Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Sakit


__ADS_3

Jam 10 malam Natta mengantar Intan ke rumah Fany gadis itu memang berencana untuk menginap di rumah sahabatnya. Sebenarnya ia sampai Jakarta pukul 2 siang hari ini, di Bandara Intan sudah janjian akan di jemput oleh Fany sahabatnya. Tentu Fany sangat senang mendengar Intan datang dan akan menginap di rumahnya.


"Aku masuk dulu ya"ucap Intan sambil melambaikan tangan.


Natta mengangguk, ia sudah mencoba untuk membujuk gadis itu untuk nginap di rukonya saja. Tapi Intan menolak karena sekarang dia bukan Intan yang dulu masih umur 18 tahun, sekarang ia sudah dewasa tau mana yang tidak baik untuknya walau ia tau Natta tak akan berbuat macam-macam.


"Besok ke Cafe ya"ucap Natta yang langsung di anggukki oleh Intan.


Usai sudah perpisahan tersebut, Intan membuka pintu yang langsung di kejutkan oleh Fany yang menatap dengan tatapan menyelidik.


"Huuusss! Ngagetin aja!"kejutnya.


"Tan, lo masih berhubungan dengan Bang Natta?"tanya Fany, jiwa kepo gadis itu belum berubah dan masih Fany yang dulu Intan kenal.


"Iya, dia mau nikahin gue"terang Intan yang membuat Fany membelalakkan matanya.


"What?! You seriosly? Bagaimana bisa?"kejut Fany mengekor Intan yang menuju kamarnya.


Kebetulan Fany sedang sendirian di rumah. Orangtuanya seperti biasa, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ya, gadis itu dari kecil sudah terbiasa sendiri dengan orang tua yang sibuk berbisnis, kadang cuma akhir pekan bisa berkumpul bersama itu juga kalau orang tuanya tidak sibuk. Saudara juga tak punya karena gadis itu anak tunggal.


"Ya bisalah orang dia cinta sama gue"Intan meletakkan tasnya di meja lalu langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur, Fany juga melakukan hal yang sama.


"Tapikan lo udah lama banget nggak ketemu dia, masa masih ada rasa cinta?"tanya Fany menatap wajah sang sahabat yang menatap langit-langit kamarnya.


"Nama juga cinta Fan, mau sejauh apapun, seberapa lama nggak ketemu ya kalau jodoh pasti balik lagi"


"Iya sih, tapi cepet banget lo mau nikah! Umur lo masih muda Tan! Lo nggak mau kejar cita-cita atau impian lo dulu gitu?"


"Impian gue udah tercapai Fan, lagian di dunia ini kalau kita mau kejar sesuatu nggak bakal ada habisnya. Gue mau nikmati hidup dengan orang yang gue cintai, pernikahan nggak jadi penghalang buat gue melakukan sesuatu selagi atas izin suami"


"Wuiisss udah suami-suami aja nih"


"Tapi kalau di pikir-pikir iya juga, lo udah dapetin apa yang lo mau dan hanya tinggal menunggu kebahagiaan datang. Nggak kaya gue, taunya cuma kerja, ngabisin duit,makan dan tidur berasa hari-hari semuanya kosong. Sangat membosankan" ucap Fany menatap kosong dinding kamarnya. Intan jadi menoleh Fany, dari dulu Intan sudah tau Fany sering di tinggal sendiri oleh orangtuanya yang membuat gadis itu sudah terbiasa dengan kesendirian.


"Fan, kalau di tanya gue mau apa dari dunia. Gue mau banyak, gue pengen punya orang tua yang lengkap, gue pengen punya apartemen sendiri,gue pengen jalan-jalan keluar negeri, gue pengen yang telah mati hidup kembali. Tapi gue sadar kalau apa yang gue mau nggak bakal bisa tercapai, jadi gue hanya bisa menjalani hidup gue seadanya tanpa harus memikirkan apa yang mau gue kejar. Karena gue rasa bahagia bersama orang terdekat sudah lebih dari cukup"


"Dan nggak selamanya kebahagiaan itu datang sendiri Fan, tapi buatlah kebahagiaan itu sendiri dengan cara lo. Gue tau lo bisa buat kebahagiaan lo sendiri, buat dunia kosong dan sangat membosankan itu dengan keramaian"

__ADS_1


"Gue gatau caranya Tan, hidup gue nggak susah tapi juga nggak bahagia. Gue bingung apa yang menarik dari dunia ini, semuanya aku rasa hampa, punya keluarga seperti nggak punya"


"Yang penting Janu'kan ada buat lo"


Fany mengangguk tersenyum, "cuman dia yang selalu ada buat gue Tan, gue juga bingung kenapa dia sesetia ini sama gue padahal gue ini perempuan biasa aja. Dia nggak berubah dari dulu, sekarang dia malah makin sayang sama gue"cengirnya membayangkan sang kekasih sampai saat ini masih betahan.


🌞🌞🌞


Keesokan harinya pagi-pagi sekitar jam 7 Fany mengantar Intan ke kediaman Natta. Gadis itu tak mau tinggal seorang diri di rumah sebesar itu sehingga ia meminta Fany untuk mengantarnya saja ke ruko Natta sebab Fany akan pergi bekerja.


Setelah kepergian Fany, Intan menelpon Natta berkali-kali tetapi tak kunjung di angkat. Gadis itu bingung harus melakukan apa sebab kalau dia mengetuk pintu ruko akan percuma karena Natta tidur di lantai dua yang pastinya tidak akan terdengar. Lumayan lama ia menunggu, akhirnya gadis itu menelpon sang pacar sekali lagi.


"Aku di luar bukain pintu"kesalnya saat Natta mengangkat panggilan.


