
Waktu begitu cepat berputar, matahari kembali di telan oleh kegelapan malam. Gadis bernama panjang Intan Prameswari itu kini duduk di depan cermin menatap pantulan dirinya yang begitu cantik malam itu dengan dress berwarna merah marun yang mengesankan warna ceria. Ia memandang jepit rambut yang tersemat di rambutnya kemudian tersenyum mengingat sang kakak menjepitkan ke rambutnya.
Tok... Tok... Tok...
"Tan mama nungguin di mobil. Gue nggak ikut, malam in----"ucapan Nawan menggantung sesaat ketika melihat Intan begitu cantik dengan balutan dress itu apalagi ia melihat Intan memakai jepit rambut yang di pilihkannya.
"Malam ini gue mau ke rumah sakit. Temen gue kecelakaan, dia nggak punya keluarga. Jadi dia minta tolong gue"lanjutnya kemudian.
"Oh gitu, yaudah Intan duluan ya!"Intan berlalu dari sana menuju keluar.
🦋🦋🦋
Di perjalanan suasana canggung menyelimuti mobil berwarna merah tersebut. Baik Intan maupun Rianti saling berbuang muka dan tak ada yang memulai obrolan.
Intan menghela napas melihat Rianti yang sedang fokus menyetir.
"Emm Mah, Intan mau ngucapin terimakasih karena mamah udah kasih Intan dress ini. Intan suka, makasih ya mah"Intan tersenyum tulus pada Rianti yang melirik Intan sekilas.
"Hmm, sama-sama"sahut Rianti singkat.
Intan sempat terkejut mendengar Rianti menjawab perkataannya dengan sopan tanpa ada kata jahat yang biasa di dengarnya. Walaupun kata-kata itu sedikit ketus tapi setidaknya Rianti membalas dengan sopan. Aneh! Sikap Rianti dan Nawan kenapa berubah menjadi baik di waktu yang sama? Pikir Intan heran.
Tak lama, mereka pun sampai di restoran yang telah di tentukan. Rianti dan Intan masuk dalam restoran, gadis itu baru menyadari bahwa dress yang ia pakai senada dengan dress yang di pakai oleh Rianti.
"Ayo"ajak Rianti menggendeng tangan Intan, menuntun gadis itu menuju meja pesanan mereka.
Intan benar-benar terkejut dibuat wanita paruh baya itu. Otaknya kini bertanya-tanya kenapa nenek sihir itu mendadak baik? Atau karena ingin dilihat baik di mata Om Kendrick dan anaknya?
"Hai, sudah lama menunggu?"sapa Rianti pada Kendrick yang ternyata sudah duluan datang.
"Tidak, kami baru saja sampai"sahut Kendrick sembari mempersilahkan Intan dan Rianti duduk.
"Kamu cantik sekali"puji Kendrick melihat Intan sambil tersenyum.
"Terimakasih Om"ucap Intan tersenyum, kini ia sudah duduk di samping Rianti.
"Oh, iya ini kenalin anak Om"Kendrick menyenggol putranya yang berada di sebelahnya yang tengah asik mengutak-atik ponsel.
"Chel, kenalin dia teman papah. Namanya Rianti dan ini putrinya Intan"
"Intan?"
Ya, putra Kendrick tersebut adalah Michael. Pria itu terkejut melihat gadis yang ia sukai berada di hadapannya.
"Kak Mic?"
Sama halnya, Intan pun juga ikut terkejut saat mengetahui Michael adalah putra Kendrick.
"Kalian sudah saling kenal?"tanya Kendrick menatap keduanya bergantian.
"Di-dia adik kelas Michael Pah"jawab Michael tanpa mengalihkan pandangannya pada Intan. Sekali lagi ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.
"Iya Om, Intan sama Kak Mic udah kenal"tambah Intan meyakinkan.
"Oh bagus dong kalau gitu"Kendrick mengangguk-angguk senang.
"Hello tante"sapa Michael tersenyum pada Rianti. Tadi ia tidak sempat menyapa wanita itu gara-gara mendengar nama Intan.
__ADS_1
Rianti hanya membalasnya dengan senyuman.
"Silahkan makan! Maaf saya tidak menunggu kalian dulu memesannya. Takut kelamaan"Kendrick mempersilahkan Intan dan Rianti memakan hidangan yang ada.
Sementara Michael masih betah memperhatikan Intan yang begitu cantik dan terlihat seperti orang dewasa malam ini.
"Kenapa kak?"tanya Intan dengan mulut penuh makanan. Pasalnya dari tadi Michael memperhatikan dirinya terus.
"Gapapa, kamu cantik"puji Michael sembari menghapus sisa makanan di sudut bibir Intan yang membuat gadis itu mengerjap mendapat sentuhan mendadak dari Michael.
Sementara Rianti dan Kendrick yang melihatnya saling padang kemudian tersenyum bersamaan.
"Oh, iya Intan. Kamu rencananya lulus sekolah mau lanjut kemana?"tanya Kendrick sembari menyeruput kopi panasnya.
Intan menoleh Rianti sejenak kemudian melihat Kendrick
"Rencananya Intan mau langsung kerja Om"jawab Intan.
"Loh,kamu nggak pengen kuliah ke Australia atau Jepang gitu?"
