
Perjalanan menuju parkir ponsel Intan berdering kemudian gadis berambut kuncir itu tersenyum melihat siapa yang meneleponnya.
"Iya hello bang"sapanya pada orang sebrang sana yang ternyata Natta.
"Lo dimana?"tanya Natta.
"Ini lagi di sekolah, udah mau pulang. Kenapa?"
"Mampir ke cafe gue ya"
Intan menoleh Michael yang memperhatikannya. Pria itu mengajaknya jalan-jalan, tapi ajakan Natta membuatnya bimbang harus pilih yang mana.
"Iya Intan kesana"
Sambungan berakhir.
"Kak Mic mau ajak Intan kemana?"tanya Intan.
"Aku juga bingung mau kemana. Emangnya kamu mau kemana?"
"Gimana kalau kita ke cafe aja?. Intan mau beli Cafe Latte"
"Boleh, asalkan sama kamu" ucap Michael sambil memasang helm pada kepala Intan.
*******
Setibanya di Cafe, Michael terkejut melihat cafe yang di maksud oleh Intan. Ia sempat bertanya apakah benar ini cafenya? Lalu Intan menjawab benar. Tempat ini sudah tak asing lagi baginya.
Intan masuk duluan sedangkan Michael masih memakirkan motornya. Cafe tampak sedikit ramai, ada beberapa sekelompok orang yang sedang bercengkrama ria dan ada juga yang menyibukkan diri dengan laptop.
"Intan!"panggil Natta sambil melambaikan tangannya.
Gadis itupun langsung tersenyum, kalau boleh jujur Intan rindu dengan pria 4 tahun lebih tua darinya itu.
"Abang"Intan menghampiri Natta.
"Sama siapa lu?"
Bersamaan dengan itu Michael baru saja masuk. Intan jadi menoleh ke arahnya.
"Sama kak Michael"jawab Intan melihat Michael dan mengisyaratkannya untuk mendekat.
Natta terdiam sejenak sambil melihat Michael kemudian tersenyum.
"Kak, kenalin bang Natta. Teman Intan. Dan bang, dia kak Michael, emm pacar Intan"ucap Intan memperkenalkan keduanya.
Sebenarnya gadis itu ragu untuk mengucapkan Michael adalah pacarnya, olehkarena ingin melihat reaksi Natta. Tapi pria itu hanya tersenyum lebih terkesan biasa saja mendengarnya. Jujur, Intan sedikit kecewa.
"Natta"ucapnya sambil mengulurkan tangan. Sementara Michael terdiam sembari menatap Natta heran. Tapi kemudian ia menyambut uluran tangannya.
"Michael"Ucapnya sambil tersenyum.
"Oke, Intan mau Cofe latte satu. Kak Mic mau pesan apa?"tanya Intan.
"Sama"jawabnya.
"Cofe latte dua"ucap Intan pada Natta.
Kemudian Natta mengarahkan mereka untuk duduk di tempat yang telah di sediakannya.
"Oya sama es jeruk satu!"tambah Intan mengacungkan telunjuknya.
__ADS_1
"Haus nih GPL ya!"
"GPL-GPL buat sendiri sonoh!"kesal Natta kemudian berlalu dari sana.
Bibir Intan mengerucut kemudian pandangannya teralih pada Michael yang menatapnya datar.
"Kenapa?"tanyanya.
"Kenal dia dari mana? Akrab banget kayanya?"
"Oh bang Natta? Kenal belum lama sih, baru beberapa minggu. Tapi Intan udah merasa dia tuh kaya saudara Intan sendiri. Baik orangnya, humble dan kocak"ucapnya tersenyum. Tanpa sadar ucapannya itu membuat Michael kesal dengan memuji-muji abangnya sendiri.
Ya, seperti yang tertulis. Tenyata, Michael dan Natta adalah kakak adik. Hubungan keduanya kurang baik karena ada permasalahan yang belum terselesaikan antara keduanya.
"Jangan bilang dia yang kirim kamu boneka sama lampu tidur waktu itu?"
"Iya"
Michael menghela napas panjang, pikirannya kalang kabut. Bagaimana kalau Natta menyukai Intan juga? Dan ternyata Intan juga menyukai abangnya itu? Tidak akan dia biarkan!
"Jangan dekat-dekat sama dia. Aku nggak suka"
"Kenapa?"dahi gadis itu berkerut. Kenapa kak Mic tiba-tiba berucap demikian? Pikirnya.
"Kamu itu baru kenal beberapa minggu sama dia. Gimana kalau dia hanya pura-pura baik? Padahal aslinya jahat? Gimana kalau kamu di apa-apain sama dia?"
"Kok kak Michael ngomong gitu? Bang Natta nggak mungkin lakuin itu ke Intan!"
"Yaa hati orang mana ada yang tau, mungkin aja---"
"Terus bagaimana dengan kak Michael? Intan juga baru kenal sama kakak. Intan juga nggak tau Kak Michael orangnya kaya apa? Tapi dari yang Intan lihat kak Mic orang baik. Sebaliknya, Kak Michael menganggap Intan baik karena apa yang kakak lihat itu Intan orangnya baik. Bukannya Intan menganggap diri Intan sendiri baik"
Michael terdiam. Perkataan Intan membuatnya tak percaya gadis yang menjadi pacarnya itu ternyata cukup dewasa walaupun dari segi fisik Intan terbilang seperti anak remaja biasa.
"Maaf"cicit Michael nyaris tak terdengar oleh Intan.
