
Setelah bercengkrama ringan di perjalanan tak terasa Intan dan Michael tiba di halaman rumah Intan.
"Makasih udah ngantarin Intan pulang, kakak nggak mau mampir dulu ?"tawar Intan.
"Nggak, kakak langsung pulang aja ya"
"Yaudah kalau gitu hati-hati di jalan"
Michael tersenyum mengangguk.
"Iya,kamu juga jangan lupa makan"ucap pria itu mengusap kepala Intan. "terimakasih untuk hari ini"lanjutnya melajukan motor, menerobos jalanan sepi itu dengan perasaan tak menentu. Antara kecewa,sakit dan merelakan semua menjadi satu, tapi ini baru awal. Intan baru mengenal dirinya, bukankah wanita itu suka pria yang membuatnya nyaman dan bahagia?
Ya, Michael akan melakukan itu.
Sementara Intan terpaku sejenak, melihat pria itu lama-lama menjauh dari pandangannya. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas saat tiba di kamar.
"Apa Intan menyakitinya? Apa dia terluka? kok bisa kak Michael suka sama Intan?"Gumam gadis itu memandang pantulan dirinya di cermin "tapi Intan cantik juga,pantas saja kak Mic suka sama Intan. Ya walaupun otak Intan nggak encer-encer amat, setidaknya'kan Intan cantik"selain hobi menguping ternyata Intan punya tingkat narsis yang tinggi.
"Mau minum apa mas?"
"Terserah kamu aja"
Terdengar suara obrolan seseorang dari lantai satu, kebetulan pintu kamar Intan tidak tertutup jadi suaranya terdengar jelas. Intan pastikan mama tirinya ada di rumah, tapi suara laki-laki itu siapa?
Jiwa penasaran Intan muncul, ia keluar dari kamar melihat siapa yang ada di bawah.
"Mas udah makan?"tanya Rianti sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.
"Belum"jawab pria yang sepertinya seumuran dengan Rianti.
Intan menatap nanar kearah keduanya yang menuju meja makan. Sudut bibirnya tertarik, kebetulan ia juga sedang lapar bukankah menarik jika ia ikut makan bersama? Pikir gadis itu.
"Wah capcay ayam! Mama tau aja Intan lagi mau makan ini"Sambar Intan langsung duduk di antara keduanya.
Rianti menatap Intan tajam, berani-beraninya gadis itu mengganggu acara makan siangnya dengan Kendrick.
"Siapa ?"tanya Kendrick heran melihat Intan tiba-tiba mengambil piring dan menambahkan makanan kedalamnya.
"Hai om... nama aku Intan, an---"
"Dia Intan, anak tiriku"tukas Rianti melototi Intan yang tak peduli dengan tatapan itu. Meskipun sebenarnya ia takut, habis ini ia akan di hukum. Tapi tak masalah pikirnya dari pada nenek sihir itu main seenaknya aja membawa pria lain ke rumah almarhum papinya.
Intan tersenyum seolah membenarkan perkataan Rianti.
"Emmm Mama, Om ini siapa?"tanya gadis itu di sela-sela makanya.
"Saya Kendrick, panggil saja Om Ken"ucap Kendrick yang di angguk'ki oleh Intan.
__ADS_1
Rianti semakin jengkel pada Intan, kenapa harus bertanya-tanya seperti itu? awas kamu Intan !
Pikir Rianti menatap tajam Intan yang hanya memakan makanannya dengan santai.
"Kamu sekolah di SMA Nusa Indah? kelas berapa?"tanya Ken melihat seragam sekolah yang Intan kenakan terasa tak asing baginya.
"Iya om, Intan kelas sebelas IPA 2"jawab Intan.
"Anak om juga sekolah disana,dia kelas 12"
"Oh... ternyata anak om satu sekolah sama Intan"gadis itu mungut-mungut mengerti.
"Kamu cantik, sopan juga. Kapan-kapan ketemuan sama anak om yah, supaya kalian kenalan. Siapa tau akrab"
Intan tersenyum,ia melirik ke kiri melihat Rianti yang tampak menggeleng-geleng kecil tanda jangan mengiyakan ucapan Kendrick. Namun, ia tak peduli
"Boleh om, terserah om aja maunya kapan"balas Intan tersenyum.
"Aw !"pekik Intan meringis kesakitan akibat injakan Rianti pada kakinya.
"Kenapa?"tanya Kendrick.
"I-itu om semut gigit"dusta Intan memandang Rianti yang tersenyum paksa.
🦋🦋🦋
Usai mengantar kepulangan Kendrick,Rianti menatap Intan yang dadah-dadah melihat mobil hitam milik Kendrick menjauh. Merasakan ada hawa panas yang sedang mengelilinginya, Intan cepat-cepat mengambil ancang-ancang untuk berlari. Ya, gadis itu berlari menuju kamarnya namun ia kalah cepat, Rianti sudah mencengkram erat tangannya terlebih dahulu.
