
Natta POV
Tadinya aku berniat berbelanja stok barang untuk kebutuhan cafe di supermarket terdekat, di perjalanan tiba-tiba aku melihat gadis tempo hari yang ku tolong waktu itu. Ia di duduk di halte bus sendirian sambil memeluk kedua kakinya, penasaran benar gadis itu atau bukan ku dekati dia dan memanggilnya. Ternyata benar, rupanya ia menangis matanya tampak merah dan bengkak dengan keadaan tubuh yang basah.
Entah dari mana perasaan itu datang, aku tak pernah merasa kasihan pada orang lain ataupun peduli. Tapi melihat gadis itu kedinginan membuatku iba dan akhirnya ku bawa ke cafe, memberinya makan dan minum. Gadis itu menurut saja apa yang ku perintah, dari tadi tidak mau berbicara, ditanya 'kenapa' hanya di jawab gelengan kepala.
Dia baru saja keluar dari toilet dengan hoodie'ku yang tampak kebesaran di badannya. Aku menahan senyum melihat dia memakai baju kebesaran, untungnya celana training'ku ada yang kecil sehingga pas di pinggangnya.
"Gue gak tau masalah lo apa, lo mau cerita atau enggak gue nggak peduli. Sekarang udah malam,biar gue antar lo pulang" jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 22.24 tidak mungkin juga kubiarkan dia menginap disini.
Saat aku mengambil kunci motor, dia menahan tanganku.
"Intan nggak mau pulang"ucapnya diiringi gelengan kepala. Suaranya terdengar serak mungkin habis menangis.
"Kalau nggak pulang, lo mau tidur dimana?"tanyaku, dia malah menangis sambil menutup mukanya dengan tangan.
Aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuatnya menangis? Dia terlihat kurang sehat dan kenapa tubuhnya sampai basah padahal tidak hujan? Apa dia di usir dari rumah? Terus di siram?
Tanganku tiba-tiba bergerak menggapai bahu yang naik turun itu
"Kenapa?"
"Shkt...."dia meringis saat ku pegang bahunya "sakit...."lirihnya menatapku.
"Lo luka?"aku terkejut,baru menyadari ada memar-memar kemerahan di tangan dan lehernya.
"Sebentar, gue ambil obat dulu"lagi-lagi gadis itu menahan tanganku.
"Jangan"
"Nanti luka lo tambah parah"
"Biarkan luka ini sembuh dengan sendirinya"ucapannya membuatku terpaku, seakan merasakan sakit yang dia rasakan. Matanya menyorotkan kesedihan yang begitu mendalam.
Aku menghela napas
"Yaudah, malam ini lo tidur disini"untuk sementara waktu, biarlah dia menginap disini. Untungnya Cafe yang ku buat ini terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk cafe dan lantai dua untuk tempat pribadiku.
🦋🦋🦋
"Bang..."panggilnya tiba-tiba saat mataku ingin terlelap.
"Hm..."sahutku dengan mata terpejam. Aku melihatnya sekilas di ranjang tempat tidurku, sementara aku tidur di sofa walaupun terasa tidak enak.
"Nggak sakit tidur disana?"
"Sakit"jawabku seadanya dengan apa yang aku rasakan.
"Yaudah abang tidur sini aja, biar Intan yang tidur disana"
"Nanti badan lo tambah sakit"
"Udah terlanjur sakit, Intan gapapa"
Perkataannya lagi-lagi membuatku hatiku tertusuk duri. Entah kenapa tak tega melihatnya luka seperti itu.
"Enggak"jawabku lagi.
"Yaudah, abang tidur samping Intan aja. Tempat tidurnya masih luas kok"
Geram, gadis itu terus mengoceh. Akhirnya aku beranjak dari sofa.
"Lo nggak takut ?"
"Intan yakin kok, bang Natta orang baik"ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tau darimana gue orang baik?"gadis ini terlalu cepat menyimpulkan seseorang. Untungnya Natta Pratama memang orang baik, bahaya kalau gadis itu bertemu orang baik tapi dalamnya jahat.
"Kalau nggak baik, nggak mungkin Intan di tolongin" hmmm iya juga.
Hooammm mata sudah terasa berat, ingin sekali menutupnya. Aku memposisikan tubuhku agak jauh darinya. Gadis itu rupanya masih ada rasa takut, buktinya dia membatasi di tengah-tengah tempat tidur dengan guling. Argh bodo amat! yang penting tidur!
Bruk....!
Gelap....
🦋🦋🦋
Author POV
Disaat Intan dan Natta tidur nyenyak di cafe tersebut. Lain lagi di rumah ini, Nawan yang tidak dapat memejamkan matanya karena menghawatirkan Intan yang pergi entah kemana. Pria itu sudah berkali-kali menghubungi Intan namun tidak ada jawaban apa-apa. Ingin rasanya pergi keluar mencari keberadaan adik tirinya, tapi Rianti melarangnya keluar.
"Argh... Sial !"Nawan mengusap wajah gusar. Bagaimana terjadi apa-apa pada Intan? Apa dia pergi ke rumah temannya? "Fany... Bening..."tiba-tiba nama tersebut muncul di otaknya,ia segera mencari kontak Bening dan Fany.
Tersambung Bening
"Hello..."
