Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Kedatangan Thea


__ADS_3

Hari semakin merayap malam. Matahari kembali tenggelam oleh kegelapan malam. Intan melemaskan otot-ototnya, ia sudah lelah dari tadi membantu Natta melayani pengunjung cafe. Ia baru tau rasanya bekerja begitu melelahkan.


"Nih...."Natta menyodorkan botol air minum pada Intan yang langsung meminumnya, tenggorokan yang mula kering itu kini menjadi basah terkena air es yang begitu menyegarkan.


"Gimana rasanya kerja capek nggak?"tanya Natta menatap Intan yang sedang melihat langit dengan taburan bintang menghiasinya.


"Melelahkan"jawab Intan sambil membuang napas panjang.


"Pekerjaan jadi tidak melelahkan jika kita sendiri menghadapinya dengan hati yang tenang, bahagia dan ikhlas"


"Emang bang Natta lagi bahagia?"tanya Intan menatap Natta yang tersenyum mendengar pertanyaannya.


"Meskipun gue nggak bahagia, setidaknya ada orang yang bikin gue merasa tenang"


"Siapa?"


"Lo. Makasih ya udah jadi teman bicara, lain kali jangan sungkan-sungkan buat cerita. Entahlah mengapa kita seperti sudah berteman dekat, padahal baru kenal"


"Kalau lo sendiri gimana?"tanya Natta balik.


"Intan juga senang bisa kenal bang Natta. Intan belajar banyak hari ini. Abang mengajarkan Intan tentang hal yang tidak pernah Intan pelajari selama ini"ucapnya tersenyum.


"Bang Natta percaya nggak kalau kebahagiaan itu datang sendiri?"lanjut Intan.


"Menurut gue kebahagiaan itu nggak harus datang dengan sendirinya. Lo cukup buat kebahagiaan itu dengan diri lo sendiri, bisa melalui handphone, manusia dan benda. Dengan handphone lo bisa tertawa dengan hiburan yang ada di dalamnya. Kalau manusia, mungkin dia yang bisa buat lo bahagia"


"Mau nggak Bang Natta jadi manusianya untuk Intan?"tukas Intan meraih tangan Natta. Menggenggam tangan kekar pria itu sambil menatap matanya.


"Janji yah, bang Natta selalu ada buat Intan"ucapnya dengan berlinang air mata.


Natta mengangguk mengiyakan ucapan Intan. "Intinya jangan menunggu kebahagiaan itu datang sendiri. Buatlah kebahagiaan itu dengan hal-hal yang membuat lo bahagia"


"Contohnya?"


"Dengan tertawa sendiri mungkin"canda Natta dengan tawanya.


"Hahahha yang ada malah di sangka orang gila"


Tring.... Tring.... Tring....


Bunyi bel pemesanan berbunyi. Tanda seseorang datang ingin memesan makanan, hal itu pun membuat Natta dan Intan menoleh ke bar mini.


"Thea?"kening Natta berkerut kala melihat wanita yang di kenalnya bersama pria lain ke cafenya.


Ia pun berdiri menghampirinya.


"Hai Nat!"sapa wanita tersebut dengan senyum manisnya.


"Udah lama nggak ketemu, apa kabar?"lanjutnya.


"Dia siapa?"tanya Natta menatap pria di samping Thea yang berstatus pacarnya. Hati Natta terbakar melihat tangan Thea yang melingkar mestra di lengan pria itu.

__ADS_1


"Oh,iya kenalin dia pacar aku"ucap Thea memperkenalkan pria disampingnya. Namun, Natta tak peduli mau pacar,teman, sahabat pria itu menarik tangan Thea membawanya ke halaman belakang.


"Natta! Lepasin! Apa-apaan sih!"Thea menepis tangan Natta dengan kasar, menatap tajam pria itu.


"Kamu kenapa menghindar dari aku! Aku telpon, kamu nggak angkat. Aku ke rumah kamu, kamu nggak ada"


"Kamu kemana aja Thea!" Natta marah, pasalnya ia sudah lama tak mendapat kabar dari wanita itu setelah kejadian kemarin-kemarin.


"Ingat Natta, kita itu nggak ada hubungan apa-apa lagi! Jadi jangan hubungi aku dan jangan cari aku lagi!"Thea ingin beranjak dari sana. Namun, Natta menarik tangan Thea dan memeluk wanita itu.


"Aku mohon The.... Kasi aku kesempatan buat perbaiki kesalahan aku. Aku janji aku akan nurutin semua apa yang kamu mau"


BUGH....


Bogem mentah di terima oleh Natta yang kini terjungkal ke tanah.


"Bang Natta!"pekik Intan, ia segera membantu Natta berdiri.


"Ada apa ini ?"tanya Intan menatap Thea dan pacarannya bergantian.


Tak tinggal diam, Natta yang emosi pun melayangkan tinjunya ke arah pria yang memukulnya tadi. Sialnya pria itu dengan lihai mengelak pukulannya.


"Udah bang! Berhenti!"Intan berusaha melerai keduanya. Jangan sampai Natta babak belur di hantam pria bertubuh kekar itu.


"Come out baby! He's just wasting my time (ayo keluar sayang! Dia hanya membuang waktuku)"ucap pria itu merangkul pundak Thea dengan mesra.


"Sok inggris lo bule abal-abal !!"pekik Intan kesal menatap kedua pasang kekasih itu dengan tajam kemudian ia membantu Natta untuk duduk.


"Lo jangan ikut campur!"ucap Natta sembari meringis akibat pukulan tadi membuat sudut bibirnya terluka.