"Berani-beraninya kamu mencampuri urusanku !"hardik Rianti mendorong Intan hingga dia terjatuh di rerumputan. Wanita yang di selimuti amarah itu mengambil selang air menyiram Intan yang kini basah kuyup.
"Apa urusanmu hingga kamu bertanya siapa dia? Kamu pikir kamu siapa?!"
"Kamu disini tidak memiliki hak lagi gadis bodoh!" Rianti kembali melayangkan pukulan memakai selang air itu.
Sementara Intan hanya pasrah dengan keadaan, ia menikmati setiap pukulan yang Rianti berikan. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan luka yang ada dihatinya saat melihat papinya meninggal Rianti malah tertawa seakan hari kematian papinya'lah yang mereka tunggu-tunggu.
"Kenapa kau tidak pergi saja dari rumah ini? hm?"
Plak !
Tamparan melayang kembali pada pipi mulus itu.
"Karena ini rumah papi aku! bukan rumah kamu! kamu disini hanya numpang! Ingat cuma numpang! aku tidak akan pergi selama kau belum pergi dari rumah ini ! Kamu seenaknya membawa lelaki ke rumah ini ! kamu pikir rumah ini milik kamu ?!"
Plak !
Satu tamparan lagi wanita itu layangkan "Kamu bilang sekali lagi, aku bunuh kamu !"
__ADS_1
"Kamu disini hanya numpang!" Pekik Intan dengan sekuat tenaganya.
Tak ayal, hal tersebut membuat Rianti berang. Ia menoleh kiri kanan, mencari benda yang tepat untuk membunuh gadis di hadapannya.
Barang yang ia cari pun ketemu,ia mengambil cangkul yang berada di balik pohon. Kilatan merah terpancar di matanya.
"Kamu yang ingin sendiri, jadi jangan salah kan aku gadis malang"ucapnya mengangkat cangkul itu. Sementara Intan memejamkan matanya, ia tak berniat ingin kabur atau menghindar.
"Ma !"Teriak Nawan berlari menghampiri Rianti, ia cepat-cepat menyingkirkan cangkul dari tangan mamanya "Mamah keterlaluan!"Nawan mencampakkan cangkul itu jauh-jauh kemudian membantu Intan berdiri.
"Jangan sok baik!"ucap Intan mendorong tubuh Nawan untungnya tubuh pria itu tidak mudah goyah. Intan berlari menuju keluar dengan tetesan air mata yang mengucur deras.
"Kenapa kamu menghentikan Mama! biarkan saja gadis itu mati!"bentak Rianti pada Nawan.
"Kenapa mamah sampai melakukan itu? Coba mah, satu hari aja mamah nggak nyakitin Intan! dia sakit mah, badannya sakit meskipun dia sendiri tidak merasakannya. Tapi Nawan tahu sebenarnya dia itu sakit!"
"Kok kamu jadi bela dia Nawan!"
"Maaf mah, kali ini mamah keterlaluan!"
🦋🦋🦋
Intan berjalan tak tentu arah, gadis itu menangis dalam diam sehingga bahunya naik turun. Ingin rasanya ia mengakhiri semua derita ini. Namun, mengakhiri semuanya tidak akan meredakan masalah yang ada memperumit.
Angin malam terasa menggigit kulit di tambah pakaian basah kuyup membuat Intan kedinginan. Tanpa sadar Intan sampai di sebuah halte bus. Ia duduk disana sendiri,sambil memeluk tubuhnya.
"Tuhan... berilah Intan kekuatan untuk menghadapi semua ini. Intan capek hiks..., Intan pengen Istirahat"gumamnya diiringi sesegukan.
Cukup lama Intan berdiam diri di halte bus tersebut. Kebetulan jalanan sepi tidak ada kendaraan yang lewat. Yang ia dengar hanya bunyi sahutan mahluk hidup di malam hari.(jangkrik)
"Bocil...."panggil seseorang melihat Intan yang menenggelamkan wajahnya di antara lutut dan dada.
Intan mendongak, melihat siapa yang berbicara "Abang..."lirih Intan dengan mata merah dan sayu.
"Lah bener, lu kenapa?"tanya Natta membuka jaketnya menyampirkannya pada tubuh Intan.
Intan menggeleng, gadis itu memang tidak pernah bercerita ke siapapun tentang ini bahkan sahabat-sahabatnya.
"Badan lo dingin, ikut gue"Natta membawa Intan naik motornya.
"Bisa naik nggak?"tanya Natta, saat melihat tubuh Intan melemah.
Memang Intan tak ada lagi tenaga untuk menaiki motor Natta, jangankan untuk menaiki motor berbicara saja terasa kelu lidahnya.
Terpaksa Natta menggendong Intan untuk naik ke motornya.
Tiba di Cafe, Natta memberi Intan air hangat dan makanan. Sementara Intan hanya menurut saja perintah Natta yang menyuruhnya makan dan minum.
__ADS_1
"Ganti baju lo basah"Ucap Natta memberi satu setel pakaian pada Intan yang langsung menerimanya.
"Kamar mandi di sebelah sana"tunjuk Natta, Intan hanya mengangguk sebagai jawaban.