
Usai mengisi perut,Natta dan Intan pulang. Kali ini Natta yang membawa motor sebab Intan ingin Natta memboncengnya. Namun di perjalanan Natta berbelok ke arah lain yang membuat Intan kebingungan.
"Mau kemana?"tanya Intan.
"Ke rumah temen mau ambil sesuatu"jawab Natta.
"Sesuatu apa?"bukan Intan namanya kalau tidak penasaran.
"Nanti lo juga tau"
Lumayan jauh, tak terasa hari sudah menunjukan pukul 14.53 Gadis bernama lengkap Intan Prameswari itu sampai mengantuk di perjalanan di tambah perut terasa kenyang serta angin yang berhembus wajahnya membuat gadis itu ingin memejamkan mata.
Bugh!
"Intan lo tidur?"Natta merasakan tubuh Intan mulai oleng hingga helm yang di pakai gadis itu terhantuk pada helmnya.
"Hoooaaaammm"untuk sekian kalinya gadis itu menguap "mana sih rumahnya? Jauh banget"lirih Intan dengan mata sayu karena memang rumah temannya itu di pedalaman yang jauh dari kota.
"Bentar lagi, lo tidur aja dulu. Tapi pegangan! Jangan sampai oleng! Entar jatoh nggak gue tolong"
Tak pikir panjang, secara tiba-tiba Intan memeluk Natta dengan sangat erat sehingga pria itu terperanjat kaget. Nyaman, itu yang Intan rasakan saat ini. Kepala gadis itu bertumpu pada bahu Natta yang kokoh, bisa Intan rasakan dengan jelas aroma lelaki tersebut begitu menusuk penciumannya. Tak lama, gadis itu terlelap diatas kendaraan seperti bayi yang sedang tertidur. Tak perduli dengan keadaan sekitar yang dikelilingi oleh suara deru kendaraan berlalu lintas.
Sementara Natta melihat tangan Intan yang melingkar di pinggangnya dan tersenyum tipis sembari menatap jalanan. Namun di hati kecil lelaki itu yang sebenarnya adalah, ia seperti mendapat getaran aneh tapi pria itu mengabaikannya seolah berfikir 'ini tidak mungkin'.
Perjalanan cukup panjang karena rumah temannya itu sangat jauh. Bisa di bilang temannya ini tinggal di pedesaan, untungnya jalanan tidak berlubang atau berbatu sehingga tidak membuat si empu tidur di belakangnya tidak terganggu.
Cukup lama sehingga sang fajar ingin menenggelamkan diri lagi, akhirnya Natta sampai di rumah temannya.
"Tan! Bangun! Udah nyampe"ucapnya sembari menepuk tangan Intan yang masih memeluknya.
Intan yang terkejut pun terbangun, ia melepaskan pelukannya dan mengelap lieran yang hampir menetes sembari memandangi sekitar yang di kelilingi persawahan dan pemandangan yang indah. Membuat sejuk mata memandang.
"Udah nyampe?"tanya Intan yang di jawab anggukan oleh Natta, pria itu sempat berekspresi meringis saat Intan mengelap liernya.
"Wuiiihh urang jauh udah nyampe. Apa kabar lu baru sempet kesini?"sambar seorang pria yang baru saja keluar dari rumah. Keduanya saling menautkan tangan.
"Sorry bro baru mampir! Biasaaa orang sibuk"candanya.
__ADS_1
"Eh tapi elu teh bawa saha?"pria berambut gondrong itu melihat Intan yang juga melihat interaksi antar keduanya.
"Hello Om"sapa Intan dengan senyum manisnya. Ia pikir pria itu lebih tua dari Bang Natta.
"Eh kok panggil Om?"terkejut, Intan memanggilnya dengan sebutan 'Om' padahal umurnya sepantaran dengan Natta hanya beda satu tahun saja.
"Hahhaha muka elu udah tua Ndro! Udah pantas di panggil Om"tawa Natta, oya temannya ini bernama Indro yang merupakan temannya semasa dia SMP. Waktu dia SMP Indro memang sekolah di Jakarta karena dulu orang tua Indro tinggal di Jakarta, sekarang ia memutuskan untuk membantu Ibunya berkebun di sawah sementara ayahnya tinggal di Jakarta bersama keluarga baru. Ya, cerita yang panjang, itulah Manusia pasti ada kisah di balik kehidupan mereka entah itu kisah yang Indah atau bisa saja kisah yang mengerikan.
Indro mengabaikan perkataan Natta, ya ia akui kalau wajahnya kelihatan lebih tua. Jadi tidak heran jika Intan memanggilnya 'Om' Aki-aki juga cocok sepertinya "ayo masuk, Neng teh siapa namanya?"Indro menuntun Intan masuk dan meninggalkan Natta yang merasa terasingkan.
"Intan Om"jawabnya santai.
"Jangan panggil Om atuh, panggil A'a aja. Berasa saya teh udah tuaan padahal mah umur nggak beda jauh sama si Natta"ucap pria gondrong itu dengan logat sunda sangat pekat.
