
Beberapa menit yang lalu sebelum kejadian.
Alis Michael bertaut saat mengawasi Davin dan Intan dari kejauhan, pria itu bersembunyi di balik pohon besar yang berada tak jauh dari rumah Davin. Tadinya ia ingin menghampiri saat Intan di paksa masuk. Namun niat itu ia urung ketika Intan masuk tanpa paksaan, tapi sesungguhnya ia ingin kesana. Dia khawatir murid baru tersebut berbuat macam-macam terhadap orang yang masih ada dalam hatinya.
Tak lama, ponsel Michael berdering. Ternyata dari seseorang yang telah lama tidak menghubunginya, bahkan nama kontak tersebut terasa asing baginya. Tak pikir lama, Michael langsung menerima panggilan Natta.
"Hmm"sahutnya singkat.
"Intan ada sama lo nggak?"
"Kenapa nanya-nanya Intan?"
"Gue tanya Intan ada sama lo nggak?!"
Mendengar nada bicara Natta, Michael berfikir ada hal serius.
"Nggak ada"jawabnya.
"Serius?"
"Lo pikir gue bohong?"
"Nggak, tadi soalnya dia telpon gue minta tolong. Mau gue tanya 'minta tolong apa?' tapi sambungnya tiba-tiba putus, setelah gue telpon balik HP-nya udah nggak aktif. Maka---"
"Jalan Kenanga, Kompleks Pondok Indah. No 7 cepat!"tukas Michael mengakhiri panggilannya. Perkataan Natta mengartikan Intan dalam bahaya, ia cepat-cepat berlari menuju rumah Ravin.
Saat sudah di depan pintu, ia mendengar suara Intan 'lepasin!' tak pikir panjang, Michaelpun mendobrak pintu itu dan menendangnya dengan keras hingga terbengkas.
🌼🌼🌼
Rumah sakit Permata.
"Intan kenapa?! Siapa yang lakuin ini ke dia?"Nawan yang baru saja tiba di rumah sakit menatap Michael dan Natta bergantian seakan menuduh salah satunya.
"Nawan! Tenang dulu, kita dengar dulu penjelasan dari mereka"Bening yang juga ikut berusaha menenangkan sang pacar.
"Kalian duduk!"perintah Bening menyuruh Natta dan Michael duduk. Gadis itu juga menuntun Nawan duduk di sampingnya. Sementara Intan sudah masuk ruang IGD, gadis cantik itu tertidur setelah di tangani oleh dokter.
"Apa yang terjadi pada Intan? Kenapa dia sampai pingsan dan magh-nya kambuh?"tanya Bening yang membuat Michael dan Natta saling pandang, keduanya bingung siapa yang akan menjelaskan.
__ADS_1
"Michael"Bening memang sangat peka bahwa keduanya kebingungan.
Michael menghela napas menatap lawan bicaranya "Gue nggak tau cowok itu siapa, gue nggak pernah liat dia di sekolah. Tapi gue pikir dia murid baru, apa di kelas kalian ada kedatangan murid baru?"tanyanya pada Bening.
"Ada, namanya Davin. Emang dia kenapa? Apa dia yang lakuin ini ke Intan?"selidik Bening sedikit terkejut mendengarnya. Karena memang akhir-akhir ini murid baru itu sering mengganggu sahabatnya.
Michael menjawabnya dengan anggukan "Dia bawa Intan kerumahnya, gue pikir Intan mau diantar pulang. Tapi setelah gue liat cowok itu agak mencurigakan, terus gue ikutin mereka"
"Terus?"
"Intan di cium cowok itu"
Braakk!
Spontan Nawan berdiri yang membuat kursi bergeser sedangkan Natta juga ikut terkejut mendengarnya.
"Bilang ke gue siapa nama lelaki brengsek itu?!"sergah Nawan.
"Davindra"balas Bening juga ikut emosi mendengarnya.
"Di cium dimana?"tanyanya menatap Michael yang langsung menunjuk bibirnya "aish..... Emang brengsek tu orang! Gue udah feeling kalau dia itu memang cowok nggak baik! Semenjak hari pertama masuk aja dia merhatiin Intan terus. Wah nggak bisa di biarin!"decak Bening.
"Dari yang gue liat, cowok itu mau antar Intan pulang karena dia nggak ada yang jemput---"
"Lo juga! Ngapain lo biarin Intan diantar pulang sama dia! Kenapa nggak lo aja? Lo sengaja hah?"Nawan menarik kerah baju Michael.
"Seharusnya gue yang tanya ke lo! Lo sebagai kakaknya kemana aja? Lo lupa kalau gue udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Intan?!"tak mau di salahkan, Michael juga mencengkram kerah baju Nawan. Keduanya bersitatap muka seolah adu kekuatan masing-masing.
