
Di sisi lain, siang hari Vira ke Kantor Michael ia mendapatkan info dari Natta bahwa Michael bekerja disana. Wanita cantik tampak glamor itu bernyanyi riang sambil menenteng rantang makanan.
"Permisi, saya mencari Pak Michael. Apa saya bisa bertemu dengannya?"ucapnya pada staf resepsionis.
Resepsionis tersebut melihat Vira dari ujung ke ujung "apa sudah ada janji?"tanyanya.
"Belum"jawab Vira.
"Sebaiknya anda tunggu dulu sebentar kar----"
"Apa perlu pake janji juga sama kekasihnya?"tukas Vira yang spontan membuat karyawan yang lainnya jadi menoleh kearahnya "kenapa wajah kalian seperti itu? Apa ada yang aneh?"Vira menatap semuanya bergantian "tunjukkan saja ruangannya dimana"
Dan pada saat itu kebetulan pria yang di carinya keluar dari ruangan. Vira senang melihatnya, tak ayal wanita itu langsung berlari menuju Michael.
"Iya pak, nanti akan saya us---"
"Sayang......!"teriaknya seolah sedang berada di lapangan bola.
Michael terkejut tiba-tiba Vira menggandeng tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?"cicit Michael berusaha melepaskan tangan wanita itu dari lengannya.
"Oww Bu Vira?"ucap rekan bisnis Michael yang baru saja selesai negosiasi dengan pria itu.
"Eh Pak Fadli"ternyata rekan bisnis Michael adalah orang yang mengiklankan restaurannya.
Vira berjabat tangan dan saling menyapa.
"Bu Vira kekasih Pak Michael?"tanya Fadli melihat tangan Vira begitu melekat pada lengan Michael.
"Buk---"
"Hhehehe iya pak, baru jadi kemarin"
"Oohh gitu, selamat yaa. Kalau gitu saya lanjut dulu, masih banyak kerjaan"
"Ohh iya pak semoga berjalan dengan lancar"ucap wanita itu tersenyum ramah.
Setelah kepergian rekannya itu, Michael menyeret Vira ke lorong sepi.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Sudah aku bilang, aku ingin memilikimu"ucapnya menatap wajah Michael lekat "dan ini aku bawa makan siang, ayo makan. Aku buatinnya khusus buat kamu"
"Aku sudah kenyang"Michael hendak berlalu pergi, namun Vira menahan tangannya.
"Bagaimana perasaan kamu jika kamu mengejar seseorang dan memberikan sesuatu kepadanya tapi dia menolaknya?"wanita ini memang ahli dalam mengambil hati seseorang.
Michael terdiam, lalu memperhatikan Vira sejenak yang menatapnya penuh harap.
__ADS_1
"Ikut ke ruanganku"ucap Michael sembari berjalan.
Bibir manis itu seketika tersenyum girang, Vira segera berlari kecil mengikuti langkah Michael ke ruang kerjanya. Bahkan wanita itu sempat berdadah-dadah melewati meja resepsionis tadi seolah sedang mengledek staf tersebut yang kini menatap tak suka.
Ruangan yang lebar, dimana buku-buku,dokumen dan berkas tertata rapi di lemari. Bersih dan sangat wangi, Vira mengira Michael adalah orang yang sangat apik dan pembersih. Aku memang tidak salah pilih, pikirnya.
"Lain kali tidak usah repot-repot membawa makanan ke kantor, aku sedang bekerja"ucap Michael pada Vira yang sedang menyiapkan makanan atas meja.
"Ya, aku tau kamu sedang bekerja. Tadinya aku ingin mengajakmu keluar, tapi pesanku tidak kamu balas"
Kerutan kecil tampak di dahi Michael yang menandakan ia sedang bingung.
"Apa kamu yang mengirim pesan secara berturut-turut?"tanyanya.
"Iyaa"jawab Vira santai sambil meletakkan makanan depan Michael yang telah disiapkannya "taaaraaa! Ini soup ayam dengan sayur saos tiram yang sangaaaattt lezat! Silahkan dimakan"ucapnya dengan senyum penuh percaya diri.