"Orang gila mana yang telfon malam-malam begini !" terdengar sahutan dari sebrang sana.
"Di rumah lo ada Intan?"tanya Nawan. Ia tak peduli apa yang di katakan oleh Bening.
"Nawan? I-intan? Nggak ada Intan di rumah gue, em---" baru saja ingin bertanya, Nawan sudah memutuskan sambungannya. Gadis itu pun mengumpat kesal.
Setelah menelfon Bening, Nawan kembali menghubungi Fany
"Ayang! Kan tadi udah telfonan. Masa telfon lagi sih? Aku belum selesai nonton" sambar Fany tanpa melihat siapa yang menelfon.
"Di rumah lo ada Intan?"
"Nggak ada. Eh, kak Nawan!"
Nawan semakin frustasi, ia harus gimana?
🦋🦋🦋
Ting... Ting... Ting...
Bunyi alarm ponsel mengejutkan Intan yang terlelap dalam mimpi. Dengan separuh mata tertutup, Intan meraba-raba sekitarnya mencari benda yang berbunyi itu.
Tanpa sadar ia tak sengaja menyentuh benda hidup di sampingnya.
Datar,bergerak dan....
Gadis itu langsung membuka matanya lebar-lebar ketika ia menyadari yang di pegangnya adalah dada manusia.
Ia cepat-cepat mematikan alarm dan mengumpulkan nyawa sebanyak-banyaknya kemudian menoleh ke kiri dimana ada Natta yang tidur dengan nafas teratur.
Intan memandang wajah tampan pria itu, lama. Bibir tipis yang memiliki tahi lalat, alis tebal dan hidung yang lumayan mancung.
Plak!
Intan menampar pipinya sendiri,ia baru menyadari Natta setampan itu jika dilihat dari dekat.
"Sadar! Intan sadar!"gumamnya pelan.
"Sakit lo ?"ucap Natta tiba-tiba, ia melihat Intan menampar dirinya sendiri "Jam berapa sekarang?"
"Jam 8.36"jawab Intan yang membuat Natta bangkit dari tidurnya.
"Seriusan?"tanyanya tak percaya yang di jawab anggukkan oleh Intan.
__ADS_1
"Kok alarmnya nggak bunyi?"
"Tadi udah bunyi"
"Terus kenapa nggak bangunin gue bocil...."ucap Natta menoyor kepala Intan dengan telunjuknya.
"Gimana mau bangunin, Intan aja baru bangun"
Natta menghela napas, ia beranjak dari ranjang mengambil handuk dan mengalungkannya di leher
"Lo nggak sekolah?"
Intan lagi-lagi menggeleng.
"Lo ada masalah apa sih?"tanya Natta penasaran "gue nggak maksa lo buat cerita, tapi kalau lo nggak mau gapapa"
Kini giliran Intan menghela nafas, ia turut beranjak dari ranjang kemudian duduk di sofa.
"Janji yah jangan kasi tau siapa-siapa"Intan mengancungkan jari kelingkingnya ke arah Natta yang menatapnya jengah. Emangnya dia ingin memberi tahu siapa ? Tidak ada gunanya juga,pikir pria itu.
"Janji"balasnya menyatukan jari kelingkingnya.
Intan tersenyum senang, entah kenapa ia merasa akrab dengan Natta pria yang jelas ia ketahui keras kepala dan egois buktinya pria itu tidak mau putus dengan pacarnya tempo hari yang ia temui.
"Papi Intan meninggal saat Intan umur 13 tahun, sekarang Intan punya ibu tiri dan kakak tiri. Ibu tiri Intan jahat sama Intan hiks..."terangnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Setiap kali Intan membuat kesalahan Intan selalu di hukum. Seperti yang terjadi ini, Intan di pukul dan di siram"Intan menjeda kalimatnya melihat reaksi Natta yang tampak serius menatapnya.
"Waktu malam kita ketemu, Intan habis pulang dari rumah temen. Terus Intan nggak mau pulang karena ibu tiri Intan pasti hukum Intan lagi walaupun Intan nggak buat kesalahan. Yaudah, Intan jalan-jalan aja sambil jalan kaki nggak tentu arah dan jadi deh ketemu preman-preman itu"lanjutnya mengusap air mata yang hampir meleleh itu.
"Rumit amat hidup lo"
"Nggak tau kenapa bisa rumit, padahal Intan nggak salah apa-apa"balasnya santai.
"Kalau gue jadi lo nih, gue bunuh ibu tiri lo itu"
"Pengennya sih gitu, tapi boro-boro mau bunuh tuh nenek sihir. Yang ada malah Intan yang di bunuh. Malam tadi aja hampir Intan di bunuh sama dia"
"Wah bener-bener tuh setan!"
"Iiih nggak boleh ngomong gitu, dia itu manusia tau! Bukan setan"
"Tapi menurut gue dia setan"
"Kenapa?"
"Setan kan nggak punya perasaan"
"Iya juga"
"Bocil tollol"
"Kenapa sih sering panggil Intan bocil?"kesal Intan, ia tak suka di panggil bocil.
"Karna lo emang bocil"cibir Natta berjalan ke arah kamar mandi.
"Iya Om iya"
"Dih songong lo ya!"
.
.
.
__ADS_1
Note : Novel ini bergenre Kisah Remaja! bukan bergenre Islami.