Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Putus


__ADS_3

Intan POV


Usai acara itu, pelajaran sudah di mulai. Para murid menghambur masuk ke kelas masing-masing setelah bunyi bel. Lagi dan lagi murid baru itu terus mengamatiku diam-diam, aku menyadarinya tetapi aku pura-pura tidak tahu. Sebenarnya apa yang membuatnya terus memperhatikanku? Jikalau dia suka, tidak mungkin sampai tak mengalihkan pandangannya dariku. Aku jadi takut....


Pelajaran berlangsung....


Beberapa jam kemudian, bel tanda waktu istirahat tiba. Kami seperti biasa menuju kantin sekolah, tapi di saat aku keluar kelas Davin, murid baru itu menghampiriku yang langsung mendekat pada Nining sebagai tameng untuk berjaga-jaga kalau dia macam-macam.


"Hai, katanya lo ulang tahun ya hari ini?"tanyanya begitu dengan mimik wajah yang nakal,menurutku.


"Iya,emangnya kenapa?"jawab Nining dengan ketus, dia pasti sudah tahu kalau aku merasa risih dengan Davin.


"Gue tanya Intan bukan lu"ucapnya menatap Nining dengan sinis. Beuh berani-beraninya, belum tau dia kalau Nining pernah patahkan tangan kakak kelas sampai kuku panjangnya patah. Maka dari itu tidak ada yang membulyku karena keberadaan Nining setahun yang lalu pernah berkelahi dengan kakak kelas.


"Dia nggak mau jawab, yaudah gue aja yang jawab"serobot Nining lagi tak kalah sinis. Sahabat gue nih!!


Davin memperhatikanku.


"Gue cuma mau ngucapin selamat aja buat lo"dia mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Nining.


"Makasih, dia lagi alergi kulit"ku lihat tatapan Davin mulai kesal dengan Nining. Hahahaha rasain!


"Hah? Sejak kapan Intan alergi kulit?"sambung Fany yang dari tadi hanya menyimak. Hadehh... Fany memang nggak bisa diajak kompromi.


"Gak tau, mungkin mulai sekarang!"balas Nining melihat Davin sekilas kemudian menarikku dan Fany meninggalkan Davin yang ku rasa sedang kesal.


-Kantin

__ADS_1


"Tumben Kak Michael nggak kesini?"ucap Fany memandangku dan juga Kak Nawan yang berada di sampingku.


Makanku jadi terhenti mendengarnya, pantesan dari tadi aku merasa ada yang kurang. Ternyata dia, aku bergeming. Tidak mau menjawab.


"Tadi ada sih di kelas"jawab Kak Nawan.


"Kalian berantem ya?"selidik Fany memandangku dengan mata menyipit.


"Udah putus"jawabku santai sembari memasukkan roti ke dalam mulut. Kurasa tidak ada yang perlu di sembunyikan, lagian memang aku tidak mempunyai perasaan yang sama terhadap Kak Michael.


Nawan,Nining serta Fany terkejut mendengarnya, ketiganya menatapku penuh tanya.


"What?!"pekik Fany, dia memang selalu berteriak.


"Serius lo?"tanya Nining yang langsung ku jawab dengan anggukan.


"Belum"jawabku, aku pikir tidak ada yang harus ku sembunyikan pada teman-temanku sebab untuk apa di sembunyikan bila memang kenyataannya aku tidak memiliki perasaan yang sama dengan kak Michael.


Ku lihat kak Nawan dan Nining saling pandang entah apa yang mereka pikirkan aku tak peduli.


"Terus siapa yang mutusin? Pasti lo kan Intan?"tanya Fany, aku sudah menduga pertanyaan ini dari mulutnya.


"Nggak ada yang mutusin, kita sama-sama ingin sendiri dan merasa Intan dan kak Michael nggak cocok. Kak Michael pun merasakan hal yang sama, oleh karena itu kami memutuskan untuk putus secara damai. Tidak ada pihak yang tersakiti dan juga tidak ada pihak yang rugi"jelasku dengan gaya bicara guru menjelaskan tentang simbiosis mutualisme hahaha.


🔥🔥🔥


Pulang sekolah aku menunggu Ojek yang sebelumnya sudah ku pesan agar tidak lama menunggu tapi perkiraanku salah. Ojek online tersebut tak kunjung datang padahal di chattingan dia sudah OTW (on the way) kurang lebih sepuluh menit menunggu hal yang aku hindari pun menghampiriku. Dari kejauhan terlihat motor Davin menghampiriku dan benar saja dia berhenti tepat di hadapanku.

__ADS_1


"Lagi nunggu siapa?"tanyanya sembari membuka kaca helm.


"Lagi nunggu Ojek"ku jawab sambil memperlihatkan ponselku tanda aku sedang menunggu ojek online.


"Yaudah aku antar aja gimana?"saat itu aku mulai was-was, ada perasaan tidak enak dengan Davin.


"Gak usah, bentar lagi Ojeknya nyampe kok"tolakku berusaha biasa saja.


"Lo kenapa sih? Kaya takut gitu sama gue? Santai aja kali, gue nggak makan orang kok"


Aku diam, mengabaikan perkataannya.


"Ojeknya mungkin ada kendala kali,bisa aja kehabisan bensin atau macet di jalan"sambungnya, belum lama dia bicara ponselku bergetar ternyata dari kang Ojek yang kupesan.


'Kak, maaf mungkin agak lama. Soalnya motor saya tiba-tiba bocor di jalan'


Isi pesan tersebut, demi apapun aku ingin menangis sekarang juga.


"Kenapa? Bener ya perkataan gue? Yaudah gini aja, karena lo ulang tahun hari ini. Gue mau traktir lo makan gimana?"dia terus mencari celah agar aku ikut dengannya. Tapi bagaimana? Aish... Sepertinya aku harus beli kendaraan besok agar tidak menyusahkan orang.


Nekat? Atau menunggu?


"Kelamaan mikir lo! Naik cepat sebelum gue berubah pikiran" aku refleks naik atas motornya karena di buru.Bodoh kamu Intan!


"Gitu kek dari tadi"


Author POV

__ADS_1


Dari kejauhan Michael melihat interaksi Intan dan Davin tersebut. Ia bingung karena baru pertama kali melihat Davin, ia pikir itu teman Intan yang beda sekolah, tapi setelah melihat seragam sekolahnya sama ia berfikir Davin adalah murid baru. Michael melihat gelagat Davin yang mencurigakan membuat Michael khawatir akan Intan, takut terjadi apa-apa pada gadis itu, walau hatinya masih sakit melihat Intan dan Davin pergi bersama. Akhirnya Michael lebih memilih membuntuti Davin dan Intan.


__ADS_2