"Kenapa dilihat? Kamu takut aku racuni atau aku jampi-jampi dalam makanannya? Kamu tenang aja! Soup ini murni dari hati yang tulus"celotehnya mendesak Michael untuk makan.
Dengan berat hati pria itu terpaksa memakannya, terlebih juga dia orang yang tidak enak hati.
"Gimana?"tanya Vira memperhatikan ekspresi Michael yang sulit untuk di tebak dengan rasa makanannya.
Pria itu mengangguk, lumayan enak. Ia tak mengira makanan Vira selezat ini, sudah lama sekali ia tak memakan makanan rumahan. Michael menikmati makanannya yang membuat Vira tersenyum senang.
"Ada nasi di bibir kamu"tiba-tiba saja Vira mengusap bibir Michael, menghapus jejak nasi yang tertinggal.
Tentu Michael terkejut dengan perlakuan Vira yang secara tiba-tiba menyentuh bibirnya.
"Kamu suka membaca novel juga ya"wanita itu melihat-lihat koleksi buku Michael di lemari yang tersusun rapi.
Michael hanya terdiam sambil menikmati makanan, ternyata masakan wanita pemaksa itu enak juga sehingga membuat perutnya yang lapar jadi terisi.
"Waaaww novel ini? Kamu mendapatkan jilid duanya dimana? Aku sangat bersusah payah mencari ini dari kemarin. Bolehkah aku meminjamnya?"seru Vira tiba-tiba senang melihat novel yang sangat ingin ia baca.
Michael meneguk air minum, kemudian berdiri mengambil alih buku novel tersebut lalu menyimpannya kembali. "Kamu bisa menemukannya di Gramedia"ucapnya enggan meminjamkan novel kesayangannya pada orang lain.
"Aku sudah ke semua Gramedia di kota ini, tapi selalu kehabisan"ucapnya sedih.
"Padahal aku ingin tahu kelanjutannya, Apakah Alam akan bertemu lagi dengan Semesta atau tidak"wajahnya terlihat layu mengingat ia membaca kisah 'Alam Dan Semesta' yang sangat menyedihkan dan novel tersebut juga sangat menginspirasi bagi orang yang kesepian seperti dirinya.
"Mereka bertemu kembali, tetapi tidak di takdirkan untuk bersama. Alam dan Semesta masing-masing sudah mempunyai keluarga, dan pada akhirnya mereka hanya bisa mengenang semuanya"entah dari mana jawaban itu, Michael tanpa sadar menjelaskan cerita dari sebuah novel pada Vira.
Vira diam sejenak, menatap Michael yang memandang lurus dengan tatapan kosong.
"Sebuah kisah yang sangat manis hingga berakhir tragis. Aku tidak suka mengawali sebuah kisah yang manis karena pada akhirnya manis itu akan di grogoti oleh keadaan sehingga menjadi pahit. Aku lebih suka kata 'pahit diawal dan manis di akhir' "
"Maka dari itu aku tidak ingin berlama-lama dan tidak ingin jatuh terlalu dalam. Jika aku merasa lelah aku akan berhenti. Dan kamu seharusnya perlahan-lahan membuka hati untuk menerima orang baru, belajar dari apa yang kamu baca bahwa terkadang seseorang datang hanya memberi sebuah momen tanpa adanya komitmen. Dimana nanti momen itu akan menjadi pengalaman untuk kita tidak mengulangi kesalahan yang sama"
"Jadi jangan pernah kecewa atas apa yang terjadi, karena hidup juga proses"wanita ini sungguh tak terduga, pemikiran yang sangat dewasa hingga mampu membuat Michael terdiam memperhatikannya.
__ADS_1
"Jika kamu berkata demikian, maka jangan kecewa dengan apa keputusanku nantinya. Aku tidak mau membuat seseorang sakit hati"
Vira terkekeh geli mendengarnya, seolah Michael berkata akan menolaknya.
