Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Bahagia Sesaat


__ADS_3

Makanan siap, ikan bakar,ayam bakar serta tirisan sambal terasi menjadi menu makanan mereka siang ini. Intan tampak tak sabar menyantap itu semua.


"Nih makan yang banyak ya sayang"ucap Nawan tiba-tiba sembari menyodorkan nasi ke piring Bening. Ucapannya itu tentu membuat semuanya terpaku sejenak.


Nawan tadi bertanya pada adiknya kenapa Bening sampai merajuk hanya karena responnya demikian. Lalu kemudian Intan pun menceritakan sambil memberi saran.


Bening tersenyum malu "makasih sayang"ucapnya, lalu sempat menjulurkan lidah pada Janu dan Fany yang menatap satu sama lain.


"Iya sama-sama"Nawan mengelus kepala Bening dengan mestra. Pria itu tersenyum tipis, rupanya Bening mempunyai sisi yang mengemaskan.


"Aduuuhhh perasaan ni angin kenceng tapi kenapa mendadak panas gini ya?"Intan mendadak panas, ia mengibas-ngibas wajahnya dengan tutup toples.


"Iya, disini bisa pasang AC gak sih?"sambung Natta, mendukung drama Intan.


"Kasian yang gapunya ayang"ejek Janu. tukang Kompor sejati.


"Siapa bilang? Orang aku punya Ayang!"


"Hhhh siapa ayang lu?"


"Ayang, Allah Yang Maha Penyayang"


Jleb!!


Semuanya diam. Dan setelah itu mereka mulai menyantap makanan, tak ada yang berani membalas perkataan Intan.


Derrttt....


Getaran ponsel Natta berbunyi, ia mencuci tangan dan segera menerima panggilan tersebut.


"Waalaikumsalam, ini baru aja abis makan. Kamu gimana? Kerjanya pulang jam berapa? Biar nanti kalau sempat aku jemput"


"Oh gitu, yaudah nanti aku jemput ya. Kamu jangan terlalu keras kerjanya"


"Siap bosku! Waalaikumsalam"


Sambungan terputus, Natta berbalik badan. Ia terkejut dengan tatapan Fany serta yang lain. "Hayoooo siapa tu yang telpon? Mestra banget kedengarannya"selidik Fany.


"Siapa lagi kalau bukan pacarnya"celetuk Janu.


Nawan langsung menoleh adiknya yang mengangguk kecil tanda dia baik-baik saja.


Walau sebenarnya hati kecil berkata sebaliknya.


"Kepo lu pada!"


*****


Senja tampak mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan warna jingga kemerahan. Pesonanya itu selalu membuat sang penikmat selalu tersenyum akan keindahannya.


Kerang-kerang juga menepi terhempas oleh ombak yang kian semakin membesar.


Biarkan aku jadi sesuatu yang berarti untukmu...


Tapi tidak sesaat...


Biarkan aku jadi tempat untuk bersandar...


Di saat kau terpuruk rapuh...


Jangan sampai kau lemah...

__ADS_1


Ku yakin kau pasti bisa bangkit...


Jangan anggap kau sendiri hadapi


Ada aku di sini...


Walau dia kini telah lama di hidupmu...


Namun sampai kini tak bahagiakan kamu...


Lupakan semuanya tinggalkan saja... percuma...


Bukalah matamu selebar dunia ini...


Dan rasakan banyak orang yang peduli...


Jangan ingat lagi jangan kau sesali ada aku di sini...


Jangan sampai kau lemah...


Ku yakin kau pasti bisa bangkit...


Jangan anggap kau sendiri hadapi...


Ada aku di sini...


Hal pertama yang Intan lihat Natta bernyanyi adalah. Pria itu mirip seperti Michael saat bernyanyi, tidak salah karena keduanya adik kakak. Hanya beda Ibu.


Natta memetikkan bait terakhir lagunya "lo nggak sendiri, percayalah masih banyak orang yang peduli. So don't cry, i don't like to see you sad"ucap Natta dengan tatapan begitu dalam.


"Entah apa arti tatapan itu, kenapa ini? tatapan itu seolah mengatakan 'jangan pergi' Kenapa aku harus terjebak perasaan seperti ini? Kalau begini caranya aku tidak bisa diam. Aku terlalu jatuh begitu dalam, sehingga tak ada lagi celah untuk aku keluar dari hatinya!"


"Apa aku salah mencintainya? Apa perasaanku yang salah karena telah jatuh hati pada orang yang sama sekali tidak menganggapku istimewa?"


"Ngomong apa sih Tan? Ya iyalah gue pasti ketemu lo lagi"Natta merasa kesal dengan pertanyaan Intan, seakan berharap ia tak akan bertemu lagi dengan gadis itu.


"Bagaimana kalau tiba-tiba aku menghilang dan---"


"Lo ngomong apasih? Ngacok deh. Udah yuk, kita pulang! Yang lain udah mulai berkemas"tukas Natta beranjak berdiri dari bebatuan. Meninggalkan Intan yang larut dalam pemikirannya.


****


"Biar Intan sama gue"ucap Nawan yang melihat Intan masuk mobil Natta "lo mau jemput cewek lo kan?"


