Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Maaf


__ADS_3

Intan POV


Bukankah hidup itu penuh tantangan dan cobaan? Kalau begitu mari maju tanpa ada kata mundur. Aku bukanlah wanita yang kuat, aku hanya sok kuat di depan orang yang menindasku tapi dalam artian tidak mengalah begitu saja, tapi jika orang itu bermain fisik aku bukanlah tandingannya. Tapi, mungkin sekarang aku berusaha untuk berani.


Aku baru saja diantar pulang oleh bang Natta, sepertinya dia benar-benar khawatir akan keadaan'ku hari ini terasa sangat menyenangkan bisa berbagi cerita,bersenda gurau dengan bang Natta meskipun pria itu berbicara tidak pernah serius dan suka blak-blakan. Seperti yang terjadi tadi dia seenaknya memintaku untuk tinggal bersamanya. Sebenarnya aku sih mau-mau aja ups... tapi aku memikirkan sekolah,rumah dan nantinya akan merepotkan bang Natta jika aku tinggal bersamanya.


Rasa takut seketika hilang saat terbayang kata-kata pria itu 'Harus berani! Nggak boleh nggak berani!'


Dengan menarik napas aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah ku sendiri tapi bagai neraka.


Sepi, tidak ada orang mungkin sedang berpergian. Kemudian aku melanjutkan langkahku menuju kamar. Namun, aku melihat kak Nawan baru saja keluar dari kamarnya. Tak ambil pusing, aku terus berjalan sampai akhirnya kak Nawan menahan tanganku. Sudah kuduga.


"Lo gapapa'kan ?"tanyanya. Aku menatapnya tajam, ku tepis tangannya lalu berlari menuju kamar.


Kamar serba pink dengan berbagai boneka memang bisa di sebut kamar anak kecil tapi aku suka. Aku merebahkan diri di ranjang memandang langit-langit kamar bernuansa pink itu dengan tatapan kosong. Huft... rasanya pengen menenggelamkan diri.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, rupanya aku lupa menutup pintu. Yang datang kak Nawan, dia membawakan satu kotak persegi yang cukup besar dan marshmellow berbentuk panda. Oh no! Pengen senang tapi gengsi.


"Buat lo"dia meletakkan benda itu di pangkuanku. Uhh tahan! tahan! Jangan senang dulu Intan!


"Ini pakaian buat malam besok. Kita ada dinner bareng Om Kendrick"ucapnya. Om Kendrick? Aku merasa tidak asing dengan namanya.


"Ngapain ngajak Intan?"ketusku, biasanya kalau ada acara mereka hanya pergi berdua. Tunggu! Om Kendrick? Oh... Om waktu itu! Aku baru menyadari itu Om Ken yang tempo hari ingin memperkenalkanku pada anaknya. Mungkin karna itu nenek sihir memberiku pakaian. Cih... Baik ada maunya doang.


"Om Kendrick minta lo datang"jawabnya, aku hanya mengangguk sambil melirik marshmellow itu.


"Gak usah sok gengsi ! Kalau mau ambil aja"ucapnya tiba-tiba memberiku satu marshmellow.


Dia memperhatikanku sejenak kemudian duduk di bibir ranjang.


"Maafin gue ya? Maafin Mama juga udah jahat sama lo. Gue minta maaf soal tadi, gue nggak tau sampai buat lo kaya gitu. Lo gapapa'kan?"mudah sekali dia minta maaf.


Aku tersenyum kecut melihatnya


"Untuk kak Nawan Intan maafin, tapi kalau untuk mama. Intan nggak bisa"ucapku sembari mengunyah benda empuk dan lembut itu.

__ADS_1


"Gue tau itu sulit buat lo, tapi gue ada pertanyaan. Apa bener cowok di cafe tadi siang pacar lo?" Bilang apa ya? Kalau bilang pacar tapi bukan,bilang temen tapi dia anggap aku adek, bilang abang entar kak Nawan marah.


"Bukan"jawabku singkat.


"Terus siapa?"tanyanya lagi.


"Bukan siapa-siapa"


🦋🦋🦋


Gerimis menyambut hari baru dan suasana baru. Burung gereja berterbangan meninggalkan tangkai pohon mencari tempat untuk berteduh. Suara kendaraan di ibu kota yang padat mengisi pagi hari ini.


"Intan !"pekik Fany girang saat melihat Intan masuk dalam kelas.


"Lo kemana aja? Gue telpon nggak diangkat?"tanya Fany sambil memeluk singkat Intan.


Intan tersenyum lembut.


