Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Orang yang akan menjaga Intan


__ADS_3

Intan menatap dirinya di cermin melihat bagian bahu, dada,leher dan punggung belakangnya di penuhi tanda merah dan memar. Sakit, tentu saja. Namun, dia hanya menikmati rasa sakit itu air mata tak tertahan lagi. Bulir bening itu keluar begitu saja. Tenyata benar, rasa sakit akan terasa jika keesokan harinya.


Gadis itu membasuh mukannya dengan air kemudian menatap pantulan dirinya di cermin kemudian tersenyum seolah menguatkan dirinya sendiri. Padahal sejujurnya Intan tak sekuat apa yang orang lihat.


"Ada yang bisa Intan bantu nggak?"tanya gadis itu setelah keluar dari kamar mandi,ia melihat Natta mencuci piring di lantai satu Intan jadi tidak enak jika hanya berdiam diri saja.


"Nggak, lo duduk aja"jawab Natta tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tapi Intan mau bantu bang Natta, masa bang Natta nyuci piring Intan duduk?"


"Emang lo bisa masak? Bikin kopi? Teh? Bisa goreng ?"


"Ya.... Kalau masak Intan nggak bisa. Tapi kalau nyapu dan ngepel Intan bisa"hidup dari kecil dengan kemewahan dan tanpa ibu membuat Intan tidak pernah memasak ataupun kegiatan rumah tangga lainnya.


"Lantainya udah bersih"


Intan menghela napas, akhirnya ia duduk di kursi sambil melihat Natta dengan kesibukannya.


Gadis itu tersenyum melihat pria berkaos putih itu dari samping terlihat sangat..... tampan.


"Gue tau, gue tampan. Udah jangan di tatap lama-lama entar lo suka sama gue"ucap pria itu di sela kegiatannya. Dari tadi ia melihat Intan menatapnya sambil tersenyum.


"Idih pede amat, Intan itu mengamati bang Natta"


"Oh...."


"Tenyata bang Natta itu nggak hanya baik, tapi rajin dan pekerja keras juga"


"Dan?"


"Dan..... ganteng, eh"ceplosnya jujur.


"Hahaha, terimakasih atas pujiannya nona. Saya tersanjung"canda Natta sembari memasukkan gula ke toples.


Intan menepuk-nepuk mulutnya kesal. Kenapa harus bilang pria itu ganteng ? runtuk gadis itu.


"Bang..."panggilnya malas.


"Apa?"


"Boleh nanya nggak?"


"Hm..."


"Abang dengan cewek yang kemarin itu masih pacaran?"


Natta mendengus sambil tersenyum


"Ngapain lo nanya itu?"

__ADS_1


"Ya nanya aja, kan tinggal jawab masih atau enggak?"


"Masih"jawab Natta.


"Bukannya kemarin dia putusin abang?"


"Gue nggak putusin dia"


"Ngapain sih cewek kaya gitu di pertahanin? Padahal di dunia ini cewek nggak hanya satu"


"Tau"tukas Natta.


"Terus kenapa masih milih dia? Padahal cewek yang lebih baik,cantik,imut dan rajin menabung ada di depan mata"celoteh Intan yang membuat Natta menghentikan kegiatannya kemudian melihat Intan dari atas sampai bawah.


"Bukan tipe gue"ucapnya kembali melanjutkan kegiatannya.


Bibir Intan mengerucut, menatap tajam pria di hadapannya.


"Sabar Intan sabar...."gumamnya sambil menarik napas yang membuat Natta terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.


"Terus bang Natta disini tinggal sendirian? Keluarga bang Natta dimana?"pertanyaan Intan berhasil membuat Natta menghentikan kegiatannya dengan raut wajah berubah menjadi tanpa ekspresi.


"Gue tinggal sendiri dan gue nggak punya keluarga"jawab Natta dingin.


Intan hanya mengangguk sambil ber'oh.


Pagi hari Intan lalui dengan hati yang senang karena ada Natta yang menghiburnya dan memberinya makan dan minum. Natta baginya sudah seperti kakak kandungnya sendiri, melihat Natta mengejek,bergurau dan berbagi cerita  membuatnya tidak sungkan-sungkan untuk bercerita.


"Lo nggak mau pulang ? Nanti ada yang nyariin"tanya Natta pelan.


