Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Motor baru!


__ADS_3

"Intan! Lo udah bangun!"seru Bening girang melihat Intan telah membuka matanya.


Natta dan Nawan yang mendengarnya pun beranjak dari tempat duduk, menengok Intan yang kini merubah posisi menghadap Bening dan memunggungi Natta dan Nawan. Kepalanya terasa sedikit pusing diikuti rasa lapar.


"Tan lo kenapa?"tanya Bening yang melihat sahabatnya menangis. Punggung gadis itu terlihat naik turun.


"Intan, lo kenapa? Ada yang sakit? Mana? Kasi tau gue"ucap Natta, suaranya terdengar khawatir.


Intan menggeleng.


"Terus kenapa tiba-tiba nangis?"tanya Bening heran.


"Minum"cicit Intan yang hanya bisa di dengar oleh Bening.


"Intan mau minum"


"Minum-minum ambilkan! Cepat!"Natta menepuk-nepuk pundak Nawan yang langsung saja menurut dan mengambil air minum di meja.


Intan duduk setelah mendapat air dari Bening. Tak terduga, gadis itu membawa roda infus dan lari terburu-buru ke kamar mandi. Dan membuang air yang telah ia kumur-kumur di dalam mulut.


Hal tersebut tentu membuat Natta dan yang lainnya terkejut, apalagi melihat Intan berkumur-kumur berkali-kali sampai air dalam botol itu kandas.


"Tissue-tissue!"Intan meminta tissue yang langsung Bening berikan padanya. Kemudian gadis baru saja bangun tidur itu mengusap-usap bibirnya memakai tissue itu dengan kasar.


"Intan pelan-pelan!"Natta menghentikan tangan Intan yang mengusap bibirnya begitu kasar. Gadis itu marah, ketika bangun tiba-tiba ingatan Davin menciumnya  terlintas di benaknya.


"Udah, nanti kita beli Listerine aja. Biar sekalian bakteri-bakteri di dalam mulut dia nggak nyebar ke tubuh lo"berusaha menghibur walau akhirnya Intan menangis.


"Huuaaaa Nining"tangisnya memeluk Bening yang menepuk-nepuk pundaknya pelan.


"Hiks.... hiks.... huaaaa bibir Intan udah nggak perawan lagi huaaaa"


Mereka diam sejenak....


Dan seketika tawa Nawan pecah mendengarnya,


"Jangan bilang itu ciuman pertama lo?"tanyanya diiringi sisa ketawa.


"Ni bocah ya bikin orang jantungan! Gue kira apaan sampai bikin lo nangis gitu. Tenyata nangisin bibir yang udah nggak perawan hahahah"tawanya yang langsung di beri tatapan tajam dari sang pacar. Pria itu langsung terdiam bak anak dimarahi ibunya.


Plak!


Pukulan dari Intan mengenai lengan Nawan yang mengaduh kesakitan. Gadis itu bahkan melepas paksa Infus di tangannya "kakak tuh nggak ngerasain jadi Intan! Intan di bawa ke rumahnya dalam ke adaan nggak ada orang dan.... Ciuman pertama Intan diambil oleh orang yang Intan nggak kenal sama sekali!"serangnya memukul-mukul Nawan yang terus menghindar. Nawan senang melihat Intan kembali lagi, dan mengomel-ngomelinya seperti biasa.

__ADS_1


"Iya lagi! Pukul lagi Intan! Lebih keras!"seru Natta menyemangati Intan.


"Sialan lu!"umpat Nawan sembari terus menghindar dari pukulan Intan.


🌼🌼🌼


Hari yang panjang itu berlalu begitu saja. Hari spesial yang seharusnya Intan nikmati dengan bersenang-senang dan dengan penuh kejutan telah lenyap. Hari itu malah menjadi hari terburuk yang tak akan pernah terlupakan di ingatannya.


"Tan! Ambilin tas gue di motor!"teriak  Nawan dari lantai atas. Intan yang sedang nonton drama di ruang tengah mendengus kesal, ia memang berniat untuk bolos sekolah hari ini sebab tak mau bertemu dengan pria mesum itu.


Dengan wajah kusut gadis itu berjalan malas ke garasi mengambil tas Nawan. Namun, saat ingin berbalik benda besar tertutup kain putih mengalihkan perhatiannya. Penasaran, Intan membukanya dan langsung menutup mulut. Ternyata isi kain itu adalah motor Sc*opy berwarna merah dengan masih tertempel pita di kedua spionnya.


"Kakaaak!"pekiknya sambil meloncat-loncat gembira.


"Seneng?"tanya Nawan, entah dari kapan pria itu ada di depan pintu.


"Ini serius?"


"Seriuslah, itu kado dari Mamah. Denger lo di culik orang Mamah beliin lo motor, dia khawatirin lo dari semalam"


"Oh, iya emangnya m


Mamah kemana?"tanya Intan yang baru sadar Mamah Rianti tidak ada di rumah.


"Semalam dia mendadak berangkat ke Singapore. Katanya ada kerjaan di sana"


"Seharusnya lo yang bilang terimakasih ke gue! Kalau gue nggak cerita ke Mamah, lo nggak bakal dapat nih motor!"cibirnya.