"Iya A"
"Ayo masuk, maaf rumahnya berantakan dan agak kurang nyaman"Indro mempersilakan Intan masuk, bisa dilihat dari sini Indro memang anak yang sopan walau wajah pria itu bisa di bilang sangar apalagi di tambah rambut gondrong membuat pria itu terkesan seperti preman pasaran.
"Gapapa A' santai aja, Intan dulu juga pernah tinggal di rumah seperti ini waktu tinggal di Bandung rumah Bibi" tiang yang kokoh,dinding sedikit bersawang, lantai terbuat dari papan dan terlihat TV cembung yang digunakan orang zaman dahulu. Susana yang sangat Intan rindukan, udara di rumah tersebut juga sejuk dan alami karena menghadap langsung ke sawah.
"Silahkan duduk, kebetulan Ibu lagi masak. Kita makan dulu, pasti laper pas perjalanan kesini"ucapnya, Intan menjawab dengan anggukan. Sebenarnya ia mencium bau masakan dari luar sehingga membuat perutnya keroncongan kembali. Padahal sebelum kesini ia sudah makan.
"Taa! Lo kemana? Sini masuk!"teriaknya pada Natta yang melihat-lihat koleksi binatang Indro yang beragam. Di mulai dari Kura-kura,ayam jago,musang,monyet,biawak dan masih banyak lagi yang belum dilihat oleh Natta. Temannya ini memang hobi memelihara hewan dari dulu.
"Ni kenapa ada biawak? Nggak sekalian aja lu pelihara buaya?"tunjuknya pada hewan reptil tersebut yang terkurung dalam sebuah tempat. Sebab Natta pikir biawak adalah hewan yang biasa dan sangat mudah di temui jika di pelihara pasti butuh asupan makanan sehari-hari untuk si hewan dan ia pikir itu sangat merepotkan. Apalagi ukuran biawak ini lumyan besar, tiga tikus saja tidak cukup.
"Eii itu nggak gue pelihara Ta! Baru aja tadi pagi gue nemuin di rumah warga sini. Biawaknya nyasar jadi gue ambil"cara bicara Indro menyesuaikan dengan lawan bicaranya. Jadi tak heran logat bahasanya berubah-ubah.
"Terus mau lo apain?"
"Mau gue rebus! Terus di tumis!"jawab Indro asal.
"Iihh gue jadi takut sama lo Ndro"
"Takut kenapa?"
"Biawak aja lo makan, jangan-jangan lo juga makan ma----"
__ADS_1
"Jangan banyak bacot lo, masuk buruan Ibu udah nyiapin makanan"potong Indro memiting kepala Natta dan menyeretnya masuk kedalam rumah.
Masuk ke dalam ternyata makanan sudah di siapkan. Mereka melihat Intan dan Ibu Indro sedang asikĀ mengobrol.
"Oya? Teteh sekolahnya kelas berapa?"tanya Ibu Indro sembari menyejukkan nasi ke piring.
"Kelas sebelas Bu, dua bulan lagi kelas dua belas"jawab Intan juga ikut menyiapkan makanan.
"Ibuuk!"teriak Natta langsung bersalaman dengan Diah yang merupakan Ibu Indro. Pria itu memeluk Diah dengan penuh rindu karena memang mereka dahulu sangat dekat "Ibuk sehat?"tanya Natta.
"Alhamdulillah Ibu sehat, Ya ampun ini teh Natta?"Diah meneteskan air mata, sudah lama ia tidak bertemu Natta yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Iya Buk, ini Natta. Anak bandel yang dulu Ibuk kasih makan terus"
"Ya Allah udah besar"Diah mengelus punggung Natta yang lebar ia tak percaya Natta yang dulu slalu pulang sekolah kerumahnya kini sudah besar dan mapan.
"Ya iyalah Buk, masak Natta terus kecil?"ucap Indro. Ia senang akhirnya Ibunya bertemu dengan Natta sebab akhir-akhir ini Ibunya terus bertanya tentang anak keduanya itu.
Intan melihat interaksi ketiganya tersenyum, ia juga baru mengetahui bahwa Natta sangat penyayang.
"Yaudah sok kita makan, ayo teh makan. Maaf lauknya yang ada cuma ini"
"Gapapa Buk, justru ini tuh masakan kesukaan Intan. Apalagi telur asinnya di tambah sambel teri enak banget"
"Syukurlah kalau Teteh suka"
"Yeee kalau soal makanan dia mah makan apa aja Buk"cicit Natta yang segera mendapat tatapan sinis dari Intan.
Ya, sambal teri,telur asin dan tumisan kangkung menjadi menu makanan mereka sore hari ini. Intan yang merupakan orang baru bagi mereka sudah merasakan kehangatan keluarga, melihat cara Intan bersosialisasi dan mudah akrab membuat mereka tak sungkan untuk bersenda gurau bersama.
"Ayo nambah lagi"ucap Diah sembari mengambil nasi untuk Natta.
"Ibuk tuh dari dulu nyuruh makan mulu, coba sesekali nyuruh yang lain kek! Orang udah kenyang malah dipaksa habisin nasi"kesal Natta, sebab dari tadi Diah menyuruhnya terus menghabiskan nasi.
"Kalau gitu suruh nyangkul sawah aja Bu!"seru Indro.
"Ya nggak nyangkul juga Ndro!"
__ADS_1