"Udah! Ini bukan waktunya untuk siapa yang salah dan siapa yang benar! Disini nggak ada yang salah! Kita semua nggak tau kejadiannya bakal kaya gini. Jadi, jangan saling menyalahkan!"sela Natta menjauhkan Nawan dan Michael.
"Lo jangan ikut campur!"ucap Nawan dan Michael bersamaan.
"Sebenarnya gue nggak mau ikut campur, tapi kejadian ini menyeret gue sampai kesini! Jadi gue berhak ikut campur! Udahlah nggak usah bahas yang nggak penting! Mending pikirin cara supaya bajingan itu! Siapa namanya?"
"Davin!"sambung Bening.
"Iya, si Davin itu! dikeluarkan dari sekolah dan nggak memunculkan diri lagi depan Intan"
"Setuju!"seru Bening menunjuk Natta membenarkan perkataan pria itu.
__ADS_1
"Biar itu gue yang urus!"ucap Michael.
"Gimana caranya?"tanya Bening.
"Besok gue lapor ke wali kelas Intan dan bilang tentang kejadian ini. Kemudian meminta si Brengsek itu di keluarkan dari sekolah"
"Tapi nggak semudah itu! Lo nggak ada bukti apa-apa. Nggak mungkin guru mengeluarkan muridnya hanya mendengar pernyataan dari lo doang!"ucap Nawan.
"Gue punya bukti, sebelumnya gue sempat foto Intan sama Davin saat mereka sampai di rumah itu. Dan nggak mungkin kalau si Davin itu nggak di keluarkan dari sekolah, karena ini udah termasuk tindakan asusila!"jelas Michael sembari menunjukkan foto Ravin dan Intan yang telah di ambilnya dari jauh.
"Oke! Lakukan apa yang menurut lo itu benar, intinya kita serahkan itu ke lo Shel, karena lo yang punya rencana"Natta menepuk pundak Michael yang segera menepisnya. Natta hanya tersenyum tipis, tak heran lagi baginya jika Michael bersikap seperti itu.
"Dan sekarang tinggal nunggu Intan sadar"
🌼🌼🌼
Menjelang malam, Intan tak kunjung sadar. Gadis itu terus tertidur yang membuat Natta dan yang lainnya khawatir, mereka juga tidak pulang karena Intan belum juga sadar kecuali Michael yang sudah pulang duluan karena dia rasa tak ada yang diharapkan lagi jika dia tetap berada disana. Apalagi melihat saudaranya yang benar-benar mengkhawatirkan Intan.
Bening yang baru saja selesai dengan pekerjaannya masuk ke ruangan dengan membawa kantong plastik ditangannya. Ia sedikit kecewa melihat sahabatnya masih tertidur di ranjang.
"Gue nggak punya duit beli makanan,cuma bisa beli Pop Mie doang"ucap Bening sambil memasukan air panas ke dalam wadah Pop Mie kemudian ia letakkan di meja depan Nawan dan Natta.
"Makanlah, hidup juga butuh makan!"lanjutnya kembali meletakkan termos ke tempatnya kemudian duduk di dekat ranjang Intan memegang tangan gadis itu yang di infus.
"Kamu udah makan?"tanya Nawan pada Bening.
"Udah"jawabnya tanpa menoleh ke belakang.
"Lo ngapain sih masih disini?"Nawan melirik Natta yang makan mie dengan lahap. Ia-pun juga turut makan karena dari tadi siang perutnya sudah terasa kosong untung saja pacarnya sangat perhatian.
"Entahlah, gue cuma mau liat Intan bangun aja"jawabnya di sela-sela makan.
Nawan mendengus geli mendengarnya, ia pikir pria itu siapa? Keluarga bukan, teman bukan. Ia seakan menganggap Intan adalah keluarganya.
"Kaya nggak punya kerjaan"cicit Nawan yang tentu terdengar oleh Natta.
"Emang lagi nggak ada kerjaan sih"balas Natta santai.
Natta memang tipe orang yang tidak mau ambil pusing atau berfikir sesuka hati. Kebanyakan orang menyibukkan diri mengejar apa yang ia impikan untuk meraih kesuksesan, namun tidak baginya. Ia rasa kehidupannya sudah cukup tidak ada yang kurang dan lebih. Bohong kalau dia bilang tidak ingin mengejar impiannya yang ingin menjadi arsitektur dan mendirikan perusahaan sendiri. Tapi ia pikir kehidupannya yang sekarang sudah lebih dari cukup. Terus apalagi yang akan kau kejar? Biarkan kesempatan itu orang lain yang memilikinya. Sebab kesuksesan itu adalah proses bukan tujuan, mau di kejar dunia ini juga tak ada habisnya.
__ADS_1