
Intan menghempas tubuhnya ke kasur, membuang nafas perlahan menahan air mata yang ingin tumpah teringat perkataan Natta yang sangat memuji Naya dan bahkan terang-terangan berkata padanya pria itu menyukai Naya yang merupakan wanita yang baru ia kenal.
"Sakit rasanya, tapi mau bagaimana? Itu perasaannya. Aku tidak berhak mencegah, sama seperti aku menyukainya. Kenapa papa-mu sangat tidak peka?"gumam Intan sembari memberi makan Chettah yang sudah menjadi teman ceritanya sehari-hari. "apa kamu tidak berniat untuk memberitahu kalau aku menyukainya? Meski aku bisa, tapi aku sudah memikirkan jawabnya yang pasti membuatku sakit hati karena kenyataan dia hanya menganggapku adik"sambungnya lagi mengelus makhluk kecil itu.
Praaaaangg!!
Intan terperanjat kaget tiba-tiba suara benda terjatuh sangat keras dari arah dapur. Langsung saja Intan turun ke bawah untuk mengecek dapur.
"Mamah!!"Intan langsung memangku Rianti yang pingsan dengan pecahan gelas yang berserakan. Gadis itu panik, ia segera menghubungi Nawan.
Nawan yang memang sedang di perjalanan untuk pulang segera menyuruh Michael lebih mempercepat laju kendaraannya.
"Kak Mamah..."ucap Intan dengan berderai air mata. Nawan dan Michael yang baru sampai langsung membantu memindahkan Rianti ke sofa.
"Tadi Intan dengar suara pecahan dan setelah Intan turun Mamah udah pingsan Kak. Kita bawa kerumah sakit aja ya"tangan gadis itu sampai gemetar dengan suaranya yang ketakutan.
Nawan dan Michaelpun setuju untuk membawa Rianti ke rumah sakit sebab keadaan Rianti sedang tidak baik-baik saja dengan wajah pucat dan tubuh dingin.
**
Rumah Sakit
"Dok, tolong Mamah saya"Intan memohon pada Dokter yang hendak masuk ruangan. Dokter itu hanya menjawab dengan anggukan prihatin.
"Minumlah"Michael menyodorkan botol air minum pada Intan karena kelihatan sekali gadis itu ketakutan.
"Terimakasih"Intan meminum air itu sembari menyeka air matanya.
Nawan yang melihat Intan panik menuntun adiknya duduk "udah, gue yakin Mama baik-baik aja"ucapnya mengelus punggung Intan.
"Intan liat muka Mama pucat kak, tubuhnya juga dingin. Intan takut..."isaknya.
"Kita doa yang terbaik aja buat Mamah"sebenarnya Nawan juga khawatir akan keadaan Mamah-nya, ia hanya tak ingin membuat Intan semakin menangis. Sebagai seorang Kakak satu-satunya Intan ia tidak boleh goyah.
Beberapa menit kemudian.
"Gimana Dok keadaan Ibu saya?"tanya Nawan usai Dokter keluar dari ruangan.
Dokter melihat Intan sekilas kemudian menyuruh Nawan untuk berbicara di ruangannya saja, sebab tidak mau mendengarkan Intan yang tampaknya sangat menghawatirkan pasien.
__ADS_1
"Ibu anda kondisinya sedang kritis, detak jantung sangat lemah. Dan penyakitnya ini sudah masuk tahap akhir, kami akan segera mengoperasinya jika anda menyetujui. Dan kemungkinan 20% operasinya akan berhasil karena tubuh Ibu Rianti sangat lemah"
"Apa? Tahap akhir? Penyakit apa yang Dokter maksud? "Nawan terlihat kaget dengan pernyataan Dokter.
"Jantung Koroner, sepertinya pasien sudah lama menderita penyakit ini. Namun, akibat diabaykan membuat kondisi pasien memburuk"
Nawan berjalan dengan lesu, ia masuk dalam ruangan Rianti yang ternyata sudah ada sang kekasih dan adiknya di dalam. Intan tampak menangis tersedu-sedu sambil menggenggam tangan sang Ibunda.
"Apa kata Dokter kak? Mama baik-baik aja kan? Mama cuma butuh istirahat aja kan?"Intan menatap mata Nawan yang seolah menjawab kebalikannya.
Nawan terdiam.
"Jawab Intan Kak Nawan!"sentak Intan yang membuat Nawan menatap Intan dengan sendu.
"Mama harus segera di operasi..."lirih Nawan pelan.
Intan, Bening serta Michael terkejut. Intan sampai menjatuhkan diri ke lantai, ia tak percaya. Bening langsung memapah Intan untuk duduk di kursi.
"apa yang membuat Mama harus di operasi kak?"tanya Intan.
Nawan terdiam sejenak, dengan berat hati ia mengatakannya "penyakit Jantung Mama udah stadium akhir dan kemungkinan 20% operasi berhasil. Aku tidak tahu harus berbuat apa"Nawan juga tergelatak ke lantai, ia tak sanggup jikalau Ibunya pergi meninggalkannya.
