
Natta POV
Setelah membersihkan ruko dan sempat buka Cafe juga tadi, lumayan ada banyak pengunjung yang datang. Malamnya aku mencoba ke tempat kerjanya Michael, ku lihat dia bekerja di gedung besar. Bangga rasanya melihat dia, sudah dewasa sekarang.
Oya, sebelumnya aku sudah menghubungi dia terlebih dahulu. Untungnya Michael mau bertemu denganku yang sudah lama sekali tidak bertemu.
"Aku rasa kita sudah nggak saling kenal"ucapnya begitu kami bertemu. Wajahnya terlihat tidak ramah, aku tersenyum saja mendengarnya.
"Kalau begitu ayo berkenalan lagi" ku ulurkan tanganku padanya yang bergeming memandangku dengan acuh. Tak ada balasan, ku tarik kembali saja.
"Nggak usah basa-basi, ada urusan apa kesini?"
"Santai bro! Nggak usah gitulah mukanya. Ngeri tau kalau ganteng-ganteng mukanya kek kesambet gendruwo" cara mencairkan suasana begini hahaha walau wajah dia semakin datar saja.
Hening sesaat, aku berdehem. Dan memasang mimik serius tanda ingin bicara serius.
"Aku udah minta maaf ke Papah, aku sama Papah juga udah baikkan. Aku harap kita juga bisa memperbaiki hubungan menjadi lebih baik dari yang sekarang. Aku nggak tau harus ngomong apa, banyak yang ingin aku bicarakan tapi aku bingung harus mulai dari mana"walau ragu, aku ucapkan saja yang aku rasakan.
"Aku minta maaf"
"Aku bersyukur Abang udah minta maaf ke Papah karena Papah dari dulu sangat berharap Abang bisa memaafkan kesalahannya. Mungkin buat Papah, dia sangat senang Abang bisa memaafkannya tapi buat aku Abang sangat terlambat menyadari! Dua tahun Bang! Kemana aja? Kenapa baru sekarang menyadari? Abang nggak perlu minta maaf ke aku! Tolong temani saja Papah, hargai dia!"
"Abang nggak tau keadaan Papah gimana, Dia sakit kah? Atau bagiamana keadaannya? Yang Abang tau hanya kesalahannya saja! Abang nggak peduli dengan Papah. Sementara Papah sendiri, sangat menghawatirkan anaknya yang pergi entah kemana"
Aku terdiam, aku sangat menyadari kesalahanku. Kalau waktu bisa berputar, aku ingin perbaiki semuanya dari awal. Kata-kata Michael benar-benar membuatku tersudut, sakit rasanya dia berkata seperti itu. Seolah aku adalah anak yang durhaka yang pergi meninggalkan orang tua. Tapi no problem, aku bisa terima.
Aku semakin ragu untuk mengungkapkan tentang aku dan Intan.
"Aku nggak ingin beradu nasib, tapi jika kamu di posisi aku. Pasti kamu juga berbuat hal yang sama. Aku sadar aku salah, maaf terlambat menyadarinya, entah mengapa aku selalu terlambat dalam segala hal. Mulai dari perasaan, kesalahan dan perbuatan"
"Shel...."ku panggil dia, ku tatap matanya lama.
"Aku cinta sama Intan. Maaf aku egois, tapi aku nggak bisa melepaskannya. Sebelum dia pergi ke Bali dia menyatakan perasaannya di saat aku sedang berhubungan dengan seseorang. Setelah dia pergi aku juga terlambat menyadari perasaanku sendiri Shel, dua tahun aku mencari dia dan maaf jika ini menyakiti perasaan kamu. Ternyata dia masih memiliki perasaan terhadapku"
"Aku ingin menikahinya"terangku langsung, kalian tau aku tidak suka menye-menye dan lebih mengungkapkan apa yang aku rasakan tanpa memikirkan perasaan orang tersebut. Jahat memang, tapi inilah aku dengan segala cara dan tingkah lakuku.
Dia tampak tertawa kecil tetapi sorot matanya berkata lain, sedih dan berkaca-kaca. Maaf Shel, aku tidak bermaksud menyakitimu.
"Mengejutkan sekali, aku yakin kalau bukan Abang mau menikah. Abang nggak akan minta maaf ke Papah dan datang kesini !! Abang kesini cuma ada maunya doang!"
"Benar-benar manusia paling egois!"dia beranjak berdiri, tatapan matanya sungguh menyakitkan.
"Dan satu lagi!! Jangan minta maaf. Aku sudah biasa tersakiti sampai lupa bagaimana rasanya disakiti!"
"Untuk Intan, terserah Abang mau apa! Aku nggak peduli walau aku mencintainya! Itu pilihanku, perasaanku! Yang aku sendiri nggak ngerti karena begitu mencintainya"
__ADS_1
"Nggak, Mungkin mulai sekarang aku akan berusaha melupakan. Karena udah nggak ada lagi yang aku harapkan. Oya, dari dulu juga aku nggak bisa berharap apa-apa"
"Jangan muncul di hadapan aku lagi!"
Setelah berucap demikian, dia berlalu. Wajahnya tadi terlihat sangat marah, aku hanya bisa menunduk dengan perasaan bersalah. Aku sudah menduga dia akan seperti ini dan lebih menyakitkan adalah ketika mendengar dia begitu mencintai Intan. Kenapa keadaan menjadi rumit begini?
.
- Author
Di perjalanan pulang Natta terus memikirkan perkataan Michael. Hingga hampir saja dia menabrak kendaraan bermotor di jalan, semuanya menjadi kacau! Di satu sisi Michael sang adik juga mencintai Intan bahkan ia rasa cinta Michael ke Intan lebih besar dari padanya dan di sisi lain Michael menuduhnya minta maaf hanya karena ada maunya saja sebab ingin menjadikan Michael dan sang Papah wali nikahnya. Padahal dia tak bermaksud begitu!
