Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Lamaran


__ADS_3

Natta POV


Setelah beberapa hari kulalui dengan sabar, akhirnya hari yang sangat aku tunggu sudah tiba. Aku bertemu dengannya, ratu yang menduduki kerajaan di hatiku. Cuma beberapa hari saja rasa rindu ini tak tertahan ketika melihat wajahnya yang imut dan anggun.


"Silahkan masuk Pa"Intan yang membukakan pintu mempersilahkan kami semua masuk. Aku dan Papa membawa rombongan layaknya seperti orang meminang seorang gadis di desa-desa dan aku adalah peran utamanya. Hahhaa seperti kisah rakyat saja.


Kami semua di sambut hangat oleh keluarga Intan, aku mencium tangan Paman dan Bibinya yang masih terlihat muda dan segar. Tapi ada yang tidak mengenakkan saat melihat wajah paman Intan terlihat sangat garang istilahnya sangar.


Duduk mengelilingi meja kayu yang ada di tengah-tengah papa mulai membuka obrolan apa maksud dan tujuan kedatangan kami. "Jadi kau yang berani membuat keponakan saya tidak mau membuka hati pada lelaki manapun?"terkejut saat itu, nada bicaranya sangat tidak ramah. Aku mulai degdegan, tapi semaksimal mungkin aku terlihat biasa-biasa saja.


Sejenak aku menoleh Intan yang hanya berdiam diri sambil menundukkan kepalanya, aku juga baru tahu kalau Intan tidak dekat sama lelaki lain selama ini. "Syukurlah jika Intan selama ini memang menjaga hatinya untuk saya. Saya sangat berterimakasih kepadanya, karena tidak semua orang tulus seperti dia, menunggu seseorang yang bahkan entah datang atau tidak"ku tatap dia yang tersenyum tipis dan sangat manis.


"Buat kau jadikan apa dia setelah menikah"tanya dia lagi, pria itu benar-benar menginterogasiku.


"Buat saya jadikan teman hidup. Teman bercerita, teman bersenda gurau meski tak selamanya saya bisa membahagiakannya tapi saya akan perjuangkan kebahagiaan itu untuk Intan dan saya ingin menciptakan keluarga yang diimpikan oleh banyak orang. Begitupun sebaliknya, saya yakin dia adalah wanita baik yang di kirimkan Tuhan untuk saya, atas izin paman, izinkan saya untuk menikahinya. Menjadi pendamping hidup saya"aku seakan menyampaikan visi dan misi saja.


Seketika ruangan menjadi hening sejenak, wajah-wajah mereka terlihat sangat serius memperhatikanku. Obrolan panjang itu berlanjut hingga kami pamit undur diri setelah lamaran yang membuatku sedikit tertekan dengan pertanyaan Paman. Tapi alhamdulilahnya kami di restui, bagaimana tidak? Perkataanku membuat paman terperangah tak percaya.


Setelah kepulangan mereka yang di antar oleh Nawan, aku memilih untuk tinggal dulu disini karena sudah lama juga tak jumpa pujaan hatiku ini. Dia terlihat sedikit gemuk dari sebelumnya hehehe... Syukurlah berarti dia banyak makan.


"Ayo Intan ajak masuk calon suami kamu, coba kamu ajak dia keliling rumah"Bibi Intan mengajakku masuk untuk melihat-lihat isi rumah yang lumayan besar ini. Tidak hanya besar, tetapi rumah ini terbuat dari kayu yang indah seperti rumah joglo yang bermotif ukiran-ukiran abstrak.


"Iya Wa"


"Natta silahkan jalan-jalan dulu sama Intan ya, Uwa mau pergi dulu sebentar"


"Siap Waaa, hati-hati di jalan"bibi Intan terlihat baik dan ramah sekali, aku bersyukur Intan mempunyai keluarga yang baik padanya.


"Saya sama istri pergi dulu, kalian jaga rumah. Jangan macam-macam"kata paman Intan yang tak lama berlalu meninggalkan kami.


"Iya Wa"jawabku.


****


"Paman kamu galak banget, aku ketar ketir jawab pertanyaannya"sambil berjalan melihat koleksi tanaman yang berbagai macam jenis.


