Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Mulai menyadari


__ADS_3

Di Cafe Virra tengah kebingungan karena ada satu pelanggan yang ingin membeli minuman sebab Natta menitipkan Cafenya padanya untuk menjemput Intan. Wanita itu jadi tidak enak karena membuat pelanggan menunggu terlalu lama, apa yang harus ia lakukan? Ia mana tahu membuat Creamy tea orange yang di sebutkan pelanggan itu.


Beberapa saat kemudian wanita itu bernapas lega melihat Natta sudah datang. "Lama banget sih! Dari tadi di tungguin!"kesal Virra mundur satu langkah memberi tempat untuk Natta.


"Hehehe sorry, lumayan jauh soalnya"cengir Natta kemudian bertanya pada pelanggan ingin meminum apa. Setelah itu ia pun mulai meracik minuman tersebut.


"Thanks ya, udah jagain"lanjutnya menoleh Virra sekilas.


"Nggak gratis! Minumannya bikin dua!"ketus Virra.


"Beres!"sahut Natta sembari mengacungkan jempolnya.


Kemudian Virra berlalu dari sana melewati Intan yang dari tadi menyimak percakapan mereka.


Wanita itu tersenyum tipis pada Intan, tanda ia menyapa.


"Lo mau minum apa Tan?"tanya Natta, Intan mendekat.


"Intan ngerepotin bang Natta ya?"tanya Intan balik. Ia jadi merasa tidak enak pada Natta yang jauh-jauh menjemputnya dalam keadaan Cafe buka dan menitipkannya pada Virra.


"Iya"jawab Natta sejujurnya.


"Maaf ya, soalnya Intan nggak ada yang jemput. Kak Nawan udah pulang duluan sama pacarnya, tadi pagi aja Mama Rianti yang nganterin ke sekolah"


"Gapapa, elu'kan hobinya memang ngerepotin orang. Dari kakak lu,pacar lu, nyokap lu sampe ke gue juga jadi tukang antar jemput lo sekolah"


"Heh... Bukan Intan ya yang minta! Mereka sendiri yang nawarin. Ya.... Intan nggak nolak, selagi itu gratis dan mereka ngerasa nggak di REPOTKAN"kesal Intan menekankan kata 'repotkan' tanda ia menyindir Natta.


"Makanya lain kali kalau lagi sibuk bilang aja 'gue lagi sibuk nih, maaf ya nggak bisa jemput' udah! Gitu doang Intan bisa ngerti!"tambahnya merasa tidak terima dia di bilang hobi merepotkan.


Natta tertawa mendengarnya.


"Lagian kenapa nggak pake motor sendiri aja?"tanyanya sembari memberi minuman tersebut pada pembeli yang langsung menerimanya dan kemudian berlalu.


"Kalau pake motor sendirikan enak. Lo bisa kemana-mana tanpa di jemput"Natta bersandar di dinding sambil menatap lawan bicaranya.


Intan yang di tatap terdiam sejenak, terkisap dengan tatapan cool pria itu yang menggetarkan hatinya.


"Iya, besok Intan pake motor aja"jawabnya dengan nada pasrah, kenapa setiap kali Natta menatapnya begitu dalam ia merasa tak berdaya seperti di tatap oleh Cha Eun-Wo di drama.


"Gitu dong nurut, kan cantik lo nambah kalau lo nurut sama gue"ucap Natta mengacak-acak rambut gadis itu hingga berantakan.


"Bang!!"


"Kalau gini makin cantik!"


🌼🌼🌼

__ADS_1


Di rumah sakit Michael menghembuskan napas panjang. Sangat membosankan sekali di ruangan ber-AC dan harum yang khas di ruangan ini. Ingin sekali cepat pulang, dan ia juga sangat merindukan kekasihnya.


Selang beberapa waktu Bening datang memasuki ruangannya dengan membawa pel lantai dan kain lap. Dahi pria itu membentuk kerutan kecil.


"Lo kerja disini?"tanyanya sambil melihat Bening yang sedang mengepel lantai.


"Hmmm"jawab gadis itu tanpa mengalihkan pandangan dari kegiatannya.


"Lo pacar Nawan'kan?"tanya Michael lagi tapi tidak ada jawaban dari Bening. Gadis itu hanya sibuk dengan pekerjaannya.


"Lo pernah berantem nggak sama dia?"lanjutnya.


"Setiap hari"jawab Bening.


"Tapi kok hubungan kalian baik-baik aja?"


"Kenapa? Lo sama Intan nggak pernah berantem?"tanya Bening balik. Ia rasa Michael butuh teman buat ngobrol setelah beberapa lama hanya berdiam diri di kasur.


"Iya"


"Ya baguslah kalau hubungan kalian nggak ada permasalahan"


"Menurut lo hubungan gue sama Intan gimana?"


"Gimana apanya? Ya biasa aja, normal kaya orang pacaran pada umumnya"


"Tapi kok gue ngerasa hubungan gue sama Intan kaya hanya sebatas teman. Dia nganggap gue kaya temannya bukan pacarnya"


Ting....


