
Setelah hari dimana orang-orang bersenang, esoknya mereka kembali di disibukkan dengan aktivitas biasanya. Hari Senin adalah hari yang paling melelahkan bagi murid-murid, karena harus upacara bendera yang berlangsung kurang lebih 1 jam.
Seluruh siswa diminta untuk turun kelapangan upacara. Mereka menghambur menuju alun-alun sekolah. Intan dan sahabatnya bertemu Nawan dan Michael, kedua pria itu baru saja keluar dari kelas dan hendak menuju lapangan juga. Michael tersenyum melihat Intan yang juga membalas senyumannya, kemudian pria itu mengiringi langkah Intan.
Sementara Nawan, juga turut mengiring langkah Bening yang kini menundukkan kepalanya. Pria itu jadi bingung, kenapa gadis itu menunduk?
Tak lama kemudian Bening melangkah lebih cepat meninggalkan Intan, Fany dan juga yang lain. Nawan mengerutkan dahi, ada apa dengan Bening? Apa dia menghindar darinya? Pikir Nawan.
"Kamu kemana aja? Aku kirim pesan kok nggak di balas?"tanya Michael disela-sela mereka berjalan. Fany yang berada sebelah Intan pun mundur, ia lebih baik beriringan dengan sang pacar yang di belakangnya.
"Iya'kah?"Michael mengangguk.
"Intan sibuk kak, jadi nggak sempat cek hp. Maaf yah"ucap Intan, karena keasikan berjalan dengan Natta membuat Intan lupa mengecek ponselnya.
"Emangnya kak Mic kirim pesan apa?"
"Bukan apa-apa sih, kemarin aku mau ajak kamu jalan-jalan aja"
"Yah, maaf ya. Lain kali aja deh"
"Gapapa lagian hari ini aku mau ke rumah kamu kok"
"Hah?"
"Wan !"Michael memanggil Nawan yang berada di depannya.
"Pulang sekolah Intan sama gue ya. Tante Rianti undang gue ke rumahnya" Michael yang baru tahu bahwa Intan dan Nawan adalah saudara lega rasanya. Setidaknya ia tidak ada saingan untuk mendapatkan Intan.
Nawan maupun Intan terkejut mendengarnya.
"Tante Rianti?"tanya Nawan dengan ekspresi penuh pertanyaan.
"Mama undang kakak ke rumah?"sambung Intan.
"Iya"jawab Michael menatap keduanya bergantian.
"Kok bisa?"tanya Nawan.
"Oh,iya Intan belum cerita. Jadi kak, ternyata anak Om Kendrick itu kak Michael"jelas Intan pada Nawan yang di sambut petikan jari dari Michael seolah membenarkan.
Nawan benar-benar tak percaya, kenapa kebetulan sekali? Kenapa harus Michael teman sekelasnya?
"Jadi pulang sekolah gue sama Intan ya"Michael menaik-naikkan alisnya yang membuat mata Nawan menyipit.
"Lo diam, gue anggap lo setuju!"
"Ngg---'
"Perhatian! Upacara akan segera dimulai ! Mohon untuk masuk ke barisan masing-masing !!"teriak pemimpin upacara dengan lantang.
"Yaudah sana gih, pulang sekolah aku tunggu di depan kelas ya"ucap Michael berlalu pergi masuk ke dalam barisannya begitupun dengan Nawan.
🦋🦋🦋
*
Pulang sekolah
"Lo ngapain ngikutin gue?"tanya Michael menatap Nawan jengah. Pasalnya pria itu juga menuju kelas Intan.
"Terserah gue"ucap Nawan dingin. Pria itu menunggu di depan kelas bersama Michael yang menunggu Intan.
Tak lama, siswa kelas 11 IPA2 pun keluar. Diikuti siswa kelas 11 lain.
"Loh kak Nawan ngapain?"tanya Intan setelah melihat Nawan, sebelumnya pria itu sudah setuju ia pulang bersama Michael.
Nawan tak menjawab matanya sibuk mencari seseorang, dan seseorang tersebut baru saja keluar dari kelas.
Siapa lagi kalau bukan Bening. Gadis itu melihat Nawan sekilas kemudian melanjutkan langkahnya. Fany dan Janu sudah pergi duluan. Sementara Nawan mengejar Bening yang menghindarinya.
