
"Noh! Cuba tanya sama dia"tunjuk Natta pada Nawan yang sedang duduk di kursi paling pojok, pria itu sedang mengutak-atik laptopnya dengan wajah serius.
Merasa ada yang memperhatikan Nawan menoleh ke depan lalu melihat Natta melambaikan tangan tanda menyuruhnya mendekat. Kening pria itupun berkerut, lalu membenarkan kacamatanya dan kembali bekerja. Ia rasa tidak ada guna jika bergabung dengan mereka.
"Sok sibuk"cicit Natta menatap Nawan kesal.
"Dia memang sibuk"sambung Intan.
"Siapa?"Vira tampak penasaran.
"Kak Nawan, kakak aku"
Vira menoleh kebelakang lagi melihat Nawan yang duduk sendirian.
"Ganteng juga"Vira bingung kenapa bisa Intan di kelilingi oleh orang-orang ganteng ini? Mana saudaranya ganteng juga.
"Jangan, dia lagi patah hati"Intan menatap sedih saudaranya itu. Ia tahu Nawan sedang tidak baik-baik saja setelah bertemu Bening kemarin.
"Emangnya dia deket sama Michael?"
"Mereka sempat satu kelas waktu SMA tapi sekarang gatau deh masih kontek apa enggak sama Ka Mic"
Vira manggut-manggut paham. Sepertinya cerita mereka panjang.
*****
Menjelang malam Natta dan Intan baru saja selesai mengemasi barang di dapur. Mereka sedang bertempur dengan alat masak sejak sore sebab malam ini mereka berencana berkumpul bersama dengan teman-teman Intan.
"Hufffttt capek!"keluh Intan sembari menghela napas kasar.
Natta ikut duduk di samping Intan, pria itu menyelipkan rambut sang kekasih yang menutup sebelah wajahnya yang berkeringat "mandi dulu gih, bau acem"ucapnya memandang wajah cantik nan imut itu.
Intan mencium bau badannya dan memandang kesal Natta "kok kamu tetap wangi?"gadis itu mencium aroma tubuh Natta yang masih wangi. Padahal dia yang banyak gerak sementara ia hanya memotong-motong saja sudah capek dan berkeringat.
"Nggak tau kenapa masih wangi"jawab Natta seadanya karena ia merasa biasa saja.
"Kenapa sih kalau cowok pake parfum itu pasti wanginya nggak hilang-hilang makenya berapa semprot sih? Aku yang hampir setengah botol aja beberapa jam kemudian udah nggak wangi lagi"sebuah fakta, wanita juga bisa mengingat bau si pria yang dekat dengannya. Bahkan hingga seorang laki-laki habis mandi saja bau sabunnya semerbak tapi wanita malah sebaliknya.
"Nggak tau sayang, aku pake parfum cuman 3 semprot doang engga banyak-banyak"
Intan terdiam, ucapan Natta menyentuh lubuk hatinya begitu lembut dan meluluhkan. Akhirnya gadis itu memilih kabur dengan perasaan yang menggebu-gebu.
Tidak! Aku harus terbiasa dengan ini semua.
**
Jam delapan malam mereka sudah datang. Ternyata Bening membawa pacarnya, Intan dan Fany sempat terkejut karena selama ini Bening masih menyembunyikan identitas pacarnya.
"Kenalin pacar gue Reihan"Bening memperkenalkan kekasihnya itu pada temannya.
Natta yang berada dekat dengan dokter muda itupun mengulurkan tangannya. Berkenalan, di ikuti oleh yang lain. Mereka terlibat obrolan, sekedar basa basi tanda perkenalan orang baru.
"Nah kali ini kita akan bermain Truth Or Dare dimana botol ini akan menunjukkan siapa yang di beri pertanyaan dan yang di beri tantangan"
"Dan koin ini akan di putar. Jika melambangkan 500 rupiah merupakan Truth dan jika melambangkan burung Garuda merupakan Dare. Jika tidak bisa menjawab atau melakukan tantangan kalian harus meminum jus pete ini sampai habis"Jelas Intan dengan detail, sebelumnya ia sudah merencanakan permainan ini.
__ADS_1
"Dokter Reihan ingin bermain?"tanyanya.
Reihan menoleh sang pacar yang mengangguk tanda menyetujui.
"Boleh saja"jawabnya.
"Baiklah kita mulai dari sekarang"Intan mulai memutar botol yang membuat semuanya deg-degan kepada siapa tutup botol itu menuju.
"Fany!!"seru Intan.
"Kok aku sih?"kesalnya, kenapa harus dia yang pertama?
"Putar koinnya"Intan memberi Fany koin yang segera memutarnya dan mendapatkan lambang 500 rupiah.
Fany bernapas lega hanya mendapatkan pertanyaan.
"Apa kalian ada yang penasaran tentang hidupnya?"tanya Intan memandang semuanya bergantian.
Tiba-tiba Natta mengangkat tangan tanda ingin bertanya. Dahi Intan berkerut melihatnya kira-kira hal apa yang akan di tanya pacarnya itu pada Fany?
"Bang Natta mau nanya apa? Tumben amat?"Fany terlihat tidak ramah.
"Jujur lo pernah atau nggak suka sama orang lain selama sama dia?"tunjuk Natta pada Janu yang terkejut atas pertanyaannya termasuk Intan juga.
"Pertanyaan apaan itu?!"ucap Janu kesal.
Fany meletakkan telunjuknya di bibir sambil menoleh Janu tanda pria itu harus diam "Jujur sih gue sering banget suka sama orang, sekarang aja gue lagi suka sama orang lain"jawab Fany santai yang sontak membuat semuanya terkejut.
"Yank beneran?"tanya Janu takut.