Tiba-tiba terdengar pesan masuk dari ponsel Michael, ternyata itu pesan dari Intan membalas pesannya yang menanyakan 'lagi dimana?'


Kecewa, itu yang di rasakan oleh Michael saat melihat balasan dari Intan yang mengatakan dia sedang di Cafe abangnya sendiri dan akan kesini setelah makan.


"Tunggu!"cegah Michael saat Bening hendak keluar.


"Gue mau ngomong"


"Gue lagi kerja, nggak ada waktu buat ngomong sama lo"


"Nanti gue bilang ke paman gue, waktu lo di rehat sebentar"


Bening diam sejenak mencoba mencerna perkataan Michael.


"Rumah sakit ini milik paman lo?"tanya Bening yang di jawab anggukan oleh Michael. Ia pikir bukan ide yang buruk, lumayan buat mengurangi waktu kerjanya.


Bening mengangguk-angguk kemudian kembali masuk dan duduk di kursi dekat kasur Michael.

__ADS_1


"Waktu dan tempat di persilahkan"ucapnya siap mendengarkan curhatan pria yang terbaring itu.


"Lu kan teman Intan nih, dia pernah nggak sih cerita tentang cowok yang dia suka?"


"Nggak pernah"jawab Bening seadanya.


"Menurut lo Intan suka cowok kaya apa?"


"Gue nggak tau maksud lo nanya kaya gitu buat apa? Tapi oke.... Gue jawab.


Menurut gue, Intan suka cowok yang bisa buat dia tertawa,nyaman,kesel, dan humoris tentunya. Karena Intan ini orangnya manja dia harus menyesuaikan diri pada seseorang. Dia harus tau kepada siapa dia harus manja dan kepada siapa dia harus biasa aja. Ke elo Intan sering cerita atau manja-manja gitu nggak?"


"Dia nggak pernah cerita atau manja-manja ke gue. Justru sebaliknya gue yang begitu ke dia"


"Berarti Intan belum terbuka ke elo. Dia belum mau terbuka apa yang dia rasakan"


"Maksudnya?"


"Iyaa, misalnya gue punya masalah terus gue cerita ke Nawan masalahnya begini-begini terus cari solusinya bareng-bareng"


"Adapun dia memang belum merasa nyaman cerita sama lo"


"Jadi maksud lo Intan nggak suka sama gue?"


"Mungkin, bisa aja karena keterpaksaan. Emang pas lu nembak Intan, dia bilang apa?"


Baru saja Michael hendak menjawab, tiba-tiba pintu terbuka. Tenyata sang Ayah yang masuk bersama Nawan yang mengekor pria itu. Bening'pun jadi menoleh ke samping dimana ia langsung terkejut melihat Nawan disana yang memandangnya dengan tatapan penuh tanya.


"Gimana kabar kamu? Masih sakit?"tanya Kendrick meletakan barang bawaannya di meja kemudian memandang Michael dengan prihatin.


"Cuman tangan aja Pa yang masih perlu perawatan"jawab Michael.


"Itu siapa?"Kendrick menatap Bening yang langsung berdiri dari duduknya.


"Teman kamu?"lanjutnya.


"Dia pacar aku Om"ucap Nawan sembari merangkul Bening yang meliriknya.


"Tadi kalian ngapain berdua-duaan di sini?"tanyanya menatap Michael dan Bening bergantian.


"Tadi cuma---"


"Aku tanya Michael"tukas Nawan memandang Bening jengah.


"Elah bro! gua sama Nining tadi cuma ngobrol doang. Bosen dari tadi hening mulu jadi gua ajak dia ngobrol"jelas Michael yang melihat kecurigaan di wajah Nawan. Posesif sekali.... Pikirnya.


"Pacar kamu kerja disini Nawan?"sambung Kendrick melihat Bening dari atas sampai bawah yang berseragam OB.

__ADS_1


"Iya Om, dia orangnya pekerja keras. Disuruh diam malah cari kerjaan, udah gitu cantik lagi. Sayang kalau di anggurin cewek kaya gini susah di cari om"tutur Nawan. Ia sengaja memuji Bening di depan pria paruh baya itu supaya Bening tidak di pandang rendah oleh Kendrick, sebab Nawan tau Kendrick adalah tipikal orang yang memandang rendah seseorang dari pakaian, pekerjaan dan siapa dia? Dari mana asal usulnya.


Pria itu mengangguk-angguk menanggapi, sementara Bening tersenyum. Ia tau maksud Nawan berkata demikian, ia sangat bersyukur bisa memiliki Nawan disisinya di saat susah maupun senang. Dengan kehadiran Nawan hidup Bening seperti diwarnai oleh pelangi meski sewaktu-waktu ia sering bertengkar dengan ayahnya. Namun, ia tidak menangis, menyerah atau pun memutuskan untuk mengakhiri hidup. Sekarang ia ada tempat untuk berkeluh-kesah kapanpun selalu ada, ia harap sampai nanti tak akan berubah.


__ADS_2