
Matahari tampak bersinar terang sambutan kicauan burung di pagi hari menandakan akan ada cerita baru di setiap harinya. Intan melepas helm memberikannya pada Nawan, ia membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan terkena angin memandang wajah imut itu di spion motor. Nawan menarik sudut bibir melihat Intan selalu tersenyum, meskipun ia tahu kehidupan yang Intan jalani tak mudah.
Keduanya berjalan di koridor sekolah, seperti biasa mereka menjadi pusat perhatian para siswa. Mereka mengira Intan dan Nawan berpacaran, sebab setiap kali pulang sekolah maupun pergi Intan selalu bersama Nawan. Nama Intan dan Nawan terbilang cukup populer di sekolah apalagi Nawan yang notabenenya pria tampan yang memiliki banyak penggemar disekolah. Seringkali gadis terang-terangan menyatakan cinta pada Nawan, namun pria itu menolak mentah-mentah semua gadis yang menyukainya. Dan tidak ada yang mengetahui Intan dan Nawan adalah saudara tiri kecuali Fany dan Bening. Sebab Rianti merahasiakannya ia tidak mau semua orang mengetahui bahwa ia mempunyai anak tiri,setiap ada pertemuan wali murid, bibi Anni'lah yang hadir sebagai wali Intan.
"Intan !"Panggil Fany, gadis cantik berambut kepang dua itu menggandeng tangan Intan menyeretnya masuk ke kelas.
"Kak, Intan duluan"Pamit Intan yang di jawab anggukan oleh Nawan. Pria itu juga berjalan menuju kelasnya.
"Taukah kalian, ada berita penting hari ini ?!"Seru Fany dengan heboh sambil mengipas dirinya sendiri dengan buku. Sementara Intan sudah duduk di samping Bening sambil menopang kepalanya dengan dagu.
"Berita apa lagi kali ini? berita lo nggak ada yang penting tau nggak!"Ucap Bening menatap Fany jengah, ia sudah cukup muak mendengar cerita temannya itu yang menceritakan ketampanan Park Seo-Joon yang di tonton'nya di drama Korea.
"No! no! ini bukan tentang Ahjussi,ini tentang Intan"
"Intan? ada apa dengan Intan?"Tanya Bening.
Fany langsung mengeluarkan ponselnya dari saku, membuka sosial media kemudian memperlihatkannya pada Bening dan Intan.
"Lo kenal dia?"tanya Fany, menunjuk foto seseorang di ponselnya.
"Hmmm, pernah liat. Tapi dimana ya?"Intan mencoba mengingat dimana ia bertemu pria yang ada di foto itu "Intan nggak ingat"
"Ya ampun Intan! dia itu ketua Osis di sekolah kita namanya Michael. Dia suka sama lo Intan !"
"Lo tau dari mana dia suka sama Intan?"Tanya Bening.
Dengan semangat, Fany mengutak-atik ponselnya lagi.
"Ini postingannya, dia lagi foto di lapangan basket.Kalian coba zoom deh orang di belakangnya, itu Intan! Dan caption-nya 'Melihatnya tersenyum dari jauh saja, sudah membuatku bahagia. Apalagi memilikinya' "
"Oh, Intan ingat! waktu pas jam olahraga, Intan nabrak dia"
"Terus-terus?"
"Ya Intan minta maaf karna jalan nggak liat-liat"
"Terus?"
"Terus-terus apa lagi? Kaya tukang parkir aja"
"Dia nggak ada respon apa-apa gitu? Senyum kek,kenalan kek atau apa gitu?"Ucap Fany menggebu-gebu, soal seperti ini gadis itulah paling heboh.
Intan menggeleng "Dia senyum sih, tapi---"
"Fiks! dia naksir sama lo!"potong Fany.
"Oh..."
"What? Oh doang?"
"Terus Intan harus gimana?"
"Ya ampun Intan! lo nggak liat dia itu ganteng? udah gitu pintar lagi. Kalau Fany jadi Intan nih ya, udah Fany deketin tuh"
"Siapa yang ganteng? siapa yang mau dideketin?"Ucap Janu (pacar Fany) tiba-tiba datang, pria itu menatap Fany yang gelagapan.
"Eh ayang! udah sarapannya?"Kekeh Fany sembari menggandeng tangan Janu.
"Siapa yang mau dideketin?"Tanyanya lagi.
"Mampus lo!"Ucap Bening.
__ADS_1
****
Bel berbunyi tanda waktu jam istirahat tiba, semua murid bertebaran keluar dari kelas menuju kantin tempat mereka mengisi perut.
"Tan..."Fany menyenggol lengan Intan, matanya mengisyaratkan Intan untuk menoleh ke sampingnya.
Intan pun menoleh, ternyata ada Michael yang sedang memperhatikannya. Tak perduli, Intan lanjut memakan cemilannya sambil mengobrol bersama Bening.
Lain lagi dengan pria satu ini, ia mencari Intan di kelas namun tidak ada. Ke kantin biasa juga tidak ada, tenyata di lapangan basket ia menemukan Intan.
"Gue ada les tambahan hari ini, pulang agak telat,jadi lo pulang sendiri aja"Ucap Nawan, sebab Minggu depan akan diadakan try out.Pria itu mengambil sedikit cemilan Intan kemudian berlalu pergi, Nawan memang tidak suka basa-basi.
"Sebenarnya Nawan itu kaya apa sih?"Tanya Bening heran, semenjak ia mengenal Intan ia penasaran pada sosok Nawan yang sifatnya berubah-ubah.