Sampai di ruko, Natta berjalan dengan lemas. Namun sesat dia terpaku melihat sosok yang sangat dia rindukan berada di depan pintu rukonya. Tak ayal, Natta mempercepat langkahnya lalu langsung memeluk tubuh Intan erat.
"Sebentar saja"ucapnya memeluk Intan lama, tapi kemudian pria itu menangis di pelukan hangat tersebut.
Intan yang melihat Natta menangis mengusap punggung pria itu memberikan ketenangan.
✨✨✨
Setelah menenangkan diri Natta meminum air yang di buat oleh Intan "bagaimana bisa kamu ada disini?"tanya Natta, ia sangat terkejut melihat Intan tiba-tiba di rukonya.
Intan tersenyum.
"Aku kabur hehehe"cengirnya tanpa dosa.
Intan menjawabnya dengan anggukan.
"Kalau Nawan cari gimana? Bisa di marah kamu"
"Paling besok dia kesini, aku ninggalin kertas di meja kalau aku ke Jakarta. Aku tulis di kertasnya 'Jarak terlalu jauh antara kami, kalau kata Dilan rindu itu berat. Aku setuju! Buktinya aku tak sanggup menahan rindu. Aku ingin bertemu belahan jiwaku di sebrang sana, sampai jumpa Kakak! Jangan marah' hihihi "ucapnya sambil cekikikan mengucapkan dialog yang di tulisnya di kertas.
Natta tersenyum mendengarnya, sedihnya seketika hilang.
"Kenapa kamu diam?"Natta bingung, saat tadi Intan hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Gadis itu hanya membiarkannya menangis, tak berniat bertanya atau memberi kata-kata.
Intan menghela napas, lalu mengangguk mengerti apa maksud Natta.
"Ketika seseorang menunjukan ke sedihannya pada kita. Jangan bertanya 'kenapa' biarkan dia bersedih sepuasnya, takut nanti pertanyaan kita membuatnya tidak nyaman. Bila dia sudah tenang, pasti dia akan bercerita dengan sendirinya"ucap Intan dengan bijak.
Natta menatap gadis cantik itu lama sampai tak berkedip. Dari dulu ia sangat penasaran dengan jalan pikir Intan, ia sempat berfikir gadis itu mempunyai dua kepribadian. Kadang kekanak-kanakan, kadang juga seperti orang dewasa.
"Kamu itu manusia bukan sih?"tanya Natta tiba-tiba yang membuat dahi Intan berkerut.
"Ya manusia'lah... Masa mahluk halus?"kesalnya dengan pertanyaan Natta.
__ADS_1
"Aku kira bidadari, soalnya kamu cantik dan baik hati"terangnya, lagi-lagi Intan membuat dia jatuh cinta berkali-kali lipat.
"Bisa nggak kamu jangan terlalu baik? Takut nanti orang lain juga nyaman"
Intan tertawa kecil, posesif sekali pikirnya.
"Yaudah aku mau jahat aja sama orang"
"Ya bagus"
Mereka terlibat obrolan lama, keduanya saling bertukar cerita dan pendapat. Sesekali terselip candaan antara mereka, Natta juga cerita tentang dia bertemu Michael hari ini.
"Hmm gimana kalau aku aja yang ngomong sama Kak Michael?"tanya Intan, ia rasa jika berbicara langsung bisa membuat Michael lebih mengerti.
"Jangan, kalau kamu ketemu sama dia nggak akan menyelesaikan masalah. Yang ada dia merasa aku nggak bisa mengatasinya sendiri dan juga pasti dia akan terluka kembali saat melihat kamu"
Intan manggut-manggut, apa yang di bilang oleh Natta ada benarnya juga.
"Terus gimana?"
"Aku juga lagi mikir"
Hening sejenak, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga Intan menemukan ide entah apa itu akan berhasil.
"Aku tau! Kita jodohin aja Kak Michael sama temen Bang Natta waktu itu!"seru Intan antusias.
"Temen yang mana?"tanyanya bingung, pria itu sudah tak ingat lagi.
"Kalau nggak salah namanya..... Vi...."
"Vira?"tukas Natta.
"Iya! Dia! Udah nikah belum? Atau udah punya pacar?"
Natta memandangi Intan sejenak, ia ragu dengan ide Intan yang ingin menjodohkan Michael yang hatinya jelas sudah beku dengan Vira yang notabenenya wanita gaul dan sering sibuk dengan kegiatan bersama teman-temannya.
"Setau aku dia masih melajang tapi kayanya nggak cocok sama Michael. Mereka bertolak belakang banget kalau di jodohkan, Vira juga tipe wanita yang hidupnya bebas, mau dimana dan siapa dia bisa menatap. Dan pergi kalau dia mau"ucap Natta.
"Justru yang kaya gini bisa buat Kak Michael mupon! Kaya yang di drama-drama! cewek yang sifatnya bertolak belakang sama si cowoknya itu biasanya jodoh tau!"
"Apa lagi nih Kak Michael orangnya'kan pendiem, ganteng dan manja banget ja---"ucapnya tiba-tiba menggantung melihat tatapan Natta "eee maksudnya cocok gitu sama Kak Vira yang orangnya humble, gaul cantik juga pokoknya dia tipe cewek yang bisa luluhkan hati deh!"sambungnya.
Natta diam, hatinya tersentil sedikit mendengar pujian dari Intan pada Michael.
"Masih ada nggak sih kontaknya?"tanyanya mengalihkan topik.
__ADS_1
Natta menghela napas.
"Ada, tapi nggak tau masih aktif atau enggak. Aku juga nggak pernah kontek dia lagi"jawab Natta malas.