"Intan nggak kemana-mana cuman pengen istirahat kemarin"jawab Intan sembari meletakan tasnya di meja.


"Lo sakit?"sambung Bening. Kedua sahabat Intan itu khawatir setelah mendapat telpon dari Nawan yang menanyakan Intan. Terlebih lagi Intan tidak masuk kemarin membuat Fany dan Bening cemas.


"Hai ayang embebnya A'a Doni, semalam kemana? Kok nggak masuk?"ucap Doni si mulut manis, banyak janji tak kunjung terwujud. Pria satu ini teman Janu sang pacar Fany.


Intan yang mendengarnya tersenyum, ia sudah biasa mendengar Doni berceloteh seperti itu.


"Ayang, hari ini kita harus kemana lagi? Nonton film? Makan bareng? Jalan-jalan?"sambung Janu sembari merangkul Fany.


"Ck, tolong kalian tuh ya kalau mau mesra-mesraan jangan depan gue. Pengen muntah gue tau nggak!"ucap Bening sinis. Gadis yang biasa di sebut Nining ini paling anti dengan namanya romantis. Ya karena menurutnya itu sangat menggelikan.


"Elah... Sirik aja lo jadi orang, dasar jomblo nggak laku-laku"ejek Janu tak kalah sinis. Pria itu memang musuh bebuyutan Bening dari awal mereka SMP sampai sekarang. Bening juga tak habis pikir kenapa harus berurusan dengan pria itu lagi.


Bening yang tak terima di bilang tidak laku pun mendekati Janu yang kini takut-takut sebab perempuan di hadapannya ini bisa saja mematahkan tulangnya.


"Gue nggak jualan! Makanya nggak laku!"balas Bening kemudian duduk di bangku paling belakang.


"Kalian tuh kenapa sih nggak pernah akur!"kesal Fany menatap Janu jengah. Seringkali ia di situasi saat ini yang malah membingungkan'nya pilih pacar atau sahabat? Huh... Menyebalkan!

__ADS_1


"Iya, setiap ketemu berantem-berantem mulu. Mending kaya kita, damai, aman dan tentram"sambung Doni berusaha menggapai tangan Intan yang melarikan diri.


"Yank... aku ada satu gombalan untuk kamu"jiwa buaya pria itupun keluar.


Intan memutar bola matanya jengah. Kali ini gombalan apa lagi yang di keluarkan buaya satu ini pikir Intan.


"Gombalan apa itu A'a?"tanya Intan menanggapi candaan Doni.


"Kamu tau nggak dunia ini serba bisa loh"mulai menampakkan senyum menawan dan memukau (menurutnya).


"Kenapa tuh?"sahut Intan pura-pura penasaran.


"Karena sandal bisa di gantiin sepatu,bambu bisa gantiin kayu. Ubi bisa gantiin beras. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Nggak akan ada yang bisa gantiin kamu"


"Anjayyy!"sorak Fany dan Janu kompak. Sementara Doni tersenyum bangga, lain lagi dengan Intan yang ketawa di buat-buat sambil memukul kecil lengan Doni seolah ia tersipu.


"Ayang, kamu juga.Coba gombalin aku"pinta Fany pada Janu.


"Karena kamu yang minta, apa sih yang enggak"ucap Janu dengan gayanya sok Cool yang membuat Bening ingin muntah. Bisa-bisanya sahabatnya suka sama cowok model Janu pikir Bening tak habis pikir.


"Azek-azek!"seru Doni ketika Janu berdehem sambil menatap sang kekasih yang kini malu-malu (pura-pura malu tepatnya).


"Coba deh kamu di belakang, aku di depan"Janu mengarahkan Fany berada di belakangnya sementara ia berdiri di depan Fany yang kini bingung.


"Gimana Don? Udah cocok belum?"tanya Janu menatap Doni.


"Cocok apanya?"


"Cocok jadi imam-nya"sambung Janu yang di sambut sorakan murid lainnya.


"Huuuuuu basi !!"tentu suara Beninglah yang paling melengking kala itu. Sementara Fany, gadis itu meloncat-loncat girang.


"Udah cocok kok, cocok banget malah"terang gadis itu memeluk Janu erat.


"Utuututu tayang...."ucap Janu membalas pelukan Fany.


Tanpa mereka sadari guru yang akan mengajar telah masuk kelas. Semua siswa sudah duduk di bangku masing-masing. Hanya mereka berdua yang masih asik berpelukan.

__ADS_1


"Kumaha ari sakola ieu, naha anjeun nganggo kanggo kencan?"ucap guru tersebut dengan bahasa sunda pekat.


__ADS_2