Sorry, I Already Love You

Sorry, I Already Love You
Davin


__ADS_3

"Ini kita mau kemana?! Intan udah bilang antar Intan pulang aja!"ucap Intan sedikit keras karena berada di atas motor. Davin jadi menjauhkan kepalanya sedikit karena terkejut mendengar teriakan Intan bagai petir.


"Gue mau mampir ke rumah sebentar ngambil dompet ketinggalan!"alasan Davin, membelokkan motornya menuju jalan kecil. Intan jadi ketar ketir dibuatnya, perasaan tidak enak muncul seiring Davin melajukan motornya.


"Udah turunin Intan di sini aja, Intan bisa jalan kaki. Lagi pula rumah Intan nggak jauh dari sini!"teriaknya lagi, Intan hanya beralasan. Padahal rumahnya sangat jauh dari lokasinya sekarang ini.


"Ngapain? Gue cuma mau ambil dompet doang"Davin melajukan motornya secara tiba-tiba sehingga membuat Intan terongsok maju. Hal tersebut terjadi berkali-kali di perjalanan, seperti di buat-buat oleh Ravin. Intan protes akan kelakukan Davin tapi pria itu terus saja beralasan. Entah itu ada lubang, ada anjing yang mengejar, alasan itu benar-benar tidak masuk akal buatnya.


"Intan bil---"ucapannya terhenti saat motor Ravin berhenti di suatu rumah lumayan besar namun sederhana. Seperti kompleks perumahan.


"Yuk masuk, di rumah lagi nggak ada orang kok"


Jantung Intan berdebar seketika mendengarnya, apalagi melihat senyum Davin yang terlihat mengerikan.


"Nggak, Intan tunggu disini aja. Katanya cuma ma-mau ambil dompet doang kan?"tanya Intan dengan suara tersendat-sendat karena saat ini nafasnya mulai sesak. Namun, dia berusaha biasa saja agar tidak kelihatan takut oleh Davin.


"Ayoo masuk ajaa, gak ada apa-apa kok"Ravin tiba-tiba menarik tangan Intan, menyeretnya paksa masuk ke dalam.


"Intan bilang, Intan nggak mau! Jangan di paksa!"Intan terus meronta sembari berusaha melepaskan tangan dari cengkraman Davin namun itu sia-sia. Kekuatannya tidak cukup untuk melawan pria itu.


"Iya-iya Intan masuk! Tapi jangan dipaksa"gadis itu gemetar, tangannya mulai dingin. Beruntung, dia di ciptakan tidak bodoh-bodoh amat ia mencoba mencari celah untuk lari.


"Intan mau ke toilet"ucapnya takut-takut.


Ravin diam sejenak, alisnya naik ke atas kemudian melepaskan tangan Intan membawa gadis itu masuk.


Tiba di toilet Intan langsung mengambil ponselnya di tas dengan tangan gemetar dan nafas mulai tak beraturan. Panik, Intan langsung menghubungi nomor Natta. Sebab nomor tersebut yang tertera paling pertama di panggilan masuk.


"He-hello Bang, tolongin Intan. In---"Intan terkejut, tiba-tiba Davin menerobos masuk ke toilet dan merampas ponselnya kemudian melempar benda persegi itu ke dalam bak mandi.


"Kamu telfon siapa sih sayang? Kok sembunyi-sembunyi gitu?"ucap Davin melangkah maju mendekati Intan yang refleks mundur hingga tubuhnya mentok di dinding.


"Kamu jangan macam-macam!"ucap Intan dengan air mata yang sudah menggenang. Tanpa ba bi bu gadis itu menginjak kaki Davin lalu mendorong tubuh pria itu kemudian berlari.


Tak tinggal diam, Davin mengejar Intan sambil meringis kesakitan di kakinya "Sial!!"umpat Ravin sembari mengejar Intan yang terus berlari entah kemana karena pintu keluar telah di kunci olehnya.


"Mau kemana sih? Aku cuma mau kamu doang nggak mau yang lain"nada bicaranya terdengar menjengkelkan.

__ADS_1


"Jangan mendekat! Kalau enggak aku teriak!"ancam gadis itu dengan beraninya.


Davin mendengus geli.


"Teriak aja, kalau ada yang denger"ucapnya dengan santai.


Intan menoleh kiri kanan, tak terasa ia sudah ada di dapur dimana tidak ada celah lagi untuk kabur karena tertutup dinding dan lemari kaca besar. Demi apapun dia ingin menangis saat Davin mulai mendekat, nafasnya memburu tak karuan, bisa gawat kalau asmanya kambuh sekarang.


Tak pikir panjang, Intan mengambil pisau dapur yang tersusun rapi di sebuah papan "aku bilang jangan mendekat!"dengan keberanian penuh, gadis itu menyodorkan pisau tersebut depan Ravin sebagai pertahanan.