__ADS_1
Sedangkan Intan Michael mereka berdua tak ambil pusing. Keduanya juga menuju parkiran.
Sengaja, Michael memperlambat jalan motornya karena ia ingin berlama-lama dengan Intan seperti ini.
"Kita singgah ke toko buah ya"Michael membelokan stang motornya ke arah toko buah di pinggir jalan. Toko tersebut cukup besar, banyak berbagai macam buah didalamnya.
"Buat siapa kak?"tanya Intan pada Michael yang memilih begitu banyak buah.
"Buat mama kamu"
"Padahal nggak usah repot-repot, kak"
"Nggak enak kalau bawa tangan kosong"
Intan tersenyum, memaklumi jika Michael merasa tidak enak masuk ke rumahnya tanpa membawa apa-apa.
*******
"Assalamualaikum tante"ucap Michael setelah tiba di rumah Intan.
Pria itu menyalami Rianti yang tersenyum senang melihatnya. Intan dengan sangat terpaksa juga ikut menyalami Rianti. Tak pernah sekalipun ia bersalaman dengan wanita itu mengingat Rianti sangat kejam padanya. Tapi demi menjaga image depan Michael, tak apa pikirnya.
"Ini buah buat tante"Michael menyerahkan buah yang sudah di rangkai tersebut pada Rianti.
"Terimakasih Mic, silahkan masuk. Tante bikin makanan banyak lho buat kalian"Rianti dengan antusias mengiring Michael menuju meja makan diikuti juga oleh Intan.
"Intan, makan dulu nak. Pasti kamu lapar"ucap Rianti dengan lembut.
Intan ingin sekali tertawa mendengarnya. Ia berpikir Rianti sedang di rasuki oleh roh baik yang lemah lembut.
"Iya mah, Intan ganti baju dulu"ucap Intan melangkah menuju kamarnya.
Gadis itu menatap diri di cermin. Kemudian menyeringai mengingat sifat baik Rianti padanya. Ia baru mengerti apa yang Natta katakan kemarin. Di balik sifat baiknya pasti ada niat terselubung.
Setelah mengganti pakaiannya ia menuju meja makan dimana Michael dan Rianti sedang menunggunya.
"Oiya Nawan kemana ya?"tanya Rianti, Intan baru saja duduk di kursi depan Michael dimana tengah-tengah ada Rianti.
"Oh gitu..., Yaudah kalian silahkan makan. Pasti laper"
Ada berbagai macam menu makanan. Mulai dari sup ayam, acar ikan,capcay dan tak lupa sambal terasi yang begitu memanjakan lidah. Masalah masak, memasak Rianti memang juara. Tapi tak pernah sekalipun ia mengajari Intan untuk memasak.
"Emmm enak Tan"puji Michael yang di balas senyuman dari Rianti.
"Intan suka masak nggak?"tanyanya di sela-sela memakan.
Intan terdiam. Suka masak? Bahkan untuk goreng telur saja Intan masih gosong apalagi masak yang lainnya?
"Nggak"jawab Intan seadanya.
"Intan itu sebenarnya nggak bisa masak Mic, tapi dia punya talenta yang bagus. Setiap kali ada perlombaan bulu tangkis, dia slalu jadi juaranya"sambung Rianti.
"Ohya? Tapi Mic rasa Intan bisa masak kok Tan"
"Masak aer?"sambung Rianti dengan kekehannya. Michael juga ikut tertawa.
"Intan nggak tau ya itu pujian atau ejekan. Tapi Intan anggap pujian deh, makasi lho mah, jarang-jarang mama puji Intan gini. Biasanya Intan peringkat 1 aja mama nggak peduli"ucap Intan sembari memakan makanannya dengan santai.
Detik berikutnya,menit berikutnya atau satu jam berikutnya ia tak tahu apa yang terjadi. Apa kan seperti kemarin? Rianti akan menyiksanya?
Ah dia tak peduli.
"Lho kok Intan ngomong gitu sih? Mama itu sebenarnya peduli sama Intan. Mama sayang, cuman Intan aja nggak menyadari itu"
Seketika Intan menghentikan makannya, menguyah secara perlahan. Perkataan Rianti benar-benar menusuk hatinya.
