
~Bandara Seokarno-Hatta, Jakarta
Tiba-tiba saja ada telepon dari Mama Rianti yang akan pulang dari Singapore. Jadi, Nawan berinisiatif untuk menjemput sang Ibu setelah pulang dari sekolah. Kebetulan jadwal sampai pesawat 30 menit setelah pulang sekolah sekitar jam 14.05. Disana Bening juga ikut karena hari ini ia masuk kerja jam 17.00 jadi masih punya waktu tiga jam'an.
Tak lama, sosok yang di tunggu-tunggu pun datang. Wanita paruh baya itu dengan anggun menyeret kopernya, senyum hangatpun terbit di bibir sedikit pucat itu.
"Mama"lirih Intan memeluk wanita itu singkat. Rindu? Hmmm sedikit, sebab ia masih perlu adaptasi dengan Rianti yang dahulu sifatnya sangat berubah drastis dengan yang sekarang.
"Hai Tante"sapa Bening dengan senyum ramahnya.
"Hai Bening"sahut Rianti sembari mengusap-usap kepala Intan yang tersenyum, ia seperti benar-benar merasakan kasih sayang seorang Ibu.
"Tante baik? Kok muka Tante agak puncat? Tante udah makan?"tanya Bening prihatin, sebab memang wajah Rianti sangat pucat dengan bibir yang kering.
"Iya Ma, mama udah makan?"sambung Nawan.
"Mama sebelum berangkat kesini udah makan, mungkin hanya mabuk perjalanan aja. Soalnya di pesawat mama agak pusing"jelas Rianti.
"Yaudah kalau gitu, mama makan lagi. Sekalian kita belum makan hehehe"cicit Intan.
"Heleh... Jangan bawa-bawa nama 'kita' lu! Itu mah kemauan lu kalik!"protes Nawan.
"Kalau iya kenapa? Masalah?"tantang Intan menunjukkan raut tidak ramah, tentu perkara tadi pagi masih membuatnya marah pada Nawan "bolehkan mah kita pergi makan? Intan lapar banget"rayunya memeluk lengan Rianti dengan memohon.
"Iya boleh"jawan Rianti diiringi anggukan.
"Asiiikkk! Kita makan di restoran terenak!"seru Intan girang "wleee kasian deh lo!"ejeknya menjulurkan lidah pada Nawan yang menggeleng.
"Perut adek lu terbuat dari apa sih? Perasaan di sekolah dia makan banyak banget?"ucap Bening heran sembari menatap Intan dan Rianti di depannya.
"Kaya gak tau Intan aja, diakan kangguru. Makanan dia taruh di kantong lambungnya"jawab Nawan sembarang.
Tak lama, akhirnya mereka sampai di restoran yang Intan inginkan. Gadis berseragam dengan rambut sebahu itu tampak gembira dan semangat melihat menu makanan.
"Bening mau makan apa? Pesan aja"ucap Rianti menyodorkan buku menu pada Bening yang ragu-ragu menerimanya. Orang seperti dia pastinya sangat jarang pergi ke restoran mewah, seperti tak pantas saja berada disini. Apalagi harga makanannya mahal-mahal, bisa beli bakso 10 bungkus di pinggir jalan tempat langganannya. Tak ambil pusing, toh ia sudah biasa dengan keadaan ini, dimana teman-temannya orang yang kaya sementara dirinya hanyalah orang yang hidupnya pas-pas'an.
"Kenapa?"tanya Nawan saat pacarnya itu kelihatan bengong memandang buku menu.
"Hah? Gapapa, ini aku pesan Nasi goreng Seafood aja. Minumannya samain sama kamu"ucapnya kikuk. Ia benar-benar bingung dengan makanan yang ada di restoran ini, namanya aneh-aneh. Jadi ia memilih yang lokal saja.
__ADS_1
"Mah, Intan boleh pesan sepuasnya?"tanya Intan pada Rianti.
