Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Mendadak serius


__ADS_3

Malam hari di vila, Intan dan Natta masih melepaskan rasa rindu mereka. Kedua insan itu saling bertukar cerita dan bersenda gurau bersama, Intan pikir ia tidak akan bertemu Natta lagi, Intan pikir Natta juga sudah mempunyai kehidupan sehari-hari di Jakarta. Namun, takdir berkata lain buktinya ia bertemu lagi dengan pria yang sama.


"Entah bagaimana bisa kamu masih menaruh hati pada pria yang tidak ada istimewanya ini. Aku nggak tau harus berkata apa selain berterimakasih karena sudah mau menunggu. Sebagian orang pasti akan mencari yang baru karena sudah di kecewakan, tapi kamu nggak"ucap Natta dengan mata berkaca-kaca.


"Aku nggak nunggu sama sekali. Aku hanya berharap akan ada keajaiban, keajaiban Tuhan yang mengirimkan seseorang seperti Bang Natta. Tapi nyatanya Tuhan mengirimkan orang yang sama"


"Kecewa ya?"


"Nggak"Intan menggeleng.


"Tapi aku heran sama diri sendiri"


"Kenapa?"


"Heran aja, bagiamana bisa aku jatuh cinta lagi dan lagi pada orang yang sama"ucapnya menatap netra hitam Natta begitu tulus.


Natta tersenyum lalu meraih tangan Intan dan menggenggamnya "berjanjilah kamu nggak akan pergi lagi dan dan tinggalkan aku"


"Aku berjanji nggak akan pergi, tapi aku akan kabur. Sambil menggenggam tangan ini dengan erat"balas Intan tersenyum hangat sambil mengeratkan genggaman tangannya.


"Tan...! Intan!"panggil Nawan tiba-tiba datang mencari Intan.


"Kak Nawan!"paniknya menatap Natta lalu kemudian menarik pria itu menuju kamarnya.


Tak pikir panjang, Intan menyeret Natta yang terkejut karena Intan tiba-tiba membawanya masuk ke dalam lemari.


"Mau diapain?"Natta menongolkan kepalanya keluar yang langsung saja Intan paksa masuk.


"Shuuuttt ada Kak Nawan, Bang Natta disini dulu"


Bugh....!


Gadis itu menutup lemari yang membuat Natta terperanjat kaget.


"Iyaa, Intan disini"sahut Intan keluar dari kamar.


"Kamu udah makan?"tanyanya yang tampak menenteng botol air minum.


"U-udah"


"Temenin aku minum"ucap Nawan membuka pintu menuju gazebo.


Intan mengigit bawah bibirnya panik, kenapa Kakaknya itu harus nyusul ke Vila? Bagaimana dia tau kalau Natta ada disini?


Kakaknya itu pasti akan marah dan menghabisi Natta mengingat sang adik disakiti pria itu.


"Kamu ngundang teman?"tanya Nawan ketika melihat ada dua gelas kosong sisa minuman di gazebo.


"Eee iya! Ta-tadi sore Intan ajak Bila kesini"dalihnya yang membuat Nawan menatap adiknya menyipit. Seperti ada yang tidak beres. (Bila teman Intan di Bali)


"Beneran?"selidik Nawan tak percaya.


Intan mengangguk sambil tersenyum meyakinkan.


"Okeh"Nawan manggut-manggut sambil menuangkan sebotol Coca Cola ke dalam gelas.


Sementara Intan terlihat gugup sambil melirik-lirik pintu. Ia takut Natta tiba-tiba keluar.


"Kak Nawan kenapa?"tanya Intan melihat Nawan seperti sedang kacau.

__ADS_1


Nawan mengambil sebatang rokok di saku celananya, ia hendak menghidupkan korek api. Namun Intan tiba-tiba saja mengambilnya lalu mematahkan rokok tersebut.


"Intan udah bilang jangan ngerokok depan Intan!"Intan menginjak-injak rokok tersebut dengan kesal. Ia tidak suka menghirup asap rokok selain tidak baik buat kesehatan si perokok, asapnya membuat dia sesak napas.


Nawan terdiam, lalu meneguk minumannya. Ia sudah biasa dengan Intan yang hobi mematahkan rokoknya.


"Aku nggak bisa lupain dia Tan. Gimana ya caranya biar aku dapetin Bening lagi?"


Intan lagi-lagi melirik pintu sampai ia mengabaikan perkataan Nawan.


"Tan, Intan!"sergah Nawan yang membuat gadis itu langsung kaget.


"Hah?"


"Kamu nggak dengerin aku dari tadi?"Nawan melihat apa yang Intan lihat tadi "ada siapa disana?"


"Nggak ada siapa-siapa"jawab Intan cepat.


"Bohong! Ada orang ya di dalam?"


"Nggak ada siapa-siapa Kak Nawan, tadi cuma ada Intan sendiri"


Nawan menatap Intan penuh selidik, adiknya itu tidak pintar dalam berbohong. Dari tadi ia lihat Intan terus menoleh ke Vila, di tanya jawabnya tergagap. Nawan kembali melihat dua gelas yang kosong itu.


"Kamu bawa cowok ke Vila?"


"Nggak!! Ngapain juga Intan bawa cowok ke Vila!"


"Ketauan banget bohongnya"Nawan berlalu masuk ke Vila, ia yakin pasti Intan menyembunyikan sesuatu karena melihat respon adiknya yang berlebihan.


"Gada siapa-siapa Kak, Intan gak bohong!"ucapnya sambil mengekor langkah Nawan.