Michael membantu Nawan berdiri "ini bukan saatnya bersedih, ambil keputusan lo. Gue yakin tante Rianti kuat melewati operasi ini walau 20% kemungkinannya"
"Gue nggak yakin Shel, tubuh Mama terlalu lemah buat melakukan operasi"
"Terus lo mau gimana? Membiarkan tante Rianti terus begini dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya?"
Nawan terdiam sambil melihat Rianti yang terbaring tak berdaya di brankar.
"Gue tau lo khawatir begitupun dengan Intan. Tapi kita harus bagiamana lagi jika tidak mengoperasinya? Gue tau resikonya kematian dan gue harap itu tidak terjadi. Walaupun begitu, kita harus ikhlas karena sudah takdir Allah sebab semua yang ada di dunia ini hanyalah milik-Nya dan pasti akan kembali pada-Nya lagi"
"Enggak Kak! Jangan ngomong kaya gitu!"ucap Intan dengan tangisnya.
"Maaf Intan, tapi aku hanya memberi pencerahan. Agar Nawan cepat memilih keputusannya"
"Benar, apa yang di bilang oleh Michael Nawan. Tante Rianti sekarang harus segera di operasi, kalau tidak alat-alat ini nggak akan bisa sepenuhnya membantu pernapasannya"tutur Bening.
Nawan tampak berantakan, ia duduk di taman rumah sakit untuk memikirkan apa keputusan yang tepat untuk Ibunya. Jujur ia tak sanggup jika Rianti pergi meninggalkannya namun jika itu kehendak Tuhan ia harus apa. Dan juga ia marah karena baru mengetahui penyakit Ibunya, dari kemarin-kemarin ia kemana saja? Kenapa baru menyadari? Nawan mengalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apapun keputusan kamu, aku yakin itu yang terbaik. Dan jangan takut, aku ada disini dan juga Intan. Mama pasti bisa lewatin semuanya"Bening tiba-tiba duduk di samping Nawan, pacarnya itu mengelus punggungnya memberikan rasa tenang dan semangat.
Nawan menatap mata Bening yang teduh, lalu ia mengangguk yakin.
*****
Pagi harinya tepat saat akan melakukan operasi Intan terus menggenggam tangan Rianti, semalaman ia terus menangis sehingga matanya membengkak dengan suara seraknya.
"Tolong selamatkan Mamah Dok, saya mohon"Intan memohon dengan tangisnya sambil memegang tangan Dokter.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, dan sebaiknya kalian berdoa kepada-Nya karena Dialah yang mengatur semua ini"jawab Dokter tersebut kemudian masuk keruangan Operasi.
Sementara Nawan memejamkan matanya, ia berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar.
"Shuutttt, jangan nangis kamu wanita kuat Intan"Michael yang juga sedari tadi sudah datang menenangkan Intan, mengelus kepala gadis yang sedang menangis itu.
Michael menyeka air mata Intan yang spontan langsung bertatapan dengan mata gadis itu. Tak kuat, Michael mendekap Intan yang langsung menangis di bahunya.
Kurang lebih 30 menit akhirnya operasi selesai, Intan dan Nawan spontan berdiri melihat Dokter keluar. Keduanya menatap dengan harapan yang besar.
Dokter menunduk "Maaf, saya sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain. Ibu Rianti telah meninggal dunia"tutur Dokter tersebut yang membuat Intan,Nawan dan Michael membeku sejenak.
****
Waktu begitu cepat berputar, jenazah sudah di pindahkan ke rumah. Kerabat, keluarga serta teman dekat berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa atas kepergiannya Rianti.
"Om tidak percaya Mama kamu pergi secepat ini, semoga dia ditempatkan disisinya yang paling mulia"ucap Om Kendrick menepuk pundak Intan juga Nawan.
"Nawan, jaga adik kamu baik-baik"sambungnya.
"Iya Om terimakasih sudah mau datang"jawab Nawan.
Intan hanya tersenyum, ia tak lagi sanggup menangis. Air matanya sudah terkuras habis bahkan untuk bicara saja ia tak kuasa.
Kasih sayang, dia baru saja mendapatkannya. Namun ketika sudah nyaman kasih sayang itu pergi begitu saja, apakah seperti ini cara Tuhan menentukan hidupnya? Kenapa semua orang yang ia sayang selalu menghilang? Kenapa? Kalau ia bisa memilih. Ia lebih memilih di lahirkan tanpa seorangpun yang hidup bersamanya. Intan menangis dalam diam.
Setelah pemakaman bulir-bulir bening lagi-lagi berjatuhan. Intan mengelus kayu nisan yang bertuliskan nama 'Rianti' Fany dan Bening sebagai sahabat menemani Intan yang sedang berduka. Natta yang juga berada disana memberi semangat pada Nawan, tentu ia sangat terkejut dengan kabar bahwa Ibu Intan sudah tiada.
Proses pemakaman dilakukan sesuai syariat Islam.
__ADS_1