"Boleh, tapi di makan ya"ucap wanita itu dengan lembut. Intan jadi tersenyum mendengarnya.
"Gak boleh, Pesan secukupnya aja! Jangan di turutin Mah. Nanti kebiasaan"cegah Nawan.
"Apaan sih kak Nawan, Mamah aja bolehin! Sewot banget dari tadi"suntuk Intan. Ia rasa hari ini orang-orang sangat menjengkelkan.
"Nggak,maksud gue lu makan secukupnya aja. Jangan berlebihan"
"Udah-udah, Intan pesan aja apa yang Intan mau. Nawan, biarin dia"akhirnya Rianti menjadi penengah antara keduanya.
"Mamah kok belain dia?"protes Nawan, ia cukup tahu Mamahnya adalah orang yang berhemat dan apa-apa di perhitungkan walau masalah uang mereka lebih dari cukup.
Intan yang merasa dapat pembelaan tersenyum "wleeek!"ejeknya lagi pada Nawan yang mulai emosi.
"Sabar.... Sabar...."ucap Bening mengelus punggung Nawan yang luluh karena tatapan gadis itu.
"Kamu nggak mau pesan yang lain?"tanya Nawan "mumpung Mamah lagi baik, kita juga mau pesan sepuasnya"tambahnya melihat lagi buku menu. Kalau si empu yang bayar tidak masalah, yasudah gas keun!
"Ikut-ikutan"cicit Intan. Rianti hanya menggeleng kepala melihatnya.
"Kak, Itu bener mau di makan semua?"tanya Rianti lagi yang langsung Intan jawab dengan anggukan antusias.
"Mbak, kita juga mau pesan. Ayam bakar dua, capcay dua, americano dua sama apa tadi yang kamu mau pesan sayang?"ucap Nawan tak mau kalah, ia sempat bertanya pada Bening di sela-sela bicaranya.
"Nasi goreng Seafood!"sambungnya sebelum Bening menjawab.
"Nawan, itu kebanyakan!"
"Gapapa, kalau kamu nggak abis. Aku aja yang makan"sudah terlanjur sakit hati ya begini. Ego mengalahkan segalanya.
"Tapi---"
"Udah, gapapa"
"Hadeuuhh banyak drama"sela Intan.
"Yaudah Mbak, Nasi goreng Seafoodnya gak usah. Ayam sama Capcay aja"
__ADS_1
"Baik Mbak"ucap pramusaji tersebut sedikit kebingungan.
"Mamah mau pesan apa?"tanya Intan.
"Saya Soup ayam sama air putih aja Mbak"ucap Rianti.
Sambil menunggu, mereka asik dengan aktivitas masing-masing. Intan yang sibuk mengutak-atik HPnya bersama Bening sementara Nawan bersender di bahu gadis itu, ia ikut melihat apa yang Bening scroll di alpikasi toktok. Sesekali keduanya tertawa melihat video yang ada di dalamnya, sementara Rianti tersenyum melihat momen ini, momen yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Jujur ia sangat menyesal telah menjadi dirinya yang dahulu yang penuh kebencian, egois dan sangat terbilang keterlaluan. Ya, wanita itu menyadarinya.
"Oya, gimana hubungan kakak sama Michael? Apa baik-baik aja?"tanya Rianti, seketika Intan dan Nawan membeku sejenak. Keduanya saling pandang, Bening juga ikut bingung melihat ekspresi Intan dan Nawan. Ya karena faktanya Rianti belum tau kalau Intan dan Michael putus. "Mamah harap sih kalian baik-baik aja, dan kedepannya mamah sangat berharap kalian tetap bersama"tambahnya yang membuat Intan semakin ragu untuk mengungkapkan kebenarannya. Gadis itu menatap Nawan seperti ingin berkata "bagiamana ini?"
Yang di tatap malah menggeleng kecil, tanda tidak tahu.