"Halah-halah banyak drama lo Fan, skip deh skip!"kesal Bening menyuruh Intan melanjutkan permainannya.
"Yang pentingkan orang"cicit Fany sembari mengunyah makanan. Natta menggeleng melihatnya, ia bukan penasaran hanya ingin tau saja.
Intan memutar botol kembali yang berhenti pada dokter Reihan dan mendapatkan lambang 500 rupiah lagi "siapa yang ingin bertanya pada dokter Reihan?"tanya Intan.
"Gue!"seru Fany mengangkat tangan. Bening yang melihat pun melotot tajam pada Fany yang menghiraukannya sebab perasaan gadis itu tidak enak dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabatnya itu.
"Pak dokter sama Bening ketemu dimana? Udah berapa lama? Apa yang pak dokter sukai dari Bening? Kenap----"
"Lo mau nanya atau mau wawancara Fan?"tukas Intan.
"Ya nanyalah"
"Hanya satu pertanyaan aja Fan"
"Lagian ngapain lo nanya-nanya soal itu segala? Kepo banget!"protes Bening.
"Ya terserah guelah gue yang nanya"Fany tak kalah sinis.
"Tidak apa, saya akan menjawabnya"sambung dokter Reihan "saya dan Bening bertemu di rumah sakit pada saat itu dia bekerja disana dan saya jatuh cinta. Hubungan kami belum lama, baru berjalan lima bulan dan saya menyukainya karena dia baik dan berbeda dari pada wanita biasanya"Reihan tersenyum pada kekasihnya yang juga tersenyum. Bening senang mendengarnya.
"Owh.... Cinta lokasi"ucap Fany.
Permainan mereka berlanjut dengan keseruan yang di buat oleh Intan. Sesekali mereka berdebat kemudian tertawa, ada yang tidak mau melakukan tantangan hingga membuat mereka meminum jus berbau itu.
__ADS_1
******
Di sisi lain Vira sedang kesal dengan mobilnya yang tiba-tiba mogok di perjalanan. Ia hendak pergi ke cafe Natta, sebab pria itu juga menyuruhnya untuk kesana. Tetapi di perjalanan yang sepi tak ada seorangpun Vira bingung harus bagaimana, ia tak pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya hingga tak ada persiapan khusus. Ia juga bingung harus menghubungi siapa, tidak mungkin juga menghubungi Natta karena pasti sudah sibuk dengan kegiatannya.
Namun beberapa saat mobil melaju ke arahnya, dengan keberanian penuh tanpa rasa takut Vira menghadang mobil tersebut yang segera ngerem mendadak hingga orang yang di dalam mobil terpental.
"Maaf! Bisakah anda menolong saya?"ucapnya setengah berteriak, ia tidak dapat melihat orang tersebut karena lampu dari cahaya mobil membuat netra matanya silau.
Pria yang di dalam mobil itu pun keluar dengan kesal "apa anda sudah gil----"tak di duga pria itu merupakan orang yang di kenal Vira.
"Michael?"kejutnya. Apakah ini keajaiban? Kebetulan sekali sampai bertemu di situasi saat ini.
"Kamu? Kamu sedang apa disini?"Michael melihat sekitar dan melihat mobil Vira yang terbuka. Ia rasa ada yang tidak beres.
"Aku mau ke cafe Natta tiba-tiba di perjalanan mobilku mogok. Bisa tolong aku?"
Michael diam sejenak memperhatikan Vira yang menatapnya penuh harapan.
"Biar aku antar kamu kesana"
"Tapi mobil aku gimana?"
"Nanti akan ku suruh montir bawa mobil kamu ke bengkel"
Vira tersenyum mendengarnya lalu mengikuti langkah Michael yang masuk mobil. Namun saat hendak membuka pintu tiba-tiba kaca jendela terbuka, ternyata Michael tidak sendiri.
"Duduk di belakang"ucap pria itu dingin.
Bibir Vira mengerucut kala gagal duduk di samping Michael.
"Kamu bukannya saudara Intan ya?"tanya Vira di tengah perjalanan, wajah pria itu tampak tidak asing itu sebabnya Vira bertanya.
"Hmm"jawabnya dengan deheman.
Ya, pria itu tidak lain adalah Nawan Pramestia. Sore tadi ia bertemu Michael ada sesuatu yang harus ia bahas dengan temannya itu.
Sebenarnya Vira ingin bertanya lebih lanjut, tetapi melihat respon si lawan bicara tidak mengenakan ia urung. Wanita itu lebih memilih memainkan ponselnya sebari curi-curi pandang pada Michael yang fokus menyetir. Ahhh tampan sekali !
Tiba di tempat tujuan Nawan dan Vira turun dari mobil sementara Michael ia hanya mengantar keduanya. Dari awal niatnya hanya ingin mengantar Nawan.
"Gue duluan, makasih udah nganter"ucap Nawan menyatukan kepalan tangannya pada Michael tanda ia mau pamit.
"Sama-sama, lain kali telpon dulu kalau mau ketemu"jawab Michael yang segera di anggukki oleh Nawan kemudian berlalu.
Melihat interaksi antar keduanya Vira berfikir Nawan cukup dekat dengan Michael "kamu nggak mau masuk dulu?"tanyanya.
Michael menggeleng, ia malas sekali jika bertemu abangnya.
"Terus aku pulang sama siapa?"berharap Michael mau di ajak masuk dan ikut bergabung.
"Kamu bisa menumpang salah satu dari mereka"
Vira menoleh kebelakang sejenak melihat di kejauhan terdengar riyuh tawa dari mereka.
"Aku ikut kamu aja"karena kesempatan tidak datang dua kali, Vira memilih untuk bersama Michael saja.
__ADS_1