"Siapa yang mau nyariin? Mereka aja nggak peduli sama Intan, malahan mereka senang Intan nggak ada di rumah"balas Intan sinis. Ia sudah membayangkan betapa senangnya Rianti ia tidak ada di rumah.


"Abang tenang aja, Intan pulang kok. Makasih udah nolongin Intan. Intan nggak tau kalau misalnya nggak ada bang Natta, mungkin Intan udah pingsan di jalan atau----"


"Iya sama-sama"tukas Natta mengusap rambut gadis itu sambil tersenyum menampakkan gigi putihnya.


"Bang.... jantung Intan mau copot"ucapnya polos sambil mematung. Natta hanya terkekeh geli melihatnya.


"Coba lagi"Intan menatap Natta dengan tatapan memohon.


"Apanya yang di coba lagi?"


"Coba usap kepala Intan lagi sambil tersenyum"pintanya meletakkan tangan Natta di atas kepalanya.


Natta mendelik geli, ia bukannya mengusap kepala Intan tapi malah mengacak-acak rambut gadis itu sambil tersenyum seperti yang Intan suruh.


"Abang !!"pekiknya membenarkan rambut yang berantakan akibat ulah pria itu.


"Capuccino latte satu"ucap seseorang memesan minuman pada Natta yang segera mengangguk.

__ADS_1


"Kak Nawan ?"kaget Intan saat melihat yang memesan minuman tersebut adalah kakak tirinya.


"Intan ?"sama terkejutnya dengan Intan. Pria itu langsung menuju pintu masuk ke dalam bar mini itu dan menerobosnya.


"Lo kemana aja?"tanyanya sambil memeluk Intan, ia tak peduli dengan orang di sekitar yang menatapnya heran.


"Kak sakit...."ringis Intan melepaskan pelukan Nawan yang erat sehingga membuat tubuhnya sakit.


"Kita pulang yah"Nawan memegang tangan Intan ingin membawanya keluar. Namun, tangan sebelah kiri Intan di tahan oleh Natta.


"Lo siapa?"tanya Natta.


"Gue kakaknya"balas Nawan melepaskan tangan Intan dari Natta.


"Ini saudara tiri yang lo bilang itu?"tanya Natta pada Intan sambil menunjuk Nawan yang melihat telunjuknya.


"Dia siapa Intan?"tanya Nawan menatap Intan yang bingung.


"Eee---"


"Gue pacarnya Intan, jadi lo nggak usah pegang-pegang dia"Natta menarik tangan Intan dari Nawan, merangkul gadis itu yang melotot mendengar ucapannya.


Sama halnya dengan Nawan, pria itu langsung mencengkram kerah baju Natta "lo jangan macam-macam anjiing!"ucap Nawan. Keduanya saling bersitatap muka.


"Apa bener yang dia bilang Intan?"tanya Nawan melihat Intan.


"Kak, udah lepasin!"Intan berusaha melerai keduanya, ia sekuat tenaga menarik tangan Nawan dari kerah baju Natta. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Nawan yang lebih kuat.


"Gue tanya bener nggak?!"bentak Nawan, demi apapun rasanya Intan ingin nangis saat itu juga.


"Kalau benar kenapa?"tanya Natta dengan santai melepaskan cengkraman Nawan.


Pria yang sedang tersulut emosi itu menatap tajam Natta, kemudian memegang kedua pundak Intan.


"Jawab gue Intan !"bentaknya sekali lagi sambil menggoyangkan bahu Intan.


Intan yang takut dan merasa sakit bahunya di cengkram oleh Nawan pun meringis. Ia mulai kesulitan bernapas diiringi rasa pusing yang menyerang tiba-tiba. Mata gadis itu pun lama-kelamaan buram dan menjadi gelap.


Bruk....!


Intan jatuh tak sadarkan diri, untungnya Natta cepat-cepat menangkap tubuh Intan sehingga gadis itu berada di rengkuhannya.


"Intan!"panggil Natta panik. Ia menggendong tubuh mungil itu menuju keluar.


"Lo nggak usah ganggu Intan lagi!"cegah Natta saat Nawan ikut panik mengikuti langkahnya.


"Emang lo siapa?!"


"Gue orang yang akan menjaga Intan!"

__ADS_1


__ADS_2