"Kalau gada siapa-siapa ngapain di hadang?"


Intan terdiam.


"Minggir!"Nawan masuk kamar, Intan semakin panik sambil melihat lemari yang tertutup.


"Tu, Kan gada siapa-siapa"


"Kamu umpetin dimana? Di lemari ya?"Nawan segera membuka lemari namun tak ada orang disana, Intan yang tadinya panik merasa lega.


"Udah Intan bilang gada siapa-siapa"


Dreettttttt....


Dreeetttttt....


Tiba-tiba ada suara getaran ponsel.


"Bunyi HP kamu?"tanya Nawan yang di jawab Intan dengan gelengan.


Nawan mencari asal suara getaran ponsel tersebut. Ia membuka nakas,laci, lemari hingga sampai getaran ponsel tersebut berhenti dari arah kolong tempat tidur.


"Lo?!"kejut Nawan setelah melihat Natta di bawah kolong tempat tidur.


Intan melotot ketika tau Natta di bawah tempat tidur, pria itu tampak kesusahan mengambil ponselnya di saku celananya.


"Bang Natta!"Intan membantu Natta keluar dari sana.

__ADS_1


"Lo ngapain disini?"


"Be-bentar! Bantu gue keluar dulu anjirr pinggang gue sakit"ucap Natta kesulitan untuk keluar.


Nawan menatap Intan jengah, gadis itu berbuat ulah lagi.


"Kak...."Intan memohon pada Nawan untuk membantu Natta keluar.


Dengan berat hati Nawan mengangkat sedikit ranjang tersebut.


Natta yang mulai bisa bergerak segera merangkak menuju keluar. Namun na'as, bajunya terangkut ranjang.


BUGH....!!


"Aww Anjirr! Sakit!"


Alhasil kepala pria itu terbentur sudut ranjang.


*****


"Lagian ngapain sih sembunyi di bawah tempat tidur, kolongnya kan kecil"ucap Intan sembari mengobati pelipis Natta yang sedikit memar.


Natta melirik Nawan yang memperhatikan interaksi dirinya dan Intan "kan biar dia nggak tau"bisiknya ke Intan.


"Gue gak budek! Jelasin apa maksud ini semua. Dan lo!"Nawan menunjuk Natta, "kenapa bisa ada disini?"sambungnya.


Natta berdehem, sembari menegakkan badannya kemudian ia menjelaskan yang sebenarnya dari A sampai Z. Bahkan sampai perasaannya ia ungkapkan.


"Terus kalian pacaran?"Nawan menatap keduanya bergantian.


"Intan menolak, dia hanya ingin menjadi istriku"jawab Natta spontan membuat Intan dan Nawan kaget.


"Bang...."Intan terkejut, kenapa jadi serius begini? Omongannya tadi hanya asal. Ia tak berniat nikah muda di umurnya yang masih 20 tahun.


"Kamu sebagai satu-satunya saudara Intan. Aku mau melamar Intan secara resmi"nada bicara Natta terdengar serius "Aku pikir tidak perlu pacaran, karena selama dua tahun Intan masih menjaga perasaannya. Begitupun aku yang sudah lama mencarinya di pulau kecil ini, tapi tidak ketemu. Aku sayang sama Intan, sangat tidak ingin kehilangannya. Aku harap kamu bisa merestui kami"ucapnya dengan tulus.


Nawan diam sejenak, melihat tampang Natta yang sangat meyakinkan akan perkataannya.


"Kalau kamu benar ingin menjalin hubungan dengan adikku ke tahap yang serius. Datang ke rumah pamannya, katakan maksud kedatangan kamu"ucap Nawan, juga mengubah intonasinya mode serius "untuk restuku, terserah Intan saja. Kalau dia terima dan bahagia dengan pilihannya aku juga ikut mendukung kebahagiaannya"


Ucapan Nawan spontan membuat Intan membelalakkan matanya. Kenapa Kakaknya itu menerima Natta dengan begitu mudah? Ia sungguh tak mengira kalau Nawan mengucapkan itu.


"Bentar tunggu dulu! Intan belum siap nikah. Kenapa kalian main setuju-setuju aja?"


"Bukannya tadi kamu bilang kamu mau jadi istri aku?"


"Iya, tapi nggak gini juga maksud aku---"


"Kamu nggak mau nikah sama aku?"tukas Natta.


"Ya mau, tapi..."ucapannya menggantung ia bingung harus berkata apa "yaudah, kasi Intan waktu buat mikir"


"Jangan lama-lama"


"Iya! Orang Bang Nattanya juga tiba-tiba datang trus mendadak mau lamar Intan. Gimana Intan nggak syok? di tambah Kak Nawan main setuju-setuju aja, untung Intan nggak ada penyakit jantung"kesalnya menatap Natta dan Nawan jengah.


"Lamaran tuh bawa cincin kek bunga kek atau apa kek yang romantis. Ini malah bawa penyakit"cicit Intan yang masih bisa di dengar Natta.


Nawan dan Natta mendengarnya hanya menahan senyum. Sebenarnya Nawan sudah tahu Natta ingin menemui Intan, di publik nama Nawan tertera di media sosial sebagai manager Intan. Oleh karena itu Natta mencoba menghubungi nomer yang ada di artikel maneger Intan sang Atlet yang kini banyak di perbincangkan di media.

__ADS_1


Lalu kenapa Natta sampai masuk kolong tempat tidur untuk menghindari Nawan? Entahlah, itu niat Natta sendiri yang mengada-ngada. (Mungkin mereka bersandiwara)


__ADS_2