"Dia itu kelihatannya aja galak, tapi aslinya enggak kok. Pengertian orangnya, tapi kamu bagus jawab pertanyaannya. Uwa sampai nggak tau lagi mau bilang apa"


Aku mengangguk-angguk menanggapi perkataannya "eh tapi beneran selama kamu pindah kesini kamu nggak ada dekat sama lelaki lain?"bayangkan saja aku berpisah dengannya 3 tahun. Dan selama 3 tahun itu dia tidak ada dekat dengan pria manapun, kurang beruntung apa lagi aku?


Aku saja yang tidak beruntung karena baru menyadari rasa keterlambatan ini.


"Hmmm sebenarnya sih ada, cuman Uwa aja yang gak tau. Dan aku sempat jatuh hati juga sama itu orang. Tapi setelah aku liat perilakunya yang bikin aku ilfiel, timbul rasa kebencian dan akhirnya memutuskan untuk menjauhi orang itu"jujur sedikit kesal mendengarnya "kemudian setelah aku pikir-pikir nggak ada lelaki sebaik bang Natta yang bikin aku nyaman ketika berada di sampingnya"tiba-tiba aku melayang menembus lapisan awan.....


"Apa yang membuat kamu nyaman di samping aku?"tak tahu, tiba-tiba ingin bertanya saja.


"Aku..... merasa dilindungi"ungkapnya sambil menatapku "saat pertama kali bertemu, bang Natta lindungi aku dari preman-preman yang mengejar, kemudian secara nggak sengaja kita bertemu di saat aku berada di posisi terburuk padahal pada saat itu aku udah putus asa sama keadaan"mengenang saat pertama kali kami bertemu. Ternyata ia tak melupakannya.


"Dengan munculnya bang Natta aku bisa melaluinya, namun saat itu bang Natta memperlakukan aku layaknya seorang adik yang harus dibimbing, bang Natta mengajariku memasak, mencuci hingga melakukan hal-hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Tapi aku salah mengartikan itu semua, aku malah jatuh hati"aku tersenyum, indah sekali di dengar.


Tak tertahan, ku gapai jemari halus dan lembutnya "nggak tau berapa kali aku mengulang kata terimakasih, tapi hanya itu yang bisa aku katakan. Terimakasih kamu masih bertahan di hati yang sama sampai saat ini"


Ia tersenyum mengangguk.

__ADS_1


"Eh bang Natta mau lihat Nathan nggak?"ucapnya tiba-tiba mengiringiku ke tempat koleksi hewan. Dimana banyak sekali berbagai macam jenis burung disini.


"Loh ini Nathan? Yang aku kasi ke kamu?"awalnya aku tidak tahu siapa itu Nathan, tapi setelah lihat wujudnya aku cukup terkejut. Sugar Glinder yang aku beri sebagai hadiah ulang tahunnya masih ada.



"Iyaa, lucu bangetkan?"gemasnya mengelus-ngelus kepala berbulu itu.


"Gendut banget, aku kira kamu jual atau kamu tinggal di Jakarta dititipin ke orang"


"Nggak mungkinlah, ini tuh hadiah berharga. Dan dapetin ini juga jauh banget perjalanannya"


*****


Author POV


- Villa


"Kak Vir, kalian mau kemana?"tanya Bening saat Vira dan Michael hendak pergi.


"Mau jalan-jalan"jawab Vira.


"Boleh ikut? Disini kurang asik, Fany sama Janu mereka berduaan mulu, aku nggak ada teman"sebenarnya bukan itu alasannya, dia hanya menghindari Nawan yang terus membuntuti dirinya dari tadi.


Vira melihat Michael sejenak, "tapi, kitakan juga berdua Bening. Kamu gapapa?"tanyanya, ia rasa sama juga kalau gadis itu ikut.


"Gapapa, bawa aku kemana aja. Dari pada liat Fany sama Janu bikin eneg"


Namun mereka di kejutkan oleh Nawan yang tiba-tiba saja sudah berada di mobil tersebut "lo ngapain Wan?"tanya Michael sedikit terkejut melihat spion tengah tiba-tiba ada wajah temannya.