"Baiklah kalau Ananda berkata seperti itu saya akan mengucapkan terimakasih setulus hati"Intan mengatupkan tangannya dan membungkuk sedikit.


Nawan refleks membusungkan dadanya "eh, tapi serius lo nggak mau sekolah hari ini?"tanya Nawan meyakinkan.


Raut wajah Intan langsung berubah.


"Nggak"jawabnya singkat.


"Heleh, masalah gitu doang nggak mau sekolah"


"Pokoknya Intan nggak mau sekolah kalau masih ada dia!"tegasnya sembari berjalan kembali keruang tengah.


Nawan memegang pundak Intan dan membalikkan tubuh gadis itu menghadapnya "Denger baik-baik omongan gue, kalau lo ada apa-apa bilang atau telfon gue. Gue kakak lo Intan! Gue punya tanggung jawab buat jaga lo, jadi jangan minta tolong orang lain. Itu merepotkan mereka"terangnya menatap mata Intan dengan perihatin.


"Yang kakak maksud orang lain itu bang Natta? Kakak pikir Intan mau merepotkan orang lain? Intan nggak mau kak, tapi bagi Intan bang Natta bukan orang lain. Dia adalah orang pertama yang memberi Intan semangat, dan orang pertama yang membantu Intan buat bangkit di saat hidup Intan berantakan karena Kak Nawan dulu nggak pernah sama sekali berpihak pada Intan! dan sekarang entah mengapa semuanya berubah. Kalian jauh lebih baik sama Intan, kalian begitu peduli sama Intan, dan Intan senang akan hal itu. Jadi plis jangan larang Intan buat menjauh dari bang Natta, dia udah Intan anggap dia seperti kak Nawan, abang kedua Intan"jelas Intan melepaskan tangan Nawan dari bahunya.

__ADS_1


"Oke, gue nggak mau ngomongin masa lalu. Apapun itu gue minta maaf karena udah nyakitin lo"


"Tapi lo ngomong gitu karena dia cuma nganggap lo adek doang kan?"


Intan terdiam.


Nawan menghela napas. Kediaman Intan sudah cukup menjawab pertanyaannya.


"Terserah, itu perasaan lo. Gue nggak berhak ikut campur"


"Udah, gue mau berangkat sekolah. hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa telpon gue"ucapnya sembari menangking tasnya.


"Oya motornya terserah lo mau di bawa kemana"tambahnya.


"Iya"


🌼🌼🌼


"Hai Maa!"sapa Intan, gadis itu sedang video call Rianti yang tersenyum hangat melihat Intan baik-baik saja. Aneh memang, tapi ya begitulah manusia hati tidak bisa di tebak. Entah itu bermaksud jahat atau baik yang Intan lihat saat ini adalah Rianti memang benar-benar berubah drastis. Akhir-akhir ini wanita paruh baya itu juga sering mengirim pesan pada Intan, walau sekedar bertanya 'Udah makan Ka? Sekolah besok sama siapa?' dan Intanpun merespon baik, ia malah senang seperti mempunyai ibu yang selalu mengkhawatirkannya. Oleh karena itu Intan tak sungkan lagi untuk bercerita dan berusaha akrab dengan ibu tirinya.


"Haii, kakak nggak sekolah hari ini?"tanya Rianti dari sebrang sana. Dan Ya, Rianti memanggil Intan dengan sebutan 'kakak'.


Intan menjawabnya dengan gelengan, raut wajahnya berubah menjadi murung karena teringat Davin kembali.


"Loh kenapa?"


"Gapapa kok Ma, pengen bolos sekolah aja hari ini"jawabnya tersenyum kembali.


"Kakak masih keinget kejadian kemarin ya? Atau nggak mau ketemu teman sekelas kakak itu?"Intan mengangguk lemah, tatapannya kebawah. "Yaudah untuk hari ini kakak bolos ya, tapi besok jangan.  Lagian mama jamin dia bakal keluar dari sekolah, kak Nawan juga pasti nggak bakal diam aja. Ayooo dong ahh, mukanya jangan murung gitu...."


Ucap wanita itu begitu tulus dan penuh kasih.


"Oya gimana motornya? Kakak suka?"tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Intan langsung melihat ke kamera mendengarnya, ia hampir lupa tujuannya video call Rianti untuk berterimakasih.


"Suka banget mah, makasih ya. Setelah ini Intan bisa puaaaasss deh mau kemana aja tanpa diantar jemput sama kak Nawan. Sekarang dia pacaran terus sama Nining mah, Intan liatnya sampe heran. Bucin banget!"adunya dengan kesal.


Rianti terkekeh geli mendengarnya.


"Mrs. Rianti please come in" terdengar suara seorang perempuan yang sedang memanggil Rianti.


"Siapa Ma? Mama lagi di rumah sakit?"tanya Intan ketika melihat perempuan berseragam serba putih dengan topi seperti suster di kepalanya.

__ADS_1


"Lanjut nanti ya Kak, Mama lagi ada urusan"ucap Rianti sembari tersenyum melambaikan tangan ke kamera kemudian mengakhiri panggilan tersebut.


Intan berfikir sejenak.... Tak ambil pusing ia pergi menuju kamar mandi untuk segera bersiap-siap. Sebab setelah ini ia akan pergi kemanapun sesuka hatinya dengan kendaraan barunya.


__ADS_2