
Suara deru ombak yang terombang-ambing menghiasi pendengaran kedua insan yang tengah menatap lautan lepas dari kejauhan dengan angin kencang tampak menerpa kulit mereka.
Perjalanan yang cukup jauh membuat keduanya lelah. Kemudian rasa lelah itu berganti menjadi rasa puas dan lega melihat keindahan pantai yang begitu memanjakan mata.
Disana, di atas bukit. Intan tersenyum hangat melihat Natta yang begitu menikmati perjalanannya.
"Terakhir gue kesini lima bulan yang lalu. Dengannya"ucap Natta tanpa mengalihkan pandangannya dari lautan.
"Kok bahas dia lagi? Udah ih galaunya. Kaya remaja lagi putus cinta aja!"celoteh Intan kesal. Ia mengajak pria itu kesini untuk hiburan tapi malah membahas Thea.
Intan berdiri melihat Natta yang sedang duduk di bebatuan.
"Coba deh bang Natta teriak sekencang mungkin"
"Buat apa?"tanya Natta mendongak menatap wajah Intan dari bawah.
"Buat lepasin unek-unek di sini!"tunjuk Intan pada dadanya.
"Kata orang, kalau kita teriak sekencang mungkin.Kita akan merasa lega. Nih ya Intan contohin" gadis itu maju satu langkah seraya berdehem menetralkan suaranya.
"Intan nggak butuh Cinta !!
Intan butuh Uang !!"teriak Intan sekencang mungkin seolah alam mendengar dan mengabulkan permintaannya.
Natta terkekeh geli mendengar teriakan receh gadis itu. "Cobain!"Intan menarik tangan Natta untuk berdiri.
"Lo gila ya? Kalau orang dengar gimana?"
"Cuma ada kita disini. Ayok! Bang Natta pasti bisa!"seru Intan menyemangati Natta yang ragu-ragu untuk berteriak.
"Ayooo!"desak Intan dengan senyum manisnya.
"Aaaaaaaa"
"Kurang!"
"Aaaaaaaaaaa"
"Lagi-lagi"
"Aaaaaaaaaaaaaaaa"
"Dikit lagi!"
Natta meramas-ramas rambutnya geram. Matanya menatap Intan jengkel, harus sekencang apa lagi? pikirnya. Sementara yang di tatap tersenyum lebar yang membuat Natta semakin geram, entah kenapa ia tidak bisa menolak permintaan gadis itu.
"Aaaaanjjing! Pergi dari hati gue bangsaaat! Gue muak sama lo! Pergi! Jangan pernah balik lagi !!"pekik Natta dengan napas yang terengah-engah.
"Yeaaaay!"teriak Intan girang sambil bertepuk tangan.
"Puas lo?"tanya Natta sambil duduk kembali.
Intan juga turut duduk samping Natta
"Seharusnya Intan yang nanya gitu, gimana? Bang Natta lega nggak?"tanya Intan antusias sambil melihat wajah tampan pria itu dari samping.
"Biasa aja"jawab Natta. Namun, sejujurnya ia sedikit lega setelah drama teriak tadi. Itu membuat beban di hatinya sedikit terangkat.
__ADS_1
"Lo sendiri? Kenapa teriak gitu? Lo milih duit dari pada cinta?"tanya Natta yang dijawab anggukan oleh Intan.
"Kenapa?"
"Karena makan itu pakai duit bukan pakai cinta"
Perkataan Intan sontak membuat Natta menoyor kepala gadis itu.
"Dimana-mana makan itu pake nasi,ikan,ayam,sayur. Lu ngomong ngadi-ngadi, makan pake duit segala"protes Natta.
"Dimana-mana beli makanan itu pake duit, apa-apa pake duit. Tanpa duit kita nggak bisa makan!"balas Intan yang membuat Natta terdiam.
Iya juga, kalau nggak ada duit. Nggak bisa beli makanan.
"Tapi manusia di ciptakan untuk berpasang-pasangan. Artinya kita juga butuh cinta untuk menyempurnakan hidup"kata-kata mutiara mulai keluar.
"Pendapat orang berbeda-beda. Menurut Intan, dengan uang. Intan bisa merubah segalanya. Tapi kalau menurut pak haji Roma Irama rindu segala-galanya" kelakar Intan sedikit menyanyikan lagu tersebut yang di sambut tawa Natta.
"Lawak lu!"ucap Natta diiringi tawanya.
"Tapi kalau cinta. Ya...... Kaya orang di samping Intan, dia Gegana (gelisah galau merana) hanya karena cinta.
Kalau kita berani jatuh cinta, kita harus berani menerima luka yang di berinya. Contohnya orang samping Intan setelah sakit, luka itu pasti akan membekas dan tak terlupakan"
"Makanya Intan lebih milih uang. Karena jatuh cinta itu menyakitkan"
"Berarti kalau lu nikah nanti hanya berdasarkan uang? dan tanpa adanya cinta?"tanya Natta menggebu-gebu. Ia semakin penasaran pada gadis di hadapannya yang memiliki pola pikir berubah-ubah. Kadang dewasa dan kadang kekanak-kanakan.
"Iya"jawab Intan cepat.
"Ya harus orang kaya'lah. Kalau orang kismin mana mungkin nikah sama Intan"
"Kenapa?"
"Karena maharnya paling sedikit 1 Miliar plus apartemen elite satu"
Perkataan gadis itu yang semakin ngelantur membuat tawa Natta pecah. Pria itu tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.