"Iya"
Tak lama Natta pun datang dengan membawa nampan yang bersisi minuman dan makanan. Kemudian ia tata di meja.
"Ini spesial buat lo!"Natta meletakan makanan tersebut depan Intan yang langsung tersenyum.
"Gue bikin menu baru di Cafe. Dan lo orang pertama yang harus nyobain makanan ini. Namanya makanannya Chemigon"
"Asik resep baru!"seru Intan dengan riang.
"Namanya apa? Chemigon?"
"Iya"
"Cobain ya"Intan memasukkan makanan yang akan menjadi menu baru itu kedalam mulutnya. Gadis itu membeku sejenak menikmati roti lapis keju dan lumeran buah naga di dalam mulutnya yang begitu memanjakan lidah.
"Debeak!"pujinya kembali memakan benda itu "enak!"ucapnya lagi sembari mengangguk-angguk.
Sementara Michael yang melihatnya tercengang. Gadis itu baru saja marah-marah padanya dan sekarang dengan mudahnya tersenyum sambil makan dengan lahap.
"Kak Mic mau?"tawar Intan yang di jawab gelengan kepala dari Michael.
"Cofe latte dua, es jeruk satu sama Chemigon. Semuanya 60 ribu"ucap Natta yang membuat Intan mengehentikan aktivitas makannya.
"Lah nggak bisa gitu! Katanya spesial buat Intan. Kok bayar?"protes Intan memandang Natta jengkel.
__ADS_1
"Gue cuma bilang spesial, nggak gratis"
"Udah! Biar gue aja yang bayar"sela Michael beranjak dari kursinya menuju kasir seolah mengisyaratkan Natta untuk mengikuti dirinya.
Natta mengerti,kemudian ia menghampiri Michael yang menuju ke toilet.
"Lo ada hubungan apa sama Intan?"tanya Michael menatap wajah Natta.
"Udah lama nggak ketemu, sehat lo?"tanya Natta memperhatikan Michael.
"Nggak usah sok perhatian. Gue tanya ada hubungan apa lo sama pacar gue?"
"Gue? Sama pacar lo nggak ada hubungan apa-apa cuman sekedar teman dekat"
"Lo suka sama dia?"
Natta tersenyum sembari mendengus.
"Lo tenang aja, gue nggak bakal ambil Intan dari lo"Natta seolah mengerti maksud adiknya berbicara seperti itu.
"Gue pegang omongan lo"Michael berlalu dari sana tak lama pria itu berbalik lagi.
"Oya, jangan kirim paket lagi ke Intan kalau memang lo nggak suka sama dia"
*******
"Kamu yakin masih mau kerja?"tanya Nawan setiba di rumah sakit mengantar sang kekasih bekerja.
"Ya habis mau gimana lagi? Kalau aku nggak kerja. Aku mau makan pake apa?"
"Di tambah lagi mau bayar duit kamu"
"Kan udah aku bilang nggak usah bayar"
"Pokoknya aku bayar"ucap Bening bersikeras. Dia hanya merasa tidak enak dengan Nawan walaupun pria itu tak mempermasalahkannya.
Nawan menghela napas, pacarnya itu terlalu keras kepala.
"Okey kalau mau kamu kaya gitu. Tapi aku punya saran, kamu mau nggak kerja di Supermarket mama aku aja? Disana gajinya lumayan besar walaupun paruh waktu"
Memang dari dulu ayah Nawan dan Intan mempunyai Supermarket besar di berbagai daerah Jakarta hingga Bali yang memiliki delapan cabang Supermarket. Sekarang usaha tersebut sudah di kelola boleh Rianti semenjak suaminya meninggal.
"Kenapa? Kamu malu punya pacar tukang bersih-bersih ?"namun gadis itu salah mengartikan perkataan Nawan. Ia kira Pria itu malu berpacaran dengannya yang bekerja sebagai OB rumah sakit.
"Bu-bukan gitu maksud aku"
"Terus gimana?"sela Bening.
"Kamu kenapa sih? Aku-kan nyaranin aja. Kalau nggak mau yaudah, aku nggak maksa"
"Bukan mau atau enggaknya. Kamu tuh kaya ngeremehin aku, seolah-olah kamu yang paling bisa. Iya kamu mah enak, apa-apa bisa lewat mama kamu. Apa aja yang nggak bisa"
"Kamu tau nggak perasaan aku, kamu nawarin pekerjaan kaya gitu? Aku merasa rendah, yang hanya mengandalkan kamu supaya dapat kerjaan yang lebih bagus"terang Bening dengan berlinang air mata. Sepertinya suasana hati gadis itu sedang buruk, tak biasanya dia seperti itu hanya karena perkataan pacarnya.
Nawan menghela napas, padahal ia hanya ingin mempermudah masalah. Tapi kenapa malah menambahnya lagi?
"Oke-oke aku minta maaf. Jangan nangis, aku nggak suka liat kamu nangis"ucapnya sembari mengusap air mata Bening kemudian memeluk gadis itu upaya menenangkannya.
"Lakukan. Lakukan apa yang kamu mau asal itu membuat kamu nyaman.
Asal kamu tau, aku nawarin pekerjaan buat kamu itu supaya kamu kerja lebih nyaman dan nggak buang tenaga banyak. Tapi kalau memang itu yang kamu mau, aku bisa apa?"tuturnya masih dengan posisi memeluk gadis itu yang memeluk erat tubuhnya.
__ADS_1