Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Kecewa


__ADS_3

"Natta...."panggil Kendrick saat melihat Natta berjalan menuju kebun. Ia hendak menemui Intan yang duduk sendirian.


Natta membalikan badannya.


"Bisa kita bicara sebentar?"Kendrick menatap penuh harap pada putra pertamanya yang sudah lama tidak bertemu. Sebab sangat susah sekali mengajak Natta untuk bertemu.


"Maaf, aku sedang ada urusan"


"Sebentar saja, tidak akan lama"


Natta diam sejenak kemudian mengangguk, menuntun sang Papa ke tempat yang enak berbicara.


"Mau bicara apa?"tanya Natta.


"Papa hanya kangen sama kamu, bagaimana kabar kamu?"


Natta tersenyum, pertanyaan yang sangat tidak bermanfaat, pikirnya. "Seperti yang Papa lihat"jawab Natta singkat.


"Papa senang kamu baik-baik aja, Papa lihat kamu sangat dekat dengan Intan, apa dia teman kamu?"


"Mau teman atau bukan itu bukan urusan Papa"


Kendrick tersenyum, memaklumi jika sifat Natta seperti ini padanya "betul, itu bukan urusan Papa. Tapi tidakkah kamu mau beri Papa kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita?"


"Tidak ada yang harus di perbaiki, jalani saja hidup Papa. Jangan memikirkan anak yang tidak berguna ini"ucap Natta kemudian berlalu pergi.


"Papa tahu Papa salah Nak, Tolong maafkan Papa!"ucap Kendrick sedikit teriak.


"Setidaknya lo maafkan Papa Bang"tiba-tiba Michael muncul yang menghentikan langkah Natta.


" 'Maafkan Papa Bang?' "sambung Intan tiba-tiba menengahi keduanya. Tadinya ia mau masuk ke dalam rumah tapi samar-samar ia mendengar suara Natta berbicara "kalian saudara?"tanya Intan menatap keduanya yang terkejut.


Natta hendak menjawab, namun sudah keduluan oleh Intan.


"Apa Bang Natta anak Om?"tanya gadis itu dengan suara seraknya.


Kendrick melihat Natta sejenak, ia pikir Intan tidak tahu kalau Natta dan Michael saudara "Iya, Natta anak Om"jawab Kendrick.


Intan langsung menatap nanar Natta dan Michael, ia merasa telah di bohongi. Bisa-bisanya ia tidak mengetahui hubungan dua kakak beradik itu, dan bisa-bisanya ia mencintai salah satu dari mereka. Sementara salah satu dari mereka yang lainnya juga mencintai dirinya. Kenapa hari ini terasa begitu mengecewakan?


"Intan...."


"Aku kecewa sama kalian!"ucap Intan kemudian meninggalkan keduanya.


Natta dan Michael terkejut dengan perkataan Intan yang menyebut dirinya 'Aku' selama mereka mengenal Intan. Tak pernah sekalipun Intan menyebut dirinya begitu.


"Intan! Gue bisa jelaskan!"Michael mengejar Intan namun Natta menahan tangannya.


"Biarkan, dia butuh waktu sendiri"


*****


Malam berkelabu, walau ada bintang yang menghiasi bagi Intan saat ini hidupnya gelap,hampa dan tiada warna. Seketika semuanya hancur berantakan, sakit hatinya bertambah berkali-kali lipat. Di tinggal orang yang di sayang, di sakiti oleh orang yang di cintai dan di bohongi oleh orang yang paling di percaya.


Intan menatap poto wanita yang tersenyum lebar itu di bingkai poto. Hatinya sedih saat melihat poto Rianti yang sedang tersenyum lembut, lagi-lagi membuat air matanya menetes. Kemudian ia melihat sekeliling kamar Rianti, sangat terlihat beliau adalah orang perapi dan pembersih.


Intan terus menelusuri pernak pernik milik Rianti, sesekali ia tersenyum karena ia baru tau Rianti juga gemar menonton drama. Terlihat di lacinya terdapat poto Lee Min Ho dan Cha Eun-Woo. Namun, ada yang menarik perhatiannya.


Intan membuka selembar kertas yang terlipat di laci kedua.