Tak lama pintu terbuka, namun Intan terkejut melihat wajah Natta yang pucat dan tubuh sedikit lemas.


"Kamu sakit?"tanya Intan sembari menuntun Natta untuk duduk di kursi. Gadis itu dengan prihatin menempelkan tangannya ke dahi Natta untuk mengecek suhu "kapan demamnya? Udah minum obat belum?"sambungnya menatap Natta yang menjawabnya dengan gelengan.


"Yaudah rebahan dulu, aku buatin bubur setelah itu minum obat"gadis cantik dan manis itu menarik tangan sang pacar menuntunnya kembali ke sofa agar bisa rebahan.


Intan lihat semua alat dapur tertata dengan rapi. Calon suaminya itu selain pandai memasak dia juga pandai menata barang dengan rapi dan bersih, idaman sekali. Intan tampak menatap barang lama, sulit sekali memilihnya.


"Bang! Kalau dapurnya berantakan gapapa ya!"teriaknya yang tak ada jawaban dari si pendengar. Karena tak mungkin juga orang sakit harus menjawab dengan teriakan juga.


Memotong,mencampur adukkan bumbu-bumbu menjadi satu dan memindahkan bahan ke satu wadah ke wadah lain. Itu yang di lakukan Intan, ia terlihat sangat serius dalam memasak hingga bubur yang ia masak gosong karena api terlalu besar. Tak menyerah, Intan terus mencobanya hingga jadilah bubur ayam dengan racikan alanya.


"Abang... Makan dulu buburnya"ucap Intan membangunkan Natta yang tertidur.


Natta duduk, lalu melihat bubur yang di buat oleh Intan kemudian tersenyum tipis.


"Ini kamu yang buat?"tanyanya, dilihat dari penampilan rasa bubur ini sangat tidak meyakinkan.


Intan mengangguk antusias, tak sabar melihat Natta menyicipinya.


Melihat sang kekasih sangat antusias, Natta mencoba menyicipi bubur tersebut. Rasanya sungguh mengejutkan sampai membuat Natta membeku sejenak.


"Nggak enak ya?"tanya Intan dengan lesu. Sebab dari eksepsi Natta bisa ia baca apa rasa makanannya.

__ADS_1


Natta mengangguk jujur yang membuat Intan mengerucutkan bibirnya. Natta memang selalu jujur dengan perasaannya tapi tidak bisakah ia berbohong sedikit saja dengan rasa bubur ini? Itu sangat membuat Intan kecewa karena belum bisa membuat makanan enak untuk sang pacar yang sedang sakit.


"Garamnya kebanyakan"ungkapnya menatap Intan sambil tersenyum.


"Tapi gapapa, aku habisin ya"Natta sudah hendak melahap bubur tersebut, namun Intan dengan cepat mengambil alih sendok dan mangkuknya.


"Katanya asin! Ya gak usah dimakan!"sungutnya meletakan mangkuk ke meja lain.


"Gapapa, kamu udah susah-susah buatin aku bubur masa nggak di makan?"Natta kembali mengambil mangkuk dan langsung melahap bubur ayam itu dengan cepat walau rasa asin di mulut sangat ingin membuatnya muntah. Tapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak kelihatan tak menyukai makanan sang kekasih yang kini menatapnya datar.


"Udah, ga usah sok kuat. Aku nggak marah kok, toh emang aku nggak bisa masak"tuturnya dengan lembut menjauhkan mangkuk berisi bubur itu lalu menyodorkan air minum pada Natta yang langsung meminumnya.


"Sini...."ucap Natta menepuk sofa sebelahnya menyuruh Intan untuk duduk disana yang langsung di turuti oleh Intan.


"Lain kali nggak usah masak ya, kamu nggak cocok jadi tukang masak. Cukup jadi atlet Intan Prameswari dan Ratu Intan Pratama"ucapnya menyentuh hidung Intan dengan gemas.


"Tapikan kalau udah jadi istri aku harus bisa masak,cuci pakaian dan mengerjakan tugas rumah tangga lainnya. Sementara aku nggak bisa apa-apa"


"Jangan bilang nggak bisa, tapi harus mencoba. Kalau nggak bisa nggak masalah, kan kamu tau aku pinter masak. Kalau mengerjakan pekerjaan lainnya bukan kewajiban kamu, masak juga bukan kewajiban seorang istri. Kamu cukup layani suami kamu dengan baik"


"Lagian aku nikahin kamu bukan buat aku jadikan babu melainkan seorang ratu. Dan juga mendirikan rumah tangga, bukan rumah makan"


Intan menatap pria itu sejenak, tak disangka Natta bisa berkata semanis ini.


"Kenapa merhatiin gitu?"


"Gimana kalau besok aja nikahnya?"ucap Intan tiba-tiba yang membuat Natta tertawa geli. Rasa pusing dan lemasnya kini telah hilang begitu saja.


"Kok malah kamu yang jadi kebelet nikah sih?"ucap Natta diiringi tawanya melihat ekspresi Intan yang menggemaskan.


"Ya aku ayo-ayo aja kalau nikah besok, hari ini juga aku siap. Tapikan masalah kita belum selesai"


"Ayo selesaikan masalah cepat, oya!! Kamu'kan lagi sakit. Udah mendingan?"ucap Intan baru mengingat bahwa Natta sedang demam. Gadis itu kembali menempelkan tangannya ke dahi Natta yang menggenggam tangannya.


"Karena ada kamu disini, demamnya udah turun. Apalagi liat senyum kamu, aku semakin semangat"


Intan refleks tersenyum mendengarnya, benar. Tenyata sakit bisa di sembuhkan tanpa obat asal orang tertentu bisa membuat yang sakit tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2