
Keesokan harinya, Senin pagi yang cerah seperti biasa Intan,Nawan serta Rianti sarapan bersama. Ketiga orang itu sarapan layaknya seperti keluarga pada umumnya, akhir-akhir ini memang jarang Rianti dan Intan berdebat bahkan wanita itu memperlakukan Intan dengan baik. Entah itu bertanya tentang sekolah, Michael, dan temannya. Intanpun tak segan untuk bersikap lebih baik, ia pikir Rianti sudah menyadari kesalahannya atau berusaha memperbaiki hubungan dengannya. Tak pernah sekalipun ia berfikir negatif soal sifat Rianti yang tiba-tiba baik ini. Tentu Nawan'pun juga ikut senang Mamanya akur dengan Intan.
"Intan bareng kak Nawan ya?"ucap Intan di sela-sela mereka sarapan, karena sang pacar sedang sakit terpaksa Intan harus menumpang Nawan.
"Gak bisa, gua jemput Bening"jawab Nawan datar yang membuat bibir gadis itu langsung mengerucut.
"Jahat banget sih! Lebih milih pacar dari pada adek sendiri"sungut Intan.
"Pacar?"sambung Rianti menatap Nawan penuh tanya.
"Kamu punya pacar Nawan?"tanyanya sebab ia pun baru mengetahui putranya punya pacar. Pantas saja sikap Nawan memang agak aneh, Rianti menyadarinya.
"Hah? Jadi mama nggak tau kalau selama ini kak Nawan pacaran? Nggak ada cerita apa-apa gitu?"
"Padahal nih ya kak Nawan tuh sering banget bucinan sama teman Intan. Kemana-mana nempel mulu kek lem-pok, lebih parahnya lagi mereka tuh diam-diam menghanyutkan"cerocos Intan.
"Menghanyutkan gimana?"tanya Rianti.
"Kak Nawan sam-----"omongan gadis itu terpotong saat Nawan memasukan roti dalam mulutnya.
"Nggak ma, Intan ngarang"ucapnya pada Rianti.
"Jangan ngadi-ngadi lu bocah!"semprotnya pada Intan.
"Intan nggak ngadi-ngadi! Apa yang Intan omongin tuh sesuai dengan apa yang Intan liat dengan kepala mata Intan sendiri kalau kak Nawan tuh mau.... Brutt.... Bruptt"Nawan kembali menyempalkan roti itu pada mulut Intan yang dari tadi nyerocos.
"Belajar ngomong dulu sono ke TK! Ngomong aja kebalik!"kesal Nawan menatap Intan jengah, yang di tatap menjulurkan lidah.
Rianti tersenyum melihatnya.
"Udah ah, kalau memang benar kamu punya pacar kenalin dong ke mama"
"Nggak dikenalin juga udah kenal ma"sambung Intan lagi yang membuat Nawan yang ingin menjawab jadi terpotong olehnya.
"Oya? Emangnya siapa?"
"Dia teman Intan ma, namanya Bening"jawab Nawan cepat, ia takkan membiarkan Intan bicara lagi.
"Oooo Nining? Iya mama ingat! beberapa hari yang lalu dia ada kesini kalau nggak salah"
"Nah itu dia pengen ketemu kak Nawan! Tau nggak ma ? Intan denger malem-malem kak Nawan telponan terus dia bilang 'iya aku juga kangen' "
"Emmm bagus! Jadi selama ini elu nguping gue telponan sama Bening?"kali ini tidak memasukkan roti tapi pria itu menjewer telinga gadis penguping itu.
"Pantesan aja gue ngerasa ada yang ngintai tiap malam, ternyata elu setannya hem?!"
"Aw.... Aw.... Sakit kak lepas!"ringis Intan sembari memukul lengan Nawan.
********
Sebab tadi Nawan dibikin kesal setengah mati oleh Intan. Pria itu merajuk tak mau pergi bersama dengan gadis itu, padahal tadinya ia ingin berbaik hati ingin memberi tumpangan. Intan pun tak ambil pusing, ia jadi diantar Rianti kesekolah sekalian wanita itu ingin ke pasar.
__ADS_1
"Mama kenapa? Kok mukanya pucat gitu? Mama sakit?"tanya Intan melihat wajah Rianti sedikit pucat.
"Gapapa"jawabnya tersenyum meskipun sebenarnya rasa pusing mulai menyerang kepalanya.
"Mama kalau nggak enak badan di rumah aja, biar bibi yang belanja"
"Mama gapapa Intan"namun kemudian mobil yang di setirnya tiba-tiba oleng. Pandangnya kabur diikuti kepala yang berdenyut hebat.
"Maaa awas!"pekik Intan tiba-tiba melihat gerobak dorong menyebrang.
Rianti yang di landa kepusingan pun mengerem mendadak hingga dia dan Intan terpental dalam mobil. Beruntung, Rianti tak sempat melanggar gerobak tersebut dan juga tak ada kendara lain di belakang mobil itu sehingga tak membuat keduanya celaka.
"Mama gapapa?"tanya Intan panik.
"Obat mama"ucap Rianti menunjuk laci mobil. Intanpun segera merogoh laci tersebut mencari obat kemudian ia serahkan pada Rianti yang langsung meminumnya. Tak tahu ini kebetulan atau bagaimana di mobil itu seperti sudah di sediakan air minum dan obat-obatan di laci.
"Ma kenapa?"
Rianti mengatur napasnya yang tadi tersengal-sengal sambil mengedip-ngedipkan mata agar pandangannya kembali normal. Kemudian menatap Intan.