"Assalamualaikum anak Mamah. Entah kalian menemukan surat ini atau tidak yang pasti kalian membaca ini Mamah mungkin sudah tidak ada. Maaf ya,,,, Mamah pergi terlalu cepat. Untuk Intan, Mamah minta maaf atas perbuatan Mamah yang dulu, Mamah harap Kakak bisa melupakannya. Jika kakak bertanya kenapa Mamah merubah sifat Mamah, itu karena Allah tiba-tiba mengirimkan hidayah kepada Mamah dengan cara memberi Mamah cobaan, Allah memberi Mamah penyakit yang luar biasa, dari situ Mamah rasa hidup Mamah tidak akan lama lagi. Mamah ingin memperbaiki diri, memperbaiki hubungan kita. Maafkan Mamah yang dulu yang selalu menyakiti Kakak, yang tergila-gila akan kekayaan,serakah dan tidak memiliki hati. Mamah rasa Mamah tidak pantas disebut seorang Ibu. Kemarin,waktu ke Singapure Mamah pergi berobat karena ada Dokter ahli spesialis Jantung disana, Mamah pikir disana Mamah dapat pengobatan lebih intensif yang dapat menyembuhkan penyakit Mamah. Namun, takdir berkata lain setelah di periksa, Dokter mengusulkan untuk segera di Operasi karena pada saat itu kondisi Mamah masih mendukung. Tapi Mamah menolak, Mamah tidak mau membuat kalian khawatir dan Mamah juga takut jika Mamah tidak akan bangun lagi setelah operasi dan tidak bisa berbicara dengan kalian. Maafkan Mamah karena telah berbohong"

__ADS_1


"Pesan untuk Nawan, kamu harus jadi pria yang bertanggung jawab ya nak,jaga adikmu jangan sampai dia di sakiti orang lain. Dan jangan menangisi Mamah, yang Mamah butuhkan bukan tangisan tapi doa dan semangat kalian"


"Banyak yang Mamah ingin tulis, tapi Mamah mengantuk. Jadi singkat saja Mamah sayang kalian, Intan Nawan. Maaf terlambat menjadi Ibu yang baik"


-Rianti


"Intan...."panggil Nawan yang dari tadi mencari adiknya.


Saat melihat sang adik, Nawan terkejut mendapati Intan yang sedang menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan sambil menangis hingga bahunya turun naik.


Nawan mengambil selembar kertas yang di pegang oleh Intan. Ia tahu penyebab Intan menangis kemudian pria itu memeluk sang adik sambil menenangkannya.


"Mamah Kak...."lirih Intan sambil terisak.


"Iya Tan, kakak tau. Jangan nangis, nanti Mamah juga ikut sedih melihatnya. Bukankah Mamah bilang jangan menangisinya? Jadi jangan menangis, dari tadi Kakak liat kamu nangis terus Tan. Kakak takut nanti kamu sakit"tutur Nawan sembari mengelus surai hitam gadis itu.


"Menangislah,bersedihlah, tapi jangan berlebihan"


*****


Hari terus silih-berganti, cahaya rembulan tampak menerangi seluruh alam semesta. Intan menatap langit, kali ini hatinya lebih membaik dari pada yang sebelumnya.


"Gimana ujiannya?"tanya Nawan tiba-tiba masuk. Pria itu baru saja pulang dari kerja, ia menggantikan kerja Rianti yang ternyata tidak mudah. Ia juga masih perlu adaptasi dengan pekerjaannya.


"Baik, Intan mendapat nilai paling tinggi di kelas"jawab gadis itu dengan senyumnya.


"Oya? Pelajaran apa?"Nawan yang dulunya acuh dan cenderung tidak perduli sekarang pria itu sudah menjadi dewasa. Ia sering komunikasi dengan adiknya entah itu bertanya tentang apa kegiatannya, dengan siapa saja ia bergaul dan masalah-masalah kecil yang kadang menjadi perdebatan antara mereka.


"Kalau Intan kasi tau, Kakak pasti nggak percaya"


"Hmmm, pasti pelajaran yang mudah makanya dapet tinggi"tebak Nawan dengan nada yang meremehkan.


"Salah! Bahasa Inggris Intan dapet 98 yeaaay!!"serunya girang sendiri. Nawan hanya tersenyum melihatnya.


"Hello my name is Intan Prameswari beautiful! my hobby is playing badminton and I'm from Indonesian, Jakarta" ucapnya dengan bangga.


Nawan menahan tawa melihat tingkah Intan yang baru bisa bahasa Inggris karena memang Intan dari dulu susah sekali berbahasa Inggris. Sekarang juga dia hanya tau bahasa umumnya.


"Okay good! Introduce my name is Nawan Pramestia, I have a sister named Intan. She is ugly and very narcissistic ( oke bagus! Perkenalkan namaku Nawan Pramestia, aku mempunyai adik bernama Intan, dia jelek dan sangat narsis)"


"What? Bad? You crazy!"


🤍🤍🤍


Disisi lain Natta sedang bercerita dengan Naya. Mereka akhirnya resmi pacaran kemarin.


"Jadi bagiamana caranya agar dia memaafkan aku?"tanya Natta meminta usul Naya setelah menceritakan kemarahan Intan.