"Maunya sih gitu Om, tapi Intan rasa kondisi tidak memungkinkan kalau Intan kuliah di luar negeri"Intan mlirik Rianti sekilas, melihat reaksi wanita itu seperti apa. Dan benar dugaannya, wanita itu menatapnya dengan tajam seakan memperingatinya agar tidak bicara macam-macam.
"Intan anaknya suka gitu Ken, dia nggak mau ngerepotin orang tua. Aku sebenarnya juga pengen dia kuliah jadi orang hebat, tapi Intan sendiri yang memutuskan untuk langsung bekerja. Aku sebagai Ibunya hanya bisa mendukung apa yang ia inginkan"tutur Rianti mengusap kelapa Intan sambil tersenyum.
Dalam hati Intan sedang tertawa mendengar perkataan Rianti yang lembut dan sok prihatin. Gadis itu hanya bisa tersenyum dan tersenyum menutupi kegundahan hatinya.
"Kalau kak Michael sendiri, setelah lulus SMA mau lanjut kemana?"tanya Intan balik.
"Om pengennya Michael lanjut studi ke AS. Tapi dianya nggak mau karena kejauhan katanya"
"Iya Tan, lagian kuliah disini atau di luar negeri sama saja"sambung Michael.
🦋🦋🦋
Sementara itu di sisi lain Nawan baru saja melangkahkan kakinya menuju ruang IGD tempat temannya di rawat.
Nawan berjalan sambil mengetik sesuatu di ponselnya sehingga ia tak sengaja menabrak tubuh seseorang.
Bruk...!
"Woi jalan hati-hati, pakai mata!"sambar gadis itu menahan bahu Nawan.
"Maaf, Be-bening ?"Nawan terkejut saat melihat gadis yang di tabrakannya adalah sahabat adiknya sendiri.
"Nawan? Lo-lo ngapain disini?"tanya Bening tergagap.
"Gue jenguk teman"jawab Nawan ingin melanjutkan langkahnya lagi. Namun, Bening menahannya.
"Setelah lo jenguk teman lo, temui gue di warteg sebrang jalan. Ada yang mau gue omongin"
"Omongin aja sekarang"
"Nggak bisa"
"Oke, jam 21.00 gue kesana"
Setelah memberi makan dan membayar administrasi perawatan temannya,Nawan pamit.
__ADS_1
"Riv, gue pulang, besok kesini lagi"
"Oh,iya makasih Wan. Gue nggak tau kalau nggak ada lo, entar kalau gue udah ada duit. Duit lo gue ganti"ucap Rival teman dekat Nawan.
Rival ini hidup sebatang kara, ia berteman dengan Nawan semenjak mereka SD hingga sekarang. Tak hanya sekali, Nawan sering membantu dan menolong Rival mencari pekerjaan sebab pria itu putus sekolah. Begitupun sebaliknya, jika Nawan membutuhkan sesuatu Rival siap membantu.
*******
Sesuai janji, Nawan pergi ke warteg sebrang jalan di dekat rumah sakit.
"Lo mau ngomong apa?"tanya Nawan menatap Bening yang berada di depannya.
"Teman lo kenapa?"tanya Bening yang ingin mengalihkan pembicaraan.
"Kecelakaan"
"Parah nggak?"
Nawan mengerutkan keningnya. Kenapa malah membahas hal yang tidak penting? Pikir pria itu.
"Gue nggak ada waktu buat ngomongin hal yang nggak penting. Cepat katakan apa yang lo mau omongin"ucap Nawan dingin.
"Ck... Sok sibuk"cicit Bening yang tentunya bisa di dengar oleh Nawan.
"Oke, jadi....."
"Mungkin menurut lo ini nggak penting. Tapi menurut gue ini penting, jangan menganggap gue kaya cewek di sekolah yang ngasih coklat,jam tangan,kotak makan apa segala macam. Gue bukan salah satu dari mereka!"
"Bisa nggak langsung ke intinya?"
"Gue suka sama lo dari gue kenal Intan, gue cemburu kalau ada cewek yang dekat sama lo
Terserah lo bilang gue gila karena gue emang udah gila karena lo"ucap Bening tanpa jeda.
"Gue cuma mau ngutarain perasaan gue. Jadi pulanglah jangan katakan apapun! Yang nyakitin hati dan gue tau lo nggak bakal balas perasaan gue"tambahnya lagi sambil membuang muka. Malu? iya, tapi gadis seperti Bening sangat jujur akan perasaannya.
Akhirnya Bening mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Jujur, Bening diam-diam mengamati Nawan. Setiap pergerakan pria itu lakukan, Bening tau.
Sementara Nawan yang mendengar langsung dari mulut Bening secepat kilat,memandang gadis itu risih.
"Dari mana lo tau jawaban gue? Lo aja nggak nanya apa-apa sama gue"
"Nggak usah sok polos lo!"Masih dengan masih posisi membuang muka. Ia tak mau memandang wajah Nawan yang akan membuatnya jengkel.
"Maaf ya, gue nggak bisa balas perasaan lo"
"Gue pulang duluan"pamit Nawan sembari mengusap kepala Bening kemudian berlalu pergi.
Deg... Deg... Deg...
"Nggak usah pake acara usap kepala elah! Gue baper!"umpat Bening menatap kepergian Nawan.
Lesu,gelisah,gundah gulana,pengen Deat! Mungkin itu kata-kata untuk hati Bening sekarang.
.
.
__ADS_1
Note :Yang bilang lebay (memang lebay)