"Mama gapapa, cuman sedikit pusing aja"ucapnya kembali duduk tegap pandangannya lurus ke depan.
"Mama yakin? Kalau merasa pusing biar Intan aja yang nyetir mama istirahat dulu"
*****
Tiba di sekolah Intan langsung masuk kelas, sementara Rianti lanjut menuju ke pasar meskipun Intan sudah menyuruh wanita itu untuk langsung pulang ke rumah saja. Tapi Rianti bersikeras tetap ingin pergi ke pasar berbelanja, Intanpun membiarkannya selagi Rianti merasa aman dengan keadaannya.
Suatu adegan Intan yang tengah mengerjakan tugasnya tak sengaja menjatuhkan Tipe-X dari meja. Davin, murid baru tersebut meraih Tipe-X yang jatuh itu kemudian ia serahkan pada Intan.
"Terimakasih"ucap Intan tersenyum kikuk, ia rasa ada yang tidak beres dengan Davin. Karena semenjak pelajaran berlangsung pria itu terus memperhatikannya, awalnya ia tak peduli tapi semakin kesini Intan semakin risih apalagi tadi pria itu mengembalikan Tipe-X sambil menyeruput jarinya secara perlahan seperti di sengaja.
"Ada apa?"tanya Bening menyenggol dengan sikunya setelah melihat kebingungan di wajah Intan.
"Gada apa-apa"jawabnya kembali melanjutkan tugasnya. Namun lagi-lagi tatapan anak baru itu terus mengganggunya sehingga tidak konsen mengisi soal.
Intan memberanikan diri untuk menoleh ke samping yang ternyata benar Davin tengah mengamatinya. Pria itu tersenyum miring yang membuat Intan bergidik ngeri.
"Kenapa si lo? Gelisah banget dari tadi"Bening memperhatikan Intan yang terlihat gelisah.
"Nining liat nggak anak baru itu?"tanya Intan melirik Davin dengan bola matanya.
"Liat, kenapa?"
"Dia merhatiin Intan terus, Intan jadi risih liatnya"
"Demen kali sama elu!"
"Kalau suka sama Intan, nggak gitu juga tatapannya. Kesannya kaya mau nelan Intan gitu"
Bening berdecak, Intan memang penakut dengan manusia yang menurutnya berbahaya.
__ADS_1
"Yaudah tukeran, gue duduk disini"
Intan tersenyum, kemudian memindahkan posisinya jadi ke samping kiri tempat duduk Bening. Setidaknya ia merasa tidak ada lagi yang mengawasinya.
Tapi tak sampai situ, di jam istirahat Intan juga di ganggu oleh Davin. Pria itu selalu mencari topik pembicaraan untuk slalu bersamanya dan mencari kesempatan untuk menyentuh Intan yang lama-lama semakin merasa tidak nyaman dengan keberadaan Davin.
Waktu pulang sekolahpun tiba, Intan lupa hari Michael tidak sekolah karena masih di rawat di rumah sakit. Aneh rasanya kalau ia pulang sendiri sebab setiap harinya ada yang menjemput dan mengantar.
Mau pulang sama Nawan Intan juga merasa tidak enak dengan Bening. Ia tidak mau mengganggu pasangan satu itu yang sedang di mabuk cinta.
Jarum panjang terus bergerak, di gerbang sekolah mata Intan mencari Taksi atau angkot yang lewat. Namun tak ada satupun, ia berfikir keras dan akhirnya memilih menelpon Natta, sebenarnya Intan tak mau merepotkan pria itu, oleh karena tak ada pilihan lain terpaksa ia menelpon Natta agar segera menjemputnya.
Menunggu memang butuh kesabaran, saat ini Intan duduk di tepian pagar sekolah. Siswa lain sudah banyak yang berpulangan, hanya dirinya sendiri yang tinggal.
Siang itu begitu panas dengan sinar matahari yang tepat di atas kepala.
"Ngapain sendiri disini? Lagi nunggu siapa?"tiba-tiba saja seseorang menghampiri Intan dengan motor sport yang begitu mewah.
Gadis itu panik saat tahu wajah di balik helm tersebut adalah Davin. Namun, Intan berusaha biasa saja.
"Lagi nunggu jemputan"jawabnya.
"Gue antar ya? Dari pada lo nunggu lama sendiri disini"tawar Davin sembari turun dari motornya.
Intan semakin was-was.
"Nggak usah bentar lagi Intan di jemput kok"
"Ayolah gue cuma mau nganter lo doang"desak Davin menatap Intan intens.
"Nggak usah,makasih"Intan beranjak menjauh dari sana.
"Tunggu, ada daun di rambut lo"Davin ingin mengambil daun kering di rambut gadis itu yang langsung meraba rambutnya.
Belum sempat Davin mengambil sehelai daun itu, Intan bernafas lega saat dari kejauhan Natta menghampirinya. Gadis cantik itu tersenyum menghampiri Natta.
"Intan duluan"ucapnya pada Davin yang menatap kesal namun kemudian menyeringai sambil menatap kepergian Intan.
"Sesuai aplikasi ya mbak"ucap Natta saat Intan sudah menaiki motornya.
Intan tersenyum, pasti ada saja yang membuat dia tersenyum akan tingkah Natta yang random.
"Iya mas, sesuai kemauan mas juga gapapa"Balas Intan dengan candaannya, ketakutan gadis itu hilang sudah saat melihat Natta berada di dekatnya.
"Jadi sebenarnya mau kemana mbak?"
"Kemana aja"
"Yaudah ayuk ke KUA aja!"
"Heh!"
__ADS_1