Ya, semenjak Rianti meninggal Intan tak pernah menyapanya dan juga Michael. Berkali-kali Natta menemui Intan tetapi gadis itu selalu menghindar darinya dan seakan ingin menciptakan jarak antara mereka.


"Bagaimana kalau aku mengajaknya jalan-jalan? Dan setelah itu aku akan menemui kamu di suatu tempat untuk berbicara berdua dengannya?"usul Naya.


"Bingo!!"seru Natta memetikkan jarinya.


"Kamu memang paling the best deh!"


*****


Pagi hari di akhir pekan, Intan tengah menjalani rutinitasnya. Ia berlatih bermain bulutangkis sebab seminggu lagi kompetisi akan segera di mulai. Gadis dengan wajah penuh peluh itu meneguk minuman hingga tak tersisa.


"Ting...."bunyi pesan ponsel masuk. Intan segera membukanya ternyata dari nomor yang tak di kenal. Gadis itu hendak mengabaikan pesan itu tapi saat pesan masuk lagi tenyata pesan tersebut dari Naya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Intan"


"Apa kabar? Aku Naya yang kemarin kita sempat bertemu di Cafe Natta. Aku ingin berteman denganmu dan menjalin hubungan yang akrab. Apakah bisa? Kalau kamu berkenan, aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke Mall"


Intan berfikir sejenak, mungkin Aurel menanyakan dirinya pada Natta. Kemudian Aurel meminta nomornya agar bisa berteman.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah baik. Tentu saja boleh sekali kak, aku malah senang kalau kakak mau berteman denganku" balas Intan, gadis itu juga semakin hari semakin dewasa. Dia tak lagi menyebut dirinya dengan nama melainkan dengan kata 'aku' kecuali jika bersama Nawan.


"Syukurlah kalau begitu, hari ini jam 14.00 siang bisa?"


Intan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 9.37 pagi.


****


Mall


Dengan memakai celana panjang dan baju kaos biasa, Intan berjalan bersama Naya yang memakai hijab. Sedangkan penampilan Naya sangat fasihionable dengan rajutan pashmina yang menutup kepalanya ditambah topi yang membuat Naya terlihat lebih kece.


Intan merasa dia bukanlah apa-apa di banding wanita itu. Jadi tak salah jika Natta menyukai wanita seperti Naya. Pikir gadis itu.


"Beli baju kapelan yuk!"seru Naya menarik Intan ke toko baju.


Aurel meminta pada pelayan untuk menunjukkan baju kapel untuk perempuan.


"Gimana dengan ini? Cantikan ini atau ini"Aurel tampak semangat menunjukkan baju itu pada Intan.


"Kalau menurut aku sih cantikkan yang ini"tunjuk Intan pada baju tersebut.


"Oke sip! Yang ini aja! Kamu mau pilih warna apa?"


"Cokelat"


"Oke berarti aku warna hitam ya"


Mereka berbelanja, Naya yang memang suka berbelanja sangat bersemangat. Sementara Intan hanya membeli beberapa barang yang ia butuhkan dan membeli barang-barang yang menurutnya unik dan menarik. Sesekali mereka bertukar pendapat, keduanya tampak cocok jika disatukan karena memiliki selera yang sama.


"Udah aku aja yang bayar"Aurel mencegah Intan mengeluarkan uang.


"Tapi ini banyak lho Kak"


"Gapapa, aku juga habis gajian hehehe"


"Tapi...."


"Udah gapapa, nanti kalau aku lagi ga punya duit baru kamu lagi yang traktir aku"candanya dengan tawa.


"Kalau akunya pas ngga punya duit gimana?"


"Kita bobol ATM saja hehe..."


"Hahahaha iya, kalau nggak kita rampok toko


emas"canda Intan.


Setelah keluar dari toko pakaian mereka menuju tempat makanan untuk mengisi perut mereka yang dari tadi sudah keroncongan. Namun, Intan terkejut ternyata tempat yang mereka datangi ada Natta di sana. Intan langsung menoleh Aurel.


"Tadi aku ajak Natta kesini, lagian dia tadi telfon aku nanya ada dimana. Terus aku jawab lagi belanja bareng kamu"Naya tau Intan meminta penjelasan darinya.


"Gapapa kan?"tanyanya.


Intan mengangguk lalu duduk di depan Natta diikuti Aurel juga yang duduk sebelahnya. Intan merasa ini sudah di rencanakan, ia tersenyum mengetahuinya.

__ADS_1


"Oya, aku ke toilet sebentar"ucap Aurel, dia sengaja membiarkan Natta dan Intan berduaan memberikan mereka ruang untuk berbicara permasalahan mereka.


__ADS_2