Natta mengangguk.


"Yaudah Intan sama gue, biar lo bisa langsung jemput cewek lo"Nawan sebagai kakak yang baik tak mau lagi adiknya tersakiti. Sudah susah payah selama ini membuat Intan ceria seperti dulu, jangan sampai Intan bersedih lagi.


"Bukan gitu, masalahnya Naya cewe gua mau ketemu Intan. Katanya ada yang mau dia kasih ke Intan sebagai pertemuan terakhir karena besok Intan udah berangkat ke Bali"


Nawan langsung melotot bisa-bisanya Natta malah mempertemukan keduanya. Nawan hendak berkata namun sudah keduluan oleh Intan.


"Gapapa Kak, lagian Intan juga masih mau ngobrol-ngobrol sama Bang Natta. Entar kalau udah selesai Intan langsung pulang"Ucap Intan tersenyum meyakinkan.


"Tan---"


"I'ts okay, I'm good!"potongnya lagi sambil menunjukkan wajah ceria.


"Terserah"


Setelah mendapat izin dari sang kakak Intan tampak merenung di sepanjang jalan. Natta juga hanya fokus menyetir, ia kehabisan topik untuk di bahas.

__ADS_1


"Lo kalau ngantuk tidur aja, mungkin masih satu jam'an lagi"


Intan mengangguk, kemudian menurunkan ketinggian kursi. Matanya juga sudah sayup,ingin segera tidur karena pagi-pagi sekali dia bangun hari ini.


Tak lama kemudian ponsel Natta berbunyi, panggilan tersebut dari Naya. Ia tersenyum melihat nama sang kekasih tertera di ponselnya. Natta pun menyambungkan ke earphone.


"Iyaa, Waalaikumsalam. Udah pulang ya?"


"Iya udah, tapi aku lagi makan malam sama Dian. Kamu lagi apa?"


"Aku lagi di perjalanan pulang. Kira-kira satu jam'an lebih baru sampai, maaf kamu jadi nunggu lama"


"Gapapa, kamu jangan buru-buru. Aku juga masih lama ngobrol sama Dian"


"Kalian ngobrolin apa? Pasti ngomongin aku ya?"


"GR banget ih! Orang kita lagi ngomongin bos aku"


"Oya? Emang bos kamu kenapa? Galak ya?"


"Gatau resek banget tuh orang! Salah dikit marah, dikit-dikit nyuruh. Apalagi kalau kita lagi di luar, terus di suruh ke kantor harus sampai tepat waktu. Emang aku jin apa! Yang di panggil langsung timbul"adu Aurel dengan kesal.


Natta tertawa mendengar keluhan kekasihnya.


"Yaudah pindah aja"


"Atuh kamu mah enteng bener ngomongnya, aku udah susah-susah tau dapat pekerjaan ini"


"Pindah ke hati aku maksudnya sayang...."


"Heleh kamu mah paling bisa"


Obrolan mereka berlanjut, tanpa Natta ketahui ada hati yang tersakiti mendengar perkataannya. Rupanya Intan terbangun karena suara tawa Natta, gadis itu memendam rasa tanpa sadar dalam tidurnya ia meneteskan air mata.


******


"Haiii"saat tiba Naya langsung memeluk Intan.


"aku kaget lho kamu tiba-tiba besok berangkat ke Bali. Padahal aku masih mau jalan-jalan sama kamu Intan"


"Iya aku juga, tapi keadaan membuat aku harus pergi kesana. Nanti kapan-kapan liburan ke Bali ya, aku bakal ajak kakak ke villa dekat rumah paman aku. Cantik banget tempatnya"


"Oya? Oke deh! Kalau pekerjaan aku mulai senggang"


Intan mengangguk.


"Ayo masuk dulu, kalian pasti lapar?"


"Emm kayanya aku mau langsung pulang aja deh kak, takut kak Nawan marah kalau aku pulang malam. Besok juga pagi-pagi harus berangkat"


"O gitu, yaudah kita sama-sama aja pulangnya"Naya langsung menenteng tasnya.


"Nggak usah kak, aku naik taksi aja. Biar Bang Natta bisa langsung anter kakak pulang"


"Nggak bisa, lo harus gue anter ke rumah. Kalau nggak, Nawan ngamuk sama gue adeknya pulang sendiri"cegah Natta.


"Iya Intan, lagian rumah aku nggak jauh dari sini"sambung Naya.


Akhirnya mereka jalan menuju pulang. Jujur Intan tak kuat lagi menahan air matanya jatuh, namun ia berusah menghibur diri dengan ponselnya. Sebab ia merasa menjadi orang ketiga di antara Natta dan Naya.


Perjalanan berlangsung, Naya terus mencari topik untuk mengobrol dengan Intan. Setelah kepulangan Naya, Natta kembali mengantar Intan pulang. Namun, saat tiba Intan menangis sesenggukan. Ia akui ia sangat amatlah cengeng sehingga tak bisa menahan tangisnya.

__ADS_1


Disana Natta kebingungan dengan Intan yang tiba-tiba menangis hingga bahunya turun naik.


"Tan, lo kenapa? Ada yang sakit? Lo baik-baik aja kan?"


__ADS_2