia mendekat.
"Tangan kak Michael masih sakit?"Intan ingin memegang tangan Michael yang dibalut oleh penyangga itu tapi Michael menghindar membiarkan tangannya menggantung.
__ADS_1
"Udah malam, sebaiknya kamu masuk"ucap Michael dingin.
Kerutan kecil tampak di dahi gadis itu, tak biasanya Michael bersikap seperti ini walau kesalahannya sebesar apapun. Terlebih lagi ini hanya perkara lupa ke rumah sakit.
"Kalau ada yang mau kak Michael bicarakan sama Intan. Bicara aja, jangan di pendam. Intan bukan peramal yang bisa baca pikiran kakak"ucap gadis itu sambil berusaha menatap mata Michael yang terus menghindar.
"Tatap mata Intan!"
"Pak, ada payung?"bukannya membalas perkataan Intan, Michael malah meminta payung pada supir yang langsung memberinya.
Kemudian pria itu pun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Intan. Dan membawa gadis itu ke tepian pagar.
"Aku kira, aku udah berhasil buat kamu jatuh cinta padaku. Ternyata semua ini hanya keterpaksaan. Kamu suka sama orang lain?"
Di bawah curahan air hujan itu mata mereka saling menatap, menyorotkan tatapan masing-masing dari keduanya. Intan menunduk, ia berfikir kalau Michael baru menyadari perasaannya. Gadis itu tak menjawab, lidahnya kelu hanya untuk menjawab pertanyaan yang sulit ia jawab itu.
"Kediaman kamu, cukup untuk menjawab semuanya. Dan seharusnya aku tidak kecewa, karena dari awal kamu memang tidak memiliki perasaan apapun padaku"
"Aku rasa cukup sampai disini,aku harap kita bisa berteman dekat seperti biasa. Dan perlu kamu ketahui, mau kemana dan dengan siapapun kamu. Perasaan ini nggak akan pernah berubah"tutur Michael dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Sakit? Tentu saja, ia pikir untuk apa berhubungan jika diantaranya tidak ada perasaan istimewa. Itu akan membuat lukanya lebih dalam.
🦋🦋🦋
Di kamar, Intan merebahkan tubuhnya. Pikiran gadis itu berkelana kemana-mana, sampai beberapa kali menghela napas panjang. Kemudian ia menatap tiga boneka di sampingnya lalu mengambil boneka beruang besar dan menatapnya lama.
"Maafin Intan yah, Intan juga nggak ngerti perasaan Intan gimana"lirihnya mengusap kepala boneka tersebut, tak lama gadis cantik itupun terlelap dalam mimpi.
******
Pagi ini, setelah sarapan. Intan lebih memilih pesan ojek online dari pada menumpang pada Nawan, sebab ia tak mau mengganggu hubungan kakak dan sahabatnya. Sebenarnya hari ini ia ingin bolos sekolah, namun Nawan memaksanya untuk sekolah sampai menyeret tubuhnya ke kamar mandi.
Dan hari ini tepatnya Intan berumur 18 tahun. Tadi pagi ada sedikit suprise dari Mama Rianti yang memberikannya kado ulang tahun. Wanita itu memberinya kalung berbentuk bulan sabit yang Indah,Intan sampai melompat girang menerima kado tersebut. Apalagi ini pertama kalinya Rianti memberinya kado ulang tahun. Sementara Nawan hanya mengucap "HBD" untuknya, benar-benar kakak nggak ada akhlak emang!
Sesampainya di sekolah Intan langsung menuju kelas. Waktu itu entah kenapa sekolah terasa sepi, walaupun ada terlihat beberapa siswi sedang menyapu halaman. Pintu kelas pun tertutup rapat, ia pikir ini masih pagi sekali sehingga para murid belum berdatangan.
Dor!!
"Selamat ulang tahun Intan!!"ucap Fany,Doni,Bening, dan Nawan bersamaan. Tentu yang paling semangat di antaranya adalah Fany.
__ADS_1
Tentu saja yang berulang tahun terkejut dengan suprise tak terduga ini. Tak biasanya mendapatkan kejutan di sekolah.
"Request dulu!"ucap Bening menghalangi lilin yang hendak di tiup oleh Intan.
"Semoga,semua orang terdekat Intan sehat dan slalu di beri kebahagiaan"doa Intan.
"Aamiin"sahut teman-teman kompak kemudian bertepuk tangan usai Intan meniup lilin.
"Selamat ulang tahun Intan cengeng!"ucap Bening memeluk Intan singkat.
Semua teman Intan di kelas memberinya selamat dan doa terbaik untuknya.
"HBD sekali lagi"ucap Nawan memberikan kado berbentuk kotak kecil padanya dan bertuliskan (Dari Nawan dan Bening untuk bocil cengeng)
"Helleh..... Pantesan aja ngotot banget nyuruh sekolah tadi pagi. Mana perginya awal banget lagi, tumben banget gitu"Intan menerima kado tersebut sambil menatap Nawan penuh selidik.
"Eh tapi makasih ya, kalian sahabat Intan paling debest!"lanjutnya memeluk Fany dan Bening.
"Dan ini hadiah dari Fany!!"sambung Fany memberikan buket snake pada Intan.
"Cughaee!"
"Ommo! Gumawo Fany!!"
Disisi lain ada siswa sedang mengamati drama ultah Intan itu dari kejauhan. Rasa sedih di hatinya masih tersisa, apa lagi ia melihat Intan pagi ini sangat senang mendapat kejutan dari sahabat-sahabatnya. Itu sudah membuatnya ikut senang. Pria itu tiada lain adalah Michael, ia menatap sedih kotak kado di tangannya. Sebenarnya ia sudah mempersiapkan kado ini dari jauh hari. Namun sangat di sayangkan kado tersebut sepertinya tidak akan sampai pada pemilik seharusnya.
"Happy birthday, Intan"
.
.
.
Cughaee dalam bahasa Korea "Selamat"
Gomawo "Terimakasih" (Informal)
__ADS_1