"Woi bangun lu! siang-siang gini malah mimpi. Kalau gue jadi jodoh lu nih. Mending nikah sama monyet deh, rela gue"
"Dari sekian banyak wanita kenapa harus monyet?"tanya Intan dengan polosnya.
"Karena maharnya 1 kebon pisang doang hahahaha"
Keduanya bersenda gurau bersama. Tawa serta senyum terus mengembang di bibir mereka. Tak terasa sang surya ingin kembali ke tempatnya, langit jingga dengan senja yang menemani membuat kedua adik kakak itu tersenyum bersamaan.
Daarrrr!
Petir tiba-tiba menggelegar disana. Tampaknya langit ingin bersedih malam ini.
"Kok tiba-tiba ada petir sih?"tanya Intan sambil memandang langit-langit yang tampak mendung.
"Mungkin mau hujan. Siap-siap gih, kita harus pulang"ucap Natta sembari melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 17.19
Intan mengemasi sisa makanannya, memasukkan snake yang sempat di belinya itu ke kantong plastik.
Intan dan Natta turun bukit, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 30 menit karena tidak terlalu tinggi.
__ADS_1
Tiba sampai dasar pantai, hujan mengguyur seluruh kota tersebut Yang membuat tubuh Intan dan Natta basah kuyup. Natta segera membawa Intan untuk berteduh. Namun, Intan menariknya kembali. Gadis itu mencampakkan tas dan barangnya di bawah pohon kelapa. Kemudian menarik Natta menuju bibir pantai.
Mereka bagai sepasang kekasih yang sedang bermain hujan. Saling menyiram serta berlarian kesana-kemari dan tertawa.
Sampai di suatu adegan Natta menangkap Intan dari belakang sehingga seperti mereka sedang berpelukan, mata keduanya saling bertemu seolah air hujan tak jadi penghalang mereka untuk berkedip.
"Udahan yuk, nanti lo sakit"ucap Natta kemudian melepaskan pelukan yang tak di sengaja itu.
******
Malam berkelabu, tak ada bintang yang menghiasinya. Deru suara hujan yang lebat di sertai petir membuat Intan ketakutan. Mereka berteduh di suatu gedung tua yang berada di tepi jalan, mereka berhenti karena hujan terlalu lebat.
"Dingin ya?"tanya Natta yang melihat Intan memeluk tubuhnya kedinginan.
Intan mengangguk sebagai jawaban.
"Gue nggak bawa jaket, lagian lo sih. Pake ngajak main hujan segala, kan bajunya jadi basah" Intan tak menjawab, tubuhnya menggigil di tambah angin kencang yang begitu menggigit kulit.
"Intan gapapa Bang"
"Gapapa gimana muka lu pucat gitu! gue peluk ya?"
🦋🦋🦋
Di lain sisi Bening baru saja pulang dari rumah sakit. Ia bekerja Senin-Jumat paruh waktu sementara Sabtu-Minggu full time, sebenarnya Sabtu dan Minggu adalah waktu libur. tapi gadis itu memilih bekerja demi mendapat uang tambahan.
Masuk dalam rumah ia sudah di suguhi pemandangan yang melelahkan mata. Ayahnya lagi-lagi mabuk dengan kulit kacang yang berserakan di lantai.
"Baru pulang kamu?"tanya Abuh, ayah Bening. Pria paruh baya itu meneguk kembali minuman beralkohol tersebut.
"Iya Yah"jawab Bening sembari melangkah menuju kamarnya.
"Tunggu!"ucapan Abuh membuat langkah Bening terhenti. Gadis itu berbalik melihat ayahnya.
"Duit! Aku mau beli rokok!"pria itu dengan mudahnya meminta uang pada Bening.
"Tapi Yah, Nining belum gajian"
"Haaallah gak usah bohong sama orang tua. Mana?! Sini duit kamu"Abuh mengambil paksa tas yang Bening bawa. Gadis itu pun tak tinggal diam, ia berusaha menarik tasnya kembali.
"Yah Nining mohon, itu uang buat bayar komputer Nining Yah"rintih Bening memohon. Ia sudah bekerja susah payah hanya untuk uang sekolahnya dan adiknya.
"Diam!!"bentak Abuh.
"Besok juga kamu dapat lagi"Abuh berhasil mengambil uang dalam dompet Bening. Pria itu dengan kejam menendang Bening hingga terjungkal.
"Yah Nining mohon, kembaliin duit Nining. Besok Nining harus bayar, kalau tidak Nining di keluarkan dari sekolah Yah hiks.... hiks...."Bening bersipuh di kaki ayahnya. Uang komputer Bening sudah nunggak 3 bulan,belum lagi ia harus membayar buku pelajaran. Itu membuat Bening setres, belum lagi uang sekolah adiknya.
"Yaudah bagus kamu ngga usah sekolah! Nyusahin orang tua aja!"Abuh melepaskan kakinya dengan kasar hingga Bening lagi-lagi terjungkal. Kini pelipis gadis itu berdarah akibat terantuk sudut meja.
"Ayah !!"pekik Bening dengan berderai air mata.
"Kak...."David, adiknya Bening baru berani memunculkan dirinya karena terlalu takut pada ayahnya. Ia membantu kakaknya berdiri.
"Maafin David kak, David nggak bisa bantu kakak" Pemuda itu memeluk kakaknya erat. Saat ini hanya Bening'lah satu-satu yang di milikinya.
Begitulah kehidupan Bening. Tak hanya sekali,dua kali ia sering di perlakukan ayahnya seperti tadi. Ingin rasa mengakhiri semuanya. Hidupnya begitu menyedihkan, Abuh memperlakukannya seperti bukan anaknya sendiri.
__ADS_1