"Nggak tau, Intan juga heran sama Kak Nawan. Kadang baik, kadang jahat, kadang peduli sama Intan, tapi dia seakan nggak mau Intan tau kalau dia peduli sama Intan. Bahkan dia bisa berubah jadi jahat-sejahatnya dalam hitungan detik" Tutur Intan memandang punggung Nawan yang lama-lama menjauh itu.
Bening dan Fany hanya bisa menghela nafas,mereka kasihan pada Intan. Semenjak Papinya meninggal, Intan tidak seperti dulu lagi. Setelah kehilangan ibunya di saat melahirkan, ia harus kehilangan ayahnya lagi di saat Intan membutuhkan kasih sayang.
"Hei, jangan sedih"Tiba-tiba Michael duduk di samping Intan, melihat gadis itu meneteskan air mata Michael tertarik mendekatinya "Kalian kelas sebelas IPA 2 kan?"
"Iya"jawab Fany cepat sambil tersenyum girang.
"Michael"Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Intan yang langsung di sambut oleh Fany. Gadis itu dengan centilnya menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Fany Anandita, panggil aja Fany"Ucap gadis itu antusias tanpa melepas tangan Michael yang kikuk karena Fany tak melepaskan tangannya.
"Udah!"akhirnya Bening pun turun tangan. Ia melepas tangan Michael dari Fany yang kini cemberut.
"Nama lo---"
"Bening"potong Bening singkat.
"Beda bicara kalau sama orang yang suka mah, sok-sokan pake aku-kamu" batin Fany.
"Intan"jawab Intan cepat.
"Emmm maaf tadi gue nggak sengaja denger, lo di suruh pulang sendiri sama Nawan ya?"Tanya Michael yang di jawab anggukan oleh Intan.
"Nanti gue tunggu di pintu gerbang ya, biar gue antar lo pulang"
"Lo sekelas dengan Nawan'kan? Lo nggak ada les tambahan?"Tanya Bening menatap penuh selidik.
"Jadwal les tambahan gue besok, bukan hari ini"balas Michael kemudian menatap Intan "Gue tunggu" lanjutnya berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Intan.
****
Pulang Sekolah
"Hai, sorry lama nunggu yah?"tanya Michael yang tengah mengendarai motornya "Naik"ucapnya menyuruh Intan naik.
"Padahal kakak nggak perlu antar Intan pulang, Intan bisa naik ojek kok"rasanya Intan tidak mau naik,ia belum cukup kenal dengan pria itu. Bagaimana Intan di apa-apain di jalan? Bagaimana kalau Intan di bawa ke rumahnya seperti yang ada di film-film? Pikir gadis itu kalang kabut.
Mau tak mau Intan pun naik,memegang jaket pria di depannya supaya tidak kehilangan keseimbangan.
Di perjalanan keduanya saling diam, hanya ada suara deru kendaraan yang berlalu lalang.
"Kak, berhenti disana! Intan mau beli es krim"tunjuk Intan pada penjual es krim di tepi jalan. Michael tersenyum mendengarnya, ia cepat melanjukan motornya dan berhenti di tempat tersebut.
"Kak Michael mau rasa apa?"
"Samain aja"balas Michael. Intan mengangguk kemudian memesan es krim rasa cokelat dua pada penjualnya.
__ADS_1
"Kamu sering kesini ?"tanya Michael, mereka duduk di bawah pepohonan rindang.
"Iya, dulu Intan dan papi sering makan es krim disini. Sekarang pun masih sama, Intan suka es krimnya"
Michael mengangguk menanggapi, gadis ini benar-benar polos pikirnya
"Selain suka es krim, Intan suka apa?"
"Terimakasih"ucapnya pada penjual es krim, ia memberikan satu cup es krim pada Michael yang menerimanya "Intan suka Marshmellow sama Shushi"jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu kaya anak kecil, makannya belepotan"Michael menyeka sisa es krim yang tertinggal di sudut bibir Intan.
Gadis itu membeku sejenak mendapat sentuhan Michael.
"Kak"
"Hm ?"
"Kak Michael suka sama Intan?"tanya Intan yang membuat Michael tersenyum meletakkan es krimnya ke meja.
"Iya"jawab pria itu terus terang, menatap lekat wajah Intan.
"Kenapa bisa suka sama Intan? Dan sejak kapan?"
"Kakak suka apa yang ada di diri Intan. Intan tertawa, tersenyum dan bermain dengan teman-teman Intan. Kakak suka sama Intan sejak kita bertemu di supermarket"
"Supermaket?"
"Iya, waktu itu Intan lagi nyari Marshmellow, ternyata Intan lupa bawa uang. Intan nggak ingat kakak yang waktu itu bantu bayarin ?"
"Oh, jadi kakak cowok waktu itu !"Seru Intan baru mengingatnya.
Michael mengangguk kemudian meraih tangan Intan.
"Apapun jawaban Intan, kakak terima. Apa Intan mau jadi pacarnya Michael?"
Intan ikut meletakkan cup es krimnya yang hampir habis ia lahap.
"Hiks..."
"Kenapa nangis?"
"Ke-kenapa harus Intan? kakak itu baik, s-sayang kalau di tolak hiks.... tapi masalahnya. I-Intan nggak bisa balas perasaan kakak hiks..."Ucap Intan sambil terisak.
"Nggak apa-apa, perasaan itu nggak bisa di paksain"Ucap Michael sambil mengusap air mata Intan.
"Udah, jangan nangis. Masa gitu aja nangis sih? dasar cengeng!"
"Intan itu nggak cengeng, tapi terharu. Kok bisa manusia kaya Intan bisa disukai orang kaya kakak"
"Iya-iya terserah. Jadi kakak di tolak nih?"
"Huaaaa maaf ya!"
.
.
.
Note : Maap sedikit lebay ya!
__ADS_1