"Emm Mah----"
"Mereka baik-baik aja kok Mah, malah kemarin mereka tuh pergi seharian jalan-jalan. Sampe gak bilang-bilang sama Nawan, kalau mereka pergi berdua. Mana hape-nya Intan nggak aktif"tukas Nawan yang membuat dahi Intan berkerut. Tapi sesaat pria itu mengedipkan matanya, ia tak mau membuat Rianti yang sudah berekspektasi hubungan Intan dan Michael baik-baik saja jadi kecewa.
"Ooohhh!! Iya Mah, Intan kemarin jalan-jalan seru banget. Sampe nggak inget belum ngabarin kak Nawan"sambung Intan, memandangi Nawan penuh tanya. Yang di pandang mengangguk tanda 'bagus'.
"Syukurlah kalau kakak senang sama Michael. Mama saranin, jaga hubungan kalian baik-baik. Michael anak yang patuh orangnya,penyayang juga perhatian"tutur Rianti.
"I-iya Mah"bagaimana ini? Kenapa bisa begini? Kenapa mama begitu mengharapkan aku untuk terus bersama dengan kak Michael? Sementara aku baru putus dengannya beberapa hari yang lalu?. Pikir gadis itu kalut.
"Bentar, Intan mau ke toilet dulu"Intan beranjak dari tempat duduk, bola matanya menatap Nawan. Mengisyaratkan untuk ikut dengannya.
Nawan yang mengerti pun turut berdiri "tunggu! Gue juga mau cuci tangan tadi nggak sengaja nyentuh debu"alasannya.
*****
"Kak Nawan gimana sih? Kenapa kakak tiba-tiba ngomong gitu? Ngapa nggak jujur aja?"serangnya ketika tiba di perempatan toilet, untungnya tidak ada orang di sana.
"Kita nggak bisa jujur Intan. Liat wajah Mamah pucat gitu, suaranya juga kaya orang sakit. Gue udah merasakan dari tadi kalau Mamah itu nggak baik-baik aja, dan gak cuma itu. Gue takut kalau sifat Mamah yang dulu itu balik lagi setelah tau lo udah putus sama Michael!"terang Nawan berusaha memberi pengertian pada Intan.
"Karena semenjak lo jadian sama Michael, Mamah berubah! Dia jauh lebih baik dari pada yang sebelumnya"tambahnya lagi.
"Kalau bisa milih, Intan lebih milih jujur dan di perlakukan seperti dulu lagi jika memang Mamah berubah karena Intan pacaran sama Kak Michael! Itu artinya semua yang di perlakukannya sekarang ke Intan itu nggak tulus!"
"Gue cuma bilang takut aja Intan! Gue nggak bilang kalau Mama begitu karna lo pacaran sama Michael"
"Intan tau, Intan pikir Intan aja yang mikir gitu. Tapi Kak Nawan juga, Intan berusaha keras untuk tidak overtaking ke Mama walau setelah apa yang dia lakukan ke Intan. Tapi I'ts okay, gapapa kalau memang begitu, setidaknya Intan merasakan kasih sayang dia walau nggak tulus"
__ADS_1
"Ng-nggak gitu Intan! gue...."ucapan Nawan menggantung, ia bingung harus mengucapkan apalagi "udahlah, Intinya kita rahasiakan aja dulu sampai ke waktu yang tepat. Dan gue pikir lo cukup dewasa untuk menilai mana orang yang tulus dan mana orang yang nggak tulus, terserah lo mau menganggap Mamah apa. Itu hak lo, gue nggak berhak ikut campur"sambungnya meninggalkan Intan yang terdiam, pikirannya berkecamuk. Tapi sejujurnya ia sudah merasakan Rianti benar-benar tulus, tapi di sisi lain ia teringat atas apa yang Rianti lakukan terhadapnya semenjak papinya meninggal. Itu membuatnya trauma.