"Uwiiss! Takut aku hahahaha"tawanya dengan ekspresi takut yang dibuat-buat. Tentu hal tersebut bukanlah ancaman baginya mengingat Intan adalah gadis penakut,lemah dan manja, mana mungkin dia berani macam-macam pikir pria itu.


Melihat ekspresi Davin yang tidak takut sama sekali semakin membuat Intan takut.


"Sudahlah, jangan main-main dengan pisau. Mending kita main-main yang lain"dengan gerakan cepat Ravin mencengkeram tangan Intan dan merampas pisau tersebut kemudian membuangnya entah kemana.


Pria itu menyeringai tipis dan mendekati Intan mengunci tangan kanan gadis itu ke dingin. Bahkan deru nafas Davin dapat Intan dengar dengan jelas, air mata tak tertahan lagi.


"Lepasin!"pekik Intan yang membuat Ravin menoleh ke arah lain karena teriakan Intan yang begitu melengking.


Berang dengan perkataan pria itu, Intan hendak melayangkan tangan kirinya untuk menampar Ravin. Namun ia kalah cepat, Davin menahan tangannya lagi dan mengunci keduanya ke dinding. Tentu Intan tak tinggal diam, gadis itu berusaha melarikan diri sekuat tenaganya.


"Udah, percuma. Kamu nggak akan bisa pergi dari sini"ucapnya sembari membelai wajah Intan.


"Shuuuttt, jangan nangis kamu jelek kalau nangis"Davin dengan lembut mengusap air mata Intan yang terus mengucur deras. Karena saat ini dia tidak bisa apa-apa lagi, dia juga berusaha untuk mengatur napasnya.


Intan menggeleng-geleng saat wajah Davin mendekatinya. Jujur ia tidak bisa berkata apa-apa lagi saat bibir Ravin hampir menyentuh bibirnya.


"Diam!"gertak Ravin saat kepala Intan terus menggeleng.


Dekat.... Semakin dekat.... Sedikit lagi....


"Braaaakkkk!!"


Pintu tiba-tiba terbuka yang membuat Davin menghentikan aksinya.


"Sial!"umpatnya lagi saat melihat seorang yang menerobos rumahnya.

__ADS_1


"Intan!!"teriak Michael sembari mencari Intan di rumah itu.


Intan yang mendengarnya tau siapa pemilik suara itu merasa sedikit lega. "Kak Michael!!"teriak Intan yang langsung membuat Davin refleks membungkam mulut Intan dengan bibirnya,******* bibir kecil mungil itu dengan rakus.


"Brengseek!!"


Bugh!!


"Bajiingan!!"


Bugh!!


Bugh!!


Sakit hati, Michael melayangkan tinjuan pada wajah Davin tanpa ragu. Mencengkeram erat kerah baju pria itu dengan tatapan kebencian. Sementara Intan menangis sambil mengusap-usap bibirnya dengan kasar kemudian berlalu pergi meninggalkan Davin dan Michael yang bergulat hebat. Pukulan demi pukulan Michael layangkan secara membabi buta seakan tidak memberikan celah untuk Davin melawan.


"Anjiing lo! Setan!"ucap Michael menendang Davin hingga terpental.


Bugh!


Pukulan terakhir dilayangkan oleh Michael karena lawannya sudah terkulai tak berdaya. Wajah Ravin kini bonyok di hantam olehnya.


Intan lari dengan napas tersengal-sengal, saat keluar dari rumah Intan malah menabrak tubuh seseorang hingga jatuh. Karena orang itu juga berlari membuat Intan goyah.


"Intan!"ternyata orang tersebut adalah Natta, ia membantu Intan berdiri.


"Intan lo nggak apa-apa?"tanyanya panik.


"Bang Natta?"lirihnya langsung memeluk pria itu dengan erat.


"Bang Natta I-Intan takut hiks.... Intan ma-mau pulang... Intan takut di-disini"tangis Intan pecah di pelukan Natta yang mengelus-elus punggungnya.


Bersamaan dengan itu, Michael juga ikut keluar. Tadinya ia ingin mengejar Intan, tapi siapa sangka dia malah melihat pemandangan yang menyakitkan hatinya. Dadanya terasa sesak, luka yang baru pulih itu terbuka kembali. Bukannya cemburu, dia hanya merasa sedih dengan dirinya sendiri sebab selama pacaran dengan Intan. Gadis itu tak pernah sekalipun memeluknya, apalagi tadi ia melihat Intan di cium pria lain. Bahkan dia sendiri saja tidak berani melakukan hal itu walaupun ada hubungan khusus. Dari sini ia tahu perasaan Intan sebenarnya untuk siapa.


Natta menyadari Michael tengah memperhatikannya. Ia melepas pelukan Intan, namun tiba-tiba saja gadis itu tak sadarkan diri. Wajahnya pucat dengan bibir sedikit berdarah.


Natta dan Michael segera membawa Intan ke rumah sakit. Untungnya tadi Natta membawa mobil, jadi mereka tidak repot membawa Intan.

__ADS_1


__ADS_2