Sayang? Dimana letak sayang itu? Dimana? Kalau di pikir-pikir acting wanita itu tidak buruk. Pikir Intan.
"Iya Intan. Nggak boleh ngomong gitu, mama kamu itu sayang sama kamu"tambah Michael membenarkan. Ini kenapa malah dia yang terpojokkan?
__ADS_1
Mendengar itu Rianti menunjukkan raut wajah sedih.
Wah.... Benar-benar drama Queen!
"Oh gitu ya? Tapi ngomong-ngomong actingnya bagus lho"
"Acting?"tanya Michael berkerut.
"Iya, actingnya Livy Andriani bagus banget, sampai-sampai Intan nggak napsu makan"ucap Intan melihat TV yang menyala menayangkan sinetron ikan terbang. Padahal ia bermaksud menyindir Rianti.
"Intan udah kenyang, kayanya tuh film bagus deh"Intan beranjak menuju ruang tengah, ia mengambil remote dan membesarkan volumenya.
Sementara Michael dan Rianti melihat tingkah Intan menggelengkan kepala.
🦋🦋🦋
Sementara itu Nawan baru saja tiba di rumah sakit terdekat. Pria itu panik, ia menemui Bening tergeletak di jalan tak sadarkan diri. Wajah gadis itu terlihat pucat dengan tubuh yang panas tinggi.
Pihak rumah sakit sudah menangani Bening, sekarang gadis itu terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Nawan menatap wajah cantik, ayu yang terlihat pucat itu. Pikirannya bertanya-tanya, kehidupan seperti apa yang di jalani gadis ini?
Tak lama, sayup-sayup Bening mendengar orang yang sedang berbicara. Ia perlahan membuka matanya, tubuhnya terasa lemas diikuti rasa pusing di kepalanya.
"Mungkin Nawan pulang agak malam mah, mama jangan melakukan kesalahan lagi"ucap Nawan mengakhiri panggilannya.
"Lo kalau mau pulang. Pulang aja"ucap Bening tanpa menatap Nawan.
"Udah sadar lo?"Nawan mendekati Bening menatap wajahnya.
"Ini kenapa?"tunjuk Nawan pada pelipis Bening yang di plester.
"Jangan sentuh!"cegah Bening menatap tajam Nawan yang ingin menyentuh lukanya.
"Jawab dulu kenapa sampai kaya gitu?"
"Harus ya gue jawab?"
"Harus"
"Lo kenapa jadi peduli sama gue? Ngapain bawa gue kesini? Gak usah sok baik!"
"Emang gue di mata lo jahat ya?"tanya Nawan, ia memasukkan tangan kedalam saku celananya sambil menatap Bening yang membuang muka.
"Oiya, kalau gue jahat. Nggak mungkin lo suka sama gue"
"Nggak lagi"
"Yakin nggak suka sama gue lagi? Cepet amat move on-nya"
"Cowok di dunia ini nggak cuma lo doang. Ngapain mengharapkan orang kaya lo!"
Nawan mengangguk-angguk mengiyakan "kata dokter lo kurang tidur, darah lo rendah. Lo ngapain sampai nggak tidur? Mikirin hutang lo kebanyakan? Atau mikirin gue?"
Seketika Bening menatap Nawan tajam, mikirin dia ? Kurang kerjaan sekali pikirnya.
"Aduh jangan di tatap gitu, nanti kegantengan gue luntur"Nawan menatap Bening risih, bola mata gadis itu seakan ingin keluar dari kelopak matanya. Sebenarnya ia berniat untuk menghibur gadis itu.
"Eh mau kemana?"tanya Nawan ketika Bening menuruni ranjang.
"Mau ke toilet, mau ikut lo?"ketus Bening kesal.
"Boleh"
"Coba aja"
"Apanya yang di coba?"Nawan mendekat.
"Stop! Jangan ikut gue!"langkah Bening berhenti ketika Nawan benar-benar mengikutinya.
"Lah tadi ngajak"
__ADS_1
"Bisa jalan nggak?"tanya Nawan melihat Bening berjalan tampak sempoyongan.
"Bisa"