"Oh gitu? Bang Natta boleh ikut campur urusan Intan. Tapi Intan nggak boleh ikut campur urusan bang Natta? Kalau gini Intan ngapain cerita-cerita sama bang Natta"


"Bukan git---"


"Bang Natta tau nggak? Alasan Intan terbuka sama bang Natta?"


"Karena Intan butuh teman cerita, butuh teman buat berbagi keluh kesah. Intan pikir bang Natta orang yang tepat, terny---"


"Stop! Iya gue salah. Gue minta maaf"ucap Natta memeluk Intan tiba-tiba. Jujur, ia tidak mau kehilangan kepercayaan gadis itu. Ia tak mau Intan kecewa padanya.


"Maafin yah...."


Namun, beda lagi yang di rasakan Intan kini. Hatinya tiba-tiba berdesir saat Natta memeluknya, ada perasaan aneh disana. Tak lama, Intan mendorong tubuh Natta dengan halus


"Nggak, Intan masih marah sama bang Natta!"Intan membuang muka, gadis itu bersidekap dada menandakan ia sedang marah pada pria itu.


Natta menghela napas, kalau seperti ini ia harus bagaimana? Natta berfikir sejenak. Mencari cara agar Intan memaafkannya.


"Mau kemana?"tanya Natta menahan tangan Intan yang hendak meninggalkannya.


"Pulang!"ketus Intan.

__ADS_1


"Aw! Skttttt"ringis Natta memegang sikunya yang berdarah akibat baku hantam tadi membuat sikunya tergores ujung besi.


"Lo tega ninggalin gue?"tanya Natta memperlihatkan lukanya dengan tampang se-menyedihkan mungkin yang membuat Intan menghela napas, ia mana tega melihat Natta terluka seperti itu.


"Udah malam, nanti kak Nawan nyariin Intan gimana?"


"Telpon dia, bilang lo nginap rumah teman lo atau sahabat kek"


"Tapi Intan nggak bawa baju ganti. Masa tidur pake baju olahraga? Udah bau keringat lagi"ucap Ingan sembari  mencium-cium bau badannya. Bagaimana tidak? Pakaiannya tidak berganti dari pagi hingga malam di tambah aktivitas yang membuat tubuhnya berkeringat lagi.


"Di lemari ada baju Thea, lo pakai aja"


ucap Natta yang spontan membuat bola mata Intan membulat sempurna.


"Jangan mikir yang enggak-enggak, gue bukan cowok yang ada di pikiran lo. Gue nggak akan sentuh orang yang sepenuhnya bukan milik gue"sambung Natta seolah tau apa yang ada di pikiran gadis itu.


🦋🦋🦋


Disisi lain Nawan sedang mengamati Bening dari jauh. Sudah larut malam gadis itu tak kunjung pulang. Ia melihat Bening memasukkan kantong sampah ke Tong sampah. Wajah gadis itu terlihat kelelahan.


Bening yang menyadari ia sedang di amati melihat sekeliling dimana ia melihat Nawan duduk di taman yang berada tak jauh darinya. Tak ambil pusing, Bening melanjutkan kegiatannya. Tak peduli apa yang pria itu pikirkan tentangnya.


Gadis itu masuk ke ruangan khusus karyawan untuk mengganti pakaian, pekerjaannya sudah selesai waktunya ia pulang. Saat keluar dari ruangan tersebut, ia terkejut melihat Nawan yang memperhatikannya.


"Gue perlu bicara sama lo"Nawan menarik tangan Bening, membawa gadis itu duduk di taman tempatnya tadi.


"Lo mau bicara apa? Lo mau ngeledek gue? Iya gue tau batasan gue. Gue emang anak kurang mampu yang gak pantas suka sama lo"ucap Bening tiba-tiba. Ia sudah pasrah dengan keadaan.


Bening memang berasal dari keluarga yang kurang berada. Ibunya pergi meninggalkan dirinya entah kemana, sekarang ia tinggal bersama ayah dan adik laki-lakinya. Bisa di bilang Bening adalah tulang punggung keluarga, karena ayahnya yang suka mabuk-mabukan hanya mengandalkan uang dari dirinya. Terlebih ia harus menyekolahkan adiknya yang duduk di bangku SMP.


"Lo ngomong apa si? Gue nggak ada maksud ngeledek atau menjelekkan lo. Lagian suka,tidak suka itu hak seseorang. Lo suka sama gue, itu hak lo"


"Dan gue salut sama lo, di saat hari libur gini. Biasanya cewek menghabiskan waktu buat bersenang-senang, tapi lo nggak. Lo kerja buat kehidupan lo"


Bening terdiam sejenak. Ia berfikir, apa di sampingnya ini benar-benar Nawan yang ia kenal irit berbicara? Atau bahkan tersenyum saja jarang. Dan sekarang pria itu tersenyum padanya.


"Nggak usah senyum lo! Ngeri gue liatnya!"


"Ngeri atau makin suka? Terpesona ya? Jarang-jarang tau orang liat senyuman gue. Harganya satu tarikan 1 Miliar"


"Brutttthhhh"Bening tertawa nyembur. Percaya diri sekali pikirnya.


"Ngaco lu! Mending gue liat senyumnya Jung-Kook dari pada liat senyum lo"


"Heh jangan salah, senyuman gue itu tulus dari hati. Kalau jongkok itu---"


"Jungkook! J U N G K O O K" ucap Bening mengeja nama tersebut.


"Iya jongkok"


"Jung-Kook!"

__ADS_1


__ADS_2