
Di mobil Vira melamun, pikirannya terus ke Pria yang membuatnya jatuh cinta tadi. Apakah bisa ia menjadi wanita yang di inginkan pria itu? Apakah bisa ia mengambil hatinya? Apapun itu coba saja.
Intan sudah menjelaskan sejarah singkat hubungan antaranya dan Michael. Jujur Vira sedikit terkejut mendengar Natta dan adiknya menyukai wanita yang sama. Bahkan ia sempat berfikir, seistimewa apa Intan hingga di perebutkan dua saudara ini?
Wanita itu tiba-tiba melihat tangannya yang dihiasi kuku-kuku cantik. Intan bilang Michael tidak menyukai wanita yang memakai perhiasan berlebihan dan make up yang menor. Vira refleks bercermin, ia pikir hiasan wajahnya tidak terlalu menor.
"Tidak, aku tidak bisa merubah diriku untuk menjadi diri orang lain. Karena aku adalah aku, Vira Ziandini Aditya yang harus jadi diri sendiri. Mungkin aku tidak bisa berubah, tapi aku bisa memperbaikinya"
Gumamnya dengan percaya diri, memang apa yang dikatakannya benar. Semua wanita pasti berbeda-beda dari sifat,fisik dan mentalnya. Tapi bukan berarti ia akan menjadi diri orang lain beralasan cinta, wanita bodoh saja yang mau. Pikirnya.
Lalu kemudian wanita berambut panjang itu melajukan mobilnya ia hendak berbelanja pakaian yang sopan, seperti yang di bilang oleh Intan. Ia akui pakaiannya yang sekarang memang terbuka hingga atas lutut dan bagian bahu terbuka. Lelaki manapun juga risih melihatnya, tapi tidak dengan lelaki mata keranjang.
Ia tahu itu, tapi dia tetap pada pendirian dan percaya diri. Karena hidup itu simpel, lakukan apa yang ingin di lakukan asal tidak membuat orang lain rugi. Dan bila tidak suka, silahkan. Semua orang berhak menilai baik buruknya seseorang.
*****
Di tempat yang sama, Intan dan Fany makan bersama setelah kepergian Vira. Tak hanya mereka berdua, Janu dan Bening juga ikut menyusul. Ya, mereka berencana reunian.
"Nining!!"teriak Intan langsung memeluk sahabatnya yang sudah lama tak berjumpa.
"Si cengeng udah gedee!!"balas Bening, gadis cantik nan ayu itu sangat jauh berbeda sekarang.
"Haii Nu!! Yaampun makin tinggi aja lu"Intan memeluk Janu singkat, sambil berdecak sebab pria yang dulu pentakilan itu kini tinggi sekali hingga Intan berada di bawah bahunya.
"Ya, iya dong! Banyak makan kangkung soalnya hehehe. Lu kenapa nggak tinggi-tinggi? Dari dulu segini-segini aja"
"Gue nggak pendek Nu! Lu aja yang ketinggian. Btw aura-aura kalian beda-beda ya"
__ADS_1
"Aura apaan? Aura Kasih?"celetuk Janu sembari duduk samping Fany.
"Aura kaya om-om banyak duit hahaha"kelakar Intan, karena memang benar. Bening sama Janu aura mereka berbeda.
"Memang banyak duit dia mah"sambung Fany disela makannya.
"Kalau gue aura apaan?"tanya Bening penasaran.
"Lu mah aura-aura calon istri pejabat"jawab Janu asal.
"Aamiin"sahut Bening.
"Pengangguran Jawa Barat maksudnya"lanjut Janu yang di sambut lemparan tissue dari Bening.
"Heran ni orang! Masih.... Aja nyeselin"kesalnya.
"Kalau aku Yank ? Aura apa?"Fany juga ikut penasaran.
"Kalau kamu mah aura jadi calon istri aku"jawab Janu sembari mencubit pipi Fany gemas.
"Ngomong doang! Buktiin dong! Pacaran bertaun-taun kok nggak ada kepastian"celetuk Bening memandang remeh Janu.
"Soal kepastian gue siap! Tapi dianya diajak nikah gak mau. Katanya belum siap nikah, masih banyak yang mau dia pikirkan. Kalau gue mah dari SMA udah ngomong 'lulus sekolah ayo kita nikah' tapi dia belum mau gimana? Ya nunggu "tutur Janu, ia sedikit menyadarkan kekasihnya yang masih ragu-ragu.
Fany jadi menatap Janu kemudian menghembuskan napas kasar "aku bukannya nggak mau sayang! Tapi belum waktunya! aku harus mikirin keluarga aku dulu. Mereka selama ini diam-diam aja sama hubungan kita, Papa Mama aku belum menunjukkan respon apapun. Kamu tau mereka, hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Aku mau ngomong sesuatu ke mereka aja susah, harus menyesuaikan keadaan dulu"
"Dan kamu tau? Papa sempat kenalin aku ke anak temannya"Lanjut Fany yang sontak membuat pendengarnya terkejut.
__ADS_1
"Serius lo? Cowok atau cewek?"sambar Bening dengan wajah terkejutnya.
"Ya cowoklah! mana keliatan banget lagi kalau dia suka sama gue"jawab Fany sedikit emosi, mana mungkin juga kalau dia cerita kalau anak teman Papannya itu cewek. Apa urusannya?
Intan yang mendengarnya refleks tutup mulut, karena syok. Ternyata tidak hanya kisah cinta dia saja yang rumit, sahabatnya pun juga.
"Kok kamu baru cerita kalau ada cowok yang suka sama kamu?"tanya Janu.
"Nggak semua hal harus diceritakan"jawab Fany.
"Terus tanggapan lo gimana tentang dia?"tanya Intan.
"Hiii nggak banget deh, udah sok ganteng, sok cool, sok laku, sok akrab pokoknya gasuka!"ucap Fany bergidik ngeri dengan karakter pria tersebut.
Janu tersenyum mendengarnya, kenapa demikian? Kenapa pria itu tidak marah, bertanya lebih dalam atau kecewa mendengar Papa pacarnya mengenalkan seorang pria? Sebab Fany dan Janu sudah terikat janji, jika mereka melakukan kesalahan atau semacamnya yang dapat merenggangkan hubungan. Mereka berjanji mendengarkan penjelasan keduanya baik-baik dan mereka juga sangat menghindari sifat egoisme dari diri mereka.
"Kalau saran gue sih kalian cepat-cepat nikah. Keburu nanti yang suka sama Fany bertindak terlalu jauh"usul Intan.
"Setuju!!"seru Bening mendukung Intan.
*****
Disisi lain Michael tengah berbincang dengan rekan kerjanya membahas produk yang ingin di Iklankan. Di tengah kesibukannya dari tadi ia mendengar ponselnya berkali-kali berbunyi notif pesan masuk. Namun, ia abaikan karena harus profesional dengan pekerjaan. Lagian jika itu penting, orang itu pasti akan lebih memilih menelpon dari pada mengirim pesan.
Tak lama kemudian, setelah dia mengecek ponselnya dahi pria itu berkerut. Deretan pesan dari nomor yang tidak dikenal tertera di layar ponselnya. Kalian pasti sudah menebak siapa yang mengirim pesan hingga 20+ teks tersebut.
Tak ambil pusing, Michael menghidupkan mode hening di ponselnya kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.
__ADS_1