"Hellow Tuan Michael! Vira itu tidak sakit hati hanya karena di tolak oleh satu pria! Bahkan aku sudah berkali-kali sakit hati sehingga aku sudah terbiasa dengan keadaan. Maka dari itu aku belajar untuk i don't care untuk diri sendiri jika sakit"
Michael mengangguk lalu melirik jam tangannya "sebaiknya kamu pulang, jam kerjaku sebentar lagi tiba. Terimakasih sudah mengantar makanan"
"Jangan berterimakasih mungkin aku akan sering mengantar makanan"sambil mengemasi tempat makanan, lalu tersenyum.
"Jangan merepotkanku"
"Aku tidak merepotkanmu, aku hanya ingin kita mengenal lebih dekat"
Tatapan tulus, itu yang Michael lihat dari Vira. Wanita itu mungkin terlihat seperti wanita yang bukan baik-baik dari cara berpakaian dengan gaya sosialitanya sebab banyak orang beranggapan wanita seperti ini boros, sombong dan angkuh. Tetapi setelah dilihat dari sisi lainnya Vira sosok yang pandai memasak,suka membaca dan berbicara dengan logis.
"Terserah kamu saja"
Jawaban Michael seakan menandakan lampu hijau, artinya ia ada harapan untuk bisa mendapatkan hati pria tampan itu.
Vira tersenyum "baiklah kalau begitu,,,, call me!"ucapnya mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Melupakan seseorang memang suatu hal yang sulit. Tetapi seseorang akan terlupakan dengan sendirinya jika sudah di ganti dengan orang baru yang lebih baik.
Pernah berada di posisi dimana mengejar seseorang. Maka dari itu Michael mengizinkan Vira agar lebih dekat dengannya. Namun dia juga sudah cukup berpengalaman jika Vira berprilaku sama seperti wanita lain, ia tidak akan terluka lagi. Hanya cukup tau wanita seperti apa dia.
*******
"Oya? Dia memakan semua masakan kakak?"Intan tampak senang mendengar cerita Vira yang sedikit demi sedikit bisa akrab dengan Michael. Secepat itu, pikirnya.
"Iya, aku pikir dia nggak akan suka kalau aku tiba-tiba ke kantornya dan menganggu pekerjaannya"Vira menyadari apa yang dia lakukan itu membuat seseorang tidak nyaman, terlebih ia suka blak-blakkan dalam berbicara.
"Mungkin kalau itu orang lain Kak Michael akan bersifat berbeda. Tapi oleh karena kak Vira yang welcome dan sangat to the point kak Michael jadi tertarik"tehnik menyenangkan hati lawan bicara.
Seperti mendapat angin segar, Vira senang mendengarnya. "Terus apalagi yang dia suka selain soup ayam dan tumisan saus tiram?"tanya Vira, sebab ia tahu dari Intan bahwa Michael suka makanan tersebut.
"Hmmm aku nggak banyak tau sih tentang Ka Michael, cuman dulu dia pernah bilang kalau makanan favoritnya soup ayam di tambah tumisan saus tiram selebihnya nggak tau dia suka apa"
"Mungkin Bang Natta tau dia suka apa"ucap Intan ketika Natta menghampiri mereka dengan membawa minuman yang di pesan oleh Vira.
"Tau apa?"tanyanya ikut duduk samping Intan.
"Lo tau nggak apa yang Michael suka?"
"Hah? Yang Michael suka?"Natta terlihat bingung.
"Iya, dia itu suka apa,suka warna apa,hobinya apa,suka traveling kemana?"
"Ya mana gue tau emang gue bapaknya"seumur-umur Natta tidak tahu apa yang disukai adiknya, tidak mau tau juga. Dan ia rasa ia tidak cukup dekat hingga tau apa yang di sukai adiknya.
__ADS_1
"Kan lu abangnya, masa nggak tau"
"Iya abangnya, tapi kita ngobrol santai aja nggak pernah apalagi nanya hal-hal yang di sukai"