Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Kedatangan Nawan


__ADS_3

Keesokan harinya Intan di kejutkan oleh kedatangan Nawan di rumah Fany di pagi hari. Sungguh gadis itu sangat terkejut dengan kedatangan Kakaknya.


"Bagus ya! udah mulai berani pergi sendiri sekarang. Di telepon juga nggak di angkat, main pergi-pergi aja nggak bilang-bilang"ucap Natta menatap Intan yang kini menunduk dalam. Ia tahu Kakaknya sedang marah besar.


"Tapikan aku ud---"


"Apa? Udah apa? Kamu pikir dengan secarik kertas itu bisa buat aku percaya? Kamu tau nggak aku khawatirnya gimana? Sementara kamu belum pernah pergi sendiri kemana-mana Intan!"ucapnya dengan mata yang memerah, bagaimana tidak? Adiknya pergi diam-diam tanpa sepengetahuannya lalu setelah di hubungi nomor teleponnya tidak aktif. Siapa juga yang tidak khawatir?


"Kalau kamu mau ke Jakarta bilang ke Kakak! Nggak usah main pergi-pergi gitu aja, Kakak khawatir Intan! Takut terjadi apa-apa sama kamu!"


"Aku udah dewasa Kak! Aku bukan Intan yang masih umur 18 tahun, aku bisa jaga diri! Lagian aku udah punya KTP,SIM dan paspor yang bisa membuat aku bebas kemana aja"dari dulu Nawan selalu menganggapnya masih anak kecil sampai saat ini. Ia tetap di perlakukan seperti itu, mulai dari makanan,waktu dan hidup pun juga harus atas izin kakaknya.


"Mau sampai kapan Kak Nawan nganggap aku anak kecil terus?"


Nawan terdiam sejenak. Lalu pria itu menunduk dalam.


"Aku hanya khawatir Intan, aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Sudah cukup Mama pergi, jangan kamu lagi, aku tau kamu sudah dewasa. Sudah seharusnya kamu bebas jalani kehidupan kamu sendiri, tapi untuk aku. Kamu masih anak kecil, yang entah mengapa setiap meninggalkannya aku selalu khawatir takut akan terjadi hal yang tidak terduga"


"Hanya kamu satu-satunya yang aku punya Tan"lanjutnya menatap mata Intan dengan berkaca-kaca.


Pria bernama lengkap Nawan Pramestia itu memang sangat menyayangi sang adik, bisa di katakan Nawan adalah seorang kakak yang posesif. Ia tidak mau Intan pergi tanpa sepengetahuannya, ia tidak mau Intan disakiti orang lain. Karena sudah cukup baginya Intan menderita di usianya yang remaja, di tambah lagi ia kehilangan sang ibu tanpa di duga. Itu membuatnya trauma.


"Maaf udah buat Kakak khawatir. Salah aku juga karena nggak terima telepon dari Kakak dan nggak memberi kabar"


*****


Disisi lain, Fany mencegah Bening untuk keluar dari kamar. Sebab Intan menyuruhnya melarang Bening untuk keluar kamar karena ia tak mau Nawan melihat Bening ada disini, ia tak mau membuat sang kakak terluka.


Dan Ya, Bening juga menginap di rumah Fany. Mereka menghabiskan waktu bersama karena sudah lama sekali tidak bertemu.


"Ada siapa sih di luar? Pagi-pagi begini udah bikin ribut aja"protes Bening sembari mengutak-atik ponselnya.


"Itu ada pacar Intan datang, biasalah.... pertengkaran kecil"kilah Fany sembari memperhatikan sahabatnya itu. Memastikan jangan sampai keluar dari kamar.


"Bang Natta?"tanya Bening sembari berdiri yang membuat Fany refleks juga ikut berdiri.


"Iyalah siapa lagi"gadis itu berusaha tenang melihat Bening sedang mencari sesuatu di meja TV.


"Lo ada liat chager gue nggak? Hp gue lowbat"Bening sambil terus mencari ke penjuru kamar.


"Nggak tau, lo letakkinnya dimana?"Fany juga turut mencari di tempat tidur. Lantai kamarnya sudah seperti kapal pecah, dimana ada remah-remahan camilan yang berserakan serta beberapa botol minum di lantai bekas mereka party kecil-kecilan malam tadi.


"Di colokkan kali atau di tas lu"


Bening diam sejenak, mencoba mengingat-ingat.


"Ooiyaa! Di tas gue soalnya malam tadi gue pakai punya si Intan!"gadis itu segera menuju keluar kamar. Fany benar-benar terkejut, ia dengan cepat menghalangi langkah Bening.


"Mau kemana?"


"Ambil tas gue di ruang tamu"


"Jangan dulu kan ada Bang Natta, nggak enak kalau ganggu mereka"


"Yaelah gue cuman ambil tas doang di kursi, nggak mau ngapa-ngapain juga"Bening hendak menepis tangan Fany yang menghadang.

__ADS_1


"Yaudah pake punya gue aja!!"cegah Fany menempelkan badannya ke pintu.


"Nggak cocok Fan! Kita beda tipe HP! Hp gue android!"Bening mulai emosi "lo kenapa si? Kaya orang ketakutan gitu?"tanya Bening heran dengan ekspresi Fany "minggir lo!"sergahnya berusaha menerobos.


"Tapi kalau nggak salah gue punya chager Android di laci deh"Fany menarik tangan Bening menuju meja hiasnya kemudian mencari di beda tersebut di laci.


Bening mutar bola matanya jengah. Kesal sekali sampai harus mencari di laci sebanyak itu. "udahlah, tinggal gue ambil di tas aja susah banget!"ucapnya melepaskan tangan Fany, kemudian berlari menuju luar.