Bersamaan dengan itu Bening masuk, tanpa melihat siapa yang ada di mobil alhasil ia yang paling terkejut melihat wajah pria yang tidak ingin dilihatnya.


"Lo kok bisa ada disini?"Vira juga ikut terkejut.


"Bisalah, orang ini mobil gue"cetusnya.


"Kan tadi gue udah bilang, gue minjam mobil lo"Michael sebelumnya sudah izin ke Nawan untuk memakai mobilnya.


"Iya, gue ikut"ucapnya tanpa beban.


"Ikut kemana?"tanya Vira.


"Ikut kalian"


"Kalau gitu aku nggak jadi ikut deh Kak Vir"Bening hendak membuka pintu mobil, namun Nawan tiba-tiba memegang tangannya.


"Kunci pintunya Shel"


"Hah? Apa?"Michael yang bingung memandang Nawan.


"Gue bilang kunci pintunya tolol!!"


"Buka pintunya kak Michael! Lepasin!"Bening menepis tangan Nawan sambil berusaha membuka pintu.

__ADS_1


"Jangan Shel!!"


"Ini kalian kenapa sih?"Vira terlihat bingung melihat keduanya "Bening kata kamu mau ikut? Tapi kenapa jadi berubah pikiran?"


"Nggak jadi kak, nggak mau"suara Bening sudah seperti ingin menangis "buka pintunya kak Michael!"sergahnya.


Michael yang melihat tatapan Nawan jadi ragu-ragu untuk membuka pintu.


"Jalan Shel"Perintah Nawan yang membuat Michael langsung tancap gas.


"Kak Michael !!"kesal Bening.


"Sorry Ning, gue nggak bisa nolak"ucap Michael dengan rasa bersalah.


"Kamu ngapain juga ikut?"tanya Bening tak ramah.


"Aku mau ikut, emang salah?"jawaban Nawan benar-benar membuat Bening jengkel.


"Kalau mau ikut. Ikut aja, kenapa aku harus di tahan?"


"Kan kamu sendiri yang bilang mau ikut Bening"Vira memang tidak tahu apa-apa di antara keduanya. Wajar saja jika dia berkata demikian.


"Shuutt, kita diam aja"bisik Michael pada wanita itu.


"Memangnya ada apa si?"tanya Vira lagi sambil berbisik.


"Mereka dulunya pernah ada hubungan, Nawan sedang berusaha memperbaikinya"jawab Michael dengan masih berbisik.


Vira tampak ber'oh sambil mengangguk-angguk paham.


Tak ingin memperpanjang masalah, Bening hanya bisa terdiam dengan wajah kesal, sangat kesal hingga ia ingin sekali teriak sekuat-kuatnya. Namun kemudian, Nawan menggeser posisi duduknya agar lebih dekat pada gadis itu. Tatapan sinis pun Nawan lihat dari mata Bening, namun tak menjadikannya untuk berhenti mendekati Bening.


Posisi Bening semakin terpojok, emosinya sudah diubun-ubun ia tak mampu menahannya lagi.


"Ngapaiiiin siiihhh!!"Nawan terpental ke posisinya semula akibat dorongan maut dari Bening.


"Aduuuh"Nawan meringis karena kepalanya terbentur kaca jendela.


"Buseett kasar banget"cicit Michael.


"Kurang lebar ya ni kursi? Dari tadi grasak-grusuk kaya cacing kepanasan"


"Sakit Bening!"keluhnya sambil mengusap-usap jidatnya "bahaya tau! Kalau aku hilang ingatan gimana? Kalau aku gagar otak gimana? Kamu mau tanggung jawab?"Nawan malah balik marah.


"Cih, nggak udah berlebihan!!"


Sskkiitttttt........


Bugh!!


Mobil tiba-tiba ngerem mendadak yang membuat Nawan dan Bening bertengkar hebat itu terpental maju ke depan.


"Turun kalian, berisik tau nggak! Kalau mau balikan itu, balikan aja! banyak basa-basi!!"cetus Vira tiba-tiba kesal dengan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2