"Nining!!"pekik Fany mengejar gadis itu. Namun terlambat, Bening sudah sampai di ruang tamu.


Seketika suasana canggung menyelimuti ruang tamu tersebut. Intan yang tengah berbicara dengan Nawanpun terkejut atas ke munculan Bening tiba-tiba, sementara Fany menepuk jidatnya merasa bodoh karena gagal mencegah Bening keluar.


Bening tampak terpaku sejenak, Nawan juga terdiam. Kelihatan dari wajahnya, pria itu juga terkejut melihat wanita yang selama ini ia rindukan tiba-tiba di depan matanya.


Fany melihat bola mata Intan yang seakan menyuruhnya untuk membawa Bening. Fany-pun dengan ragu-ragu mengambil tas Bening di samping Nawan kemudian menyeret gadis keras kepala itu ke kamar.


"Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?"tanya Nawan tiba-tiba.


Langkah Bening terhenti begitu pun dengan Fany yang bingung dengan keadaan ini.


Bening berbalik, sementara Fany dan Intan bingung harus bagaimana.


"Bukankah aku yang seharusnya bertanya? Tapi aku rasa itu tidak penting sekarang"


"Eeee kayanya kalian butuh waktu ngobrol berdua"Intan rasa sang kakak ingin berbicara pada Bening.


"Nggak usah Tan, nggak ada yang perlu di bicarakan"ucap Bening sinis.


"Tapi aku perlu bicara sama kamu"sambung Nawan.


"Tidak mau duduk?"ucap Nawan melihat Bening berdiri sambil melipat tangannya.


"Berdiri aja, aku nggak ada waktu buat mengenang semuanya"ucapnya sedikit cetus.


"Kemarin aku ada liat kamu di rumah sakit sama seorang dokter. Dokter itu pacar kamu ya?"


"Bukan urusan kamu"walau sebenarnya Bening sangat terkejut dengan pertanyaan pria itu.


Nawan diam sejenak, banyak yang ingin dia katakan namun bingung harus mulai dari mana "Bening....."panggilnya dengan suara tercekat.


Bening menoleh, menatap mata pria itu yang menunjukkan kesedihan.


"Sekarang aku benar-benar jadi pria bodoh yang melepas wanita sebaik kamu Ning. Maaf atas kebodohanku"ucapnya menunduk "Tapi aku tidak menyesal atas apa yang aku lakukan, aku kesal saja karena hubungan kita berakhir seperti ini"


"Hubungan? Kamu bilang hubungan? Apa pantas hubungan 2 tahun tanpa kabar di sebut hubungan? Kemana aja dua tahun ini? Kamu senang-senang disana sementara aku mati-matian menunggu kabar dari kamu! Kamu jahat Nawan"


"Setidaknya kamu memberi kabar! Menelpon atau mengirim pesan walau sesingkat apapun. Biar aku tau kamu masih ada untuk aku!"


"Aku tau aku salah, tidak ada kata lain selain minta maaf. Aku punya alasan di balik itu semua"


"Alasan? Alasan apa yang membuat kamu tidak bisa kasi aku pesan singkat hah?"


"Aku tidak bisa mengatakannya"


"Oke baik, lagi pula tidak ada gunanya lagi bertanya pada orang yang bukan lagi siapa-siapa"

__ADS_1


Bening berlalu.


"Tapi kamu harus tau bahwa perasaan aku tidak akan pernah berubah. Aku mengharapkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terwujud"ucap Nawan tiba-tiba yang menghentikan langkah Bening.


******


- Cafe Natta


Dor.... Dor.... Dor....


Intan sudah setengah emosi karena Natta juga tak kunjung membuka pintu rukonya. Nawan yang melihat Intan mengumpat kesal memegang kepalanya karena pusing sejak tadi.


Tak lama kemudian Pintu terbuka yang menampakkan si empu ruko yang sedang memakai lilitan handuk di pinggangnya.


"Aaaahhkkk!"jerit Intan kaget melihat Natta bertelanjang dada.


Natta juga ikut terkejut mendengar teriakkan Intan.


"Lo budeg apa gimana sih? Lama banget buka pintunya"protes Nawan langsung menerobos masuk diikuti Intan yang mengekor Kakaknya sambil menutup mata setengah.


"Lo nggak liat gue habis mandi? Lagian nggak kedengaran. Orang guanya di atas"ucap Natta sembari berjalan ke arah kulkas kemudian meminum air dengan rambutnya yang masih basah.


Glek......


Intan menelan ludah melihatnya, tadinya ia ingin marah dan memaki-maki pria itu karena lama membuka pintu. Tapi kini ia di buat terkaget-kaget dengan penampilan Natta yang menggoda imannya.


"Mata kamu!"tegur Nawan menutupi mata adiknya yang memandangi Natta sampai tak mengerjap.


"Ahh iyaa astagfirullah!"ucapnya menunduk.


"Lo ngapain masih pake handuk? Sengaja mau pamer tubuh?"


Natta jadi melihat dirinya yang bertelanjang dada lalu kemudian terkekeh tanpa dosa.


"Gue nggak pernah pamer tubuh ke orang sih, tapi.... Kalau ke pacar boleh lah yaa"Natta mendekat ke Intan yang mengalihkan pandangannya.


Gadis itu mengatur napasnya, jangan sampai asma kambuh hanya gara-gara melihat yang beginian.


"Kamu ngapain? Aku nggak tergoda! Sana pake baju!"cetus Intan menatap datar Natta. Namun sebenarnya jantung bergelonjak.


"Ah masa? Coba sini tatap mata aku"


.


.


.


.


.


.


Cobaan! Cobaan!

__ADS_1


__ADS_2